
Masih di Dunia Kecil.
Chen, Ling Shi, dan Murong duduk bersama di bawah pohon nan rindang, hembusan angin terasa sangat sejuk membuat mereka hanyut akan perasaan nyaman ini.
Chen sudah menjelaskan ulang menenai Sosok Ling Shi yang sebelumnya Ia ceritakan ketika masih di dalam Formasi Kubus Ilahi, tak lupa pula Chen menambahkan mengenai Karakter Ling Shi yang sangat "Unik" dan "Berbeda" dibandingkan Makhluk-Hidup-Lain yang ada di Dunia ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Salah satunya adalah Penerus dari Menantuku, dan satunya lagi Penerus Anakku. Hanya saja posisinya kini terbalik, Menantuku adalah Ras Hewan dan Penerusnya Ras Manusia sedangkan Anakku Ras Manusia dan Penerusnya Ras Hewan." Murong sedikit menyimpulkan setelah merangkai semua keterangan yang dirinya terima dari sosok Pria Muda yang tak lain adalah Sosok Nan Chen.
"Aku berencana ingin "Gantung Senjata" dan tinggal disini, itupun jika di izinkan." Ucap Murong pelan, dirinya sedikit ragu mengungkapkan ini.
Chen mengangguk paham.
"Silahkan, bagaimanapun ada Bekingan seseorang yang sangat Kuat adalah hal baik." Ucap Chen dengan senyum sumringah.
Murong memandang Chen sedikit kesal.
"Jika tidak mendapatkan lawan yang tidak bisa kalian tangani, jangan panggil aku." Balasnya ketus.
Chen hanya bisa tersenyum pahit mendengar balasan ketus Murong.
"Tidak berani, kami tidak berani terlalu mengganggu Kakek." Balas Chen dengan senyum yang dipaksakan.
Murong mengangguk tanda tidak mempermasalahkan apa yang harus dirinya terima sebagai konsekuensi-menumpang di tempat orang, pada akhirnya dirinya yang sudah berada di puncak kekuatan tetap akan membutuhkan uluran kebaikan orang lain.
Murong lalu mengalihkan pandangan pada sosok Ling Shi yang juga menatapnya dengan tatapan datar tanpe ekspresi.
"Kita memiliki kecocokan dalam hal Energi yang kita olah, yaitu atribut Es. Dan kebetulan Kau juga menggunakan Teknik Tubuh Yin seperti anakku, mungkin ada beberapa yang bisa ku turunkan padamu nak, jika kau tidak keberatan menerima sedikit pembelajaran dari Kakekmu ini." Ucap Murong pada Ling Shi.
Ling Shi mengangguk tanda setuju.
"Ling Shi bersedia Kek." Balas Ling Shi singkat.
Lalu Murong memandang ke arah Chen.
"Aku tidak bisa memberikan apapun padamu, selain semua harta yang kumiliki. Tapi jika ada hal yang kau ingin tanyakan, aku pasti akan memberikan jawaban sesuai pengetahuanku." Ucap Murong.
Chen mengangguk paham.
"Aku berencana akan melanjutkan perjalanan, karena wilayah Timur ini hanya awal dari semuanya." Ucap Chen.
Murong mengangguk paham.
"Di ujung Wilayah Utara yang berbatasan dengan laut lepas, ada satu pulau kecil yang jika kalian ingin kesana harus menyebrangi Lautan Lepas. Pulau itu sepanjang waktu selalu diselimuti Es, disana adalah letak Klan Kuno Xue."
"Pulau itu bernama Pulau Es Abadi, bisa dikatakan Klan Xue sendiri walaupun terpisah oleh lautan tapi di wilayah utara tidak ada yang berani mengusik Klan Xue. Ketika kalian ke wilayah utara, datangi aku kemungkinan aku bisa membantu kalian dan dengan bantuan dari Klan Xue maka menyatukan Wilayah Utara akan lebih mudah. Tentu saja melaluiku, tanpaku mungkin kalian akan mati Konyol disana." Jelas Murong.
__ADS_1
Chen terkejut akan informasi yang diberikan oleh Murong.
"Pantas saja Ibu Guru tidak ingin sembuh, bisa jadi jika Ibu Guru sembuh maka Ibu Guru suatu saat akan kembali ke Klan Xue yang terletak sangat jauh dari Wilayah Timur ini." Ucap Chen pelan.
Murong yang mendengarnya sedikitnya paham arti ucapan Chen.
Murong melihat ke arah Ling Shi.
"Shi'er, Luan'er adalah penerus pemilik Pulau Es Abadi karena aku adalah pemilik Pulau Es Abadi saat ini. Namun kau belum menerima esensi darah dari Luan'er tapi itu tidak masalah aku bisa memberikan esensi darahku padamu." Ucap Murong.
Ling Shi sedikit berfikir memahami maksud ucapan Murong, lalu mengeluarkan botol bening yang terbuat dari Es yang sangat kuat hingga tidak meleleh sama sekali dan di dalamnya ada cairan berwarna merah, hebatnya cairan itu tidak membeku di dalam botol dari Es itu.
"Aku tidak butuh Kek." Balas Ling Shi.
Murong mengerutkan keningnya melihat cairan merah di dalam botol es itu.
"Itu esensi darah Luan'er? Tanya Murong.
Ling Shi mengangguk.
"Aku ingin bersama Chen Gege saja." Jawab Ling Shi polos.
Murong tertawa mendengar jawaban Ling Shi, bukan hanya sangat singkat tapi juga sangat polos.
"Hei Nak, aku ini pemilik Pulau Es Abadi dan sekarang memilih tinggal disini dan sudah dalam waktu yang sangat lama sekali aku tidak kembali kesana."
"Hanya jika terjadi sesuatu di Pulau Es Abadi, maka kau akan merasakannya. Karena sejatinya Pulau Es Abadi adalah sebuah Artefak buatan Leluhur Klan Xue."
"Setidaknya fikirkanlah, mungkin Klan Xue akan lebih memudahkan kalian." Ucap Murong mencoba membujuk Ling Shi.
Ling Shi memandang Murong dengan tatapan berbeda kali ini.
Murong menatap Ling Shi sambil tersenyum, berfikir Ling Shi mungkin sekarang tertarik dengan Pulau Es Abadi.
Ling Shi kemudian mengangguk.
"Baiklah." Jawabnya singkat.
Murong kali ini senyumnya mengembang sempurna.
"Ekstrak darah Luan'er sekarang." Ucap Murong.
Ling Shi mengangguk lalu menatap ke arah Chen.
Chen yang mengerti arti tatapan Ling Shi membalas-angguk.
"Pergilah ke kamar." Ucapnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kakek, apakah ada cara untuk membuat kekuatanku terlihat menghilang?" Tanya Chen.
Murong sedikit mengerutkan kening mendengar pertanyaan Chen.
"Ada, untuk apa?" Tanya Murong.
Chen menarik nafas dalam lalu menghembus pelan.
"Aku ingin mengetes sesuatu, meninggalkan wilayah timur ini sangat berat untukku yang tidak pernah kemanapun selama ini. Setidaknya aku ingin memastikan orang yang kubawa adalah orang yang tepat." Jawab Chen.
Murong mengangguk tanda mengerti.
Murong mengarahkan telunjuknya ke kening Chen, setelahnya masuk ingatan tentang sebuah teknik untuk menyembunyikan kekuatan.
Chen menyerap semua informasi yang Ia terima, setelahnya Chen membuka mata dan menatap Murong dengan mata berbinar.
"Terima Kasih Kakek." Ucap Chen.
Murong mengangguk senang.
Chen memandang ke arah Murong sejenak.
"Kakek, disini perbandingan waktunya adalah 10:1 jadi Sepuluh hari disini setara Satu hari di dunia luar. Tempat kita berada saat ini adalah Dunia Ciptaan Guru dan diwariskan kepadaku, tempat ini seperti sebuah Dunia Kecil di dimensi yang berbeda." Jelas Chen sedikit berbohong.
Murong sedikit terkejut, jika seperti ini berarti dia bahkan baru sehari lebih di dunia nyata dan sungguh hebat Suami dari Anaknya bisa menciptakan Dunianya sendiri.
"Aku akan mencarikan rumah untuk Kakek, mungkin setelah keluar dari sini aku akan segera mencarinya. Untuk sementara maukah Kakek tinggal disana? (Chen menunjuk Rumah yang ditinggalkan Chu Luan) Rumah itu adalah peninggalan Ibu Guru dan Ibu Guru yang membuatnya." Ucap Chen.
Murong melihat rumah itu penuh arti.
"Bagaimana aku saja yang tinggal disana dan kau mencari tempat baru yang lebih besar Nak?" Tanya Murong tapi tatapannya masih ke arah rumah sederhana itu.
Chen mengerti maksud Murong, pasti Rumah itu sangat berarti bagi Murong karena itu adalah peninggalan anaknya.
"Baiklah, anggap saja ini pertukaran teknik tadi." Jawab Chen tersenyum kecil.
"Jika begitu, Kakek bisa ke kamar kedua jika ingin istirahat karena kamar pertama ada Ling Shi dan kamar ketiga adalah Gudang Harta peninggalan Guru dan Ibu Guru. Aku ingin segera mempelajari Teknik ini, teknik ini sederhana mungkin aku bisa menguasainya dalam waktu singkat." Ucap Chen lagi dan segera saja Chen mengambil posisi meditasi untuk berlatih teknik yang diberikan Murong.
Murong menatap Chen dengan wajah berbinar seolah telah mendapatkan harta yang sangat berharga, di dalam lubuk hatinya dia berterima kasih kepada Chen yang ternyata sangat pengertian dan dewasa dalam mengambil sikap, tanpa ingin mengganggu Chen yang sedang mempelajari Teknik Menyembunyikan Kekuatan, Murong langsung menghilang dan sudah muncul di depan pintu Rumah Sederhana itu.
Tangannya sedikit bergetar memegang Gagang Pintu Utama itu.
"Ayah Pulang Nak." Gumam Murong pelan.
Krreeekkk..... Pintu Terbuka.
__ADS_1