
Tiga bulan kemudian dan Lusi sudah selesai ujian kenaikan kelas, gadis belia itu sudah menjadi anak kelas tiga.
"Lusi....."
Seseorang menyapa dari arah belakangnya, dan ketika menolehnya dan ternyata itu adalah Santi dan tiga orang temannya.
"gimana praktek kerja lapangan itu? amankah?"
"seru, capek dan banyak pelajaran berharga yang aku peroleh."
Ujar salah satu teman Santi, dan mereka tetap berjalan ke arah sekolah secara beriringan.
"terimakasih ya Lusi, karena sudah membuka jalan rejeki untuk kami berempat."
"jalan rejeki gimana Ana? kan seleksi masuk Binsar fashion.
Dari sepuluh teman kita yang seleksi, dan hanya kalian berempat yang berhasil lolos.
Semua itu adalah hasil kerja keras kalian, Lusi kan hanya memberi tahu kalau ada tempat magang untuk kita."
"informasi itu yang penting Lusi, kamu tau ngak kalau kami berempat akan kerja disana setelah lulus nanti.
Satu tahun kerja dan kemudian kami berempat akan mendapatkan beasiswa pendidikan desainer di The Alexa Fashion.
Jujur ya, mama sih ngak mengijinkan Ana keluar negeri."
Demikian ujar Ana, tapi nyata teman-temannya yang lain mengalami hal sama, tidak di Izinkan oleh orang tuanya masing-masing ke luar negeri.**
Pulang sekolah dan setibanya di rumah, Lusi langsung mencari bude nya.
"bude..... bude....."
"nyariin bude mu ya."
"iya mpok, bude kemana ya mpok?"
"tadi kami sama-sama pergi pengajian, habis itu bude mu ke pasar lagi.
kok belum pulang ya? coba telpon aja deh?"
Lusi langsung meraih handphonenya dan mencoba menghubunginya.
"handphone bude ngak aktif, gimana nih mpok?"
"kamu tenang ya, biar mpok mintak tolong sama teman-teman mpok ya."
Mpok Alfa langsung berteriak dan seketika beberapa orang menghampir mereka berdua.
"kenapa mpok?"
Ujar seorang warga yang terlihat cemas karena si mpok teriak.
"bude Lusi belum pulang dari pasar, sudah kelamaan ini ngak pulang.
tadi sepulang pengajian ibu-ibu, pamit ke mpok untuk belanja di pasar ujung sana."
__ADS_1
"kita berpencar aja menyari nya, dan kabarin teman-teman yang lain ya."
Ungkap salah satu warga dan semuanya langsung berpencar untuk mencari bude nya Lusi.
Tiba-tiba saja handphone milik Lusi berdering dan Lusi langsung menjawab panggilan telepon tersebut.
"bude....."
Para warga yang belum jauh itu, langsung menghampiri Lusi yang berteriak.
"kenapa nak?"
"bude di tabrak orang dan sekarang di rumah sakit"
Seketika itu juga Lusi dan beberapa warga lainnya berangkat ke rumah sakit, selama diperjalanan menuju rumah sakit dan mpok Alfa terus-menerus mencoba menenangkan Lusi.
Sesampainya di rumah sakit dan langsung menuju meja informasi dan ternyata bude nya sudah berada di ruang operasi.
Lusi dan mpok Alfa serta beberapa warga lainnya menunggu di depan ruang operasi.
"kenapa bude nya Lusi langsung bisa di operasi ya?"
Ujar seorang warga yang ikut menemani mereka.
"Lusi sudah membeli asuransi kesehatan untuk bude nya."
Jawab si mpok dan mereka kemudian terdiam dan tetap menunggu kabar dari ruangan operasi itu.
Akhirnya pintu ruangan operasi itu terbuka, dan dua dokter bersama rekannya keluar dari dalam dengan wajahnya yang lesu.
bude ku gimana? bude gimana dokter?"
"pasien tidak bisa bertahan di meja operasi, pendarahan hebat pada otak sebelah kanan, serta paru-paru yang rusak akibat tertekan oleh benda yang sangat berat.
beberapa organ dalam lain ternyata rusak, seperti hati, empedu bahkan kedua ginjalnya.
Perut nya terluka, membuat usus nya keluar. tulang kedua pahanya sudah remuk dan tangan kanannya hampir putus."
"b...u....d....e..."
Lusi memanggil bude nya, lalu pingsan dan mpok Alfa langsung menggendong Lusi dan kemudian di arahkan rekan dokter yang keluar dari ruang operasi agar dibawa ke ruang perawatan.
Setelah Lusi mendapatkan perawatan medis, dan mpok Alfa terlihat menghubungi seseorang.
"mpok Alfa....
kemana kita membawa jenazah Dila, bude nya Lusi ini?"
Tanya seorang warga yang ikut ke rumah sakit tersebut.
"sebentar ya, kita tunggu Lusi siuman. ada yang membawa minyak angin ngak?"
Seorang ibu-ibu langsung memberikan minyak angin kepada si mpok dan kemudian mengoleskan minyak angin ke hidung Lusi.
"mpok....."
__ADS_1
"iya Lusi, yang sabar ya sayang. kemana kita membawa jenazah almarhum?"
"ke rumah aja mpok, yang di jalan turi no 54, karena itu rumah bude, tolong hubungi mas Abi.
Mas Abi itu anaknya bude yang paling besar, supaya mas Abi bisa melihat bude untuk yang terakhir kalinya."
Mpok Alfa mengambil tas ranselnya Lusi, kemudian mengambil handphone nya.
Lalu mpok Alfa mencari kontak yang bernama mas Abi dan syukur lah langsung tersambung.
Selesai menelpon dan mpok Alfa menatap warga yang masih di ruang rawat tersebut.
"bapak-ibu....
Mpok minta tolong ya, ini kunci kontrakan Lusi dan di kamarnya ada tas bude nya, berwarna hitam dan di dalam tas itu ada kunci rumah nya."
"baik mpok Alfa, saya paham dan kami akan segera mempersiapkan rumah nya almarhum.
Tolong mpok temani Lusi disini, dan tolong urus jenazahnya almarhum dari sini."
Mpok Alfa hanya mengganguk dan para warga itu langsung bergegas pulang untuk mempersiapkan kediaman rumah bude nya Lusi.
Dua jam kemudian, mpok Alfa yang masih di ruang rawat tersebut di datangi oleh dokter dua orang perawat.
"jenazah sudah siap di antar ke rumah nya, tapi kami membutuhkan tandatangan orang dewasa untuk administrasi ini."
"saya aja dokter, tadi saya sudah bicara dengan anak dari almarhumah.
Saya juga adalah tetangganya almarhumah, dan kami sudah seperti keluarga."
Ujar mpok Alfa dan kemudian membaca dokumen yang hendak di tandatangani nya.
"dokumen yang di klip biru ini adalah rekam medis pasien dari IGD sampai ruang operasi, dan dokumen yang klip kuning adalah biaya medis yang langsung di potong dari asuransi.
Sementara yang klip warna hitam adalah dokumen surat keterangan kematian dan juga dokemuman serah terima jenasah ke keluarga nya."
"baik dokter dan terimakasih ya."
"sama-sama ibu, silahkan tunggu di ruang keluar dan nantinya bisa ikut bersama ambulan ya bu."
Jelas dokter tersebut dan setelah selesai administrasi itu, perawat menuntun mereka berdua menuju ruang tunggu.
"Lusi.... Lusi.....
Bude gimana?"
Desi yang datang bersama suaminya yaitu Aji, dan juga Santi serta beberapa temannya yang berjumlah tiga orang yang datang menemui Lusi.
"bude sudah pergi kak."
Lusi langsung dipeluk oleh Desi, demikian dengan Santi dan teman-temannya.
Jenazah almarhum sudah tiba di rumahnya dan Lusi masih ditemani oleh teman-temannya dan juga Desi serta Mamanya.
Sementara Aji terlihat sibuk dengan telpon genggamnya.
__ADS_1