Penguasa Benua Tengah

Penguasa Benua Tengah
Chapter 19.


__ADS_3

Yuan Lan memandang Chen sedikit curiga.


"Apa ada yang salah saat kau mengobati cucuku?" Tanya Yuan Lan ambigu.


Chen mengerutkan kening tanda bingung akan maksud dari pertanyaan Yuan Lan.


"Aku yakin tak melakukan kesalahan apapun." Jawab Chen.


Yuan Lan lalu menghampiri Ling Shi dan mengecek kening Ling Shi.


"Apa kau masih sakit Shi'er? Tanya Yuan Lan sedikit khawatir.


Tapi Ling Shi hanya memandang Kakeknya datar.


"Tidak." Jawab Ling Shi singkat masih dengan tatapan datar.


Yuan Lan menghela nafa lega.


"Sepertinya tadi cucuku sedikit terganggu energinya dan sekarang semua sudah kembali normal." Ucap Yuan Lan senang.


Tak lama, Chen berdiri di depan Ling Shi.


"Izinkan aku memeriksa kondisi Nona Ling Shi." Ucap Chen sopan.


Ling Shi memandang Chen lalu tersenyum lembut dan mengangguk.


"Silahkan Tuan Muda, lakukan apa yang Tuan Muda inginkan." Jawab Ling Shi.


Chen sampai menelan saliva mendengar jawaban ambigu Ling Shi dan terpesona akan keindahan senyum Ling Shi.


"Sungguh Cantik." ucap Chen dalam hati.


Tapi kondisi Yuan Lan bahkan lebih parah, Yuan Lan sampai jatuh terduduk dan memegang dadanya melihat cucunya tersenyum dan bersikap manis terhadap Chen.


"Kau.. Kau apakan cucuku?" Hardik Yuan Lan.


Chen terkejut mendengar hardikan Yuan Lan.


"Aku tidak melakukan apapun, sumpah." Jawab Chen cepat sambil menggelengkan kepalanya.


Tapi sebelum Yuan Lan membalas ucapan Chen, Ling Shi buka suara dan berkata :


"Aku mengagumi Tuan Muda Nan Chen, aku ingin ikut Tuan Muda Nan Chen kemanapun dan selalu berada di sisinya."


DHUUARRRR.....


Bagaikan disambar petir, kini bahkan Yuan Lan muntah darah dan terbujur kaku mendengar perkataan cucunya.


Yuan Lan tak sadarkan diri, saking kagetnya.


Chen bahkan tak kalah kaget, sampai terbatuk-batuk dan tersedak ketika mendengar ucapan Ling Shi.


Kini Chen sekarang sadar kenapa Yuan Lan bertanya apakah ada yang salah dan sampai menghardiknya, Chen bahkan berfikir mungkin benar ada yang salah di diri Ling Shi.


"Biar aku periksa dirimu, ulurkan tanganmu." Ucap Chen cepat dan sedikit panik.


Ling Shi memandang Chen dan tersenyum sangat manis, lalu mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Chen sedikit gemetaran ketika menyentuh tangan Ling Shi, tapi dengan cepat mengendalikan diri.


Setelah satu batang dupa memeriksa, Chen benar-benar tidak merasakan ada masalah di dalam tubuh Ling Shi.


Bahkan sudah tak terhitung beberapa kali Chen mengerutkan kening ketika mengecek kondisi Ling Shi.


"Semuanya baik-baik saja." Gumam Chen.


"Huh.." Chen menghela nafas pelan.


"Tunggu Kakekmu bangun, baru kita lanjutkan pembicaraan." Chen kembali berkata.


Ling Shi hanya mengangguk, lalu menatap Chen dengan sepasang mata indahnya.


"Baiklah Chen Gege." Jawab Ling Shi.


Kali ini Chen yang terkejut sampai terduduk dan mundur ke belakang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua batang dupa kemudian, Chen duduk gelisah sambil melirik ke arah Ling Shi.


Perasaan Chen benar-benar tak menentu saat ini.


"Yang terbaik adalah tidak berbicara dengannya sampai Tuan Yuan Lan sadarkan diri." Ucap Chen dalam hati.


Tak lama terdengar ketukan dari luar.


Chen bergegas membuka pintu.


"Tuan Jin Tian dan Nona Jin Mei.. Kebetulan sekali." Seru Chen girang.


Mengikuti Chen, keduanya ikut masuk ke dalam kamar.


Setelah beberapa saat, Jin Tian bertanya : "Ada apa nak?"


"Cobalah sapa Nona itu." Jawab Chen sambil melirik ke arah Ling Shi.


Jin Tian merasa heran, tapi mengikuti ucapan Chen.


"Nona, bagaimana kondisimu?" Tanya Jin Tian.


Ling Shi memandang Jin Tian dengan tatapan datar, lalu menjawab : "Baik."


Jin Tian semakin bingung, lalu memandang ke arah Chen seolah meminta penjelasan.


Chen yang di pandang seperti itu semakin bingung bagaimana cara menjelaskan situasi saat ini.


Lalu tiba-tiba Jin Mei membuka suara : "Nona, siapa namamu?" Tanya Jin Mei.


"Mo Ling Shi." Jawab Ling Shi singkat, bahkan wajahnya tak melihat ke arah Jin Mei.


Jin Tian dan Jin Mei saling melirik, keduanya mengangguk tanda mulai mengerti.


"Wanita ini tipe orang yang sangat kaku dan pendiam." Itu yang ada di benak keduanya saat ini.


Jin Tian mulai sedikit memancing pembicaraan lalu bertanya : "Apa yang terjadi dengan Kakekmu Nak Ling Shi?"

__ADS_1


Bahkan kali ini tidak ada jawaban selain gelengan kepala.


Jin Tian hanya menghela nafas pelan.


"Anak ini sikapnya sedingin es." ucapnya dalam hati.


"Memang seperti ini karakternya Tuan Muda Chen jangan khawatir." Jin Tian berbicara kepada Chen, agar Chen tidak khawatir karena Jin Tian berfikir mungkin Chen takut ada kesalahan saat mengobati Ling Shi.


Chen menghela nafas pelan.


"Bukan seperti itu Tetua." Jawab Chen.


Lalu Chen mengalihkan pandangannya ke arah Ling Shi.


"Nona, bagaimana keadaanmu saat ini?" Tanya Chen kepada Ling Shi.


Ling Shi yang mendengar Chen bertanya pada dirinya dengan cepat menoleh ke arah Chen.


Lalu tersenyum sangat manis dan menatap Chen dengan tatapan penuh kasih.


"Chen Gege harusnya memanggil aku Shi'er, keadaanku jauh lebih baik saat ini." Jawab Ling Shi dengan suara yang sangat lembut.


Kali ini Jin Tian dan Jin Mei yang gantian terkejut sampai mundur selangkah.


Mereka kompak memandang Chen dengan tatapan penuh ambigu.


"Itulah maksudku."


"Bahkan Kakeknya sampai pingsan melihat cucunya yang dingin dan jarang tersenyum itu begitu lembut kepadaku."


"Mungkin jika sudah sadar dan mendengar cucunya memanggilku dengan sebutan Chen Gege, orang itu bisa mati terkejut." Jelas Chen sambil mengela nafas.


Kali ini Jin Tian sampai memijit keningnya, karena baru saja masuk sudah dibuat sakit kepala oleh Tingkah Ling Shi.


Setelah beberapa saat tidak ada suara.


"Baiklah, sepertinya kita tunggu Tuan itu (sambil menunjuk Yuan Lan) siuman baru kita lanjutkan lagi." Ucap Jin Tian.


Chen dan Mei kompak mengangguk, lalu merapikan bangku di pojok di baris tiga dan duduk.


Tidak ada yang berani bersuara kini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tiga batang dupa berlalu seperti angin.


"Uhh.." Keluh suara yang memecahkan keheningan.


Mereka kompak melihat ke arah sumber suara yang berasal dari Yuan Lan.


Wajah mereka cerah seolah mendapat secercah harapan.


Tak lama Yuan Lan sadar dari pingsannya, melihat ke arah Ketiga orang yang duduk bersebelahan itu.


Sambil memijit kepalanya, Yuan Lan berkata : "Biarkan aku tenang dahulu, kita cari tau penyebabnya."


Mereka bertiga kompak mengangguk tanpa mengucapkan apapun.

__ADS_1


Tidak ada yang berani bersuara, mereka terlalu larut dengan fikiran masing-masing.


__ADS_2