Penguasa Benua Tengah

Penguasa Benua Tengah
Chapter 16.


__ADS_3

Setengah batang dupa setelah Chen sadar, giliran Pria yang tadi bertarung dengan Chen membuka mata dan segera duduk bersila, menghimpun energi alam.


Kini semua orang mulai merasakan resah dan tertekan kembali.


Dari arah Chen, energi yang sangat panas dan menyakitkan berfluktuasi dengan hebat seolah energi itu mengikis habis kulit, tulang, hingga semua organ tubuh hancur tak tersisa.


Dari arah Pria tersebut, energi yang sangat dingin dan membuat mati rasa berfluktuasi tak kalah hebat seolah energi itu merusak tubuh dari dalam dan merapuhkan semua organ lalu merusaknya dan menyebar hingga ke tulang, kulit, lalu hancur bak serpihan kaca yang pecah.


Tak ada yang tak menjauh dan semua orang disana menjaga jarak, kecuali Jin Tian yang terlihat sanggup menahan kedua energi yang saling berlawanan tersebut.


Hingga akhirnya Jin Tian yang berada dalam kondisi terbaiknya, menekan keduanya hingga membuat keduanya kaget dan membuka mata.


"Jangan terlalu larut, asal sudah melewati masa kritis itu sudah lebih dari cukup. Sisanya bisa dikerjakan nanti, karena masih ada hal yang belum di selesaikan." Jin Tian sedikit mengingatkan.


"Mohon maafkan aku Tetua Tian." Jawab Chen sopan.


"Bocah kecil mau menekanku?" Pria itu malah bertanya balik dan sedikit mengancam.


Jin Tian hanya menghela nafas pelan lalu berkata : "Cucumu sudah ditemukan, kau ingin mengurusi hal tak penting atau menyelamatkan cucumu?"


Pria itu langsung terkejut dan teringat tujuan awal Ia datang ke Kota Merak.


Sambil mendengus dia berkata : "Baiklah, tapi lain kali kau tak akan seberuntung ini."


"Terserah kau saja." Sahut Jin Tian lalu bergegas berdiri dan menghampiri kelompok yang berasal dari Klan Xing.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Cucuku.. Bangun.." Ucap Pria itu sedih.


"Apa penyebab cucuku sampai seperti ini?" Tanyanya dengan nada geram tapi masih tetap memandangi cucunya.


"Orang yang menculik cucumu itu orangnya." Jawab Jin Tian sambil menunjuk seorang pemuda yang bahkan sudah memucat wajahnya.


Pria itu memandang pemuda yang di tunjuk oleh Jin Tian, menatapnya dengan tajam.


"Katakan yang sebenarnya terjadi." Ucapnya dengan pelan tapi nada bicaranya bagai pisau tajam yang mampu memotong apapun sekali tebas.

__ADS_1


"Aku... Aku..." Ucap pemuda itu terbata.


"Katakan..!!!!" Pria itu kali ini berteriak dan energinya sedikit merembes keluar.


"Ampuni aku.. Mohon ampuni aku.." Ucap pemuda itu sambil menangis.


Pria itu lalu melanjutkan; "Aku melihatnya sedang mengumpulkan energi di dalam sebuah goa, kemungkinan dia akan menaikkan tahap energi. Tapi karena melihat wanita itu begitu cantik aku langsung menyerangnya hingga mengakibatkan energinya kacau dan membuatnya terluka... Mohon ampuni aku Tuan... Aku adalah anak satu-satunya Tetua Pertama Klan Xing.. Mohon untuk sedikit berbelas....."


Belum sempat pemuda itu berbicara, kepalanya pecah seperti semangka yang di lempar batu.


Tubuh tanpa kepala itu langsung jatuh di tanah.


Chen mendengus dan berkata : "Aku yang membunuhnya, orang keji seperti itu jika di ampuni kelak ketika sudah memiliki kedudukan akan semakin menjadi kebiadaban-nya."


Semua yang hadir disana jelas terkejut akan tindakan cepat yang Chen lakukan, bahkan Jin Tian dan Jin Mei yang paling terkejut.


Tapi belum sempat mereka memikirkan apapun, dari arah kerumunan Klan Xing seorang Pria Tua maju dan berteriak : "Bocah Sia*an..!!! Kau membunuh Anakku.. Apa karena merasa sangat kuat, kau fikir aku takut padamu hah??"


Pria Tua itu tak lain adalah Tetua Pertama yang sengaja ikut untuk mengawal anaknya, setidaknya dia berencana akan menyelamatkan nyawa anaknya.


Tapi apa mau dikata, tiba-tiba saja Chen menghancurkan kepala anaknya dan langsung menewaskannya di tempat.


Sambil memandang kerumunan Klan Xing itu, Chen kembali berkata : "Apa kalian fikir Pria itu (sambil menunjuk pria yang tadi bertarung dengannya) akan melepaskan Klan Xing setelah tau kalau pelakunya dari Klan Xing bahkan berani berlindung dengan membawa nama Ayahnya yang tak seberapa itu? Apa anak bodoh itu fikir Ayahnya begitu hebat hingga orang yang mendengar gelarnya harus lari pontang-panting? Bahkan jika sampai kalian mengampuninya atas kejahatan fatal yang sudah si bodoh itu lakukan maka kalian harus bersiap Klan Xing hanya akan tinggal sejarah."


Chen tiba-tiba sudah berada di depan Tetua Pertama Klan Xing, lalu Chen mencengkram lehernya dan langsung mematahkan lehernya saat itu juga.


Kreek... Suara tulang patah.


Lalu Tetua Pertama Klan Xing jatuh tak bernyawa.


"Dia hanya akan membawa Klan Xing ke dalam kehancuran kelak, percayalah dia sudah di butakan oleh kepentingan pribadinya hingga menutup mata atas kesalahan orang terdekatnya. Jika saja yang menjadi korban adalah rakyat biasa, habislah sudah rakyat biasa itu di tindas oleh mereka." Ucap Chen tegas.


Tak ada satupun dari Klan Xing yang berani membuka suara.


Chen menjeda sebentar lalu kembali berkata : "Membiarkan Bangkai di dalam rumah hanya akan menimbulkan bau yang mengganggu orang lain bahkan bangkai itu bisa membawa wabah penyakit yang bisa membahayakan keselamatan penghuni rumah."


Chen kembali memandang orang dari Klan Xing; "Kerajaan yang sudah bisa dipastikan memiliki Ego Tinggi saja masih bisa berubah, bukankah tidak mungkin hanya sebuah Klan memiliki Ego setinggi Raja?"


"Kali ini cobalah sedikit merenung, klan Xing itu adalah Klan Baik. Buang semua rasa hebat dan rasa paling tinggi, lihatlah Orang yang Tadi hampir menghancurkan Kota Merak. Sosok itu harusnya cukup untuk kalian sadar diri jika kalian ini hanya kerumunan semut yang bisa saja di injak dan mati di kaki seekor gajah."

__ADS_1


Setelah berkata panjang lebar, Chen langsung mendekati Pria yang tadi bertarung dengannya untuk mengecek kondisi cucu Pria Tersebut.


...****************...


Tak ada satupun orang dari Klan Xing yang ada disana sanggup menjawab ucapan Chen, mereka kini benar-benar merasa tertampar atas ucapan pemuda yang luar biasa tersebut.


Selama ini mereka selalu merasa sudah berada di puncak kekuatan wilayah kota merak dan selalu sanggup menjaga kota merak dengan aman, itu membuat mereka jadi jumawa dan sombong.


Menyesal?


Tentunya mereka kini menyesal.


Apakah sudah terlambat untuk berubah?


Tentu saja tidak.


Selama masih ada setitik saja kebaikan di dalam hati dan niat untuk berubah ke arah yang lebih baik, maka tidak ada kata terlambat selama tubuh masih bernafas maka selalu ada kesempatan.


...****************...


...****************...


Saya ini penulis baru, novel ini karya pertama saya.


Bahkan saya tidak mengerti bagaimana sistem di Aplikasi ini bekerja.


Tidak ingin munafik, saya pasti berharap dari tulisan saya ini akan berbuah hasil yang baik.


Tapi bukan disitu titik persoalannya.


Saya yang masih penulis baru, ketika melihat novel saya di sukai, di masukkan ke daftar favorit, bahkan ada yang berkomentar, Hati Saya Sangat Bahagia dan semangat saya untuk menulis sangat meningkat, bagaikan anak kecil yang hanya di upah permen tapi girangnya bukan main. 😁🙏


Cuma jujur, saya ingin sekali setiap yang Baca Novel ini memberikan Like serta Komentar walaupun hanya 1 Kata dan Mau Memberikan RATE di novel saya ini. 🙏


Tapi memang sedikit minder jika mengingat tulisan saya ini sangat buruk sekali alurnya, takutnya banyak minta tapi tidak sesuai kualitas malah bikin kecewa. 🙏


Jadi khusus yang kiranya suka tulisan saya, kiranya Sudi Untuk Like, Ber-Komentar walaupun hanya satu Kata/Huruf, dan Tolong di RATE/RATING Novel ini. 🙏🙏


Karena dari situ saya bisa belajar dan tidak melangkah sendiran.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2