
Sudah menjelang malam dan akhirnya Lusi bersama Desi sudah pulang yang diantara oleh pak Rado supir pribadi khusus Lusi.
Lalu Yogi masuk ke kamar nya dan duduk di kursi yang mewah itu.
tok....tok....tok....
Suara pintu di ketuk seseorang, lalu di suruh masuk oleh Yogi.
"kenapa Aji?"
"saya hanya mengabarkan kalau non Lusi dan Desi sudah tiba di rumahnya."
"syukurlah."
Jawab Yogi dengan singkat, dan suasana kembali hening.
"apa tuan yakin kalau Lusi adalah gadis pilihan leluhur tuan?"
"iya Aji, leluhur selalu mempunyai cara yang berbeda dalam penentuan gadis terpilih. walaupun kali ini berbeda caranya."
"bedanya dimana tuan?"
"memang belum yakin seratus persen, Lusi adalah keturunan dari desa Binsar yang sudah tenggelam itu."
"desa Binsar?
Desa yang sudah berubah nama menjadi desa Julu, dimana penginapan dan objek wisata dari anak usaha Binsar Batara Group.
Aji masih bertanya-tanya tuan, apa yang terjadi kepada warga desa Binsar itu? kenapa keberadaan para warga tidak ada lagi di desa awal itu?"
"entahlah Aji, semuanya masih misteri dan hanya leluhur yang mengetahui nya.
Sinar yang menandakan bahwa leluhur mendatangiku sama persis sinar terang yang dihasilkan oleh Lusi di dekat supermarket itu.
Bahkan tubuh ku tertarik ke arah supermarket itu karena cahaya kuat dari tubuh Lusi.
Aku mengira Lusi sudah dewasa, tapi ternyata dia masih gadis belia."
"oh.......
Makanya malam itu tuan langsung menghilang dari kamar ini hanya dalam hitungan detik.
Luar biasa daya tarik gadis belia itu ya, dengan begitu hebatnya bisa menarik tubuh tuan untuk mendekati nya.
Gadis belia itu sangat centil, tapi pribadinya sangat unik.
Saya mendapatkan informasi dari orang-orang kita tuan.
Bahwa ayahnya non Lusi itu adalah penipu ulung, yang sudah meresahkan banyak orang dan istrinya itu juga sama.
Ayahnya Lusi itu bekerja sama dengan beberapa orang yang mengaku sebagai makelar tanah, yang telah banyak menjual tanah sengketa kepada orang lain.
Lalu istrinya adalah ketua dari sebuah arisan, yang berulangkali menipu sesamanya.
Sebenarnya ayahnya Lusi itu adalah buronan, untuk istrinya belum ada yang berani melapor karena masih kekurangan bukti."
"Lusi berkata kalau pria itu bukan ayah kandungnya, tapi kenapa pria belum tertangkap juga?
padahal begitu bebasnya berkeliaran di alam sekitar ini."
"menurut informasi bahwa pria itu punya bekingan dari pihak berwajib, makanya sampai sekarang masih aman berkeliaran.
__ADS_1
Kerjasama mereka begitu tersusun sempurna, sehingga masih bisa berkeliaran sampai saat ini.
Saya hanya kwatir terhadap non Lusi, bisa-bisa menjadi amukan para korban penipuan akan perbuatan pria itu."
"alamat pria ada?"
Yogi meminta alamat ayah Lusi, dan alamat yang sama dengan alamat yang tercatat di catatan sekolah.
"kamu stay di rumah ini, tunggu sampai aku balik lagi."
Belum juga menjawabnya, Yogi sudah menghilang dari pandangan Aji.
Tapi sepertinya Aji sudah terbiasa melihatnya, dan hanya menggelengkan kepalanya lalu keluar dari kamar mewah Yogi.**
"ya Tuhan....."
Pria yang mengaku sebagai ayah Lusi itu kaget karena tiba-tiba melihat Yogi berada dihadapan di ujung gang.
"penipu ulung seperti kau, tidak pantas menyebut nama Tuhan ataupun dewa sekalipun."
"bukan urusan mu kampret, kebetulan kau berada di sini.
Asal kamu ketahui, daerah ini adalah kekuasaan Ku.
Kembalikan Lusi atau berikan uang satu milyar rupiah untukku."
krek.....plek.......
ah.....ah......ah.........
Pria itu di cekik oleh Yogi dan terlihat seperti mengisap sesuatu dari mulut pria itu.
Seperti awan yang muncul dari tenggorokan pria itu lalu.....
"uaakkkkk haaakkkkkk......"
Pria itu dijatuhkan oleh Yogi hingga tergeletak di tanah, terlihat dia seperti sesak napas.
"panggil semua genk mu kemari."
Lalu pria bersiul dan seketika para preman menghampiri Yogi.
"bu*uh bangsat itu...."
Teriak pria itu yang memerintah anak buahnya untuk melenyapkan Yogi.
ahhhhhh.......
Para preman itu melayang-layang di udara dan terakhir lenyap seperti debu yang di tiup angin.
Tubuh para preman itu hanya tersisa debu kecuali pria yang masih terduduk di tanah, pria yang mengaku sebagai ayah kandung nya Lusi walaupun sudah di sangkal oleh Lusi sendiri.
Kemudian Yogi mendekati pria itu, lalu memegang kepalanya.
"kau ngapain bangsat....
ahhhhhh..... ahhhhhh........."
Pria kesakitan padahal Yogi hanya meletakkan tangan ke atas kepalanya tapi jeritannya mampu memecahkan kesunyian malam.
hakkkkkkk...... ahhhhhh......
__ADS_1
Gumam pria yang masih kesakitan walaupun Yogi sudah melepaskan tangannya dari kepalanya.
Perlahan-lahan suara itu hilang dan akhirnya benar-benar hilang.
"mulai detik ini, kamu lumpuh seumur hidup mu dan kamu akan di buang oleh istri mu itu."
Ujar Yogi dan kemudian mengarahkan tangannya lalu tubuh pria yang sudah pingsan itu melayang jauh seperti dilemparkan dan menghilang dari pandangan Yogi.**
"Tuan.....
buat kaget aja."
Ujar Aji yang kaget melihat Yogi ada di hadapannya.
Aji yang sedang menonton televisi di ruang tamu harus merasakan sport jantung karena kehadiran Yogi yang tiba-tiba.
Drrrt..... drrrt..... drrrt.....
Handphone milik Yogi bergetar dan melihat nama Lusi di layar itu.
'ahhhh........ ahhhhhh......'
Handphone itu terjatuh dari tangga nya, karena rasa sakit yang berasal dari dadanya.
"tuan...."
Aji memanggil tuanya karena menghilang begitu saja dari hadapannya, tapi dia mulai sadar akan perilaku tuanya tersebut.
"mas Yogi benar-benar datang, kirain bohongan."
"kamu menyiksa mas hanya karena ingin membuktikan yang kamu inginkan?"
"ngak juga loh mas, Lusi hanya rindu aja sama mas Yogi."
Ternyata Lusi yang memanggilnya, terlihat Yogi sedikit kecewa terhadap Lusi yang membuatnya sakit dari dadanya karena panggilan Lusi yang mendadak.
"sebenarnya Lusi bermimpi mas, di dalam mimpiku bertemu dengan mama, lalu mama berkata kalau pelindung dan jodohku sudah aku temukan dan bisa memanggil nya kapanpun yang aku inginkan.
lalu....."
"Lusi..... Lusi.....
kamu kenapa dek? Lusi....."
Lusi berhenti bicara karena Desi memanggil dari luar.
Muach...... muach.....
Lusi mencium pipi Yogi dan juga dadanya, lalu melakukanya secara berulang lalu berhenti dan tersenyum ke arah Yogi.
"mas Yogi pulang ya."
Lusi tersenyum ketika Yogi sudah pergi dari hadapannya, lalu menyahut panggilan Desi.
"kamu kenapa dek?"
Desi bertanya lagi, dan ternyata bukan hanya ada Desi yang berada di depan pintu itu, dua si mpok dan suaminya serta adik laki-laki Desi juga.
"kak Lusi kenapa? apa ada yang menggangu kakak?"
"kak Lusi mimpi buruk dek dan sampai mengigau gitu.
__ADS_1
Lusi minta maaf karena sudah mengganggu istrihat nya."
Ke-dua orang tua Desi dan jadi adiknya merasa lega, karena Lusi hanya mimpi buruk aja dan mereka kembali ke rumah kecuali Desi yang memilih masuk ke dalam kontrakan Lusi.