
"Tunggu... Tunggu dulu... Tanggung jawab apa maksudnya?" Sanggah Chen sedikit panik.
"Sudah jelas bukan? Kau mau aku menjelaskan apa lagi?" Tanya Jin Tian sambil mengerutkan kening.
Tapi sebelum Chen sempat menjawab, Ling Shi membuka suara : "Aku tidak masalah Chen Gege."
Chen mengerutkan kening.
"Bukankah ini masalahku, bukan masalahmu?" Tanya Chen bingung.
"Hu..um.. Tapi aku tidak masalah." Jawab Ling Shi sambil memandang Chen dan tersenyum manis.
Chen sampai memijit keningnya mendengar ucapan ambigu Ling Shi.
"Ini memang bukan masalahmu, lantas kenapa kau mengatakannya seolah ini awalnya masalahmu." Chen berkata pelan sambil menggertak gigi.
"Sudah diam dulu." Potong Yuan Lan.
Yuan Lan memandang ke arah Mei.
"Apa tujuanmu nak?" Tanya Yuan Lan.
Mei sedikit malu, tapi dalam hati Ia berusaha harus bisa mengontrol diri dan mencari alasan tepat. Dirinya tak sejujur Ling Shi, rasa malunya sebagai wanita sangat besar tapi Ia juga tak bisa menahan perasaannya lebih jauh atau dia akan semakin jauh dari Chen.
"Aku... Aku... Hanya ingin membantu.." Ucapnya sedikit malu.
Lalu Mei kembali berkata : "Kakek sudah membantu Tuan Muda dengan membawa nama Asosiasi, dengan adanya diriku yang berstatus cucu langsung dari pemilik Asosiasi yang mengikuti Tuan Muda, mungkin bisa membantu jika Tuan Muda akan ke wilayah lain. Asosiasi memiliki cabang di setiap wilayah, tentu ini akan memudahkan langkah Tuan Muda Chen."
Jantung Mei berdegup kencang, ini hanyalah alasan agar dirinya bisa ikut dan selalu bersama Chen.
Jin Tian mengerutkan keningnya; "Bukankah hanya perlu membawa seorang dari Asosiasi itu sudah cukup?" Batin Jin Tian.
Tapi Jin Tian mengerti keinginan cucunya, lagipula ini juga akan baik jika cucunya memiliki hubungan dengan orang seperti Chen.
Sambil mengangguk, Jin Tian mencoba membantu cucunya.
"Benar sekali, dengan adanya Mei'er mungkin akan sangat memudahkan dirimu nak. Membawa identitas sebagai Keturunan langsung pemilik Asosiasi Harta Duniawi, mungkin sedikit orang yang bisa mempersulit kalian."
"Di wilayah timur ini mungkin kalian bisa sedikit bernafas lega, tapi diluar sana mereka tidak mengenalmu. Mungkin kau bisa mengatasi ini, tapi kau juga sebaiknya menghindari masalah yang seharusnya tidak perlu." Jelas Jin Tian.
Keahilan Cucu dan Kakek ini dalam mencari alasan dan melakukan negosiasi benar-benar bukan isapan jempol belaka.
Chen mengangguk, walaupun agak sedikit curiga tapi tak terlalu difikirkan olehnya.
"Ini bentuk dukungan penuh dari Kalian, sudah banyak sekali bantuan yang kalian berikan. Mungkin tanpa bantuan kalian, perjalananku tidak akan semulus ini." Ucap Chen.
Jin Tian dan Jin Mei tersenyum cerah, entah apa yang ada di fikiran kedua orang ini hanya mereka yang tau.
__ADS_1
"Baik, jika sudah begitu tidak ada lagi yang akan dibahas." Tanggap Jin Tian.
"Hemm.." Yuan Lan berdehem.
"Aku ingin segera pulang, tolong jangan mengulur waktu." Sindirnya.
Jin Tian dan Jin Mei hanya bisa mengangguk dan terseyum canggung mendengar sindiran Yuan Lan.
Tapi Mei cepat mengendalikan diri.
"Baik, kami akan menunggu Tuan. Silahkan bersiap-siap saja dulu Tuan. Jika sudah, Tuan bisa meminta pelayan mengantar ke arah Ruanganku." Jawab Jin Mei.
Semua orang mengangguk, lalu berjalan mengikuti Jin Tian dan Jin Mei kecuali Yuan Lan yang berjalan ke arah kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tiga batang dupa menunggu.
Dari arah ruangan Mei, terdengar suara ketukan.
"Masuk." Sahut Mei.
Pintu terbuka, terlihat pelayan dan Yuan Lan diluar.
Setelah Yuan Lan masuk, pelayan undur diri dan menutup pintu kembali.
Semua orang dan Ling Shi mengangguk.
"Aku akan mengingatnya." Jawab Ling Shi singkat.
"Huuuh..." Yuan Lan menghembuskan nafas pelan, masih terasa berat baginya tapi Ia sadar tak selamanya cucunya ini akan bersamanya dan cucunya juga memiliki kehidupan sendiri jadi Ia harus bisa mengikhlaskan cucunya menikmati dunia sesuai keingingannya.
"Baiklah, jangan buang waktu lagi terlalu lama semaki berat meninggalkan cucuku." Keluh Yuan Lan.
Semua orang mengangguk, mengantar Yuan Lan hingga keluar Gedung Asosiasi.
Setelah Yuan Lan hilang dari pandangan, mereka serempak masuk.
"Mari ikuti aku." Ucap Jin Tian.
tanpa aba-aba semua orang mengikuti Jin Tian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ruangan Jin Tian.
Jin Tian duduk, di ikuti ketiganya duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Aku ingin sedikit memberikan nasihat." Ucapnya
Ketiganya mengangguk menatap ke arah Jin Tian.
Jin Tian sedikit mengangguk.
"Chen, kau sudah kuanggap orang terdekat walaupun pertemuan ini singkat. Aku kagum dengan sifatmu, tapi umurmu masihlah sangat muda dan masih banyak yang harus kau pelajari secara langsung melalui pengalaman hidup." Ucap Jin Tian.
Chen mengangguk tanda paham.
Lalu Jin Tian mengarahkan pandangan ke Ling Shi.
"Nak, kau masih sangat polos. Kedepan nanti sebaiknya banyak belajar dari cucuku. Kekuatanmu mungkin akan sangat diharapkan untuk membantu Chen jika suatu saat menemukan lawan yang sulit." Ucap Jin Tian.
"Baik." Jawab Ling Shi singkat.
Lalu Jin Tian memandang Jin Mei.
"Kau mungkin yang terlemah, tapi pengalamanmu dalam bersosialisasi diatas mereka berdua. Kau harus bisa berfikir dan bertindak cepat, dan sedikit ajak Ling Shi mengobrol." Ucap Jin Tian.
"Baik kek, aku mengerti." Jawab Mei.
Jin Tian memandang lagi ke arah Chen.
"Adanya Mei'er benar akan memudahkanmu nanti, adanya Ling Shi juga akan menjadi bala bantuan besar buatmu, tapi kunci dari itu semua adalah dirimu. Aku yakin kau mampu menjaga mereka berdua."
"Mungkin ini terlalu cepat tapi aku akan mengatakannya kepadamu, selain di jadikan teman seperjalanan cobalah untuk membuka diri kepada mereka. Bisa jadi mereka adalah takdir yang harus kau jaga seumur hidup, tapi tetap bijaklah dalam menentukan." Jelas Jin Tian.
Chen dengan cepat mengangguk, lalu melirik sekilas Ling Shi yang berwajah datar dan Jin Mei yang sedang tertunduk malu.
"Aku mengerti, mungkin ini juga bagian dari takdir yang tidak seharusnya ku hindari." Jawab Chen.
Setelah itu, mereka hanya mendengar wejangan Jin Tian hingga tiga batang dupa lamanya.
Dalam benak Chen berkata : "Orang tua ini cukup cerewet juga ternyata."
Tapi Chen masih dengan sabar mendengar dan tersenyum walau kadang terpaksa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Matahari pagi bersinar terang.
Pagi ini semua orang di wilayah kerajaan Tang wilayah timur sedang heboh akibat Perintah langsung dari Raja Tang Lio agar semua menjauhi Hutan Kematian dan Hutan Lembah Kabut.
Mei duduk di kursi kerjanya, mendengar laporan salah satu anggotanya yang menyebutkan Raja Tang memerintahkan semua orang menjauhi Hutan Kematian dan Hutan Lembah Kabut, Mei hanya mengangguk dan menyuruhnya pergi setelahnya.
"Pihak Kerajaan bergerak cepat. Mungkin beberapa hari kemudian semua wilayah timur sudah menerima perintah ini."
__ADS_1