
Pelukan itu sudah berakhir dan mereka menikmati makanan dan minuman yang telah tersedia.
"selamat ya Lusi, kamu memang luar biasa. terimakasih karena telah kembali dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun."
"terimakasih bang Aji, oh iya atasan bang Aji yang sok sibuk itu kemana?"
"masih di Texas amerika Lusi, kan Lusi bisa menghubungi nya."
"malas....
sok sibuk kalau di hubungi, terkesan buru-buru kalau lagi ngobrol."
"Lusi.....
itu artinya kamu itu fokus dulu untuk sekolah, nanti juga ada waktunya.
benarkan nak Aji?"
"betul sekali ibu, fokus dulu sekolah non Lusi. ntar kalau sudah selesai pendidikan dan bos ku yang sok cool itu akan datang melamar mu.
Ngak usah bersungut-sungut begitu, kan masih bude mu, kak Desi, mpok, Dante, bapak dan juga Aji.
Kamu ngak sendiri Lusi, kita ini sudah seperti keluarga."
"benar sekali, pokoknya Lusi fokus dulu sekolah ya.
Kamu itu sudah seperti anak bagi om, ngak usah bersungut-sungut begitu ya, harus semangat."
"iya Lusi, mpok selalu ada untukmu dan pintu rumah selalu terbuka untuk mu."
Lusi menjadi terharu dan matanya berkaca-kaca karena masih keluarga hangat untuk nya.
Kemudian bude nya menghapus air matanya yang sudah menetes di pipinya lalu memeluk dengan erat.
"sebenarnya bude juga ingin tinggal bersama mu Lusi, agar Lusi tidak merasa sendirian di dunia ini.
Tapi bude sudah berjanji kepada papa mu untuk menjaga adik tiri mu itu.
Tapi jelas kamu ketahui, kalau bude selalu ada untukmu.
Sama seperti dulu, dan bude sangat menyayangi mu."
Lagi dan lagi mereka berdua berpelukan dengan erat, dan suasana haru kembali meliputi mereka.
Berhubung sudah semakin malam, dan saatnya untuk istrihat. bude nya Lusi serta Aji izin untuk pulang.
Akhirnya Lusi bisa tidur di ranjang nya yang empuk.
Selama Lusi di Paris, bude nya selalu datang ke kontrakan itu untuk membersihkan kontrakan Lusi.
Itulah sebabnya kamarnya tetap bersih dan rapi serta wangi.**
Pagi-pagi sekali Lusi sudah bangun dan beraktivitas sebagaimana biasanya.
Selesai sarapan lalu bersiap-siap dan seperti hendak pergi ke suatu tempat.
"mau kemana dek, pagi-pagi gini kok sudah rapi dan cantik aja."
__ADS_1
"mau ke rumah bude kak Des."
"diantar pak Rado kan?"
"ngak usah, ini hari minggu kak. saatnya pak Rado untuk keluarga nya."
"kalau gitu kakak temani ya, tunggu sebentar biar kakak ganti baju dulu, karena tadi kakak sudah mandi."
"ngak usah kak, Lusi naik taksi aja. sudah biasa jalan sendirian selama ini."
"Lusi.....
kakak mu ini kan asisten mu, jadi harus ikut kemanapun Lusi pergi."
"kak Desi yang cantik, asisten itu juga butuh waktu untuk diri sendiri dan juga keluarga.
Jangan kerja mulu, perhatian juga diri sendiri serta keluarga.
Kapan lagi kakak berkumpul dengan keluarga kalau bukan di hari minggu seperti ini.
Kakak ngak usah ngaco ya, Lusi bukan anak kecil ya kak."
"iya deh kalau begitu, tetap aktif ya handphone mu dan hubungi kakak jika terjadi sesuatu."
"iya kakak ku cantik, iya dah Lusi berangkat dulu, taksinya sudah di datang tuh."
Akhirnya Lusi berangkat sendirian dengan menggunakan taksi, tapi tidak lupa untuk izin terlebih dahulu kepada mpok Alfa sang ibu kos.
Tidak berapa lama Lusi sudah tiba di gang masuk ke rumah bude, gang yang lebar dan penuh dengan rumah-rumah warga.
Tapi Lusi terus melangkahkan kakinya dengan segala keraguannya dan terus menerus melangkahkan kakinya.
"kak Lusi....."
Ketika Lusi sudah tiba dihalaman rumah bude nya dan seorang bocah laki-laki itu berteriak memanggil nama Lusi, kemudian memeluk Lusi dengan eratnya.
Lusi berusaha melepaskan pelukan dari bocah itu, dan akhirnya lepas. akan tetapi Lusi menerima tatapan sedih dari bocah itu.
"Zahran kalau kak Lusi sangat membenci ku, tapi Zahran tidak pernah membenci kakak.
Tapi Zahran berterimakasih kepada kak Lusi karena sudah datang kemari dan kita bisa bertemu."
"aku datang ke sini bukan untuk melihat, tapi untuk melihat bude."
"terserah kak Lusi, tapi yang jelas Zahran senang karena kakak ada disini.
Ayo masuk kak, bude lagi masak kolak. bentar lagi masak itu kolak."
Dengan semangatnya bocah itu menarik tangan Lusi untuk ke dalam rumah bude nya.
"Lusi....."
Ujar sang bude, yang membawa kolak ke ruang tamu dan kaget melihat Lusi yang datang ke rumah, tapi terlihat bahagia karena keponakannya itu mengunjunginya.
"Lusi sudah makan?"
"sudah bude."
__ADS_1
"syukurlah kalau begitu, ini kolak buatan bude dan kamu pasti suka deh."
Ujar bude nya, lalu menyajikan kolak itu di mangkok dan berikan kepada Lusi, kemudian datang Zahran yang membawa tiga gelas dan dan juga botol minum.
Air minum di tuang nya dengan pelan, lalu di berikan nya kepada bude dan gelas kedua di arahkan ke Lusi.
"minum kak Lusi, selamat makan kolak."
Lusi berhenti meniup kolak di sendok nya dan menatap bocah laki-laki yang bernama Zahran tersebut.
"kenapa sih aku bisa membenci mu? apa Zahran punya mantra agar aku tidak membenci mu?"
"entahlah....
tapi Zahran lebih nyaman bersama kakak daripada kak Suci atau mama ataupun itu abang.
Nyaman aja saat dekat-dekat sama kakak, Zahran juga ngak tau kenapa sangat nyaman saat bersama kakak."
"kenapa Lusi ngak bisa membenci Zahran ya bude?"
"itu karena kamu gadis yang baik dan berhati lembut sayang, dan juga darah yang mengalir diantara tubuh.
Ikatan darah yang membuat kalian berdua saling terhubung.
Sama seperti bude, yang tidak bisa mengacuhkan papa mu dalam keadaan terpuruk.
kalau mengingat semua perbuatan Papa mu dan istrinya yang tidak tau diri itu, uhmmmm..
ingin rasanya menertawai papa mu itu dan meludahinya saat itu juga.
Sebentar ya, seperti ada yang nelpon bude."
Ucap bude dan kemudian menjawab panggilan telepon tersebut.
"siapa bude?"
Bude menatap Lusi seraya tersenyum dan kemudian meletakkan handphone nya di atas meja.
"Desi....
kakak mu itu hanya ingin memastikan kalau Lusi berada di rumah bude."
"oh....."
"kamu memang hebat dan mudah bergaul dengan orang-orang baik, itu karena kamu gadis yang baik."
"bude membuat Lusi jadi geEr deh, dah dong bude."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha haha
Mereka tertawa karena sikap Lusi yang sok imut.
"maafkan Zahran ya kak, aku tau bagaimana kejamnya mama terhadap kakak.
Maafkan Zahran ya kak."
Lusi langsung memeluk adik tirinya itu dengan erat, seketika itu juga air matanya mengalir di pipinya yang lembut itu.
__ADS_1