
Ketiganya sedikit ragu untuk bercerita, tapi mereka tidak memiliki pilihan untuk melakukan penawaran.
Ketiganya secara bergantian menceritakan bagaimana dulunya Klan Nara adalah termasuk Klan Besar di wilayah Utara, hingga seorang Tetua dari Klan Nara terlibat konflik dengan seorang pemuda yang ternyata berasal dari Klan Xue.
Walaupun tau akan Klan Xue yang merupakan Klan Kuno dan tidak boleh disinggung, Klan Nara merasa sebagai Klan Besar akan sangat memalukan jika membiarkan kejadian ini di diamkan begitu saja.
Akhirnya Klan Nara menggunakan beberapa Perahu Besar menyebrangi Lautan membawa sebagian besar kekuatan mereka menyerang Klan Xue.
Tapi naas, hanya dalam waktu sehari ribuan anggota Klan Nara dikalahkan dan tewas. Tak sampai disitu, saat malam harinya tiba-tiba saja Klan Xue membawa sebagian kekuatan mereka ke Klan Nara dan meratakan serta memusnahkan semua orang di Klan Nara tidak menyisakan seorangpun.
Klan Xue itu benar-benar kuat, bahkan kemampuan Klan Nara yang bisa memanipulasi tubuh menjadi gumpalan asap mampu dikurung oleh mereka lalu dibuat membeku dan dihancurkan begitu saja.
Kisah ketiganya panjang lebar kedapa Chen, Ling Shi, dan Mei.
Chen mendengar itu menganggguk, ternyata Klan Xue ini tidak sepenuhnya salah karena Klan Nara-lah yang menyerang Klan Xue terlebih dahulu.
"Sudah berapa lama kejadian pemusnahan Klan Nara oleh Klan Xue?" Kali ini Mei buka suara dan bertanya.
Salah seorang dari mereka memandang Mei sejenak.
"Kejadian itu sudah terjadi 15 tahun lalu, kami saat itu masihlah kecil dan beruntung kami selamat bersama Ayah kami yang dulunya adalah Patrtiark Klan Nara, tapi Ayah sudah tewas Tiga Tahun lalu karena umur Ayah sudah sangat tua." Ucapnya.
"Kami yang tidak tau arah tujuan, hanya berkelana hingga akhirnya tiba di tempat ini lalu terlibat bentrok dengan Perampok di wilayah ini dan berhasil mengalahkan mereka. Setelahnya wilayah ini menjadi wilayah kami." Timpal salah satu dari mereka.
Chen mengangguk paham sekarang, semua cukup jelas alurnya bagi Chen.
"Apa kalian dendam dengan Klan Xue?" Tanya Chen.
Ketiganya kompak menggelengkan kepala tanda tidak sama sekali mendendam ke Klan Xue.
"Jika kami dendam, 15 tahun mungkin waktu yang cukup bagi Ayah sedikit mengumpulkan kekuatan tapi Ayah juga berpesan untuk melupakan semuanya dan menjalani hidup apa adanya." Ucap salah seorang diantara ketiganya.
Chen mengangguk paham.
"Baiklah, awalnya aku ingin kalian membawaku ke Klan Xue tapi sepertinya akan percuma. Hanya saja jika aku boleh berpesan, yang kalian lakukan ini sebuah kesalahan besar." Ucap Chen.
Ketiganya terkejut Chen ingin ke Klan Xue, tapi memilih diam.
Chen yang mengerti raut wajah terkejut dari ketiganya beralasan jika dirinya mengenal seseorang dari Klan Xue yang merupakan rekannya dan hanya ada sedikit urusan saja.
__ADS_1
"Jika kalian mau, pergi ke Wilayah Timur dan cari Klan Nan. Sebut saja dariku Nan Chen yang mengarahkan kalian ke Klan Nan untuk bekerja." Ucap Chen sambil melihat ke arah ketiga orang itu.
"Eh..." Ketiganya terkejut mendengar nama Nan Chen, lutut mereka langsung bergetar mengetahui ternyata Pemuda yang ada di depan mereka adalah Nan Chen yang kabarnya juga terdengar oleh mereka melalui orang yang lewat dan singgah di area ini.
Seorang Pemuda yang sangat terkenal dan sangat kuat, bahkan tanpa ampun kepada orang yang jahat.
Bukankah mereka ini perampok tapi kini Nyawa mereka di ampuni? Tapi tetap saja rasa takut muncul di hati ketiganya.
Chen yang melihat ketiganya terkejut malah mengerutkan kening.
"Apa kalian tidak ingin ke Klan Nan?" Tanya Chen.
Ketiganya semakin gugup ketika Chen malah mengira jika mereka Ragu ke Klan Nan padahal Ketiganya sedang ketakutan setengah mati berhadapan dengan Chen.
Mereka saling pandang, seolah mencari solusi lewat saling tatap dan itu semakin membuat Chen bingung.
"Hemmm..." Chen berdeham.
"Aku tidak punya banyak waktu." Ucap Chen pelan.
Ketiganya yang mengetahui Chen mungkin tidak bisa menunggu terlalu lama. Salah satunya dengan sedikit ragu mulai berkata : "Apakah kami boleh ikut Tuan Muda saja? Kami walaupun tidak ikut insiden ke Klan Xue tapi kami besar di wilayah Utara dan kami tau dimana arah ke Pulau Es Abadi tempat Klan Kuno Xue berada."
Chen matanya berbinar mendengar jawaban mereka, lalu memandang ketiga orang itu dengan senyum yang cerah.
Ketiganya saling memandang lalu kompak berlutut.
"Jika di izinkan, maka kami hanya ingin mengikuti Tuan Muda walau sebagai bawahan." Ucap mereka Kompak.
Chen bingung, ketiga orang ini bahkan tidak mengenalnya tapi ingin mengikutinya.
"Kalian tidak mengenal siapa aku tapi ingin mengikutiku, apa karena aku ini terlihat kuat? Kalian salah, aku tidak sekuat yang kalian bayangkan." Chen berkata pelan.
Mendengar perkataan Chen, tanpa mengubah posisi mereka yang masih dalam keadaan berlutut salah satu diantara ketiganya buka suara; "Hamba bernama Nara Rongque, yang paling tua. Ditengah adalah Adik Hamba paling muda bernama Nara Ronghue, sedangkan yang paling pojok adalah Adik kedua Hamba bernama Nara Rongjue."
"Kami bertiga sudah mendengar sepak terjang Tuan Muda, bukan karena Tuan Muda kuat saja tapi kebijaksanaan Tuan Muda serta kerendahan hati dan ketegasan Tuan Muda yang membuat kami kagum, walaupun dulu kami mendengar itu dari cerita orang-orang yang lewat dan singgah istirahat disini, tapi perjumpaan kita secara langsung dan bagaimana Tuan Muda menangani kami secara bijak dan tidak asal bunuh padahal posisi kami jelas salah, itu sudah cukup membuat kami memantapkan hati ingin mengikuti Tuan Muda." Timpal Nara Rongjue.
"Tuan Muda boleh memberikan segel pengekang kepada kami." Tambah Nara Ronghue.
Chen memandang ke arah Ling Shi dan Mei, mereka sedikit berdiskusi ringan.
__ADS_1
"Biarkan saja mereka ikut kita, Klan Nara ini memiliki kemampuan unik jika di asah maka akan sangat membantu untuk menjadi tim pelacak atau pengintai dan mata-mata." Ucap Mei.
Chen mengangguk dan menimbang sejenak.
"Mei'er ini pola fikirnya sangat jauh kedepan dan bisa membaca potensi dengan baik." Ucap Chen dalam hati.
Chen mengalihkan pandangan ke arah ketiganya lalu menembakkan masing-masing setetes darahnya ke arah dahi mereka.
Darah itu meresap dan hilang, lalu tak lama mereka bertiga merasakan sedikit rasa panas di dalam tubuh.
"Tahan dan Terima." Ucap Chen.
Ketiganya tanpa menjawab segera bersila agar lebih rileks menerima segel pengekang yang Chen berikan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dinginnya angin malam, seolah membelai lembut tubuh mereka.
Di atas langit yang gelap dan dingin, Enam Orang duduk di atas punggung Elang Petir.
Melanjutkan perjalanan ke wilayah Utara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat Pagi All..
Sedikit Catatan Kaki, semoga tidak jenuh membaca Catatan Kaki ini. 😁🙏🙏
Author, jujur saja sangat terkejut karena banyak sekali yang berkenan memberikan Like, memberikan hadiah, memberikan Vote, serta Berkomentar di Novel ini.
AUTHOR MINTA MAAF JIKA TIDAK BISA MEMBALAS SATU-PERSATU KOMENTAR PEMBACA, AUTHOR BENAR-BENAR MINTA MAAF. 🙏🙏🙏
Tapi Author Sangat Senang dan Sangat Berterima Kasih atas Semua Dukungan dan Komentar yang Masuk.
Tanpa Pembaca, apalah arti seorang Penulis?
Seperti seorang Koki tanpa ada yang mencoba masakannya, pasti hambar rasa hatinya.
Karena itu, jangan sungkan dengan Author Receh ini agar Author Receh ini merasa jika Tulisannya bisa memberikan manfaat walaupun hanya berupa hiburan untuk menghilangkan penat kalian.
__ADS_1
Akhir Kalam, Semoga Kita Selalu Sehat dan Selalu Dalam Lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Aamiin. 🙏