
Setelah Murong dan Chen selesai dengan urusannya, kini semua orang sudah bubar dari ruangan tersebut namun bukan untuk kembali ke kediaman masing-masing melainkan melanjutkan tugas yang diperintahkan oleh Murong untuk mengumpulkan semua orang dari Klan Xue ke Lapangan Tugu Klan Xue.
Murong meminta semua orang ketika menjelang sore sudah berada di Lapangan Tugu Klan Xue.
Murong sengaja memberi jeda waktu karena Dua Orang Wakilnya beserta Para Tetua tetap harus menjelaskan singkat tentang kedatangan dirinya, Penghianatan Bhu Jang dan kedua anaknya, serta status Chen dan Ling Shi.
Semua orang kini sudah berada di Lapangan Klan Xue setelah mendengar penjelasan dari Kedua Wakil Murong, mereka masih menunggu kedatangan Pemimpin mereka.
Mereka sekarang sudah mengerti kenapa mereka diminta berkumpul dan tidak ada yang merasa keberatan atau ragu atas keputusan Murong yang sudah disampaikan oleh Kedua Wakilnya.
Kesetiaan mereka kepada Pemimpin mereka adalah sesuatu yang mutlak bagi mereka, mereka hanya penasaran seperti apa sosok Nan Chen dan Ling Shi yang diceritakan kepada mereka.
Murong, Chen, dan Ling Shi sengaja tidak langsung ke Lapangan Tugu Klan Xue agar semua orang diberikan waktu untuk berdiskusi dan mencerna perubahan mendadak yang di alami Klan Xue.
Hingga waktunya dirasa sudah tepat, Murong, Chen, dan Ling Shi tiba-tiba muncul dan berdiri diatas Sebuah Batu besar di depan Tugu Klan Xue yang memang menjadi tempat Para Pemimpin berdiri jika ada suatu pengumuman penting.
Semua orang sedikit menengadah ke atas karena posisi Batu lumayan tinggi dari arah mereka berdiri, di lapangan besar yang memang di sediakan untuk mereka.
Murong menatap semua orang dari Klan Xue dengan Tatapan yang sangat teduh dan hangat.
"Aku akan meninggalkan kalian, aku ingin bersama Anakku. Selanjutnya Shi'er yang akan memimpin Pulau Es Abadi dan Klan Xue ini, dibantu calon suaminya. Apakah ada yang keberatan jika yang memimpin kalian berasal dari Ras Hewan dan Calon Suaminya walaupun Ras Manusia tapi adalah orang luar?" Tanya Murong.
"Kami bersedia dan menerima semua keputusan Pemimpin." Jawab mereka kompak.
Ling Shi menggelengkan kepalanya, menatap semua orang yang ada disana.
"Aku tidak bisa." Ling Shi menjeda ucapannya sebentar.
"Aku ingin ikut Chen Gege kemanapun, Chen Gege masih banyak tugas dan tidak bisa menetap disini." Ling Shi melanjutkan ucapannya, kali ini Ling Shi berbicara cukup "panjang".
Semua yang ada disana sedikit terkejut dan kecewa karena bisa jadi mereka akan kembali kehilangan sosok pemimpin, sedangkan Murong hanya bisa menghela nafas pelan karena sudah menebak pasti Ling Shi akan menolak.
"Shi'er, Pulau Es Abadi ini sudah lama tidak memiliki pemimpin. Apa Aku yang Tua ini tidak bisa menikmati Masa Tuanya." Ucap Murong pelan dengan wajah sedih.
Ling Shi terdiam seperti berfikir sejenak.
"Bawa saja semua." Jawab Ling Shi singkat dan enteng.
Murong tersenyum kecut mendengar jawaban Ling Shi, Murong hendak ingin berbicara hingga salah seorang Pria Sepuh yang merupakan Wakil Murong buka suara.
__ADS_1
"Maafkan Aku Pemimpin, kami ini sudah lama berada disini. Sesekali hanya keluar untuk membeli kebutuhan dan peralatan, jika harus tanpa Pemimpin dan Pengganti maka sama saja Pulau Es Abadi ini seperti sebuah kekosongan."
"Kami sudah terbiasa menutup diri, jadi jika memang di izinkan maka kami semua ingin mengikuti Pemimpin atau mengikuti Nona Muda dan Tuan Muda." Ucapnya dan mendapat anggukan dari semua orang yang ada disana.
Mereka semua kini menatap penuh harap kepada Murong, telah sangat lama mereka mengasingkan diri dan terombang-ambing tanpa komando.
Jikalaupun harus meninggalkan Pulau Es Abadi, mereka tidak keberatan karena simbol yang sesungguhnya bagi mereka adalah adanya seseorang yang bisa menjadi pemimpin mereka.
Murong sedikit tersentuh dan merasa kasihan, tapi Murong juga sadar jika posisinya bukanlah posisi yang bisa mengambil keputusan sesuai keinginannya.
Chen yang dari tadi hanya diam, mulai mengangguk dan tersenyum kecil.
"Jika Kakek mau, aku bisa memindahkan Artefak ini ke Duniaku." Ucap Chen pelan.
"Itu lebih baik." Tambah Ling Shi.
Murong tersenyum lebar, merasa sangat senang mendengar ucapan Chen lalu Murong menatap semua orang dari Klan Xue.
"Apa kalian bersedia pindah dan tinggal di tempat asing yang bahkan lebih tertutup dari tempat kita berada saat ini?" Tanya Murong.
"Kami Bersedia.......!!!" Jawab mereka kompak dan riuh dengan suara yang menggema dan wajah yang sangat bahagia.
"Hu..um.." Jawab Ling Shi singkat.
Murong kini menatap semua orang dari Klan Xue.
"Pemimpin kalian kini adalah Mo Ling Shi dan Nan Chen, apa kalian bersedia mematuhi keduanya?" Tanya Murong.
"Kami bersedia." Jawab mereka kompak.
Chen sebenarnya berfikir, selama ini Klan Xue adalah Klan yang tertutup dan dibiarkan begitu saja tanpa Komando.
Melatih mereka dan menjadikan mereka pasukan rahasia adalah ide yang bagus, kekuatan mereka jika berada di Dunia Kecil akan semakin meningkat tidak menutup kemungkinan akan bisa menyamai Wilayah Jantung Benua.
Lagipula Chen tidak ragu akan kesetiaan Klan Xue ini, sangat setia dan loyalitas total.
Chen melesat ke langit, menatap Pulau Es Abadi yang berada di bawahnya.
"HAAAAAHHH..." Teriak Chen.
__ADS_1
Pulau Es Abadi sedikit bergetar, lautan sampai menciptakan gelombang yang sangat besar karena getaran Pulau Es Abadi.
Senafas kemudian, Pulau itu lenyap dan hanya menyisakan air laut yang tiba-tiba langsung menyatu seolah kini sesuatu yang menghalangi mereka untuk bersatu selama ini telah lenyap.
Chen mengangguk puas dan tersenyum lebar, senafas kemudian dirinya sudah menghilang di ketiadaan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Semua orang dari Klan Xue terkejut karena pemandangan ditempat mereka kini sudah berbeda, mereka seperti merasakan jika lokasi mereka saat ini sudah tidak berada di tengah lautan lagi.
Chen muncul tepat posisinya berdiri sebelumnya.
Tatapannya menyapu semua orang disana.
"Tidak banyak yang bisa kujelaskan, nanti biar Kakek yang menjelaskan." Ucap Murong.
"Kami mengerti Pemimpin Muda." Ucap mereka kompak.
"Baiklah, tapi aku harus memberikan sedikit tambahan penjelasan, Selain Shi'er ada satu orang lagi wanita yang dekat denganku, apa kalian tidak keberatan?" Tanya Chen.
"Kami tidak keberatan." Jawab mereka kompak.
Chen menatap Murong pelan.
"Adanya aura dingin yang berasal dari artefak ini harus sedikit di atur posisinya, sisanya aku serahkan ke Kakek." Ucap Chen.
Murong mengangguk tanda mengerti.
"Aturlah, sisanya Kakek yang akan menjelaskan kepada mereka." Jawab Murong.
"Kek, tolong tutupi area Pulau Es Abadi ini menggunaka Formasi Kubus Ilahi." Pinta Chen.
Murong mengangguk, lalu tangannya bergerak dan mulai membungkus seluruh area Pulau Es Abadi yang luas ini dengan Formasi Kubus Ilahi.
Chen menghilang dan sudah muncul jauh diatas langit Dunia Kecil.
"Formasi Kubus Ilahi milik kakek tetap beresonansi dengan diriku, artinya memang sama." Gumam Chen pelan.
Chen menatap sekeliling, mencari posisi yang tepat untuk meletakkan Pulau Es Abadi.
__ADS_1
Chen harus mencari tempat yang dekat dengan rumah milik Murong, agar memudahkannya di kemudian hari.