
"Jadi ada Tiga Orang Tambahan dan itu berasal dari Klan Nara, baiklah aku mengerti." Ucap Xue Murong mengangguk paham.
"Apa kau tidak butuh Kakekmu ini saja ketika akan ke Pulau Es Abadi?" Tanya Murong.
Chen menggelengkan kepalanya pelan.
"Awalnya iya, tapi setelah difikir lagi lebih baik nanti saja setelah aku memastikan bagaimana karakter orang di Klan Xue."
"Kakek sudah sangat lama tidak kembali, aku khawatir ada yang tidak suka atau sudah jengah dengan kepergian Kakek yang begitu lama dan ingin mencelakai Kakek." Jelas Chen.
Xue Murong sedikit terkejut, tapi setelahnya dia mengangguk paham. Alasan ke-khawatiran Chen sangat masuk akal menurutnya.
Setelahnya mereka hanya berbincang kecil, lalu Chen Pamit dan bergegas kembali ke Dunia Nyata.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Situasi di ruang makan Asosiasi Harta Duniawi sedikit canggung, apalagi Mei melirik ke arah Jin Liang yang wajahnya sedikit pucat ketika melihat Chen.
"Pasti terjadi sesuatu." Gumam Mei pelan.
Setelah semua selesai makan, Jin Liang dengan senyum yang sedikit di paksakan langsung izin meninggalkan ruang makan dengan alasan sakit perut.
Mei melirik Chen.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi antara Chen Gege dan Paman Liang?" Tanya Mei kepada Chen.
Ling Shi yang mendengar itu, terlihat tidak perduli tapi sebenarnya juga penasaran.
Chen mengangguk.
"Tadi malam dia menyuruh tiga orang ingin mengetesku, tapi aku membalas mereka sedikit tegas. Selebihnya mungkin tidak ada lagi yang bisa ku jelaskan, inti permasalahannya hanya itu." Ucap Chen.
Mei mengangguk tanda paham, mungkin ini hanya sesaat saja nanti juga pamannya perlahan akan terbiasa dengan Chen.
Ling Shi memandang Chen lalu tersenyum manis.
"Aku rindu." Ucapnya singkat tapi itu adalah memang isi hatinya saat ini.
Chen yang sudah terbiasa dengan karakter Ling Shi balas memandang Ling Shi dan tersenyum lembut.
"Hari ini kita akan jalan-jalan ke Hutan Cemara, disana langkah pertama kita dimulai." Ucap Chen.
Ling Shi mengangguk lalu tersenyum manis.
"Iya." Jawabnya singkat.
Mei melihat itu sedikit menggerutu, tapi tetap tertawa dalam hati melihat Ling Shi yang terlalu polos dan lugu.
"Apakah aku ikut juga Gege?" Tanya Mei ragu.
Chen memandang Mei dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Ke Dunia Kecil saja mau?" Tanya Chen dan mendapat anggukan serta senyuman manis dari Jin Mei.
Mei memang bertekat untuk menjadi kuat juga agar bisa berdampingan dengan Chen, hanya di Dunia Kecil dirinya bisa kuat lebih cepat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore hari, setelah mengurus rumah dan memindahkannya ke Dunia kecil untuk tempat tinggal Tiga Nara serta memasukkan Mei ke Dunia Kecil.
Chen dan Ling Shi terbang tinggi diatas awan menaiki Elang Petir sesuai petunjuk dari Nara Rongjue saat dirinya masih di dunia kecil tadi.
Chen sengaja menaiki Elang Petir dan terbang cukup tinggi untuk menghindari masalah yang tidak perlu, jika bisa menghindari satu atau dua batu sandungan itu akan menjadi pilihan terbaik.
Jarak antara Wilayah Ibukota Kerajaan Ming dengan Hutan Cemara tidak terlalu jauh, setelah satu hari perjalanan pagi ini mereka samar sudah bisa melihat hamparan hutan yang diselimuti Es dibawah sana.
Chen meminta Elang Petir turun, setelahnya memasukkan kembali Elang Petir ke Dunia Kecil.
Chen dan Ling Shi terbang ringan sambil menganalisa area sekitar mereka, hingga dua batang dupa kemudian keduanya sudah sampai di perbatasan Hutan Cemara.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mereka berdua menelusuri wilayah Hutan Cemara dengan seksama, sepanjang jalan hanya ada tumpukan salju di kelilingi oleh hutan-hutan cemara yang indah.
Mereka terus menelusuri Hutan hingga Sore hari, tapi belum juga menemukan Jejak Energi kuat hanya ada beberapa hewan biasa serta hewan monster yang akan menjauh ketika merasakan aura kuat dari keduanya.
Hingga Sore hari, saat Chen dan Ling Shi sedang duduk sejenak dibawah sebuah Pohon Cemara, mereka samar merasakan fluktuasi energi kuat seperti sedang mengamuk berjarak 200 kaki dari tempat mereka sekarang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Diatas Langit, dibalik awan.
Chen dan Ling Shi melihat ke arah bawah, keduanya melihat sosok seekor Qilin Raksasa yang sangat besar dan terlihat menyeramkan.
Qilin itu terlihat meraung keras dan mengamuk seperti sedang terusik oleh sesuatu.
Chen perlahan turun, di ikuti oleh Ling Shi dibelakangnya.
Mereka turun dan mendarat tepat di tumpukan salju, tak jauh dari Qilin Raksasa tersebut.
Qilin itu memandang keduanya dengan tatapan marah, seolah ada sosok yang berani menantang dirinya di wilayah kekuasaannya.
Tak lama kemudian, Qilin itu berubah menjadi sosok Pria Muda berusia 25 tahun berambut biru safir, tatapan mata Pria itu sangat tajam samar Energi Dingin merembes dari tubuhnya.
Chen mengukur sejenak, mengangguk pelan.
"Sekuat Kakek Yuan Lan, masih bisa ditangani." Gumam Chen pelan.
Pria-Qilin itu sebenarnya sangat marah, tapi ketika mencoba mengukur manusia dan hewan yang berada di depannya, Dia tidak mampu mengukur Lingkaran Energi keduanya maka dari itu Si-Qilin sedikit menahan diri.
__ADS_1
Tapi Harga Dirinya yang tinggi juga tidak bisa disepelkan, Penguasa Hutan Cemara ini harus Takut? Oh tidak bisa....
Pria-Qilin itu menatap Chen dan Ling Shi tajam.
"Manusia dan Hewan bersama bagai pasangan kekasih, apakah diriku ini terlalu lama menutup diri hingga tidak mengetahui jika kini diri manusia dan diri hewan bisa hidup bersama?" Tanyanya dengan tatapan Tajam.
Ling Shi hanya memandang lurus Pria-Qilin itu, tapi keningnya sedikit berkerut.
Chen sendiri tak kalah ber-ekspresi, sudut bibirnya sampai berkedut mendengar tata bahasa Pria-Qilin itu.
"Aku Nan Chen, ini calon Istriku dari Ras Phoenix Es. Kami berasal dari Wilayah timur. Untuk masalah kedua Ras bisa bersama, itu benar di Timur kini kedua Ras bisa hidup berdampingan." Chen mencoba memperkenalkan diri dan sedikit tersenyum kaku.
Pria-Qilin itu terlihat terkejut, seperti mendapat informasi yang memberikan kejutan baru baginya.
"Lantas apa tujuan Diri Kalian datang ke Hutan Cemara tempat Diriku ini berkuasa?" Tanya-nya.
Chen hanya menghela nafas pelan, Chen harus membiasakan diri lagi kali ini.
"Aku tentu ingin kita bekerja sama, membuat Wilayah Utara ini seperti Wilayah Timur." Jawab Chen.
Pria-Qilin itu akhirnya sedikit paham maksud kedatangan Chen.
"Anak muda, ini wilayah Utara bukan Timur. Dirimu terlalu munafik menganggap jika Diri-kalian bisa datang lalu membujuk Diri Penguasa ini." Balasnya sedikit sombong.
"Baiklah, mungkin aku akan sedikit memaksa." Ucap Chen pelan.
"Oh, Dirimu fikir Diriku takut?" Balas Pria-Qilin itu.
Senafas kemudian Dua Energi Kuat yang saling bertolak belakang mulai keluar dari keduanya.
Ling Shi mundur untuk menjaga jarak dan mencari tempat aman.
Butiran Salju mulai berhamburan bagai terkena badai kuat, Aura Panas yang Chen keluarkan kini mulai membuat salju dan tumpukan es itu meleleh bahkan pohon-pohon cemara di sekitar mereka ikut terbakar.
Merasa Aura yang Ia keluarkan kalah kuat, Pria-Qilin itu hanya bisa menggertakkan gigi menahan amarah.
"Aaarrrggghhhhhhhh..." Teriak Pria-Qilin tersebut memompa semangat dan mengeluarkan seluruh Energi yang ada di tubuhnya, hingga membuat area di sekitarnya berhamburan kemana-mana.
Chen mengumpulkan energinya berpusat di bawah pusar, energi dari semesta seolah tersedot ke dalam tubuh Chen menciptakan aura panas berwarna merah menyala yang membumbung tinggi hingga ke langit.
"Hujan Jarum Neraka." Ucap Chen pelan, lalu mengangkat tangannya ke atas menghadap langit.
Wuuusssh...... Tiba-tiba saja langit bergetar, awan-awan berubah menjadi merah dan terbakar hebat. Muncul kobaran api yang sangat besar di langit seperti ada Badai Api yang sangat besar dan mengeluarkan Fluktuasi Energi Panas yang sangat Dahsyat.
Lalu setelahnya muncul ribuan jarum-jarum merah sebesar lengan tangan di atas langit, jarum-jarum itu selain besar juga mengeluarkan hawa panas yang membakar udara.
Pria-Qilin itu bahkan sampai memucat melihat Badai Api yang sangat besar di atas langit.
Menggertakkan giginya keras, menatap Chen tajam.
"Arrgghhh.. Dirimu ini..." Ucapnya menahan marah.
__ADS_1
"Menyerahlah." Ucap Chen Pelan menatap Pria-Qilin itu Tajam.