
"Begitulah ceritanya."
Chen mengakhiri cerita kisah awal pertemuanya dengan Chu Luan.
Semua yang ada disana hanya bisa terdiam, mulai mencerna dan mengambil kesimpulan dari Cerita Chen.
"Jadi maksud tujuanmu kesini adalah karena ingin meminta bantuan Kami untuk menyatukan Ras Manusia dan Ras Hewan?" Tanya salah satu Pria Sepuh.
Chen memejamkan matanya lalu menghadap ke arah langit-langit ruangan itu.
"Aku sudah mengalahkan Penguasa Hutan Cemara dan Penguasa Lautan Utara ini, kedatanganku kesini sebenarnya bukan untuk meminta bantuan tapi untuk...." Chen menghentikan ucapannya, tiba-tiba saja chen memegang keningnya seperti merasa sangat pusing.
Chen melirik Ling Shi memintanya untuk pura-pura pingsan, karena Ling Shi adalah Ras Hewan jadi Chen bisa mengirimkan suara melalui fikiran menggunakan bahasa hewan seperti yang Chen lakukan kepada semua Ras Hewan di Hutan Kematian.
Ling Shi tiba-tiba saja seperti tertidur, memejamkan matanya tapi tubuhnya hanya sedikit bersandar pada kursi.
Chen tersenyum kecut dalam hati, Ling Shi ini aktingnya sangat kaku sekali benak Chen.
Chen langsung mengatur Lingkaran Energi di dalam tubuhnya hingga mencapai titik 70.000 Lingkaran lalu merosot hingga tersisa 5.000 Lingkaran Energi.
Salah Satu Pria Sepuh yang daritadi hanya diam sambil memperhatikan Chen dan Ling Shi langsung tersenyum lebar, awalnya Ia ragu apakah ini hanya akting kebohongan ketika melihat Ling Shi yang seperti berpura-pura tapi ketika melihat Lingkaran Energi Chen yang bahkan sampai bisa menurun akhirnya Pria Sepuh itu walau terkejut karena setaunya efek racun yang Ia berikan tidak sampai seperti ini tapi kini Ia Yakin kalau keduanya terkena Efek Racun yang Ia gunakan.
Pria Sepuh itu berdiri dan tertawa.
"Hahaha... Akhirnya... Kalian hanya orang luar, sudah sangat lama sekali Pulau Es Abadi ini kehilangan sosok pemimpin tapi tiba-tiba saja ada yang datang dan ingin memiliki Pulau Es Abadi ini? Bahkan jika itu Chu Luan dan Murong sekalipun, Aku tidak akan rela..!!!" Ucapnya penuh amarah.
Kedua Pria Sepuh yang ada disebelah Pria Sepuh itu terkejut dan menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan Xue Bhu Jang?" Tanya salah seorangnya.
Xue Bhu Jang memandang rekannya yang bertanya.
"Bukankah sudah sepantasnya kita melakukan ini? Pulau ini sudah saatnya memiliki Tuan Baru dan Aku sangat pantas." Jawab Xue Bhu Jang tersenyum jahat.
Kedua Pria Sepuh itu terkejut tapi tiba-tiba saja keduanya merasakan sakit di dada, tak lama keduanya memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
Hal itu juga di alami semua Pria Paruh Baya yang merupakan Tetua yang ada disana kecuali dua sosok orang yang terlihat baik-baik saja, bahkan mereka semua sampai menahan tangan di meja."
"Kau.. Kau..!!!" Ucap salah seorang Pria Sepuh dengan tatapan marah.
__ADS_1
"Hahaha... Jika ada yang ingin sembuh maka berjanjilah untuk patuh kepadaku dan akan kuberikan Tanda, jika tidak maka mati saja." Ucap Xue Bhu Jang tertawa terbahak-bahak.
Tak lama kemudian, dua sosok berjalan ke arah Xue Bhu Jang.
Xue Bhu Jang menatap dua sosok itu dengan senyum lebar.
"Lihatlah Nak, mereka semua ini adalah orang bodoh yang buta akan kesetiaan." Ucap Xue Bhu Jang.
Kedua sosok itu tersenyum sambil melihat ke arah semua yang ada disana dengan tatapan menghina.
"Patuh kepada Ayahku, atau kalian mati." Ucap salah satunya.
"Jika kalian tidak patuh, maka kematian kalian...." Belum sempat salah satunya berbicara jarum es hitam sebesar lengan menusuk pundaknya kirinya hingga tembus ke jantung.
Xue Bhu Jang dan sisa satu anaknya terkejut.
"Anak-ku...!!!!" Teriaknya panik..
Tapi belum sempat Xeu Bhu Jang melangkah, kepalanya telah lepas dari tubuhnya dan menggelinding di lantai di susul tubuhnya yang jatuh terjerembab sedikit menggeliat lalu diam tak bergerak.
Semua yang ada disana kini terkejut, terkejut karena Xue Bhu Jang yang tiba-tiba tewas dan terkejut melihat sosok Pria Sepuh yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan dan membunuh Xue Bhu Jang.
Chen berdiri di ikuti Ling Shi yang juga sudah berdiri di sisi Murong.
Sisa satu anak Bhu Jang yang kini sudah berlutut dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Ampun... Ampuni Aku.. Ini semua salah Ayah.." Ucapnya bergetar dan terbata sambil menangis.
Murong melambaikan tangannya, kepala orang itu langsung menggelinding di lantai.
Murong mendengus marah.
"Penghianat.." Dengus Murong.
Chen menghampiri Kedua Pria Sepuh yang tersisa, memberikan dua buah pil kepada keduanya.
Sesaat setelah menelan Pil Pemberian Chen, wajah keduanya mulai memerah dan aliran Energi di dalam tubuh keduanya mulai stabil.
Setelah seperempat batang dupa tubuh kedua Pria Sepuh itu membaik, keduanya bergegas menjura ke arah Chen.
__ADS_1
"Terima Kasih Tuan Muda." Ucap keduanya kompak.
Chen mengangguk, mengeluarkan empat botol giok dari penyimpanannya.
"Berikan masing-masing satu ke mereka yang terluka karena racun." Ucap Chen.
Keduanya lekas mengambil masing-masing dua botol dan menghampiri seluruh Tetua yang terluka dan menelankan Pil tersebut ke mulut mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Murong berdiri, di kanannya Chen berdiri dengan senyum tipis dan di kirinya ada Ling Shi yang juga berdiri tapi dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
Semua yang ada disana kini berlutut dan tidak ada yang berani membuka suara.
Murong menatap mereka semua bergantian.
"Jika tidak karena Cucuku yang meminta Aku untuk muncul belakangan, aku mungkin tidak akan menyangka jika ada penghianat disini."
"Panggil pelayan dan urus ketiga mayat itu, lalu bersihkan semuanya hingga siapa saja yang mengantar sajian untuk kalian." Perintah Murong.
"Siap Pemimpin." Ucap mereka kompak, lalu empat orang Tetua mundur perlahan dan keluar dari ruangan tersebut.
Kini tersisa Murong, Chen, Ling Shi, kedua wakil Murong serta empat belas Tetua di Ruangan Tersebut.
"Wanita di sebelahku bernama Mo Ling Shi, dia bisa dikatakan Anak Angkat dan murid dari Luan'er jadi dia juga Cucuku dan dia adalah penerusku, lalu pemuda di sebelahku bernama Nan Chen, dia juga Anak Angkat Luan'er hanya saja dia adalah Murid Langsung Suami dari Luan'er dan Calon Suami Shi'er yang merupakan penerusku, jadi kalian harus paham Posisi Keduanya." Ucapnya Murong.
"Siap kami paham Pemimpin." Balas mereka kompak.
"Hormat Kepada Tuan Muda dan Nona Muda." Ucap Mereka kompak.
Tak lama Chen buka suara.
"Baiklah langsung saja, sebenarnya ini hanya permintaan kecil." Ucap Chen menatap mereka dan menjeda ucapannya.
"Beberapa orang yang berpengaruh, ikut aku untuk pergi ke Ibukota Kerajaan Ming." Lanjut Chen.
Chen mulai menjelaskan semua yang sudah dilakukan dan direncanakan olehnya, semua orang menyimak penjelasan Chen tanpa memotong sedikitpun.
Setelah Chen menjelaskan semuanya, yang termasuk juga bagian dari keinginan Chu Luan kini semua yang ada disana mengangguk patuh dan akan membantu Chen mewujudkan apa yang menjadi keinginan Chu Luan.
__ADS_1