
Lusi masih terlihat agak keberatan kalau pak Rado akan mengkawal mereka ke Paris, karena pak Rado akan meninggalkan keluarganya di Indonesia.
"non Lusi tenang aja, bapak sudah berpesan ke anak bapak yang paling besar untuk menjaga mama dan adik-adiknya.
Seperti biasa saat bapak bertugas di kesatuan, lusa mereka akan libur sekolah dan bisa pulang kampung ke kampungnya bapak mertua.
Sudah biasa non, ngak usah kwatir gitulah. kalau di Jakarta ini, keluarga bapak masih ada yang lain, dan siap memperhatikan keluarga bapak.
Paris itu tidak seindah yang non pikiran, kota Paris itu kejam bahkan jauh lebih parah dari Jakarta.
Bapak ngak bisa membiarkan non kesana tanpa pengawasan bapak.
Anak-anak bapak sudah dewasa dan sudah terbiasa bapak tinggalin, toh hanya seminggu aja.
Dulu bapak berbulan-bulan lagi, non Lusi ngak boleh melarang bapak untuk ikut. apalagi istri sangat mendukung sekali yang bersangkutan dengan pendidikan."
"baiklah kalau begitu, Lusi berterimakasih kepada bapak, Karen merasakan perhatian dari seorang ayah yang sempurna."
Pak Rado hanya mengganguk dan akhirnya mereka tiba di kantor mewah tersebut.
"kak Desi...... kak Desi..... oh kak Desi......"
"idih.....
si rempong datang, bising tau........
Ini siapa lagi perempuan yang Lo bawa? kok mirip Fitri?"
"saya Santi, adiknya kak Fitri mas.."
"mas....mas.....
kapan gue nikah sama kakak lo, gila ini perempuan."
"eh Farel.....
kak Fitri pun ngak mau sama mu kak, ntar rebutan lipstik lagi."
"idihhhh......
ini perempuan dua, bacot nya gede ya. pada ngapain sih kemari, dah kyak orang demo."
"ihhhhh.....
kak Farel kepoh deh, tapi daripada penasaran Lusi akan cerita.
Lusi dan sahabat ku ini, akan di kirim ke Paris kak, untuk bertanding.
karena kami menang lomba desain yang diadakan oleh brand design ternama disana.
The Alexa fashion, dan kami menang saat tahap ketiga."
"waouuuuu......"
Farel terlihat mengaguminya dan tiba-tiba saja Desi sudah mendekati mereka dengan tergesa-gesah.
"The Alexa Fashion, kalian berdua menang lomba itu?"
"iya kak Des, emangnya kenapa?"
__ADS_1
"duduk.... duduk dulu...."
Ujar Desi yang meminta mereka untuk duduk dan langsung berhadapan dengan Desi, demikian juga dengan Farel.
"dulu kakak bercita-cita menjadi salah desian di sana dan segala jenis upaya kakak lakukan dan akhirnya lulus.
Tapi mama ngak ngasih kakak ke sana, karena mama takut terjadi sesuatu kepada kakak.
Karena kakak lulus berbagai tes, dan kemampuan kakak tidak diragukan lagi, tapi karena tidak berikan izin oleh mama, mungkin karena tidak mau kehilangan desainer berbakat seperti kakak, maka di tempatkan di Binsar fashion ini, karena Binsar fashion ini adalah anak usaha dari The Alexa Fashion."
"gitu ya kak Des....
berarti kami berdua lulus hanya karena mas Yogi ya? bukan karena kemampuan kami berdua?"
Ujar Lusi dengan lemas, lalu Desi lebih mendekat ke arahnya dan memegang kedua bahunya Lusi.
"pak Yogi tau kalau Lusi dan Santi mendaftar ke The Alexa Fashion?"
"ngak kak, karena Lusi dan Santi mendapatkan informasi itu dari internet."
"good....
jadi, pak Yogi itu tidak ikut campur mengenai perekrutan para desainer atau para pegawai.
itu memang karena kalian berdua berbakat, Binsar Batara group tidak mengenal sistem hirarki atau orang dalam.
Murni karena kemampuan dan keahlian dari seseorang yang hendak melamar pekerjaan.
Seperti yang kakak ceritakan tempo waktu dek, sekali lagi kakak tegaskan kalau kalian berdua bisa lolos sampai tahap ke tiga karena berbakat.
Sekarang kakak mau bertanya dulu ke kak Farel ya.
"biji mata mu luar negeri, aku itu angkatan pertama di sekolah kau itu Desi."
"slow lah kak, ngak usah ngegas gitu dong."
Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Mereka tertawa lepas karena jawaban dari Farel, pria lentik yang menjadi atasan Desi.
"dengar sendiri kan, jadi disini itu para pegawai diseleksi berdasarkan kebutuhan dan juga keahlian.
Tapi kalian ngapain kemari? mau pamer sama kakak ya?"
"ngak loh kak Des.....
kan kata mas Yogi, kalau kakak itu harus menemani Lusi kemanapun pergi.
jadi Lusi mau kak Desi mendampingi kami ke Paris, satu ibu guru pembimbing kami dan juga kakak.
masalah biaya perjalanan, uang saku dan akomodasi di tanggung kak.
Lusi sudah menelpon mas Yogi, dan akan memberikan bonus untuk kakak serta ibu guru pembimbing karena mendampingi kami berdua ke Paris.
Tenang kak....
ngak di pecat kok, kak Desi kan melaksanakan tugas...."
'hiiiiiiiiiiihaaaaaaaaaa'
__ADS_1
"diammmm......"
Farel membentak Desi yang berteriak kegirangan karena akan di ajak ke Paris.
"kakak senang banget loh, tapi bentar ya....
Fitri......oh....fitriiiiiii......... Fitri........."
"eh perempuan gila, loh kirain hutan. main teriak aja deh, bising tau."
Lagi-lagi Farel membentak Desi, dan tidak berapa lama kemudian Fitri muncul dihadapan mereka.
"apaan sih Des, kok teriak-teriak gitu, loh...loh... Santi ngapain ke sini dek?"
"gini loh Fitri....
kedua adik kita ini lolos kompetisi desain di The Alexa Fashion Paris, dan mereka berdua memintaku untuk mendampinginya."
"kok cuman Desi, kakak bisa ikut ngak? biar kakak ambil cuti."
"serius kak Fitri mau ikut?"
"serius dong Lusi, boleh ya boleh ya?"
Lusi langsung mengganguk dan kemudian tersenyum lebar yang di sambut senyuman lalu teriakan dari Fitri.
"eh perempuan....
bising....."
Ucap Farel yang terlihat sudah mulai emosi melihat tingkah dari para gadis-gadis yang suka berteriak itu.
"kak Farel boleh ikut ngak?"
"ngak bisa, kalau kakak ikut siapa yang mengontrol pekerjaan disini? gila kali ini kak Farel."
Ucap seorang perempuan cantik nan tegas dan seketika wajah cemberut dari Farel dan menatap tajam ke arah perempuan itu.
"eh perempuan, kan ada Lo disini. apa gunanya Lo disini?"
"dengar ya manusia tulang lunak, sang Diana yang cantik ini adalah penilai hasil dari desainer dan kualitas bahan pakaian.
nah kalau kau itu kepala bagian desain, cucok meong.
Desi dan Fitri sudah pas tuh mendampingi mereka berdua, sekaligus belajar disana untuk diterapkan di kantor ini.
Pak Rado ikut kan pak?"
"iya bu, karena sudah ditugaskan tuan Yogi secara khusus."
"jangan panggil ibu dong pak, Diana itu hampir seumuran dengan putri bapak yang paling besar.
itu loh pak yang dokter, jadi panggil Diana aja ya, sebagaimana bapak memanggil putri bapak."
"siap laksanakan neng Diana."
Jawab pak Rado dengan sikap siap, dan kemudian Diana memberikan instruksi kepada Desi dan juga Fitri yang akan mendampingi Lusi dan Santi di Paris.
Terpancar kebahagiaan itu dari raut wajah para gadis dan juga pak Rado.
__ADS_1