Penguasa Benua Tengah

Penguasa Benua Tengah
Chapter 12.


__ADS_3

Chen mendarat tepat di antara mereka, lalu menangkupkan tangannya.


"Maaf jika yang muda ini terpaksa menengahi pertarungan ini." Ucap Chen.


"Oh dirimu anak muda yang tempo hari bertikai dengan Kerajaan Tang, menarik." Balas Pria Sepuh.


"Ada apa kau menghentikan seranganku Nak?" Tanya Pria Sepuh.


"Sebelumnya mohon maaf jika anak muda ini berbuat lancang, Aku ada sedikit urusan dengan kedua paman yang berhadapan dengan Tetua" Jawab Chen jujur.


Pria Sepuh itu sedikit bingung, ada urusan apa anak ini dengan keduanya.


"Lebih baik aku mencari tau dulu ada urusan apa mereka." Gumam Pria Sepuh.


Sambil mengangguk Pria Sepuh berucap; "Silahkan Nak, yang tua ini menunggu."


"Terima Kasih Tetua." Jawab Chen.


Chen mengalihkan pandangannya ke kedua Pria tersebut.


"Paman berdua sebelumnya aku mohon maaf jika sedikit mengganggu, baiklah langsung saja aku ingin bertanya perihal Ketua Limba yang sempat paman sebut namanya tadi, aku sempat mendengar salah seorang dari paman menyebut namanya." Ucap Chen sopan.


Kedua orang itu langsung menjadi siaga, Ras Manusia mengenal Ras Hewan biasanya bukanlah hal baik.


"Ada urusan apa kau dengan Ketua?" Tanya salah satu dari mereka dengan nada sedikit curiga.


"Lagipula percuma jika kau mencari Ketua, kemungkinan Ketua sudah tiada." Timpal seorang Pria satunya.


Chen hanya mengangguk sebagai kewajaran jika mereka curiga terhadapnya.


"Aku Nan Chen, dari Klan Nan wilayah timur. Jujur saja Ketua yang kalian sebut itu adalah Guruku." Jelas Chen.


Kedua Pria itu terkejut mendengar penjelasan Chen, lalu salah satunya bertanya : "Apa kau yakin jika Ketua kami ada Gurumu?


Chen mengangguk serius; "Guru Limba sempat bertarung dengan seseorang yang kuat beberapa tahun lalu di area tengah hutan ini, bernama Yanzhu." Jawab Chen.


Kini giliran Pria Sepuh yang terkejut mendengar jawaban Chen.


Pria Sepuh itu langsung memotong pembicaraan mereka; "Nak, orang yang kau sebut namanya itu adalah orang yang kucari. Bisa kau berikan cerita secara rinci?" Tanyanya.


Chen sedikit terkejut tapi dengan cepat menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Lebih baik bicara di tempat yang cocok, jika Tetua dan Paman tidak keberatan boleh ikut aku, tentu saja nona yang di balik pohon itu juga boleh ikut." Jelas Chen.

__ADS_1


Lalu setelahnya seorang wanita muncul dari balik pepohonan mendarat tepat di samping pria sepuh.


Setelah semua orang berkumpul, tanpa menunda waktu Chen memimpin jalan dan melesat menuju area ujung.


Setelah beberapa batang dupa mereka tiba di pinggir jurang yang terlihat sangat dalam.


"Kalau Tetua, Nona, dan Paman sekalian percaya mari ikut aku ke bawah." Ucap Chen.


Mereka sempat saling memandang, lalu mengangguk tanda setuju.


Chen melesat ke bawah jurang yang sangat dalam itu, hingga setengah batang dupa kemudian dia mendarat di sebuah tebing batu di ikuti oleh keempat orang tersebut.


Chen mengarahkan mereka menuju Goa tempatnya menempa ilmu bersama Gurunya.


Sedikit perasaan sedih dan sakit di dalam hati tiba-tiba muncul mengingat kembali kebersamaan bersama Gurunya.


Setelah berada di dalam Goa, Chen mengarahkan pandangan ke dua orang Pria lalu berucap : "Itu kuburan Guru, aku yang membuatnya."


Keduanya memandang Kuburan itu dan bergegas berlari ke arahnya, setelahnya mereka bersujud tiga kali sambil memohon ampun dan minta maaf.


Pria Sepuh itu sempat terkejut, menurutnya Chen ini benar-benar murid yang berbakti walaupun Gurunya itu dari Ras Hewan tapi dirinya benar-benar tidak melupakan semua jasa Gurunya.


Setelah semuanya selesai, kedua Pria itu menghampiri Chen sambil bersujud :"Maafkan Kami yang buta ini Tuan Muda, bahkan kami tidak tau adab. Kami siap di Hukum." Ucap mereka kompak.


Pria Sepuh yang melihat reaksi di wajah mereka sedikit terkekeh : "Anak muda itu, bahkan Lingkaran Energinya sedikit di atasku." Ucapnya jujur.


Keduanya lebih terkejut lagi mendengar Ucapan Pria Sepuh, mereka tidak menyangka di usia yang masih sangat muda, murid dari Ketua mereka memiliki kekuatan sebesar ini.


Chen lekas memotong : "Baiklah, aku akan menceritakan semuanya, terutama Orang Tua bernama Yanzhu itu." Ucap Chen.


Chen menceritakan semua dengan jujur dan detail bagaimana dirinya pertama kali bertemu Limba dan Yanzhu, hingga Yanzhu yang sempat ingin membunuhnya dan dirinya menjadi murid Limba serta amanah Limba sebelum kematian yang menginginkan Chen mendamaikan kedua Ras serta ingin kedua Ras kelak bisa hidup berdampingan tanpa ada permusuhan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pria Sepuh itu terdiam cukup lama untuk memahami dan mencerna semua cerita Chen.


Dia memandang sekilas wajah Chen dan menebak sedikit auranya, tak ada sedikitpun kebohongan yang Ia rasakan dari Chen dan Ia yakin penuh cerita Chen adalah kebenaran.


Wanita muda yang mendengar cerita Chen hanya bisa terdiam, kini dia memandang Chen dari sudut pandang yang sangat berbeda.


Rasa kagum muncul di hatinya.


Sedangkan Kedua Pria yang merupakan bawahan Limba juga tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

__ADS_1


Hati mereka sangat sedih dan ternyuh mendengar kisah Chen.


Chen memejamkan matanya, wajahnya menengadah ke atas.


"Terserah kalian mau percaya atau tidak, tapi aku benar-benar menceritakan semuanya tanpa ada yang ku sembunyikan. Bahkan aku berani bersumpah dan mendapatkan Hukuman Langit Jika aku Berbohong." Ucapnya


Kedua pria itu langsung berlutut di hadapan Chen lalu salah satunya berucap : "Aku Yan Luo dan saudaraku Yan Lui, mulai hari ini kami bersumpah setia dan mengabdi kepada Tuan Muda Nan Chen. Jika kami berkhianat maka Langit akan Menghancurkan tubuh serta jiwa kami tanpa sisa."


Dhuarrr... Suara petir menggelegar menandakan sumpah mereka di dengar oleh langit.


Chen memandang mereka berdua, lalu setelah beberapa saat Chen berkata : "Bangunlah Paman, jika paman berdua ingin setia dan mengabdi maka abdikan diri paman berdua dengan cara membantuku mewujudkan keinginan Guru."


Lalu Chen melanjutkan : "Tidak perlu terlalu jauh, di mulai dari Hutan Kematian ini. Paman berdua hanya perlu menjaga dan mengarahkan semua hewan yang ada di area ini untuk sedikit menjauh dari manusia. Sisanya akan ada waktunya aku menemui paman dan membuat perjanjian damai antara ras di seluruh wilayah timur."


"Kami siap menjalankan Perintah Tuan Muda." Ucap mereka berdua kompak.


Chen mengarahkan pandangannya ke Pria Sepuh dan Wanita muda; "Aku minta maaf atas kematian Tetua Yanzhu, aku mengakui jika aku sendiri yang membunuhnya tapi aku benar-benar terpaksa saat itu." Jelas Chen.


Pria Sepuh itu dengan cepat menggelengkan kepalanya; "Semua bukan salahmu nak, aku percaya semua ceritamu dan aku benar-benar tak menemukan sedikitpun kebohongan di dalamnya."


"Tapi masalahnya adalah, aku mencari Si Bodoh itu karena Wilayah Tengah mungkin dalam 10 tahun lagi berada di ambang kehancuran. Semua Hewan Iblis sudah sepakat mengibarkan bendera perang." Ucap Pria Sepuh.


Chen mengangguk mengerti mendengar penjelasan Pria Sepuh di depannya.


"Jika yang muda ini boleh tau, siapa Tetua dan siapa Nona Muda di sebelah Tetua?" Tanya Chen sopan.


Pria sepuh tersebut sedikit terkejut lalu segera tertawa lebar.


"Hahaha.. Maaf.. Maaf.. Maafkan Pria Tua ini yang lupa memperkenalkan diri." Ucapnya.


"Namaku Jin Tian dan ini Cucuku Jin Mei, sebelumnya aku sudah pernah melihatmu di kerajaan Tang ketika kau memberi mereka pelajaran." Lanjutnya sambil sedikit terseyum dan mengelus jenggot panjanganya.


"Jin Mei memperkenalkan diri kepada Tuan Muda Nan Chen. Maaf jika diri ini sedikit kurang sopan." Jin Mei akhirnya mengeluarkan suara.


Chen cukup terkejut; "Suara gadis ini indah sekali." Ucap Chen dalam hati.


"Wah, bahkan di Klan Nan tidak ada suara wanita seindah suara Nona." Puji Chen Jujur.


Jin Mei yang mendengar pujian Chen, wajahnya langsung bersemu merah karena malu dan menundukkan kepala.


Jin Mei ini bukan wanita muda polos dan lugu, jabatannya sebagai Manager Asosiasi Harta Duniawi bukan di dapatkan karena dia cucu dari pemilik Asosiasi, tapi karena memang Jin Mei adalah sosok yang pintar, cerdas, mampu menempatkan diri, serta sangat tegas, dan berbakat.


Tapi kini di hadapan Seorang Pria Muda yang umurnya mungkin tak jauh darinya, dirinya dibuat mati kutu dan salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2