
Dua puluh menit kemudian Doni dokter pribadi Andre datang kerumah seraya membawa peralatan medisnya.Doni yang sudah kenal dengan keluarga Andre tidak merasa sungkan lagi saat bertemu keluarga besar Andre.
"Siapa yang sakit Doni,kenapa kamu sampai datang malam-malam begini?" Tanya Sintia mamanya Andre.Dia wanita yang sangat cantik di usianya yang sudah hampir setengah abad.
"Tidak tau Tante,Andre menghubungiku barusan mungkin dia kurang enak badan.Kapan orang Tante sampai di Indonesia?"Tanya Doni dengan senyuman yang melekat di bibirnya.
"Satu jam yang lalu,Lucia tantenya Andre melapor kalau Andre pacaran dengan wanita yang tidak jelas,sejak kapan Andre pacaran dengan wanita itu Doni?" Doni tampak bingung karena dia dan Andre sudah lama tidak bertemu makanya dia tidak pernah tau kehidupan Andre belakangan ini.
"Wanita yang mana maksud Tante,maaf Tante aku dan Andre sudah lama tidak bertemu jadi aku tidak tau siapa yang tante maksud." Jawab Doni dengan wajah bingung.
Doni sebenarnya malas berurusan dengan keluarga besar Andre,mereka semua apalagi papanya adalah orang yang sangat angkuh dan sombong.Rasanya dia ingin segera meninggalkan ruangan itu tapi Sintia masih mengajaknya berbicara.
"Doni,yang sakit disini,untuk apa kamu disana!" Tiba Andre memanggilnya dari pintu sebuah kamar,Doni menghela napas lega setidaknya dia punya alasan untuk pergi dari tempat yang sangat membuatnya tidak nyaman.
Andre dan doni sudah lama bersahabat dari mereka kecil sampai hari ini,dan Doni sangat kenal dengan keluarga Andre apalagi papanya yang angkuh dan sombong begitu juga dengan Sintia mamanya Andre.
Sesampainya di dalam kamar Doni cukup tercengang melihat Alexa yang berbaring di tempat tidur,dia tidak menyangka kalau Andre dan Alexa masih tinggal bersama tampa pernikahan.
"Kamu sakit apa Alexa?"
"Makanya periksa,kalau kami tau aku tidak perlu menyuruhmu kemari." Jawab Andre Doni tersenyum kecil lalu mengeluarkan peralatan medisnya dan memeriksa keadaan Alexa.
__ADS_1
Setelah selesai Doni menarik tangan Andre lalu keluar dari dalam kamar,dia tidak ingin Alexa mendengar pembicaranya dengan Andre.
"Kenapa kamu menarik kesini apa kamu sudah memeriksanya apa yang terjadi dengannya?" Tanya Andre lalu melepaskan tangan Doni dari tangannya.Doni menghela napas panjang lalu menatap Andre dia sebenarnya ragu-ragu memberi tahu kebenarannya.
"Dia tidak papa kok,mungkin dia masuk angin.Kamu dan Alexa tinggal bersama,apa kalian pacaran?kenapa kamu harus pacaran dengannya kamu taukan bagaimana dengan orang tuamu apalagi papamu." Ucap Doni panjang lebar dia berbohong tentang keadaan Alexa yang sebenarnya.
"Aku tidak butuh nasihatmu atau kata-katamu yang aku inginkan periksa dan berikan dia obat." Jawab Andre lalu kembali masuk kedalam kamar dan menghampiri Alexa yang terlihat semakin lemah.
Sebenarnya Doni ingin memberitahu Andre kalau saat ini Alexa sedang hamil tapi dia takut semaunya akan kacau apalagi orang tua Andre sedang dirumah ini untuk saat ini,dia menunggu hari yang tepat untuk memberitahunya kepada Andre.
Setelah memberikan vitamin dan obat mengurangi rasa mual akhirnya doni meninggalkan rumah Andre dia tidak ingin berurusan dengan keluarga Andre lagi.
"Sekarang kamu kembali tidur,jangan banyak bergerak besok kamu tidak usah bekerja,ini terjadi karena kamu terlalu kelelahan."Andre mengomel kepada Alexa dan itu mampu membuat Alexa bahagia.
Setelah Alexa tertidur Andre keluar dari dalam kamarnya dan saat itu dia sudah tidak melihat semua keluarganya mungkin orang tuanya dan juga neneknya kembali ke rumah mereka begitu juga dengan tantenya.
"Baguslah setidaknya mereka tidak terlalu ikut campur dengan urusan ku." Ucap Andre dengan wajah bahagia.
Mobil yang di bawa oleh supirnya berjalan mulus di jalanan hari ini perasan Antoni sangat kesal melihat Andre begitu mencintai Alexa wanita yang jauh dari kasta mereka.
"Papa...Aku tidak mau ya Andre menikah dengan wanita itu,apa jadinya kita memiliki menantu seperti itu,kapan Aliza sampai di Indonesia,dia yang pantas jadi menantu kita dia anak Mentri dan juga keluarganya orang terpandang." Ucap Sintia dengan wajah tidak senang.
__ADS_1
"Memangnya siapa yang mau memiliki menantu seperti wanita itu,ada yang bilang kami menyukainya?" Ucap Antoni dengan nada marah,Sintia langsung terdiam dan tidak tau harus berbicara apa lagi.Nenek Elisabet hannya bisa mendengus dia juga kesal mendengar kata-kata menantunya.
"Papa akan mencari cara agar bisa memisahkan keduanya,dulu papa tidak mau ikut campur masalah percintaan Andre dengan wanita lain itu karena aku tau Andre tidak pernah serius,sekarang dia seperti cinta mati kepada wanita itu." Ucap Antoni dengan napas memburu seakan menahan amarah.
Sampai mobil mereka sampai diruamah,mereka hannya diam dan tidak berani komentar takut Antoni semakin kesal karena dia terlihat sudah marah.
"Cepat lakukan rencana mu,kita tidak lama di Indonesia kita harus segera menyelesaikan masalah ini.Aku ke kamar dulu aku sangat kelelahan." Ucap nenek Elisabet.Pelayan yang menyambut kedatangan mereka langsung membawa Elisabet menuju kamarnya lalu membantunya untuk istirahat.
Semetara itu Antoni dan Sintia duduk di ruang tamu sambil menikmati teh yang sudah di buatkan oleh pelayan yang lain, di rumah mewah itu ada lima orang pelayan dua tukang kebun dan security ada juga dua orang.
Antoni mengambil ponselnya dari dalam sakunya, lalu mengirim pesan kepada dua orang pria yang selalu membantunya di saat kesusahan jika dia di Indonesia.Dia menyuruh kedua pria itu untuk mencari tau latar belakang keluarga Alexa dan tentunya dengan mudah mereka akan mendapatkan itu karena Alexa pernah bekerja di butik Lucia,adik istrinya.
Keesokan paginya dua orang pria datang ke butik milik Lucia dia sudah tau kedua pria itu karena Sintia sebelumya sudah mengirim pesan kepadanya.
"Sebenarnya aku tidak tau alamat rumahnya tapi ada satu kariawan ku yang tau tentangnya aku akan memangilnya untuk kalian berdua." Ucap Lucia.Dia menghubungi Sonia untuk segera datang ke butiknya pagi ini.
Sonia yang baru saja mau berangkat kerja langsung berangkat buru-buru ke butik dia takut Lucia mengomel kepadanya,pikirannya yang sangat frustasi saat ini tidak ingin menambahnya lagi.
Keputusan Sonia untuk meninggalkan Revan sudah sangat bulat,dia memang malu kepada keluarga besarnya tapi menurutnya itu jauh lebih baik daripada bertahan kepada Revan yang bisa hannya menyakitinya setiap saat.
πππbersambung πππ
__ADS_1