
Lusi melepaskan pelukannya dan kemudian menatap adiknya itu.
"biasanya orang-orang bilang, saya mewakili mama ku, tolong maafkan kami.
tapi Zahran tidak melakukannya, kenapa ya?"
"percuma juga kak Lusi, karena pasti akan mencari gara-gara lagi sama kakak.
mungkin mereka sampai puas membuat permasalahan sama kakak."
"loh....
kak Zahran tau?"
"iya kak, kemarin itu Zahran ke rumah kita itu kak untuk mengambil buku pelajaran Zahran yang tertinggal.
Saat itu mama dan kak Suci ada disana, tapi tidak bisa masuk karena kunci nya Zahran pegang.
Dari tempat persembunyiannya Zahran mendengar obrolan mereka berdua.
Mama berkata akan terus-menerus mencari kakak dan meminta uang untuk mereka berdua.
Karena menurut mama, kak Lusi adalah sumber uang nya.
Mama juga berkata kalau sumber uang utamanya yaitu papa sudah tidak bisa di andalkan lagi karena sudah masuk penjara.
Saatnya kak Lusi yang menjadi target mereka, dan tidak akan melepaskan kakak sampai keinginan mereka terpenuhi.
Untung kakak kemari, agar Zahran bisa menyampaikannya kepada kakak agar kak Lusi lebih berhati-hati ya.
Jadi percuma kak Lusi memaafkan mereka berdua, karena akan terus-menerus melakukan nya."
"terimakasih ya Zahran, memang sejak awal bertemu, kakak ngak pernah sakit hati melihat mu.
Cuman hanya karena mama mu yang membuat hati kakak sangat sakit.
Sulit rasanya menerima mu, tapi Zahran selalu ada untuk kakak.
Kakak berjanji akan selalu hati-hati untuk setiap langkah kakak."
"terimakasih kak, sebenarnya Zahran menginginkan kita tinggal satu rumah, tapi nantinya menjadi alasan mama dan kak Suci untuk membuat kak Lusi semakin sakit hati dan menderita.
Mereka berdua ngak berani sama bude, mungkin karena bude seperti superman kali ya."
Lusi dan bude nya hanya tertawa, dan kemudian kembali hanyut dalam suasana yang tidak menentu.
"jika mama dan kak Suci memperalat Zahran nanti nya untuk menggangu bude, maka Zahran harus masuk pesantren walaupun itu bukan kehendak Zahran.
Jika Zahran sudah pergi dari sini, tolong jaga bude ya kak.
Jangan biarkan bude di ganggu oleh mereka berdua, karena hanya bude yang kita punya kak."
Kali ini Lusi memeluknya dengan begitu eratnya dan kemudian mencium kening adik tirinya.
__ADS_1
"Zahran..... Zahran......."
haaa.....
Bocah itu menghela napasnya dan kemudian menatap Lusi.
"betul kan yang Zahran ucapkan, tuh mereka berdua datang.
kak Lusi masuk ke kamar ya, karena mereka tidak mengetahui kalau kakak ada di rumah ini."
"sepatu kakak di luar dek."
"sudah Zahran masukkan ke dalam kak, dah sekarang masuk ke kamar bude."
Ucap Zahran yang meminta Lusi untuk masuk ke dalam bude nya, lalu bocah itu melangkah bersama dengan bude nya untuk menemui tamu yang tidak di undang itu.
"kamu kemana aja sih Zahran, mama mencari mu kemana-mana dan mama sudah sempat frustasi.
Kamu pasti di culik kan? perempuan ini yang menculik mu?"
"mana ada penculik yang menyekolahkan korban nya dan merawatnya dengan baik, mama jangan gitu dong.
Bude ku ini dan bukan penculik, mama yang entah kemana perginya."
"pasti Zahran sudah cuci otaknya olehnya perempuan ini ma.
dasar penculik, kurang ajar kamu ya. berani-beraninya menculik adikku."
"diammmm......."
"Mama dan kakak sudah menemukan Zahran, mari kita pulang sekarang, jangan membuat keributan di rumah orang.
Diteriakin maling baru tau, kita pulang aja yuk dan jangan buat keributan disini.
bentar biar Zahran tas dulu ya."
Zahran menarik tangan bude nya, lalu menutup pintu, dan mengajak bude nya untuk masuk ke kamar.
"Zahran sudah mendapatkan firasat bude, hari ini Zahran akan ikut mama dan kakak dulu.
Nanti malam Zahran akan dijemput oleh abang kakak kelas dari pesantren.
Semalam Zahran sudah bicara dengan mas Abi atau ustad Abi yang di pesantren.
Bude sama kak Lusi, ngak usah khawatir. mungkin pesantren yang terbaik untuk Zahran.
Kak Lusi, tolong jaga bude ya dan jaga diri baik-baik.
bude dan kak Lusi, jangan keluar dari kamar ini, sampai kami pergi dari sini."
Ucap Zahran dan kemudian menyandang tas ransel yang besar itu di punggungnya.
"ayo kita pulang."
__ADS_1
Itulah yang terdengar dari luar rumah, kemudian suara kaki melangkah itu sudah menghilang dan demikian juga dengan suara-suara sumbang itu.
Lusi dan bude nya keluar dari kamar dan kemudian mengintip dari jendela dan benar saja tamu yang tidak diharapkan itu sudah pergi.
"bude, gimana dengan Zahran?"
"habis sholat subuh, bude sudah bicara dengan Abi.
Zahran curhat sama mas mu itu, kalau adek mu takut jika mamanya dan Suci akan memperalat Zahran untuk membuat bude tersakiti.
Zahran memutuskan untuk masuk pesantren, dan akan belajar keras agar bisa menjadi ustadz nantinya."
"kalau begitu bude harus ikut dengan Lusi ya, di depan kontrakan Lusi bude bisa menjahit.
Lusi ngak mau kalau bude akan tersakiti jika berada disini, di kantoran itu sudah banyak orang-orang kepercayaannya mas Yogi yang akan mengawasi kita bude.
Hanya bude keluarga yang Lusi miliki, ngak mau terjadi sesuatu kepada bude."
"iya Lusi, bude mau kok."
Ujar bude nya, seraya memegang tangan keponakannya itu.
"bude juga ngak betah di pasentren, karena sudah terbiasa dengan aktivitas yang luwes dan bertemu dengan orang-orang baru setiap hari.
bude ada tabungan kok, jadi ngak perlu khawatir mengenai biaya nantinya."
"bude ngak usah memikirkan itu, uang Lusi sangat banyak kok.
Karena Lusi mendapatkan bonus dari desain pakaian yang Lusi buat dan juga bonus dari Paris bude.
Lusi sudah punya mesin jahit dan juga mesin bordir berikut dengan bakal kain dan juga pernak-pernik jahit.
kita berdua bisa berkalobrasi untuk membuat karya seni pakaian yang luar biasa.
yuk kita beres-beres yuk, ngak usah banyak-banyak bawa nya, bude cukup membawa yang penting-penting aja ya.
Nanti kita belanja untuk kebutuhan lainnya, yuk bude yang cantik."
Bude nya hanya bisa tersenyum dan mereka berdua mulai beres-beres.
Sesuai dengan yang di pinta oleh Lusi, budenya hanya membawa surat-surat penting dan juga perhiasannya serta sedikit pakaian.
"bentar ya bude, ada yang menelpon Lusi."
Lusi langsung meraih handphone nya dan menjawab panggilan telepon tersebut.
"siapa yang nelpon?"
"pak Rado bude, supir pribadinya Lusi. katanya akan menjemput Lusi kemari, sebenarnya sudah Lusi tolak.
Tapi Rado ngotot untuk menjemput kita disini, ya sudahlah kalau begitu.
Sekalian nanti kita berdua belanja bulanan dan juga keperluan bude nanti."
__ADS_1
Bude nya hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian keluar kamar dan menunggu pak Rado di ruang tamu.