
"Aku ingin menguburkan Ibu Guru di dalam Dunia Kecil, serta memindahkan Kuburan Guru ke Dunia Kecil juga." Ucap Chen dalam hati.
Chen melirik Yan Lui.
"Paman, bolehkah aku minta Paman memanggil Paman Yan Luo?" Pinta Chen.
"Baik Tuan Muda." Jawab Yan Lui, lalu segera undur diri dan keluar untuk menemui Yan Luo.
Chen memandang ke arah Ling Shi yang sedang menstabilkan diri akibat Lonjakan Energi Besar yang diterimanya.
Untung saja Umur Ling Shi yang sesungguhnya sudah sangat bukan gadis muda lagi, jika tidak maka jangan harap Tubuhnya bisa bertahan.
Setelah memberikan sisa Energinya ke Ling Shi maka seluruh Energi Chu Luan habis bahkan seluruh Esensi Kehidupannya diberikan kepada Ling Shi.
Dua batang dupa berlalu.
Tampak Yan Luo berjalan di ikuti Yan Lui.
Ketika keduanya hendak berlutut dengan cepat ditahan oleh Chen.
"Tidak perlu seperti ini Paman, kalian cukup memberi salam secara wajar." Ucap Chen.
Yan Luo dan Yan Lui sebenarnya merasa enggan, tapi mengingat ini adalah perintah Chen maka mereka tak berani membantah.
"Baik Tuan Muda." Jawab mereka kompak.
Chen mengangguk pelan.
"Paman, apa paman berdua keberatan jika aku memindahkan Makam Guru?" Tanya Chen.
Kedua sempat bimbang namun dengan berat hati keduanya mengangguk, mereka berdua tak berani membantah Chen.
Chen yang melihat raut wajah mereka sedikit enggan, mengangguk paham.
"Ada tugas yang lebih penting untuk Paman berdua, dan ini juga demi tercapainya keinginan Guru. Menjaga makam Guru biarlah aku yang akan mengurusnya, jadi tidak akan menambah beban Paman." Ucap Chen sedikit beralasan.
Chen diam sejenak sambil memandang keduanya.
"Tugas ini aku khawatirkan akan membuat paman kerepotan, jadi aku berinisiatif biarlah aku membaktikan diriku untuk Guru dan Ibu Guru." Chen menambahkan.
Keduanya saling lirik sebentar lalu Yan Luo bertanya : "Tugas apa itu Tuan Muda?"
Chen memandang keduanya sangat serius.
"Ini semua berkaitan dengan keinginan Guru yang menginginkan kedua Ras bisa Berdamai dan Hidup Berdampingan."
"Aku berencana membuka lebar Hutan Kematian untuk Anggota Klan Nan dan Seluruh Penghuni Hutan Kematian bebas masuk ke Klan Nan. Tentu saja ini untuk pancingan agar semua orang melihat, ternyata antara ras manusia dan ras hewan bisa hidup berdampingan." Jelas Chen.
Lalu Chen bertanya.
"Untuk anggota Klan Nan, aku yang akan mengaturnya tapi apa paman bisa mengatur para Ras Hewan di hutan kematian ini?"
Keduanya sempat berfikir sejenak, lalu mengangguk tanda menyanggupi.
"Tapi Tuan Muda tetap harus unjuk diri." Ucap mereka.
"Apa paman bisa mengaturnya?" Tanya Chen.
__ADS_1
"Bisa." Jawab mereka kompak.
"Kalau begitu, semakin cepat semakin baik.
Usahakan besok semua berkumpul di tempat terakhir Guru bertarung, itu tempat yang tepat dan pas." Balas Chen.
Keduanya mengangguk, lalu bergegas melaksanakan Tugas Chen.
Chen berjalan ke arah Ling Shi.
"Apa butuh bantuan?" Tanya Chen pelan.
Ling Shi membuka mata, lalu menggelengkan kepala.
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menstabilkan kondisimu?" Tanya Chen.
Ling Shi diam sejenak, sedikit berfikir.
"Tiga puluh hari mungkin kurang." Jawabnya.
Chen mengangguk paham.
"Tunggu sejenak, untuk memotong waktu baiknya lakukan di Dunia Kecil, aku juga ingin memindahkan makam guru dan menguburkan Ibu Guru di dalam Dunia Kecil." Ucapnya.
Lalu Chen menyentuh tanah dekat makam Gurunya, tak lama tanah bergetar dan terbentuk celah retakan mengelilingi makam Gurunya.
Dari celah itu tiba-tiba muncul tulang-tulang yang saling berjajar dan tak lama kemudian tanah tempat makam gurunya terangkat.
Chen meminta Ling Shi menggendong Chu Luan.
Ling Shi mengangguk dan segera mendekati Chu Luan yang sudah tak bernyawa lalu memapah mayat Chu Luan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Chen memakamkan Chu Luan di dekat rumah yang dibangun Chu Luan, di sebelahnya ada makam Gurunya Limba.
Setelah itu, Chen masuk ke dalam rumah sederhana itu.
Melihat sekeliling, Chen cukup senang melihat isi rumah yang terlihat teratur.
Chen memandang ke arah Ling Shi yang dari tadi hanya mengikuti dan memperhatikan apa yang Ia lakukan.
"Apa kau tidak ingin menstabilkan diri?" Tanya Chen.
Ling Shi mengangguk, tapi seperti bingung.
Chen paham arti anggukan Ling Shi lalu berkata : "Ada tiga pintu yang kurasa isinya kamar, pilihlah sesukamu."
Ling Shi tanpa menunggu berjalan menuju Pintu terdekat dan ingin masuk ke dalam kamar tersebut, tapi sebelum masuk Ia memandang ke Arah Chen lalu tersenyum manis.
"Chen Gege tidak perlu menungguku, aku mungkin akan langsung menerapkan Teknik Tubuh Yin hingga ke Tahap sempurna. Jika ingin keluar, tidak mengapa."
Chen sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil.
"Wah Nona Cantik Pemilik Es Hitam Mulai Cerewet ternyata." Ucapnya sambil menggoda Ling Shi.
Ling Shi sedikit menunduk dan tersenyum tapi hanya sepersekian detik sebelum wajahnya kembali datar dan hanya mengangguk pelan lalu menutup pintu kamar tersebut.
__ADS_1
Chen menghela nafas pelan.
"Gadis ini, bahkan hanya seperti itu reaksinya." Gumam Chen pelan.
Lalu Chen berjalan ke arah pintu kedua, di dalam ruangan kamar itu ada kasur besar dan meja serta beberapa kursi.
Setelah melihat-lihat sekitar, Chen beranjak keluar dan berjalan ke arah Ruang Ketiga.
Di Kamar Ketiga Chen sedikit terkejut ternyata di dalamnya adalah ruangan yang sedikit besar dan tidak ada kasur atau meja dan kursi, melainkan Tumpukan Koin Emas, senjata, artefak serta tersusun rapi buah-buah yang Chen tau itu semua buah berkhasiat.
"Ternyata ini maksud Ibu Guru." Ucap Chen pelan.
Chen masuk ke dalam Kamar Kedua, duduk di atas kasur lalu mengambil sikap bersila.
"Aku harus menyempurnakan Formasi Kubus Ilahi." Gumam Chen.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Enam hari berlalu.
Chen membuka mata.
"Saatnya keluar." Ucap Chen senang, lalu sosoknya menghilang.
Sejurus kemudian, Chen berdiri tepat di tempatnya masuk.
"Masih ada waktu sebelum mereka berdua datang." Gumam Chen merasakan lewat kesadaran yang Ia lepaskan kalau hari belum pagi, tapi sudah hampir terang.
Chen sebenarnya ingin menunggu hingga sepuluh hari, tapi dirinya mengingat ucapan Ibu Gurunya yang menyebut 10:1 sedangkan saat Ia masuk kemarin hari sudah siang. Jika dirinya melanjutkan hingga 10 hari di Dunia Kecil maka ketika kembali hari sudah siang pula, jadi Chen hanya menggunakan waktu yang terasa sudah 6 hari Ia lalui dan langsung ke Dunia Luar.
Chen memilih duduk di batu pinggir Goa, sambil menunggu Yan Luo dan Yan Lui.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi harinya.
Yan Luo dan Yan Lui masuk dan menghampiri Chen.
Setelah memberi hormat dan salam tanpa berlutut, serta sedikit berbasa-basi mereka segera melesat ke tujuan.
Wilayah Hutan Kematian tempat terakhir Limba dan Yanzhu bertarung.
Mereka bertiga terbang di udara.
Mata Chen melihat ke arah kawah luas itu, bahkan setelah beberapa tahun masih belum di tutupi tumbuhan apapun. Serta jumlah Hewan Biasa dan Hewan Monster yang hadir ternyata diluar bayangannya.
"Banyak sekali."
Gumam Chen.
Semua hewan itu menatap Chen Tajam tapi tak ada yang berani mengeluarkan energi sama sekali.
Yan Luo dan Yan Lui yang mengetahui itu segera menatap Tajam kawanan hewan itu lalu berbicara melalui batin yang hanya bisa di dengar oleh para hewan.
Seketika semua hewan itu menunduk dan tidak ada yang berani menatap Chen tajam lagi.
Chen sedikit paham kondisi saat ini.
__ADS_1
Lalu tanpa aba-aba Chen mengeluarkan energi sekitar 200 Lingkaran besarnya dan menyebar menekan semua yang ada di bawah.
Bahkan Yan Luo dan Yan Lui juga terkena dampak tekanan Energi yang Chen lepaskan.