Penguasa Benua Tengah

Penguasa Benua Tengah
Chapter 35.


__ADS_3

Enam Batang Dupa berlalu, semua berjalan lancar tanpa ada halangan apapun.


Kini semua orang merasa sangat lega, setidaknya kini perselisihan yang terjadi antara kedua Ras sudah di selesaikan dan kelak kedua Ras bisa hidup berdampingan.


Walaupun tidak menutup kemungkinan akan terjadi pertikaian, ini hanya akan menjadi pertikaian kecil.


Chen memandang semua orang yang hadir disana.


"Mau di apakan semua orang yang ada disana?" Tanya Chen sambil menunjuk setumpuk-orang yang sudah di lumpuhkan tersebut.


Mereka kompak melihat ke arah kumpulan orang yang terikat disana, bagi yang tidak mengenal orang-orang itu hanya diam tanpa bersuara tapi beberapa yang merupakan kenalan atau kerabat dan saudara mereka meminta supaya orang-orang itu di bebaskan, ada pula yang berkata lebih baik dibunuh saja.


Chen mengangguk mendengar pendapat mereka.


"Sebelum itu aku ingin bertanya sesuatu, apakah boleh?" Tanya Chen.


Semua orang mengangguk kompak tanpa menjawab.


"Jika saja, aku mati melawan Pria Sepuh tadi. Apakah mereka yang ada disana itu (sambil menunjuk setumpuk-orang yang di ikat) akan memikirkan nasib kalian? Ketika kalian bahkan belum mengambil keputusan, mereka mendahului dengan cara mengambil langkah aman dan berlalu tanpa melihat sedikitpun ke arah kalian atau mengajak kalian mengikuti mereka agar kalian juga bisa selamat. Apakah kalian berfikir mereka masih memikirkan keselamatan kalian? Tanya Chen dengan senyum tipisnya.


Semua orang yang mendengar pertanyaan Chen yang sebenarnya adalah sindiran bagi mereka, kini tersadar jika mereka terlalu Naif dan terlalu memikirkan keselamatan orang lain. Tapi nyatanya, orang yang ingin mereka selamatkan seyogya-nya hanya memikirkan diri sendiri.


"Kami serahkan kepada Tuan Muda Nan Chen mengenai Nasib Mereka." Akhirnya mereka semua menjawab kompak.


Chen tersenyum lalu memandang Raja Tang Lio dan Mo Yuan Lan.


"Ini ada hak serta wewenang Raja Tang Lio dan Tuan Mo Yuan Lan." Ucap Chen.


Kini Chen dan semua orang disana memandang Raja Tang Lio dan Mo Yuan Lan yang duduk berdampingan itu.


Keduanya hanya menghela nafas pelan dan menggelengkan kepala, bisa-bisanya ini semua tiba-tiba di lemparkan ke mereka berdua.


"Izinkan aku berdiskusi dengan Ketua Mo Yuan Lan." Ucap Raja Tang Lio.


Lalu keduanya tampak berdiskusi sesaat, wajah keduanya tampak serius.


Satu Batang Dupa berlalu, Raja Tang Lio berdiri dari kursinya dan memandang semua orang di hadapannya dengan tegas.


"Hukuman Mati Sangat Layak Untuk Mereka." Ucap Raja Tang Lio.


Semua orang hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan Raja Tang Lio, walau sedikit kecewa mereka juga mengingat apa yang sudah Chen ucapnya adalah kebenaran.


"Tapi hal ini juga akan menimbulkan permasalahan yang tak berkesudahan, akan muncul dendam dan kebencian baru akibat kematian mereka yang tidak berguna itu."


"Karenanya, atas Nasihat Ketua Mo Yuan Lan maka kami akan melepaskan mereka dari hukuman mati tapi kami akan tetap memberikan hukuman penjara Tiga Puluh Hari." Ucap Raja Tang Lio.


Semua orang terkejut mendengar Ucapan Raja Tang Lio yang ternyata cukup bijak.


"Ingatlah Ampunan ini juga Berasal Dari Ketua Mo Yuan Lan yang merupakan Ras yang Kalian Benci. Kami tidak menyelamatkan kalian, tapi kami menyelamatkan banyak nyawa yang akan terseret dendam akibat kematian kalian karena disana ada orang yang menanti kalian di rumah."


"Bukan berarti Kami Takut akan ada Konflik, tapi untuk apa perjanjian damai ini jika harus ada yang akan menangis setelahnya?"

__ADS_1


"Gunakan waktu di penjara untuk Intropeksi Diri dan Memikirkan Kesalahan Kalian, Ingat sebelum kalian memikirkan diri sendiri, fikirkan pula akibat yang akan Kalian Tanggung jika tindakan Kalian tidak sesuai rencana."


"Kalian Tidak Hidup Sendiri. Orang Tua, Suami atau Istri serta Anak dan Saudara Kalian sedang menanti kalian dirumah." Jelas Raja Tang Lio.


Semua orang yang mendengar itu merasa haru dalam diri mereka.


Mereka semua beranjak dari kursi dan berlutut di hadapan Raja Tang Lio dan Mo Yuan Lan.


"Hormat kepada Raja dan Pelindung, semoga selalu sehat dan panjang umur serta diberkati oleh Langit." Ucap mereka Kompak.


Raja Tang Lio dan Mo Yuan Lan memandang mereka dengan penuh rasa bahagia.


"Bangunlah." Ucap Raja Tang Lio.


Sedangkan di arah sekumpulan orang yang telah di ikat dan di lumpuhkan itu, mereka semua kini merasa sangat bersalah dan mengutuk diri sendiri.


Tetua Kelima Sekte Pedang Langit yang dulunya sangat membenci Ras Hewan bahkan kini meneteskan air mata karena selama ini dirnya begitu keliru, begitu buta mata hatinya membenci sesuatu secara berlebihan.


"Mereka semua akan dibawa oleh para prajurit dan akan dikirim ke Sel Kurungan." Ucap Raja Tang Lio.


Lalu Secara Kompak mereka yang di ikat itu Berlutut dan Berterima kasih kepada Raja Tang Lio dan Mo Yuan Lan.


Chen memandang Kagum dan Senang melihat sikap Raja Tang Lio dan Mo Yuan Lan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Asosiasi Harta Duniawi.


Chen sedikit pusing, kini tidak hanya Ling Shi yang menggandeng tangannya tapi Jin Mei juga menggandeng tangannya.


Jin Tian dan Mo Yuan Lan bahkan sampai terkekeh melihatnya.


"Nak ceritakan bagaimana kejadian di dalam kubus itu." Ucap Jin Tian sesaat kemudian.


Chen lalu menceritakan pertarungan mereka yang ternyata Pria itu bernama Xue Murong dan merupakan Ayah dari Xue Chu Luan yang merupakan Istri Gurunya, Chen juga menceritakan pertemuan dirinya dan Ling Shi dengan Chu Luan.


Tapi Chen berbohong dengan mengatakan bahwa Xue Murong sudah pergi dengan cara merobek ruang.


Semua orang mengangguk-mengerti mendengar penjelasan Chen.


Lalu mereka disana membicarakan hal-hal lain, termasuk Mei yang akan menanggal-kan posisi Manager Asosiasi Harta Duniawi dan mengikuti Chen.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya, di kamar yang sudah disiapkan untuk Chen.


Chen memandang ke arah Ling Shi yang tidur di kasur dan Yuan Lan yang tidur di kursi.


"Sudah di sediakan kamar, karena Ling Shi tidak ingin berbeda kamar dariku maka Kakeknya pun ikut tidur disini." Keluh Chen sedikit memijit keningnya.


Chen teringat akan Murong yang masih berada di Dunia Kecil, terlintas ingin masuk ke Dunia Kecil.

__ADS_1


Chen berdiri dari kursinya bersiap untuk masuk ke Dunia Kecil, tapi belum sempat dirinya masuk tiba-tiba Ling Shi sudah menggandeng tangannya.


"Ehh...." Chen terkejut.


Ling Shi memandangnya dengan tatapan penuh arti.


Chen menghela nafas pelan.


"Apa dia bisa membaca fikiranku." Gumam Chen pelan.


"Baiklah, mari pergi." Ucap Chen, senafas kemudian mereka lenyap dari ketiadaan dan sudah tiba di Dunia Kecil.


Chen terkejut ketika tiba di Dunia Kecil mendapati Murong bahkan belum beranjak dari makam anaknya.


Hati Chen terasa tersentuh melihat Murong dan melirik ke arah Ling Shi.


"Shi'er, tolong keluarkan aura Ibu Guru." Pinta Chen pelan.


Ling Shi yang mendengar dirinya dipanggil "Shi'er" langsung memerah wajahnya, tanpa menunggu lama langsung mengeluarkan Aura yang mirip dengan Chu Luan.


Xue Murong yang duduk di dekat makam Chu Luan terkejut merasakan aura yang sangat dikenalnya, hatinya langsung terasa sakit ketika merasakan Aura Chu Luan.


Murong melihat sekitar dan mendapati Chen berdiri tak jauh darinya, di sebelahnya berdiri seorang wanita muda yang mengeluarkan Aura mirip anaknya.


Murong langsung berdiri, senafas kemudian menghilang dan muncul di depan Ling Shi tanpa menunggu apapun Murong memeluk Ling Shi sambil menangis terisak.


Ling Shi terkejut dan ingin melepaskan diri dari pelukan Murong tapi saat Ia hendak menjauh dari Murong, terdengar suara parau dari Pria Sepuh yang memeluknya ini.


"Maafkan aku Nak... Maafkan Aku.." Ucap Murong dengan suara Parau dan Menangis.


Ling Shi hanya diam dan membiarkan Murong memeluknya, rasa kasihan menyelimuti hatinya.


Bagaimanapun, Ibu Gurunya Xue Chu Luan adalah orang yang telah memberikan energi bahkan esensi kehidupan untuk dirinya.


Ling Shi tau bagaimana perasaan Pria Sepuh yang memeluknya ini karena dirinya juga memiliki Mo Yuan Lan yang sangat menyayangi dirinya.


...****************...


Arc Satu End.


Banyak kekurangan dan pertarungan yang kurang greget.


Menulis itu sangat sulit ternyata, sampai sakit kepala saya karena banyak hal yang bisa Saya bayangkan dan imajinasikan tapi tidak mudah menjelaskan-nya lewat kata-kata. 😁🙏


Saya akan terus berusaha memperbaiki alur dan mencari "Ilham" demi memaksimalkan Novel ini hingga Tamat. 😁🙏


Arc Dua tetap lanjut disini ya. 🙏


Terima Kasih banyak sudah memberikan Like, Komentar, dan Vote.


Karena Cerita Buruk ini ternyata cukup diterima oleh Pembaca. 🙏🙏

__ADS_1


Saya Haturkan Banyak Terima Kasih, semoga Kita Semua Sehat Selalu dan Berada Dalam Lindungan Tuhan Yang Maha Esa.


Aamiin.


__ADS_2