Penguasa Benua Tengah

Penguasa Benua Tengah
Episode 48.


__ADS_3

Chen dan Ling Shi kini ditemani Nara Rongjue terbang diatas Pundak Elang Petir, menjelajahi lautan wilayah Utara.


"Apa kau yakin ini arahnya Rongjue?" Tanya Chen.


Nara Rongjue mengangguk yakin.


"Hamba sangat yakin Tuan Muda." Jawabnya.


Chen memandang kesal ke arah Nara Rongjue.


"Sekali lagi kau menyebut dirimu "Hamba", jangan salahkan aku jika membakarmu sampai hangus." Ucap Chen tajam.


"Eh..." Nara Rongjue terkejut dan wajahnya langsung memucat.


"Ba..Ba.. Baik, aku akan mengingatnya." Balas Nara Rongjue.


20 Batang Dupa berlalu.


Mata Chen menyipit lurus kedepan.


"Itu tempatnya?" Tunjuk Chen ke arah sebuah pulau tak jauh di hadapannya.


Nara Rongjue mengangguk.


"Benar Tuan Muda, itu dia Pulau tempat Klan Kuno Xue." Jawan Nara Rongjue.


Chen mengangguk, memerintahkan Elang Petir berhenti.


"Baiklah, kalian berdua masuklah ke dunia kecil" Ucap Chen, senafas kemudian Elang Petir dan Nara Rongjue lenyap di ketiadaan.


Chen melirik Ling Shi.


"Ayo Shi'er." Ucap Chen dan mendapat anggukan Ling Shi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Chen mendarat tepat di pinggir Pulau, sepanjang mata memandang Pulau ini memang hanya seperti bongkahan es yang sangat besar hingga membentuk daratan es, dihiasi gunung-gunung es.


Tapi baru saja Chen dan Ling Shi akan melangkah, tiga orang pria mendarat tepat sepuluh kaki depannya lalu menatap Chen dan Ling Shi tajam.


"Siapa Kalian? Ini adalah wilayah terlarang.!" Jawab salah seorang diantara ketiganya dengan nada bicara keras.


Chen mengangguk, menatap ke arah Ling Shi sejenak.

__ADS_1


Ling Shi yang mengerti arti tatapan Chen, mengangguk pelan. Senafas kemudian dari Tubuhnya merembes keluar aura berwarna hitam tapi terasa sangat dingin dan kuat bahkan membuat Pulau Es Abadi sedikit bergetar hingga tercipta retakan-retakan kecil dibawah tempat Ling Shi berdiri.


Sepanjang jalur retakan itu tiba-tiba saja muncul es-es berwarna hitam yang menyulur menutupi jalur retakan tersebut hingga membentuk seperti akar-akar yang menjalar.


Ketiganya sedikit terkejut merasakan Aura yang dimiliki oleh Ling Shi.


"Aa..ura ini... Mirip Tuan Putri Xue Chu Luan." Ucap salah satunya tergagap dan panik.


Ling Shi menatap ketiganya tajam.


"Panggil Pemimpin kalian." Ucapnya pelan tapi ucapannya itu mengandung tekanan energi yang sangat besar bahkan Pulau Es Abadi bergetar dan sedikit terguncang.


Ketiga orang itu sampai bergetar kakinya, celana salah satu dari mereka sampai basah karena ketakutan.


Tapi baru saja Ling Shi hendak mengibaskan tangannya untuk melempar ketiganya, dari atas langit muncul suara yang sangat berwibawa dan suara itu menggema di atas langit.


"Lancang.!!!" Ucap suara tersebut.


Lalu muncul sosok Tiga Orang Pria Sepuh, aura ketiganya sangat berwibawa dan jubah ketiganya sangat indah.


Ketiganya memandang ke arah Chen dan Ling Shi bergantian, sedangkan Ling Shi hanya memejamkan matanya malas.


Chen mencoba mengukur ketiganya lalu mengangguk pelan.


Chen memandang ketiganya dengan seulas senyum kecil di bibirnya.


"Apa kalian sudah tidak menganggap Pemilik Pulau Es Abadi ini?" Tanya Chen pelan sambil menatap ketiganya, tatapannya sangat sulit di artikan padahal itu hanyalah sebuah pertanyaan ambigu untuk menyinggung ketiganya.


Ketiganya memang sudah merasakan Aura milik Tuan Putri mereka tapi ketiganya Ragu untuk mengambil sikap, tapi salah satu diantara ketiga Pria Sepuh itu membuka suara.


"Berikan Bukti jika wanita itu ada hubungan dengan Tuan Putri Kami, jangan fikir Aku tidak tau kalau wanita disebelahmu adalah Ras Hewan." Ucapnya tegas.


Chen merenung sejenak, merasakan dan memasuki relung jiwa ketiganya sangat dalam. Chen tidak merasakan apapun untuk dua orang Pria Sepuh tapi satu orang Pria Sepuh terlihat sangat membenci dan memiliki niat jahat terhadap Ling Shi.


Chen memandang ke samping, tempat Ling Shi berdiri.


"Shi'er, berikan sedikit bukti." Ucap Chen pelan.


Ling Shi mengeluarkan setengah dari Energinya, hingga Fluktuasi Energi yang mengeluarkan hawa dingin berbalut aura yang berwarna Hitam dan Gelap menyeruak keluar menekan ke-enam orang yang berada di hadapannya.


Ketiga Pria yang pertama datang sudah tidak mampu mempertahankan kesadaran, jatuh pingsan.


Hanya Ketiga Pria Sepuh itu saja yang masih mampu bertahan tapi sudah dalam posisi berlutut dan menahan tubuh mereka menggunakan kedua tangan agar tidak jatuh.

__ADS_1


Salah Satu Pria Sepuh buru-buru membuka suara.


"Maafkan Kami.... Maafkan Kami... Tuan...Putri..." Ucapnya sangat berat dan kesusahan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di aula khusus tempat para petinggi Klan Xue, Chen dan Ling Shi duduk tenang, dua buah kursi paling tinggi dan besar memang sengaja ditempatkan di tempat paling depan sedangkan di depannya banyak kursi-kursi lebih kecil berbaris rapi.


Di hadapan Chen juga ada meja yang berkuran sedang, sama seperti kursi-kursi yang lebih kecil di hadapannya ada meja-meja tersendiri.


Tempat ini lebih mirip tempat jamuan dibandingkan tempat Aula Rapat.


Chen mengeluarkan sesuatu dari penyimpanannya, di genggaman tangan Chen muncul botol giok kecil.


Chen mengeluarkan dua butir pil berwarna hijau yang mengeluarkan aroma sangat kuat, Chen segera menelan satu pil lalu memberikan satu lagi ke Ling Shi.


Tiga Batang Dupa berlalu, aula itu kini mulai ramai.


Chen menghitung, ada kurang lebih 20 orang Pria Paruh Baya yang dipimpin Tiga Pria Sepuh tadi.


Melihat dengan seksama semua yang hadir itu, Chen hanya mendapati tiga orang saja yang memiliki aura jahat dan niat buruk terhadap Ling Shi, sisanya Chen hanya mendapati rasa Keraguan dan Kebingungan diantara kelompak orang-orang di depannya.


Tak lama, seorang pelayan membawa makanan kecil dan minuman lalu menaruhnya di meja kecil tepat di depan Chen dan Ling Shi.


Chen meminum air itu sedikit yang juga di ikuti oleh Ling Shi setelahnya.


Salah seorang Pria Sepuh tersenyum mengejek melihat Chen dan Ling Shi meminum air yang disuguhkan untuk keduanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Chen duduk dengan santai, ditemani Ling Shi disebelahnya.


Chen cukup terkejut, Klan Xue ini bahkan hanya karena merasakan Aura Keberadaan Ibu Gurunya saja langsung bersikap sedikit terbuka kepada mereka, walaupun semua orang itu masih ragu tapi mereka seolah masih ingin membuktikan langsung dan tidak berani bertindak gegabah, bisa dikatakan Klan Xue ini termasuk memiliki orang-orang yang sangat setia karena masih sangat menghargai Seseorang yang bahkan sudah sangat lama tidak kembali ke Klan-nya.


"Ada yang ingin kuceritakan, perjumpaan Kami Berdua dengan Ibu Guru kami yang memiliki nama Xue Chu Lan. Apakah kalian mengenalnya?" Tanya Chen.


Semua yang hadir disana sangat terkejut, walau umur mereka tidak sebanding dengan Chu Lan, bahkan saat Chu Luan menghilang mereka bisa dikatakan masih kecil dan adapula yang belum lahir, hanya tiga orang Pria Sepuh itu saja yang saat Chu Luan menghilang umur mereka saat itu sudah belasan tahun.


Tapi sangat jelas mereka semua seperti mengenal Chu Luan, entah bagaimana cara mereka mengetahui Aura Seseorang yang mungkin belum pernah mereka temui, Author sendiri bingung mencari alasan yang tepat. 😁


Chen bahkan tidak tau sama sekali kalau orang-orang yang ada dihadapannya ini sebagian besar sebenarnya belum pernah bertemu Ibu Gurunya.


Author akan mencari sesuatu yang bisa masuk Logika Pembaca, semoga saja bisa ada penjelasan di Chapter berikutnya. 😁😁🙏

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2