
Malam yang gelap berlalu, berganti Mentari di Pagi hari.
Setelah menyelesaikan segala urusan dan mengembalikan kunci kamar, Chen dan rombongan berbegas melanjutkan perjalanan.
Menunda terlalu lama juga tidak baik, tapi tergesa juga tidaklah bijak.
"Kita ke kedai dulu untuk sarapan." Ucap Jin Tian.
"Baiklah." Jawab Chen dan Mei kompak.
Setengah batang dupa kemudian, mereka melihat sebuah kedai yang terlihat sangat bagus dan lumayan ramai tapi tak sampai membuat kedai itu penuh.
Mereka bertiga masuk dan duduk di kursi paling pojok kanan.
Tak lama kemudian, pelayan menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan.
Setelah mencatat semua pesanan, pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
"Tuan Muda, bagaimana menurutmu Kota ini?" Tanya Jin Tian.
"Kota yang damai dan aman, aku cukup terkesan dengan ketertiban di kota ini." Jawab Chen serius.
Jin Tian hanya mengangguk tanda menyetujui ucapan Chen.
"Kakek, tiga minggu lagi Kita akan Mengadakan Lelang besar-besaran. Kemungkinan akan ada banyak pihak yang datang dan tidak menutup kemungkinan orang dari wilayah tengah juga akan datang mengingat barang yang di lelang kali ini adalah Buah Apel Emas." Ucap Jin Mei mencoba mencari topik sekaligus menarik perhatian Chen.
Jin Tian hanya mengangguk pelan, lalu berkata : "Aku paham, untuk masalah ini aku juga akan menunggu hingga lelang selesai demi mencegah kejadian yang tidak di inginkan."
Jin Tian memandang ke arah Chen lalu bertanya : "Apakah Tuan Muda tertarik untuk mengikuti lelang?"
Chen sempat berfikir sejenak sambil menimbang waktu yang akan terbuang jika dia menunda terlalu lama.
"Aku tidak bisa berjanji, karena menunda terlalu lama urusan ini juga tidak baik. Tapi jika saat waktunya lelang tiba dan aku berada di dekat Asosiasi Harta Duniawi, aku pasti akan hadir." Jawab Chen dengan bijak.
Jin Tian mengangguk paham, dia sudah bukan anak muda lagi jadi baginya keputusan Chen sudah sangat bijak.
"Baiklah...." Belum sempat Jin Tian berbicara tiba-tiba terdengar suara ledakan besar berasal dari luar.
Jin Tian dan Chen sempat saling melirik dan mengangguk bersamaan, lalu tiba-tiba sosok mereka menghilang.
Jin Mei hanya menghela nafas, dalam hatinya sangat dongkol karena di tinggalkan begitu saja.
"Mereka itu.." Gumam Mei sambil menghela nafas, mencoba untuk menghilangkan perasaan dongkolnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Di balik awan.
"Apa kau merasakannya?" Tanya Jin Tian.
Chen mengangguk, tapi pandangannya fokus ke bawah.
"Energinya setara denganku." Jawab Chen.
Chen memperhatikan seorang pria seperti berusia 30 tahun, tapi auranya sangat besar.
Orang itu berjalan santai, tapi tiap langkah kakinya selalu saja melemparkan tiap orang yang berusaha menghentikannya.
Pria itu hanya melambaikan tangan, para anggota Klan Xing yang merupakan penjaga Kota Merak terlempar seperti daun kering yang ditiup angin.
Tak lama kemudian muncul empat sosok yang dimana adalah tiga orang Leluhur Pelindung Klan Xing dan Patriark Klan Xing.
Patriark Klan Xing bernama Xing Feng.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pria itu berhenti sejenak, tapi wajahnya terlihat sangat marah.
"Kembalikan cucuku yang kalian Tangkap." Ucapnya dengan ledakan energi yang sangat besar.
Bahkan Leluhur Pelindung Klan Xing dan Patriark Xing Feng sampai berlutut dan memuntahkan darah dibuatnya.
Patriark Xing Feng hanya bisa mengumpat dalam hati, hanya dengan tekanan saja mereka dibuat muntah darah dan bertekuk lutut.
"Siapa orang bodoh yang mencari gara-gara dengan orang sekuat ini?" Batin Patriark Xing Feng.
Leluhur Pertama Klan Xing berkata dengan terbata : "Tuan, mohon maaf.. tapi kami tidak mengetahui siapa cucu Tuan dan bagaimana bisa ada yg mampu menculiknya?"
"Aku merasakan auranya mengarah kesini, jangan banyak alasan cepat serahkan..!!!" Teriak Pria itu.
Lalu siluet seekor Burung Phoenix berwarna Putih dengan aura yang sangat dingin keluar dibalik tubuh Pria Tersebut dan langsung melesat terbang ke arah Patriark Xing Feng.
Patriark Xing Feng berubah pucat mukanya.
"Matilah aku.." Ucapnya dengan tubuh bergetar hebat.
Tapi sebelum Siluet Phoenix itu menghantam Patriark Xing Feng, sulur-sulur tulang berwarna merah dan memancarkan aura yang sangat panas dan kuat meluncur dari langit dan menghantam tanah tepat di depan Patriark Xing Feng.
Booom...
Ledakan terdengar akibat benturan dua kekuatan kuat tersebut.
__ADS_1
Bahkan sampai merusak jalanan dengan parah dan bangunan di sekitar sampai hancur.
Hawa Dingin dan Panas berbenturan, menciptakan asap yang mengepul hebat.
Tak lama muncul bayangan dengan cepat meraih Patriark Xing Feng dan ketiga Leluhur Pelindung Klan Xing, lalu membawa mereka mundur tiga puluh kaki jauhnya dan setelahnya kembali ke area tempat ledakan tadi.
Pria itu mengerutkan keningnya, lalu berkata : "Siapa yang berani menghalangiku?"
Tak lama asap yang mengepul seperti terhisap oleh angin yang berputar dan membawanya terbang ke langit.
Sosok Pria Muda dan Pria Sepuh terlihat tak jauh dari tempat ledakan tadi, berdiri berhadapan dengan Pria tersebut.
"Tetua Jin Tian, biar aku yang mengurus ini. Aku sedikit mengkhawatirkan Nona Mei." Ucap Chen.
Jin Tian sedikit terkekeh mendengarnya lalu mengangguk paham; "Akan ku pastikan calonmu baik-baik saja Nak." Ucap Jin Tian sambil tertawa pelan.
Chen mengerutkan keningnya, melirik ke arah Jin Tian tapi belum sempat Ia berbicara Jin Tian sudah menghilang dari posisinya semula.
"Huh, orang tua itu." Keluh Chen.
Lalu pandangan Chen beralih ke Pria di depannya.
Sambil menangkupkan tangan menunjukkan rasa hormat, Chen berkata : "Tuan, mohon maaf jika aku sedikit mengganggu tapi aku yakin ini hanyalah salah paham."
"Oh aku mengerti, kau yang sudah menculik cucuku?" Ucapnya, lalu energi yang besar menyeruak dan hawa yang sangat dingin merembes keluar bahkan membekukan area di sekitarnya.
Chen segera mengeluarkan energi yang sama besar, seketika luapan energi yang sangat panas menyeruak dan hawa panas ini bahkan membuat beberapa bangunan serta jalanan retak dibuatnya.
"Aku hanya melintasi kota ini dan tak sengaja melihat kejadian ini, setelah sedikit melihat aku yakin ini hanya salah paham dan masih bisa di luruskan. Makanya aku mencoba menjadi penengah." Ucap Chen.
"Darimana kau berasal?" Tanya Pria itu.
"Klan Nan, namaku Nan Chen." Jawab Chen.
Pria itu mengangguk, lalu tiba-tiba saja dia mengarahkan tinjunya yang berhawa sangat dingin ke arah Chen.
Energi yang sangat dingin dari tinju itu melesat ke arah Chen.
Chen tak tinggal diam, sulur-sulur merah dan panas tercipta dari tulang keluar melalui tangannya dan melesat menghadang Energi yang di keluarkan Pria tersebut.
Boom... Boom... Boom...
Sekali lagi, ledakan terdengar dan menciptakan daya hancur yang lumayan besar.
Chen melihat ini hanya akan menimbulkan kehancuran bergegas terbang ke udara lalu melalui Transmisi suara Chen memancing Pria itu untuk bertarung di udara.
__ADS_1
Pria itu melihat ke atas dan segera melesat terbang mengejar Chen.