
Semua yang hadir disana hanya diam sambil mencerna cerita Chen, kejadian ini sungguh tidak terduga dan kejutan besar bagi mereka.
"Nak beristirahlah dahulu." Akhirnya Jin Tian bersikap bijak dan memberikan Chen waktu beristirahat sejenak.
Chen mengangguk dan berterima kasih.
Semua orang keluar kecuali Ling Shi yang masih berada disebelah Chen.
Chen menatap Ling Shi dengan tatapan sedih.
"Kekuatanku hilang, aku tidak lebih seekor semut yang bisa mati kapan saja. Mungkin aku tidak akan bisa lagi mewujudkan keinginan Guru dan Ibu Guru." Ucap Chen pelan dan lirih.
Ling Shi hanya diam dan memandang wajah Chen dalam-dalam.
"Istirahatlah." Ucap Ling Shi, lalu membaringkan tubuh Chen dan duduk di kursi yang ada dipojok kamar.
Chen menutup matanya dan terlihat sedang beristirahat.
"Maaf, tapi aku harus menguji kalian." Ucap Chen dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Senja datang menyambut rembulan, tanda siang sudah mulai berganti malam.
Semua orang kini berkumpul di kamar Chen, termasuk Raja Tang Lio.
Chen memandang ke arah mereka dengan tatapan sedih.
"Aku mungkin hanya akan sampai disini saja, aku sudah memikirkannya matang. Aku akan kembali ke Klan Nan dan hidup normal."
"Aku hanya ingin apa yang sudah terjadi di Wilayah Timur ini semoga akan tetap seperti ini tanpa adanya diriku sekalipun." Ucap Chen pelan.
Raja Tang Lio melihat ke arah Chen dengan tatapan sedih dan kasihan.
"Tenanglah Tuan Muda, bagaimanapun kondisimu tetap kau adalah Pahlawan Wilayah Timur ini." Ucapnya.
Jin Tian mengangguk.
"Aku bisa saja meminta bantuan Ketua Mo Yuan Lan tentang perang terbuka nanti, jangan khawatir nak." Ucapnya.
Mo Yuan Lan mengangguk mendengar ucapan Jin Tian.
"Jangan khawatir, aku akan tetap melindungi Wilayah Timur ini." Ucapnya.
Chen memandang mereka semua sedikit terharu, lalu memandang Jin Mei dan Ling Shi bergantian.
__ADS_1
"Kalian bisa meninggalkan aku, kejarlah cita-cita kalian. Bersamaku hanya akan menjadi penghambat bagi kalian, dan aku tidak ingin hal itu terjadi."
"Bersamaku hanya akan membuat masa depan kalian yang bersinar itu menjadi redup, aku kini hanyalah pemuda lemah tidak berguna." Ucap Chen pelan.
Ling Shi menggeleng dan menatap Chen marah.
"Aku ingin bersamamu." Ucapnya.
Chen memandang ke arah Yuan Lan, melihat tatapan Chen Yuan Lan mengerti.
"Aku mendukung cucuku, apapun keputusannya." Ucapnya.
Jin Mei menangis tersedu mendengar Ucapan Chen.
"Bersamamu hanya akan menghambatku, aku mungkin hanya akan menjadi wanita biasa setelahnya, tapi walaupun aku menjadi pesuruh sekalipun asalkan bersamamu itu semua akan kuterima." Ucapnya sambil menangis tersedu dan memeras ujung pakaiannya.
Jin Tian yang mendengar itu menghampiri Jin Mei, memegang pundaknya pelan.
"Cucuku adalah keturunan Klan Jin yang merupakan pemilik Asosiasi Harta Duniawi, dan Klan Jin adalah Klan kuat di wilayah Jantung Benua ini. Bahkan jika dirinya ingin mengikutimu, aku sebagai yang tertinggi di Klan Jin akan berada di belakangnya." Ucap Jin Tian.
Chen mengangguk pelan, artinya mereka semua tetap akan menerima dirinya bagaimanapun kondisinya.
Bahkan jika kelak terjadi sesuatu yang buruk terhadap dirinya, Chen yakin mereka tidak akan meninggalkannya.
Terutama Dua Wanita yang akan Menemaninya ini, Chen harus memastikan mereka bersungguh-sungguh ingin terus bersamanya.
Senafas kemudian seluruh energi di dalam tubuhnya tiba-tiba saja melonjak naik hingga berjumlah 410.000 Lingkaran Energi.
Semua orang terkejut melihat energi Chen benar-benar sudah menguat.
Yuan Lan, Jin Tian, Jin Mei, dan Raja Tang Lio bahkan hanya bisa merasakan fluktuasi energi yang sangat besar tanpa bisa mengukur jumlah lingkaran energi yang keluar dari tubuh Chen, hanya Ling Shi yang bisa mengukurnya walapun energi Ling Shi berjumlah 400.000 Lingkaran tapi itu hanyalah selisih kecil.
Chen memandang ke arah mereka semua secara bergantian.
"Aku hanya ingin memastikan Shi'er dan Mei'er bersungguh ingin mengikutiku, jika suatu saat hal ini terjadi dan aku mulai mencintai mereka setidaknya aku tidak akan merasakan sakit yang dalam."
"Munafik jika kebersamaan bersama mereka kelak tidak akan menumbuhkan bibit cinta di dalam hatiku, tapi keadaanku yang sangat dekat dengan pertarungan dan kematian sangat berisiko suatu saat aku akan mengalami banyak hal buruk."
"Jika saat ini mereka bahkan bisa menerimaku, maka kedepan akan kupastikan tidak akan membiarkan siapapun merebut berlian indah yang ada padaku, akan ku jaga kedua berlian ini dengan segenap jiwa dan ragaku." Jelas Chen sambil tersenyum.
Semua orang yang awalnya sedikit kesal, kini mulai paham maksud dari perbuatan Chen.
Perjalanannya yang panjang dan penuh risiko akan sangat berbahaya jika memiliki pendamping yang tidak setia.
Yuan Lan memandang Chen Tajam.
__ADS_1
"Nak, apakah kau mencoba menguji kami?" Tanya-nya dengan tatapan tajam.
Chen memandang ke arah Yuan Lan dan tersenyum kecut.
"Maafkan aku Kek, ini sangat penting bagiku. Lebih baik aku melepaskan mereka dan membiarkan mereka bahagia daripada harus memaksa mereka kelak." Jawab Chen pelan.
Raja Tang Lio hanya mendengus kesal.
"Aku ini seorang Raja bahkan kau kerjai." Ucapnya.
Chen memandang Raja Tang Lio dan meminta maaf dengan tulus lalu menjelaskan kedatangan Raja Tang Lio benar-benar diluar dugaannya.
Setelah berbincang-bincang Raja Tang Lio pulang diantar seorang pelayan dan pengawal kerajaan.
Mereka yang tersisa kini saling berbincang santai, tidak ada pembahasan yang berarti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di kamar kini hanya ada Chen, Mei, dan Ling Shi.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat." Ucap Chen memandang ke arah Mei.
Mei mengerutkan kening tanda bingung.
"Kemana?" Tanya-nya.
Tapi sejurus kemudian pandangan Mei terasa gelap dan seketika dirinya merasa sudah berada di suatu tempat yang terasa sangat asing.
Jin Mei melihat ke samping, terlihat Chen dan Ling Shi memandang ke arahnya.
"Dimana ini Chen Gege"? Tanya Mei pelan, sedikit malu memanggil Chen dengan sebutan sedekat ini tapi dirinya harus berusaha membiasakan diri.
Chen tersenyum kecil, memiringkan kepala.
"Oh, bagus.. Ini Bagus sekali." Ucap Chen menggoda Mei.
"Eh..." Mei kaget dan sangat merasa malu mendengar ucapan Chen, merutuk diri dalam hati akan kebodohannya.
"Sudahlah, tidak perlu malu karena Aku senang mendengarnya." Ucap Chen tersenyum manis.
Mei hanya mengangguk dan menundukkan kepala.
"Baik, mari kita temui seseorang." Ucap Chen pada Mei.
Ling Shi mengangguk lalu menggandeng tangan Chen, Mei yang melihat ini walau sedikit ragu tapi memberanikan diri untuk ikut menggandeng tangan Chen.
__ADS_1
Ketiganya berjalan menuju sebuah rumah sederhana yang berada tak jauh dari mereka.