Penguasa Benua Tengah

Penguasa Benua Tengah
Episode 33.


__ADS_3

Kedunya serempak mundur tiga langkah.


Pria Sepuh itu berdiri agak membungkuk, sambil mengalirkan hawa dingin menutupi lukanya yang berlubang dan menelan pil penyembuhan.


Chen sendiri setengah berlutut dengan nafas yang terengah-engah mencoba mengatur kembali aliran energinya yang kacau akibat menggunakan wujud transformasi.


Kini wujudnya telah kembali normal, dengan kulit putih, rambut putih, dan mata hijau yang sangat indah.


Dirinya tak perlu takut akan lubang yang ada diperutnya, bahkan regenerasinya sangat cepat selama luka itu bukanlah luka yang mengakibatkan luka dalam yang parah maka tubuhnya akan beregenerasi dengan cepat.


Chen hanya menelan Pil Peledak Energi untuk mengembalikan Energinya yang sudah habis.


Satu batang dupa berlalu, keduanya terlihat mulai pulih.


Chen menatap tajam Pria Sepuh itu, dari tangannya muncul tulang-tulang yang tajam siap untuk bertarung kembali.



"Ayo kita lanjutkan." Ucapnya sambil menatap tajam ke arah Pria Sepuh tersebut.


Pria Sepuh itu menghela nafas lalu menciptakan es seperti bongkahan batu, lantas dirinya duduk diatasnya.


"Tadi aku menggunakan Tujuh Puluh Persen kekuatanku, sedangkan ku tebak kau sudah mengerahkan seluruh kekuatanmu." Ucapnya.


Chen mengerutkan kening tanda bingung.


"Apa maumu? Tanya Chen.


"Kemarilah." Balas Pria Sepuh itu.


Chen sedikit ragu, tapi Chen sudah memasukkan kembali tulang ke dalam tangannya.


"Jika aku serius, kau tak akan bertahan sedari awal. Percayalah." Ucapnya meyakinkan Chen.


Chen menimbang sejenak, tak lama tapaknya menghantam tanah dan kemudian di sebelah tempat Pria Sepuh itu duduk muncul sulur-sulur tulang menyeruak keluar membentuk gundukan mirip seperti bongkahan batu tapi ini tercipta dari tulang-tulang yang bersulur.


Chen berjalan, perlahan duduk tapi matanya masih menatap Tajam Pria Sepuh itu.


"Jika bukan karena kau berhubungan dengan Anak-ku mungkin situasinya tidak akan seperti ini, bisa kupastikan kalian tidak akan selamat." Ucap Pria Sepuh itu pelan.


"Aku ingin bertanya, bagaimana kabarnya sekarang?" Tanya Pria Sepuh tersebut sambil menerawang ke atas.


Chen sedikit bingung harus menanggapi apa, Pria Sepuh ini baru saja bertarung dan memaksanya melakukan Teknik Terlarang.


"Ibu Guru dan Guru sudah tiada." Ucap Chen pelan dengan wajah menunduk.


Pria itu mengerutkan kening.


"Siapa Guru yang kau maksud, apa hubungannya dengan anak-ku?" Tanya-nya.

__ADS_1


"Sudah jelas bukan?" Tanya Chen balik sambil menatap Pria Sepuh itu.


Pria Sepuh itu mengangguk sedikit paham.


"Ceritakanlah." Ucapnya.


Chen menghela nafas; "Aku sudah menceritakan ini banyak hal ke banyak orang pula, hingga aku sudah seperti menghafal ceritanya." Ucap Chen pelan sambil tersenyum kecut.


"Guruku bernama Limba, berasal dari Ras Hewan. Ibu Guruku bernama Xue Chu Luan, mereka berbeda Ras dan Sepasang Suami Istri."


"Untuk bagaimana caranya mereka menikah aku tidak begitu tau, tapi bisa kupastikan Bahkan jikalaupun mereka masih hidup dan Anda ingin memisahkan mereka itu tidak akan terjadi. Cinta mereka terlalu sangat Besar." Jelas Chen.


Lalu Chen menjelaskan bagaimana dirinya bertemu Chu Luan, dan apa saja yang telah Chu Luan ajarkan, hingga akhirnya Chu Luan memberikan seluruh energi dan esensi kehidupannya kepada Ling Shi dan lebih memilih mati bersama Suaminya.


Chen juga menjelaskan sudah memaksa Chu Luan agar mau di obati, tapi Chu Luan menolak karena rasa cintanya terhadap suaminya sangat besar begitu pula cinta sang suami ke Chu Luan bahkan sama besarnya.


Dan bagaimana amanah terakhir yang sudah dititipkan oleh Limba dan Chu Luan kepadanya, hingga akhirnya Chen mengemban amanah ini sampai saat Pria Sepuh itu tiba-tiba datang dan membuat kekacauan.


Pria Sepuh itu terdiam, mencerna semua yang diceritakan oleh Pria Muda di depannya.


"Tak ada kebohongan sedikitpun yang kurasakan." Ucap Pria Sepuh dalam hati.


Pria sepuh itu menghela nafas menatap ke atas, tak terasa dari sudut matanya menetes air mata.


"Sudah sangat lama aku mencarinya, lalu kini aku bahkan hampir saja menghancurkan keinginan terakhirnya." Gumamnya pelan.


Chen memandang Pria Sepuh itu.


"Tapi apakah Tetua tau, bagaimanapun Tetua adalah Pria pertama yang dicintai oleh Ibu Guru. Tangis pertamanya adalah di depan Tetua, Senyum pertamanya adalah di depan tetua, pelukan pertama yang Ibu Guru rasakan adalah pelukan Tetua, dan sebuah ruang di dalam hati Ibu Guru akan selalu ada Nama Tetua tanpa pernah akan hilang atau tergantikan oleh Guru Limba Sekalipun." Ucap Chen pelan.


Pria Sepuh itu memejamkan mata mendengar ucapan Chen, mengingat kembali bagaimana dirinya menggendong Chu Luan kecil, bagaimana Chu Luan kecil menangis dan dirinya bahkan seperti anak kecil demi menghibur Chu Luan, mengingat bagaimana Chu Luan mulai bisa berjalan dan menghampiri serta memeluknya, hingga Chu Luan mulai beranjak dewasa menjadi gadis yang periang dan taat kepadanya.


Semua itu masih tergambar jelas di dalam ingatannya.


"Cinta seorang Ayah memang tak akan pudar, sebuah tempat di dalam hatiku akan selalu ada dirinya." Gumam Pria Sepuh itu.


Pria Sepuh itu memandang Chen dengan tatapan lembut.


"Maafkan aku Nak, yang tua ini telah terbutakan dan hatiku telah membeku akan dendam dan kebencian." Ucapnya merasa sangat menyesal.


Chen mengangguk paham.


"Jika aku yang baru saja bertemu dengan Ibu Guru dalam waktu singkat, berusaha sampai mati-matian mewujudkan keinginan mereka. Ku harap Tetua sebagai seorang Ayah yang bahkan sudah lebih lama bersama Ibu Guru, walaupun tidak bisa membantu setidaknya Tolong Jangan Halangi Aku." Ucap Chen Tegas.


Lama tak ada suara, semua hening.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Diluar Kubus Formasi Ilahi.

__ADS_1


Semua orang kini sudah berada di sekitar Formasi Kubus Ilahi, mereka memandang Cemas ke arah Formasi Kubus Ilahi.


Pecahnya Formasi Kubus Ilahi walau hanya sesaat cukup membuat mereka semua bisa merasakan fluktuasi energi yang sungguh sangat besar dari dalam.


Ling Shi saat ini wajahnya terlihat sangat cemas, bahkan sudah segala cara Ia gunakan untuk menghancurkan kubus ini tapi tidak ada yang berhasil bahkan untuk membuat sedikitpun celah, dirinya tidak mampu.


"Shi'er tenanglah." Ucap Yuan Lan.


Ling Shi tidak bergeming, matanya tertuju kedepan dimana Formasi Kubus Ilahi masih sangat kokoh menutupi Area Pertarungan Chen dan Pria Sepuh itu.


Jin Tian melihat kubus-kubus ini sangat tenang dan tidak seperti tadi dimana kubus-kubus ini seolah selalu bergerak dan membungkus diri seolah menutupi lonjakan energi dari dalam, hatinya kini sedikit cemas.


"Harusnya jika Chen menang dirinya sudah keluar. Tapi Chen kalah, setidaknya akan ada gelombang dari dalam akibat orang tua itu yang berusaha keluar dan menghancurkan kubus-kubus ini." Ucapnya pelan.


Jin Tian memandang ke arah Kumpulan orang yang tadi sempat memilih untuk berada di Kubu Pria Sepuh tersebut, kini mereka sudah di ikat tanpa bisa melawan karena sudah dilumpuhkan olehNya dan Yuan Lan, bahkan Tetua Kelima babak belur karena menjadi pelampiasan oleh Ling Shi dan Jin Mei.


"Jika Tuan Muda Nan Chen menang, habislah kalian." Ucap Jin Tian dengan senyum mengejek.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Namaku Xue Murong, panggil aku Kakek." Ucapnya pelan.


"Anak ini bernama Nan Chen." Balas Chen.


Murong mengangguk pelan, lalu memandang Chen penuh arti.


"Kekuatanmu belum cukup untuk bisa mewujudkan ini semua, masih banyak orang kuat yang lebih memilih menutup diri dari dunia luar. Apakah kau mau menerima kekuatanku Nak?" Tanya-nya.


Chen menggeleng cepat.


"Aku bukan wadah bagi kalian untuk menitipkan kekuatan, Kakek bisa menghabiskan masa Tua dan melihat yang muda ini mengibarkan namanya." Ucap Chen sambil tersenyum lebar.


Murong mengerutkan kening.


"Ini... Kau ternyata sedikit congkak ya?" Ucapnya dengan senyum jahat.


Chen segera pucat wajahnya, sambil menggeleng.


"Tidak.. Tidak.. Aku bercanda.." Jawab Chen.


"Ah sudahlah..." Jawab Murong sambil mengibas tangan.


Murong menatap Chen, matanya memperlihatkan sebuah keinginan besar dan rasa rindu yang tak tertahan.


"Bolehkah aku melihat makam Chu Luan?" Pintanya dengan wajah sedikit sedih.


Chen terdiam, bingung untuk mengambil keputusan.


Mengingat pesan Ibu Gurunya untuk tidak memperlihatkan Dunia Kecil kepada sembarang orang, walaupun Murong adalah bukan orang jauh tapi perjumpaan mereka masih sangat singkat.

__ADS_1


Dirinya tidak ingin gegabah, apalagi sampai membuat kesalahan fatal.


__ADS_2