Penguasa Benua Tengah

Penguasa Benua Tengah
Chapter 26.


__ADS_3

"Sebaiknya aku segera keluar sekarang, terlalu lama meninggalkan Ibu Guru juga tidak baik." Gumam Chen pelan.


"Ayo kita keluar." Ucap Chen.


Tanpa menunggu lama, Chen dan Ling Shi segera keluar dari Dunia Kecil dan muncul di hadapan Chu Luan.


Chu Luan menyambut mereka dengan senyum lembut.


"Bagaimana? Luar biasa bukan?" Tanya Chu Luan.


Chen tersenyum puas dan mengangguk.


"Ini artefak yang sangat luar biasa." Ucap Chen.


Chu Luan tersenyum senang mendengar Ucapan Chen yang kagum akan Artefak Dunia Kecil yang Ia berikan.


"Sebenarnya tidak harus mengubah ukurannya untuk masuk ke Dunia Kecil tersebut. Usahakan tidak memperlihatkan Artefak ini kepada siapapun."


"Selain Shi'er, jika bisa jangan ada yang tau keberadaan artefak ini. Ubah ukurannya hingga ke bentuk terkecil, Artefak ini akan mengikutimu kemanapun dirimu berada."


"Buatlah alasan, jika kau memiliki kekuatan yang mampu menciptakan dunia kecil sendiri. Itupun tetap ingat untuk tidak memasukkan sembarang orang di dalamnya, karena Artefak ini selain sebagai Duniamu sendiri dimana kau adalah Tuannya. Kelak Harta dan Seluruh Rahasia dirimu tersimpan di dalamnya." Jelas Chu Luan


Chen mengangguk paham.


"Terima Kasih banyak Ibu Guru." Ucapnya tulus.


Chu Luan memandang ke arah Ling Shi.


"Kau sudah berhasil mempelajari tahap awal, masih ada tiga tahap nantinya. Ini seperti kau akan membentuk ulang tulang dan seluruh organ tubuhmu, jangan tergesa dan cari waktu yang tepat serta tempat yang aman." Ucapnya pelan.


Ling Shi mengangguk tanda mengerti tapi tak menjawab apapun.


Chu Luan tersenyum kecil melihat Ling Shi.


Lalu Chu Luan memandang keduanya bergantian, dirinya seolah melihat bayangan suaminya.


Dua Ras yang berbeda, bersatu.


Hatinya sedikit sedih mengingat itu, tapi Chu Luan paham semua ada masanya dan tidak ada yang abadi di dunia ini.


Melihat generasi muda yang kelak akan menggantikan dirinya, sudah cukup membuat Chu Luan senang.


"Aku mungkin tak lama lagi akan menyusul suamiku, jangan tawarkan apapun karena aku pasti menolaknya. Tapi jika aku boleh meminta satu saja permintaan, tolong antarkan aku di tempat suamiku di kuburkan." Pinta Chu Luan.


Chen mendengar itu mencoba membujuk Chu Luan agar mau di obati, dengan berbagai alasan dirinya mencoba membuat Chu Luan berubah fikiran, tapi semua itu ditolak halus oleh Chu Luan.


"Antarkan saja aku di depan kuburan suamiku, itu adalah permintaan terakhirku." Pinta Chu Luan lagi dengan lembut.


Chen hanya bisa menghela nafas pelan, lalu dari tangannya muncul tulang sedikit melengkung sepanjang dua kaki.

__ADS_1


Sekali tebas bagian dasar batu tempat Chu Luan duduk terbelah.


Chu Luan sempat terkejut melihatnya, tapi sebelum hilang keterkejutannya dari tangan Chen muncul sulur-sulur tulang melingkari batu itu dan muncul kubus-kubus kecil seperti sebuah dinding melindungi Chu Luan.


Chu Luan hanya tersenyum kecil, merasa tersentuh dengan apa yang Chen perbuat.


Lalu Chen perlahan membawa Chu Luan hingga keluar Goa dan terbang melesat ke arah ujung tebing.


Di ujung tebing, Chen sempat melirik Chu Luan sebentar.


"Di bawah sini ada Goa. Di Goa itulah guru mengobatiku, melatihku, dan memberikan semuanya kepadaku, dan di bawah juga makam Guru."


Lalu Chen terbang turun ke bawah hingga sampai di dasar jurang dan membawa Chu Luan ke arah Goa tempat makam Gurunya.


Di dalam Goa ternyata ada orang.


Orang itu sedikit waspada saat melihat ada yang masuk ke dalam Goa, tapi setelah melihat salah satu yang masuk adalah Chen, dirinya bergegas menghampiri lalu berlutut hormat.


"Hormat kepada Tuan Muda." Ucap orang tersebut.


Chen melihat orang itu yang ternyata Yan Lui, tersenyum kecil dan mengangguk.


"Berdirilah paman, jangan terlalu hormat." Balas Chen.


Yan Lui bangun, lalu melihat Ling Shi dan melihat Chen membawa sebongkah batu yang bagian atasnya dilindungi sesuatu seperti kubus-kubus kecil yang tersusun membentuk sebuah formasi yang unik.


Walaupun penasaran Yan Lui tak berani bertanya.


Setelahnya kubus-kubus itu seperti segerombolan lebah terbang ke arah Chen dan menghilang.


Sulur-sulur tulang itu kini menopang batu seperti akar yang menempel di pohon dan menancap di tanah Goa, diatasnya duduk Chu Luan.


Chu Luan melihat makam diatasnya ada batu kecil bertuliskan "Murid Tak Berguna, mohon di Ampunkan dan Berjanji akan Selalu Mengingat Guru."


Senyum simpul menghiasi wajah Chu Luan, tak lama air matanya menetes.


Raut Wajah kesedihan tergambar jelas di wajah Chu Luan.


Chen berdiri di depan Chu Luan, di sampingnya ada Ling Shi dan Yan Lui.


Mereka bertiga hanya bisa terdiam tak berani mengganggu Chu Luan yang sedang berkabung.


Chu Luan memandang ke arah mereka sejenak, wajahnya walaupun terlihat sedih tapi senyum puas tergambar jelas.


Seolah semua bebannya kini lepas, semua rasa penasaran dan penantian yang panjang kini sudah terjawab.


Chen melirik ke arah Yan Lui.


"Beliau adalah Istri Guru Limba."

__ADS_1


Yan Lui yang awalnya penasaran tapi sedikit curiga, akhirnya rasa penasarannya terjawab sudah.


Yan Lui segera bersujud di depan Chu Luan sambil meminta maaf atas ketidak-tahuannya.


"Bangunlah, terima kasih sudah merawat makamnya." Ucap Chu Luan pelan.


"Ini sudah kewajiban Hamba, Nyoya tidak perlu bertima kasih." Jawab Yan Lui.


Chu Luan mengangguk pelan.


"Bangunlah, kita ini keluarga." Ucapnya.


Yan Lui akhirnya bangun tapi tidak berani mengangkat wajahnya.


Chu Luan menandang Ling Shi sejenak.


"Kemarilah Nak." Ucapnya.


Ling Shi mengangguk dan mendekati Chu Luan.


Chu Luan membelai kepala Ling Shi pelan.


"Aku memiliki sisa Energi walaupun tidak banyak, maukah kau menerimanya?" Tanya Chu Luan.


Ling Shi menatap ke arah Chen untuk meminta jawaban, Chen yang mengerti makna tatapan Ling Shi berkata : "Tidakkah Ibu Guru ingin membimbing kami? Lalu melihat dimana kedua Ras bisa hidup berdampingan?"


Chen masih mencoba memujuk Chu Luan.


Chu Luan tersenyum dan menggeleng pelan.


"Aku akan tetap melihat kalian, tapi tidak di dunia ini lagi, yakinlah aku akan selalu ada melihat kalian dari kejauhan. Lagipula bukankah kasihan Gurumu tak memiliki teman?" Balas Chu Luan sambil tertawa kecil.


Chen sedikit tersenyum mendengar candaan Chu Lan, tapi hatinya masih sangat tidak rela.


Perjumpaan yang sangat singkat, tapi akan selalu membekas di hatinya.


Chen menimbang sejenak.


Cinta mereka begitu kuat, bahkan setelah beberapa tahun tak ada kabar dari Limba tapi Chu Luan tetap setia menanti.


Dan bagaimana Limba tetap setia selama ini merawat dan menemani Chu Luan tanpa sedikitpun merasa bosan dan jenuh.


Cinta mereka adalah simbol Kesetiaan yang sesungguhnya.


Cinta yang tak lekang dimakan usia.


Cinta yang tak hilang ditelan waktu.


Cinta yang Abadi dan akan tetap hidup hingga akhir nanti.

__ADS_1


Sungguh, inilah makna tertinggi dari sebuah Cinta..


__ADS_2