
Bude sudah melepaskan pelukannya dan kemudian menatap Lusi dengan tatapannya yang lirih.
"Papa sudah sadar akan semua dosa-dosanya dan perbuatannya, Papa ingin bertemu dengan mu Lusi.
Papa mu ingin mintak maaf, walaupun Ia tau kalau dirinya tidak pantas untuk mendapatkan maaf dari mu.
Kelumpuhan yang di alaminya dan masuk penjara, menurut nya adalah upah dari segala perbuatannya yang kejam terhadap putri dan istrinya.
Bude ngak akan memaksa mu untuk menemui Papa mu, tapi bude hanya menyampaikan pesan dari Papa mu."
Lusi tersenyum lebar lalu memeluk bude dengan erat, lalu melepaskan pelukan itu dan kemudian menatap bude nya lagi.
"Lusi belum sanggup untuk bertemu Papa, rasa sakit itu masih tertanam dalam di hati ini dan sulit untuk mencabut nya."
"bude paham sayang, oleh karena itu bude tidak akan pernah memaksa mu, jika nanti Lusi sudah mampu untuk bertemu dengan Papa, maka bude akan membantumu.
Biar bagaimanapun bahwa Papa mu itu adalah saudara laki-lakinya bude, walaupun semua hancur hanya karena perempuan dajjal itu.
Oh iya, bude sudah membebaskan rumah mu. rumah peninggalan mendiang mama mu, Lusi bisa menempati rumah itu sekarang."
"ngak bude, Lusi belum ke sana."
"bude paham kok sayang, dan kapan itu, rumah itu adalah milik mu sayang.
Sebenarnya bude ingin mengajakmu untuk tinggal bersama, tapi bude yakin kalau Lusi tidak akan mau.
Karena bude sekarang tinggal bersama Zahran, adik tiri mu."
"bude benar, rasa sakit itu masih belum bisa Lusi padamkan."
"besok ngak sekolah?"
"besok hari minggu bude, tapi yuk tidur lagi. besok Lusi mau mengajak bude shopping."
Lagi-lagi budenya hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Lusi, dan mereka berdua bergandengan tangan dan berjalan ke arah ranjang Lusi.**
Selesai sarapan pagi, dan Lusi mengajak bude untuk belanja di supermarket yang merupakan anak usaha dari Binsar Batara group.
Lusi membawa troli belanja yang mengambil banyak barang yang di sukai nya, termasuk bahan pokok
"bukannya ini anak usaha dari Binsar Batara group itu ya?"
"iya bude, emangnya kenapa?"
"uhmmm.....
dulu bude sempat kerja disini sebagai kasir, lumayan lama juga sekitar lima tahunan lah.
__ADS_1
Bude kerja disini agar bisa menabung untuk privat menjahit, tapi setelah Papa mu menikah dengan mendiang mama mu, bude berhenti berhenti kerja disini.
Tabungan bude untuk mendiang mbak Mawar, mama kamu.
Untuk membuka lapak jahit, dan mendiang mama kamu membayar hutang nya dengan mencicil.
Lalu bude terus menerus belajar menjahit dan membuat pola, hingga pada akhirnya bude menjadi tukang jahit juga sampai sekarang.
Mediang mama mu yang membuka rejeki untuk bude, bahkan bisa mencukupi kebutuhan dapur dan biaya sekolah mas mu.
Mas kamu itu orang yang pintar dan cepat lulus SMA, istilahnya loncat kelas gitu lah, lalu dapat beasiswa di Mesir dan tanpa terasa lulus bahkan sudah memperoleh gelar doktor.
Kemudian mengajar di salah satu pesantren dan menjadi pengajar termuda di sana.
Sebenarnya Rena juga pintar, tapi......"
"cukup ya bude.....
Rena sudah tenang ya, kita berdoa aja untuknya.
Apa ada lagi yang bude butuhkan?"
Bude nya hanya menggelengkan kepalanya, dan mereka kemudian antri di kasir.
"Bude sudah di sini dan akan selalu ada untukmu ya sayang, kalau Lusi butuh bantuan atau hanya sekedar curhat, hubungi bude ya, karena bude akan segera meluncur untuk mu."
Lusi mintak maaf, karena tidak bisa menemani bude. itu karena Lusi belum bisa menerima bocil itu."
"ngak apa Lusi, biar bude aja yang menghampiri mu atau kita bertemu di suatu tempat nantinya.
Bude ngerti kok, karena bude sudah pernah merasakan.
Bahkan bude lebih parah, tapi yang jelas bude ada untukmu.
Semuanya harus perlahan, tidak perlu buru-buru dan biarkan semuanya berjalan dengan semestinya.
Bukan karena kehendak kita, tapi keadaan yang memaksa kita untuk berbuat demikian.
Mereka yang memulainya, dan kita yang menjadi korban dan harus pelan-pelan untuk membuka pintu maaf untuk mereka.
Jujur.....
Bude juga sudah menerimanya, Zahran bude tampung hanya karena kasihan.
Zahran hanya terimbas perbuatan mereka dan ajaran keluarga serta lingkungannya, bude akan mencoba bertahan bersama Zahran.
Apabila bude ngak sanggup, maka bude akan mengirimkan Zahran ke pesantren."
__ADS_1
"sabar ya bude."
Mereka berdua saling tersenyum dan tiba saatnya giliran mereka berdua di kasir, dan segera Lusi memberikan kartu hitam itu ke kasir.
Dibantu security untuk mengangkat belanjaan mereka ke mobil dan juga pak Rado, dimana belanjaan Lusi dan bude sudah di pisahkan.
Lusi berniat mengantarkan bude ke rumah dan mereka berdua sudah berada di dalam mobil dan hendak keluar dari parkiran.
"Apa bude mengetahui kalau mama itu suku Batak?"
"bude tau kok, emangnya kenapa?"
"apa bude tau asal usul mendiang mama?"
"ngak, karena mama mu juga ngak mengetahui asal-usul nya dan bagi almarhumah nenek itu tidak masalah.
Lusi tau ngak, dulu bude sangat cemburu terhadap mendiang mama mu, itu karena nenek mu jauh lebih sayang kepadanya.
Maklum istri anaknya, tapi ya mama mu itu bisa mengayomi bude dan akhirnya bude bisa merasakan kehadiran seorang kakak di dalam hidup ini.
Almarhumah begitu penyayang, rajin, cekatan dan ulet. pantas saja nenek mu sangat berpihak kepadanya.
Tidak ada cacat cela dari mama mu, bahkan nenek jatuh sakit karena kaget mendengar Papa mu selingkuh.
Nenek mu mengira kalau mama akan meninggalkan papa mu setelah mengetahui nya selingkuh, sebenarnya bukan itu tujuan almarhum.
Lebih tepatnya agar nenek mengetahui keadaan anaknya yang sebenarnya, dan memang sikap Papa kamu sudah sangat sering menyakiti nenek di karena perempuan dajjal itu.
Entah apa yang dilihatnya dari perempuan itu, kaya ngak, cantik ngak, malah jauh lebih mama mu dari perempuan dajjal itu.
Entahlah bude bingung, dan sejujurnya bude sangat sakit hati sama papa mu itu.
Seharusnya Papa mu yang menjadi tempat pengaduan bude, saat perempuan dajjal itu memfitnah bude dengan menebarkan fitnah kalau bude selingkuh.
Bude meminta Papa mu untuk menasehati istrinya, sang perempuan dajjal itu.
Tapi papa mu itu malah membenarkan ucapan istrinya itu, sehingga pak Dhe kamu itu percaya kalau bude selingkuh.
Sakit memang bila mengingat nya, tapi nyata pak Dhe yang selingkuh dan persis seperti papa mu yang menuduh mama mu selingkuh untuk menutupi perselingkuhannya."
"jika begitu sakit nya hati bude, yang dilakukan perempuan dajjal itu serta putrinya, kenapa bude masih bisa menjadi perantara antara Lusi dan Papa?
Lalu bagaimana dengan anaknya itu?"
Haaaaaaaa.....
Bude nya hanya menghela napasnya, dan kemudian menatap Lusi dengan tatapannya yang kosong.
__ADS_1