PENGANTIN PRIA TERKUTUK

PENGANTIN PRIA TERKUTUK
Bertemu Dengan Ibu Tiri.


__ADS_3

Terungkap semua kelakuan Suci, sang penyebar fitnah yang membahayakan nyawa orang lain.


Karena fitnah yang disebarkan olehnya, sehingga ada beberapa gadis muda bunuh diri.


Sama hal seperti mendiang Rena, anak dari bude nya Lusi.


Karena fitnah dari Suci, lalu mengedit foto dan menyebarkan foto bugil bersama seorang om-om dan itulah yang menyebabkan mendiang Rena bunuh diri.


Begitu percakapan mereka di ruang makan itu, segala keluh kesah terucapkan dan semuanya tentang Suci.


Malam sudah semakin larut, dan mereka berpamitan kepada Lusi untuk pulang.**


Senin pagi yang cerah dan Lusi sudah bersiap ke sekolah, dan seperti biasa pak Rado sudah bersiap-siap untuk mengantar calon istri tuan nya itu ke sekolah.


Pak Rado menyapa Lusi, dan mendapatkan sapaan terbaik dari gadis belia itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jarak sekolah Lusi dengan tempat tinggalnya tidaklah terlalu jauh.


Sehingga tidak membutuhkan waktu yang banyak sampai tiba disekolah.


Pak Rado langsung turun dan membuka pintu mobil untuk Lusi, lalu gadis belia itu memberikan salam kepada pak Rado.


"Lusi....."


Ketika Lusi menoleh ke arah sumber suara dan itu adalah Santi.


Pak Rado sudah pergi dan nanti siang akan kembali untuk menjemput Lusi seperti biasanya, lalu kedua gadis belia itu masuk ke sekolah.


Didalam ruang praktek bahan, anak-anak didik yang di dominasi oleh kaum hawa yang serius mendengarkan penjelasan dari pak guru mengenai pemilihan bahan yang tepat.


tok....tok.... tok.....tok......


Seseorang mengetuk pintu, dan setelah dipersilahkan masuk seorang pria paru baya.


"ada perlu apa pak Misran?"


"anu bu, saya disuruh guru bimbingan konseling untuk memanggil nak Lusi.


Orangtuanya sekarang berada di ruang BK, katanya ingin bertemu."


Ujarnya dan Lusi segera mengikuti pria paru baya, dari sorot matanya Lusi, tergambarkan kecemasan yang tidak menentu.


Lusi sudah tiba di pintu ruang BK, dengan pelan-pelan masuk dan.....


"apakah Lusi ini putri ibu Rana?"


"iya ibu guru, anak ini sangat durhaka yang sudah mencelakai adiknya sendiri."


Ternyata tamu yang mengaku sebagai orangtuanya adalah Rana, istri kedua dari Papa nya.


"apa maksud ibu Rana?"


"Lusi harus bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, anak ini telah merusak wajah adiknya bu."

__ADS_1


"kalau merasa di rugikan, laporkan aja ke polisi bukan ke sekolah.


Oh iya.....


apakah anu mu sudah sembuh? katanya bernanah ya, bernanah karena main sama barang bule yang besar."


Sang ibu tiri terlihat sangat marah akan ucapan dari Lusi.


"tutup mulutmu Lusi, dasar perempuan ja**ng, tidak tau diri."


"kau dan putri mu perempuan ja**ng, yang suka sama suami orang.


Satu lagi ya, kau itu bukan orang tua ku. kau hanya perempuan ja**ng dan penipu ulung."


plak.....


Guru BK menampar Lusi dengan keras, atas ucapannya yang terdengar kasar.


Setelah menerima tamparan itu, lalu Lusi berjalan ke arah meja dimana ada telepon diatasnya.


"mas.....


Lusi ditampar guru BK karena fitnah mantan ibu tiri."


Hanya itu yang terdengar, lalu panggilan telepon itu berakhir.


drrrt........ drrrt....... drrrt.......


Guru BK itu meraih handphone nya yang bergetar diatas mejanya, lalu terlihat serius dan juga panik melihat nama yang menghubungi ya.


Dua laki-laki dan tiga orang perempuan langsung tiba di ruang BK tersebut.


"sebagai guru bimbingan konseling, seharusnya ibu mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak.


Bukan langsung mengambil kesimpulan dan melakukan tindakan anarkis.


Ibu disini bertugas sebagai konseling, bukan sebagai hakim.


Mulai detik ini, ibu saya pecat karena telah melanggar kode etik dan juga peraturan dasar yayasan.


Bereskan barang-barang mu dan angkat kaki dari sekolah ini, sekarang juga."


Pria yang berbadan tegap itu langsung memberikan sanki guru bimbingan konseling, dan langsung meneteskan air matanya.


"saya sudah berbakti bertahun-tahun disini, dan seketika langsung dipecat. dimana hati nurani bapak sebagai kepala sekolah disini?"


"jangan berkata tentang hati nurani ibu, sementara ibu anarkis terhadap anak didik tanpa mengetahui sebab akibatnya.


Apa salahnya bertanya terlebih dahulu, diskusikan dan sebagainya.


Rasanya saya tidak perlu mengajari ibu tentang hal ini, karena itu sudah menjadi bidang ibu dan di aplikasikan selama beberapa tahun disekolah ini."


"apakah tidak ada keringanan bagi saya?"

__ADS_1


"entahlah bu, itu tergantung pemilik yayasan dan hati yang ibu sakiti."


Akhirnya guru bimbingan konseling itu pergi dari ruangan itu dan tinggallah mereka yang ada di sana.


"Lusi.....


duduklah, bapak ingin mendengar penjelasan dari mu."


Kemudian Lusi duduk di salah satu sofa, gadis belia itu menyeka air matanya.


"begini ceritanya pak....


Memang ibu ini adalah istri kedua Papa ku, dan telah mempunyai anak perempuan yang sebaya dengan Lusi.


Lusi sekolah dari taman kanak-kanak sampai sekarang yang memilih jurusan tata busana dan semua itu berada di naungan Yayasan Binsar.


Bapak ingat ngak dengan kejadian dimana Gebi dan dua siswi lainnya yang bunuh diri, loncat dari lantai atas SMP Binsar?


itu semua karena fitnah yang sebarkan oleh anak ibu tiri ku ini.


Namanya Suci, dan kami satu sekolah juga. Papa ku sudah menceraikan ibu ini pak.


Sekarang dalam hal gugatan, dan bukan Lusi yang menyebabkan wajah putri ibu ini hancur.


Tapi itu ulah para istri dimana suami-suami mereka di goda oleh putrinya.


Lusi tidak asal bicara pak, dan menyatakan sanggup membawa saksi-saksi mata kemari."


"bohong, perempuan laknat ini bohong."


"okey.....


stop ya bu, nanti ada giliran ibu untuk bicara. Lusi, lanjutkan."


Sanggah bapak kepala sekolah dan Lusi mintak ijin menggunakan telepon dan langsung di setujui oleh kepala sekolah.


Belum juga Lusi selesai menelpon, Santi sudah hadir di ruangan bimbingan konseling itu dan napasnya yang ngos-ngosan.


Selesai menelpon dan Lusi menghampiri Santi yang baru tiba.


"Santi ngapain kemari? ada masalah di BK ini juga ya?"


"ngak Lusi.....


Santi datang kemari untuk memberikan kesaksian.


Ibu dan putri nya ini benar-benar keterlaluan dan tidak bisa dipercaya pak.


Mereka berdua sama aja, sama-sama perusak hubungan rumah tangga orang lain. gara-gara fitnah yang sebarkan oleh putri ibu ini, sehingga teman saya bunuh diri pak.


Lusi juga di fitnahnya pak, dan saya ikut-ikutan mengatai Lusi simpanan om-om hanya karena omongan Suci.


Saya ngak bohong dan tidak asal bicara pak, ini nih bukti bahwa putri ibu ini simpanan om-om."

__ADS_1


Jelas Santi dengan membara dan menunjukkan beberapa foto kepada kepala sekolah dan seketika kepala sekolah itu terlihat menggaruk-garuk kepalanya.


__ADS_2