PENGANTIN PRIA TERKUTUK

PENGANTIN PRIA TERKUTUK
Rencana Lompat Kelas.


__ADS_3

Sang ibu tiri terdiam sesaat dan tidak berkutik lagi, sementara kepala sekolah dan guru lainnya hanya geleng-geleng kepala.


"Santi salah pak, karena ikut-ikutan memfitnah teman-teman yang lainnya.


Tidak mau ada korban lagi karena fitnah dari putri perempuan ini, karena fitnah itu bisa membunuh.


Perempuan ini dan juga putrinya ahli dalam memfitnah pak, bukan hanya Lusi yang jadi korbannya."


"terimakasih ya Santi atas penjelasan mu, dan terimakasih atas informasi ini."


Ujar kepala sekolah itu dan kemudian menatap wanita yang merupakan ibu tirinya Lusi.


"gara-gara ibu, saya memecat staf bimbingan konseling.


Kali ini ibu saya lepas, dan jika hal terulang lagi, saya tidak segan-segan melaporkan ibu ke polisi.


Sekarang ibu pergi, dan jangan pernah datang lagi ke sekolah ini."


Dengan wajahnya yang ekspresi yang menahan malu dan melangkah keluar dari ruangan tersebut.


"Lusi.....


bapak selaku kepala sekolah dan mewakili staf yang bertugas, mintak maaf kepada Lusi.


Bapak akan berusaha agar tidak terulang lagi seperti ini, maaf karena telah melukai hati mu nak."


"Lusi maafkan pak, dan Lusi juga berterima kasih kepada bapak karena sudah bersedia mendengarkan penjelasan dari Lusi dan Santi."


"syukurlah......


bapak boleh nanya ngak?"


"silahkan bapak?"


"uhmm..... hmmmm.....


pak Yogi itu siapa nak Lusi?"


"kata mas Yogi, aku ini calon istrinya pak. pasti bapak kaget kan?"


Kepala sekolah itu hanya bisa bengong mendengar pengakuan Lusi.


"sumpah demi apapun dan Lusi bersedia bersumpah, bahwa Lusi tidak pernah jual diri.


Lusi bisa memasak, menjahit dan mendesain baju.


Lusi juga punya rekan kerja pemilik grosir bahan pakaian yang siap memberikan komisi jika Lusi menjual produknya.


Bahkan Lusi bersedia tes keperawanan, untuk membuktikan ucapan saya pak.


Biarlah hidup miskin, asal jangan menjual harga diri, selama kita masih punya anggota tubuh yang lengkap dan sehat.


Itulah nasihat mendiang mamanya Lusi, dan itu yang Lusi pegang hingga hari ini.

__ADS_1


Lusi hanya perlu memasak di dapur nya ibu kos, dan sudah mendapatkan makanan dan juga uang jajan pak.


Lalu menjahit pesanan tetangga dan teman-teman lainnya.


Lusi membeli bakal kain nya dari langganan, dapat potongan harga dan juga komisi.


Pakaian yang Lusi jahit di bayar, Lusi dapat komisi.


Jadi ngak perlu jual diri hanya untuk kebutuhan sehari-hari atau pun untuk kebutuhan lainnya.


Mas Yogi yang mengatakan kalau Lusi calon istrinya dan akan dinikahi jika Lusi sudah selesai kuliah dan kerja minimal satu tahun.


Karena mas Yogi tampan, kaya raya dan sangat perhatian.


Tentunya Lusi mau dong jadi istrinya, tapi jangan sekarang.


Ntar aja setelah Lusi tamar kuliahnya, dan itu sudah di janjikan oleh mas Yogi diatas hitam putih dan di buat di kantor notaris loh pak."


"bagus lah nak, kalau jodoh, rejeki dan juga maut sudah mengatur.


Kita hanya perlu bersyukur, bersabar dan tawakal serta tidak menyombongkan diri tentunya.


karena kesombongan adalah milik iblis dan itu mampu merusak iman kita.


Karena masalah sudah selesai, kalian berdua bisa balik ke kelas dan rajin belajar ya."


"iya pak, terimakasih ya pak."


Seseorang guru perempuan yang membawa dokumen meminta Lusi dan Santi agar tidak segera pergi.


"kenapa ibu Nania? Lusi buat salah apa?"


"ada dong.....


kalian berdua duduk, ibu mau ngomong sebentar dengan bapak kepala sekolah."


Lusi dan Santi duduk seraya berpegangan tangan, terlihat dari sorot mata kedua gadis itu menggambarkan ketakutan.


"begini bapak kepala sekolah, Lusi dan Santi mengikuti lomba desain dan menjahit tingkat nasional.


Mereka berdua lulus seleksi sampai dua tahap, dan nantinya akan mengikuti seleksi tahap ketiga dan selanjutnya akan berdua akan di kirim ke Paris di bawah asuhan desain profesional.


Tapi masalahnya mereka berdua masih kelas satu pak, sementara persyaratan harus minimal kelas dua.


Jika mereka berdua berhasil di kirim ke Paris, maka sekolah kita akan mendapatkan sponsor berupa fasilitas sekolah, seperti mesin jahit terbaru, komputer terbaru dan sebagainya senilai lima ratus juta rupiah selama lima tahun.


Ditambah lagi sekolah kita akan terekspose dan berkesempatan untuk mendapatkan sertifikasi standard internasional.


Tentunya guru-guru dan staf sekolah lainnya akan mendapatkan gaji tambahan dan bonus, serta sekolah kita mendapatkan profit serta anak didik yang mempu bersaing di masyarakat nantinya."


Dengan menggebu-gebu ibu guru yang bernama Nania itu menjelaskannya lalu terlihat Lusi dan Santi mendekatinya.


"Lusi ngak tau kalau bakalan lolos si tahap kedua."

__ADS_1


"sama....


tapi Santi yakin kalau Lusi bakalan lolos, terus gimana dong ibu?"


"iya Santi....


makanya ibu mau ngomong sama bapak kepala sekolah kita.


bapak.....


Tadi sama diskusi dengan guru-guru yang bersangkutan mengenai hal ini.


Solusi dari guru-guru yang lain adalah lompat kelas, dan guru-guru yang bersangkutan bersedia memberikan pelajaran tambahan kepada Lusi dan Santi untuk menghadapi ujian loncat kelas.


Para guru meminta saya untuk bertanya langsung kepada bapak dan menunggu kebijakan dari bapak."


"demi kebaikan sekolah kita dan anak-anak didik serta para guru dan staf, lakukan apapun itu.


Berarti ini kedua kalinya kita memberikan ujian lompatan kelas, tentunya dengan syarat dong."


"apa syaratnya pak?"


Dengan serentak Lusi dan Santi bertanya kepada kepala sekolah.


"kalian berdua akan menerima tambahan pelajaran dari guru-guru yang bersangkutan, dan kemudian mengikuti ujian lompatan kelas.


tapi walaupun kalian berdua lulus ujian lompatan kelas, tapi tidak lulus tahap ketiga. kalian berdua tidak bisa lompat kelas.


Jika kalian berdua lulus tahap ketiga lomba itu, tapi tidak lulus ujian lompat kelas, itu artinya kalian ngak akan bisa ikut ke sana.


Jadi kalian berdua harus berusaha keras, dan bapak yakin kok kalau ujian lompat kelas akan lulus, tapi jangan sombong dulu ya."


Lusi dan Santi saling bertatapan dan kemudian tersenyum lalu berhadapan secara langsung dengan kepala sekolah.


"baik pak dan kami berdua menerima persyaratan bapak. iya kan Santi?"


"iya dong, tapi privat tambahan nya di kontrakan mu aja ya Lusi, adikku rese orang nya, takutnya menjadi penghalang kita.


Lagian kan kakakku dan kakak mu sahabat, jadi nanti biar Santi pulang bareng sama kakak ku aja."


"setuju.....


biar Lusi yang membayar biaya tambahan private itu."


"gratis keles.......


Ujar bapak sekolah tiba-tiba dan membuat mereka tertawa.


"Lusi banyak duit loh pak, ngak apa-apa di bayar, anggap aja untuk beli vitamin tambahan untuk para guru.


Lagi pula kami berdua memang butuh tambahan pelajaran."


Kepala sekolah hanya mengangguk setuju, karena memang Lusi banyak uangnya, secara calon istri orang kaya.

__ADS_1


__ADS_2