
POV Rana.*
Terlihat pak RT berpikir keras dan kemudian menatap Rana dan juga putrinya.
"saya sudah enam tahun jadi pak RT di lingkungan ini, dan hampir semua saya kenal dengan warga Ku.
Tapi saya tidak mengenal ibu, sebaiknya ibu pergi dari sini sebelum saya dan warga ku emosi."
"enak aja main usir, ini rumah ku?"
'*sudah gila kali ya, apa mungkin dia ditinggalkan laki nya.'
'kali aja, makanya stres gitu.'
'atau jangan-jangan simpanan pak RT lagi*.'
Seketika pak RT menatap ibu-ibu yang ngobrol itu, karena menyinggung dirinya.
"eh mpok.....
itu di bacot tolong di jaga ya, saya juga ngak kenal dengan kedua perempuan ini.
Bapak-ibu.....
apa nih yang harus kita lakukan?"
"usir ajalah pak RT, kali aja dia maling yang mengincar rumah-rumah warga disini.
Pak RT.....
Warga disini semua orang baik-baik ya, jangan hanya karena kedua perempuan ini, warga kita jadi terjerumus.
Lihat tuh pakainya, sudah seperti penjajah tubuh aja.
Usir..... usir......."
Akhirnya Rana dan putrinya di usir warga dan melarang mereka berdua untuk datang lagi ke tempat tersebut.
Rana dan putrinya terkatung-katung dan kebingungan, mereka berjalan tanpa tujuan yang jelas.
"mama....
gimana ini ma? kita mau kemana?"
"kita ke kantor polisi aja, kita temui Papa mu disana."
"untuk apa?"
"untuk bertanya kenapa papa mu itu menjual rumah itu dan berubah menjadi masjid?"
"emangnya mama tau dimana Papa di penjara?"
Rana hanya mengganguk dan kemudian malah duduk lemas di pinggir jalan.
"loh kok berhenti ma?"
"mama lupa nama Papa mu?"
"terus gimana ini ma?"
__ADS_1
"mama juga bingung tau, emangnya kamu tau nama papa mu?"
Suci hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan hal itu membuat mama nya bertambah bingung.
"kenapa kita jadi lupa seperti ini? apa yang terjadi?"
Suci terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari mama nya, sepertinya juga dia mengalami hal yang seperti mamanya dan tidak mengingat apapun.
Dua orang perempuan memperhatikan mereka berdua, dan kedua tangan itu berada di pinggangnya dan tatapannya yang tajam mengarah ke Rana.
"kasian benar."
"emangnya kamu kenal?"
Sanggah ibu-ibu kepada temannya itu dan hanya bisa mengganguk menanggapi ucapan temannya.
"namanya Rana dan itu putrinya, mereka berdua sudah banyak menghancurkan keluarga orang lain.
Termasuk orang yang menghibahkan masjid itu dan juga musholah yang tidak jauh dari itu."
"iya..... iya .......
saya ingat jelas, dan almarhumah Dila bercerai dari suaminya karena fitnah perempuan ini."
"bukan hanya itu, putri tetangga ku bunuh diri karena di zalimi oleh putrinya itu.
Masih banyak lagi rentetan peristiwa yang memilukan karena ulah mereka berdua.
lihatlah mereka berdua, sudah gila dan seperti orang yang hilang ingatan.
Dulunya terlihat mewah, dan segala sesuatunya terlihat mewah dan sangat-sangat mewah.
Dari sini saya bisa belajar mbak e, belajar meyakini bahwa Allah itu benar-benar ada dan memberikan hukuman bagi orang-orang yang menzalimi orang lain.
Allah memang tidak terlihat oleh mata kita, tapi Kuasanya jelas terlihat dan nyata di hadapan kita saat ini.
ini bukan kebetulan, dan apa yang mereka berdua alami adalah bentuk teguran dari Allah."
Seketika temannya dari ibu-ibu tersebut hanya bisa mengganguk dan terus memperhatikan Rana dan putrinya yang duduk di pinggir jalan.
"itu benar adanya, dan dari sini kita belajar agar bisa menjadi manusia yang lebih baik."
Mungkin Rana mendengar ucapan kedua ibu-ibu tersebut dan langsung mendatangi mereka berdua.
"kalian kenal sama saya?"
"ngak, hanya kasihan aja melihat mu seperti itu, oh iya ini ada sedikit rejeki.
ambil untuk membeli makanan yang layak untuk kalian berdua."
Plak......
Rana menepis tangan ibu-ibu paru baya itu, dan uang yang hendak diberikannya terlempar ke bahu jalan.
"dengar ya ibu-ibu tukang gosip, kami berdua bukan gelandangan, karena masih punya rumah.
Dasar tukang gosip, dasar pengganguran."
Sepertinya kedua ibu-ibu sudah paham benar akan apa yang terjadi dan langsung berjalan cepat untuk meninggalkan Rana dan putrinya.
__ADS_1
"Suci....
ayo pulang."
"pulang kemana?"
Tanpa mengindahkan pertanyaan putrinya dan langsung memegang tangan putrinya dan mereka terus berjalan dan terlihat mengarah ke rumah lamanya.
Rumah yang sudah jadi masjid dan benar saja mereka kesana dan langsung masuk begitu saja tanpa memakai pakaian layak untuk datang ke rumah ibadah.
"apa-apaan ini? setidaknya berpakaian yang sopan ibu."
"jangan banyak bacot kau ya, ini rumah ku. seenak aja kau membuat ini jadi masjid."
Sanggah Rana kepada marbot masjid tersebut, karena tidak mau permasalahan menjadi panjang dan marbot masjid itu langsung berteriak untuk memanggil warga lainnya.
Seketika itu para warga sudah berkumpul dan langsung mengambil benda yang ada di tangan Rana.
"bensin dan korek ini bapak-ibu, apa perempuan ini mau membakar masjid kita ini?"
Ujar seorang bapak-bapak yang langsung mengamankan barang-barang tersebut.
"kalian lagi kalian lagi....."
"iya pak RT, perempuan gila yang tadi pagi ini. perempuan ini membawa bensin dan korek api, mungkin mau membakar masjid kita pak RT."
Sanggah pria yang merampas bensin dalam botol mineral dan juga korek api.
Para warga sudah mulai emosi, karena tingkah dari Rana.
"ada apa ini bapak-ibu?"
"syukurlah pak polisi ada disini."
"iya pak RT, kan saya tetangga bapak. apa yang bisa ku bantu?"
"begini pak polisi, ibu ini ntah dari mana datangnya dan mengaku sebagai pemilik tanah masjid ini.
nyata pak....
Lahan masjid ini, di hibahkan oleh warga saya yang benar Jono Suhardi dan putrinya.
Warga saya itu warga binaan lapas, dan di vonis mati karena ikut serta membunuh istrinya.
Permintaan terakhirnya adalah untuk menghibahkan rumah mereka dan melihat peletakan batu pertama pembangunan masjid ini.
Putrinya sudah memiliki rumah yang mewah dan sangat-sangat layak.
Pembangunan masjid ini dan juga membeli rumah yang disampingnya, adalah sumbangan dari putrinya karena berhasil memenangkan lomba menjahit di luar negeri melalui sekolahnya.
Pening saya menghadapi perempuan ini, tolong lah pak polisi, takutnya warga ku ini main hakim sendiri."
"baiklah pak RT dan terimakasih atas penjelasannya bapak serta sudah berusaha mengamankan para warga agar tidak main hakim sendiri.
saya akan membawa kedua perempuan ini ke kantor polisi beserta barang buktinya."
"terimakasih pak polisi, dan saya sebagai RT di lingkungan ini bersedia selalu memberikan keterangan jika diperlukan."
Akhirnya Rana dan putrinya di bawa oleh polisi tersebut dan barulah para warga tenang dan perlahan-lahan pergi meninggalkan kerumunan.
__ADS_1