
Setelah merasa berada di wilayah yang lumayan sepi dan kosong, Chen berhenti lalu turun ke tanah.
Tak lama Pria itu menyusul.
Tanpa aba-aba dia melesat secepat cahaya, tapak berhawa dingin menghantam Chen dari arah depan dan Chen menyambut serangan tapak itu dengan tapak hawa panas miliknya.
Booom....
Seiring ledakan keduanya terpental mundur beberapa langkah.
Chen tanpa menunda melompat ke udara, lalu siluet Naga Berwarna merah membungkus tubuhnya.
Naga yang tercipta dari energi itu mengeluarkan hawa yang sangat panas bahkan udara di sekitar area pertempuran langsung berubah menjadi sangat panas.
Semakin lama energi yang terkumpul semakin besar, bahkan kini Tubuh Chen hanya terbungkus di Kepala Naga sedangkan Tubuh Naga Merah meliuk lebar di udara.
Pria itu tak mau kalah, dari energinya Siluet Burung Phoenix Putih tercipta. Hawa yang sangat dingin merembes keluar dan membekukan tanah di area sekitarnya.
Semakin besar siluet Phoenix bahkan menyamai ukuran Sang Naga.
Di dalam Siluet Energi Kepala Naga, Chen berdiri di udara.
Di dalam Siluet Energi Kepala Phoenix, Pria itu berdiri pula di udara.
Sesaat kemudian Naga Merah dan Phoenix Putih melesat dan saling membentur...
Wuussshh...... Dhuaar... Dhuuaar... Dhuuaar....
Ledakan tercipta akibat benturan keduanya tapi bahkan keduanya masih terus saling mendesak mengalahkan lawan.
"Aarrrrggggggggggg........" Teriak keduanya terus saling mendorong...
Ledakan terus tercipta di udara dan fluktuasi energi panas dan dingin saling dorong kuat begitu mendominasi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di Kota Merak.
Jin Tian sudah memerintahkan Patriark Xing Feng menggeledah siapapun yang terlihat mencurigakan untuk menemukan cucu Pria Tersebut.
"Pastikan kalian menemukan Cucu Orang itu atau kalian hanya akan tinggal sejarah saja." Ancam Jin Tian sambil mengeluarkan Energi besar untuk menekan mereka dan memastikan mereka mencari dengan benar.
Kehebohan terjadi di Kota Merak akibat kejadian ini.
Semua orang kini tak pandang siapapun, saling bahu membahu mencari pelaku dan cucu dari sosok orang kuat tersebut.
Di belakang Jin Tian, berdiri Jin Mei dengan wajah khawatir.
"Semoga semua berjalan baik." Gumamnya sambil meremas pakaian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kembali ke pertarungan Chen.
Semakin lama energi yang mereka lepaskan semakin besar, bahkan terjadi badai angin topan berhawa panas dan dingin di udara.
Tanah berguncang dan hancur berantakan. Pasir, bebatuan, dan apapun itu berhamburan seperti terjadi badai besar di area itu.
__ADS_1
Kawah besar tercipta tepat di bawah kedua energi yang bertabrakan itu.
Bahkan dari sudut bibir mereka berdua mengeluarkan darah segar.
"Arrggghhhh.... Sial*n....!!!!!!" Teriak Chen..
Lalu memaksakan Energinya hingga maksimal.
Tapi Pria itu juga tak mau kalah, dia mengerahkan seluruh energinya hingga maksimal pula.
Ledakan besar semakin menjadi, suara ledakan besar itu kini bahkan terdengar sampai ke Kota Merak.
Hingga Akhirnya kedua Energi itu mulai saling retak akibat benturan yang semakin besar.
Dan.....
"BOOOOOOOOMMMMMMMMMMM......."
Kedua energi itu Pecah di udara dan meledak bersamaan.
Keduanya terpental dan melesat bagai Komet.
Chen menabrak gunung dan menghancurkan gunung itu hingga Rata dan Hangus terbakar.
Pria itu tak kalah, menabrak Tebing Batu sebesar Gunung sampai hancur seperti kerikil.
Tak lama kemudian Jin Tian, Jin Mei, dan beberapa orang terbang ke arah pertarungan Chen.
Setelah sampai disana, mereka yang masih di udara membuka Rahang Lebar.
Bagaimana tidak, kawah dengan luas ribuan kaki dan kedalaman hingga ratusan kaki tercipta akibat pertarungan itu.
Patriark Xing Feng mencengkeram kepala seseorang, orang itu bahkan sampai meronta dan menangis tapi tak ada yang menggubris.
Di sebelah Patriark, Leluhur Pertama Klan Xing memapah seorang wanita cantik dengan wajah pucat pasih dan tak sadarkan diri.
Jin Tian melihat ke arah gundukan batu dan melesat cepat.
Yin Mei melihat ke arah gunung yang hancur dan melesat ke arah gunung yang hancur tersebut.
Tak lama Jin Tian terbang ke arah mereka dan memapah Sosok yang tak sadarkan diri.
Sosok itu tak lain adalah Pria yang sebelumnya membuat kekacauan di Kota Merak.
Sesaat setelahnya Jin Mei datang dengan wajah panik sambil memapah seseorang yang tak lain adalah Chen, Mei langsung menghampiri Kakeknya.
"Kakek tolong selamatkan Tuan Muda Chen." Ucap Mei cepat.
Mereka lekas mencari tempat yang lebih nyaman.
Mei menidurkan Chen secara perlahan di tanah, lalu Jin Tian segera memeriksa kondisi Chen.
Tak lama Jin Tian sedikit menghela nafas, lalu mengeluarkan sesuatu dari cincin ruangnya.
Botol kecil berisi pil muncul di depan Jin Tian.
Jin Tian mengeluarkan sebuah pil, lalu aroma pil kuat merebak di udara.
__ADS_1
Jin Tian segera membuka mulut Chen dan memasukkan Pil ke mulutnya, lalu Jin Tian mengalirkan energi ke dalam tubuh Chen untuk membantunya menyerap khasiat Pil.
Sambil tetap mengalirkan energi ke tubuh Chen, Jin Tian memandang ke arah Mei lalu meminta Mei menggantikannya mengalirkan Energi ke tubuh Chen.
Setelah itu Jin Tian bergegas ke arah Pria Tersebut, memeriksa kondisinya.
Jin Tian sedikit khawatir setelah melihat kondisi Pria itu.
Dengan cepat Jin Tian menarik botol yang tadi Ia keluarkan lalu mengeluarkan dua butir pil dan langsung memasukkan ke dalam mulut pria itu.
Jin Tian bahkan mengalirkan energi sedikit lebih besar untuk membantu pria itu menyerap pil.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tiga Batang dupa berlalu, perlahan terdengar erungan pelan dari mulut Chen.
"Uhh.." Erung Chen pelan.
Chen perlahan membuka mata, walau pandangannya masih kabur tapi Chen dapat melihat sosok Mei di hadapannya.
Wajah Mei terlihat sangat khawatir dan sedikit kelelahan.
Chen sedikit mengayunkan tangan, lalu keluar satu botol dari cincin ruangnya.
"Tolong ambilkan satu dan masukkan dalam mulutku, lalu satu untuk orang yang ku hadapi jika orang itu masih hidup." Ucap Chen pelan.
Mei tanpa banyak langsung menyambar botol, mengeluarkan satu buah pil.
Wuuusshhh... tiba-tiba saja udara sedikit bergetar dan berputar di sekitar Pil itu, tak lama udara itu pecah dan aroma yang sangat harum menyeruak.
Bahkan hanya dari aroma saja, beberapa orang yang mengalami luka dalam sedikit mengalami kepulihan.
Mei yang memegang pil itu bahkan merasakan energinya pulih setengahnya.
Jelas Mei dan semua orang terkejut dibuatnya, tapi Mei lebih cepat sadar dari keterkejutan dan langsung memasukkan pil itu ke mulut Chen.
"Terima Kasih Nona." Ucap Chen sangat pelan.
"Tolong orang yang tadi ku lawan jika dia masih hidup." Lanjut Chen.
Mei segera menghampiri Kakeknya, tapi kali ini Ia lebih siap jadi setelah membuka tutup botol dan mengeluarkan Pil itu, Mei langsung memasukkan Pil tersebut ke mulut Pria tersebut.
Kakeknya hanya bisa melihat apa yang Mei lakukan tanpa berkomentar apapun, tapi di dalam hatinya Jin Tian cukup tersentuh akan kebaikan hati cucunya.
Mei bergegas ke arah Chen lalu berkata : "Sudah semuanya, sekarang apa lagi Tuan Muda Chen?"
Chen membuka matanya; "Terima Kasih banyak Nona, beristirahatlah. Sebentar lagi aku akan pulih." Jawab Chen.
Mei merasa sedikit lega, Ia tak meragukan apapun karena sudah merasakan sendiri bagaimana hebatnya pil yang Chen keluarkan.
Mei menghampiri Kakeknya lalu mengajak Kakeknya istirahat, dan mendapat anggukan.
Dua batang dupa kemudian Chen membuka mata dan duduk bersila, perlahan Energi dari alam berkumpul ke arah tubuhnya dan terhisap dengan hebat.
Semua orang kaget melihat Chen yang sudah sadarkan diri dan bisa duduk sendiri, bahkan kini mulai menghimpun Energinya.
Tapi mengingat pil yang terakhir mereka lihat, tak ada yang aneh menurut mereka.
__ADS_1
Justru dalam benak, mereka sangat penasaran pil apa yang Chen keluarkan.
Hanya saja tak ada yang berani bertindak sembarangan mengingat masih ada keberadaan yang sangat kuat disitu, yaitu Jin Tian.