
Chen duduk di depan Mei, kali ini Chen pamit ingin pergi ke Hutan Kematian.
Mei sebenarnya ingin ikut, tapi setelah di ingatkan akan Lelang Akbar yang akan di adakan akhirnya Mei urung diri.
Chen sendiri sudah berjanji, akan kembali menjemput Mei.
Setelah mengurus beberapa hal seperti menyiapkan Hunian untuk Klan Yun yang terletak tak begitu jauh dari Asosiasi Harta Duniawi, Chen tak menunda waktu untuk segera meninggalkan wilayah Kerajaan Tang.
Terbang di udara bersama Ling Shi di sisinya, tak banyak pembicaraaan yang berarti.
"Ling Shi ini, sangat dingin. Hanya menjawab ketika ditanya, jarang membuka pembicaraan. Tapi tetap terseyum kepadaku, Lucu juga wanita ini." Ucap Chen dalam hati, tak sadar senyum tersimpul di sudut bibirnya.
Setelah terbang-singgah hingga beberapa hari, Chen sampai di wilayah Hutan Kematian.
Di ujung jurang tempat biasa, Chen bersiap akan melompat.
Tapi hatinya penasaran dengan area ujung Jurang.
"Ketika pertama kali bertemu Guru, dari arah seberang sana Guru muncul." Gumam Chen pelan.
"Mau kesana?" Tiba-tiba suara Ling Shi memecah keheningan.
Chen menoleh ke arah Ling Shi, lalu mengangguk.
"Tetap hati-hati dan jangan terlalu jauh dariku." Ucap Chen.
Mereka terbang pelan ke arah seberang jurang.
Mata Chen memandang area sekitar.
"Tak ada yang aneh." Gumannya pelan.
Chen dan Ling Shi turun, menelusuri area itu hingga kira-kira Seratus Kaki kemudian Ia melihat Goa yang samar mengeluarkan Fluktuasi Energi yang lumayan kuat.
Chen memandang Ling Shi.
"Tetap berada di sisiku." Ucapnya.
Perlahan mereka berjalan hingga berhenti dua kaki dari mulut Goa.
"Ini aura yang cukup kuat." Gumam Chen.
Perlahan mereka masuk menelusuri dalam Goa dengan tetap memasang kewaspadaan.
Setelah masuk agak jauh kedalam tiba-tiba saja langkah mereka terhenti tepat di sebuah gerbang kecil di dalam Goa, tepat di depan gerbang kecil itu terdapat formasi pelindung yang tercipta dari ribuan kubik-kubik kecil yang bertuliskan mantra-mantra kuno di setiap sisi kubik, kubik-kubik ini menutupi gerbang kecil tersebut tak menyisakan celah sedikitpun.
Chen mengerutkan kening; "ini formasi yang sangat kuat ternyata aura itu berasal dari dalam gerbang kecil ini."
Chen mengalirkan energi di telapak tangannya lalu jarum kecil nan panas melesat menabrak formasi kubik tersebut, tapi begitu menabrak formasi kubik itu jarum yang Chen lesatkan seperti terbungkus oleh kubik-kubik kecil seukuran mikro kubik dan melahapnya lalu hilang begitu saja.
"Ehh.." Chen terkejut melihat jarum yang Ia lesatkan tertelan dan hilang begitu saja.
Lalu Chen mengalirkan energi yang sangat panas terpusat di telapak tangannya dengan sekali hentakan energi panas berbentuk tapak itu melesat dan menghantam formasi kubik tersebut, tapi lagi-lagi energi yang dilesatkan Chen tiba-tiba di tutupi oleh ribuan mikro-mikro kubik kecil dan lenyap begitu saja.
Kali ini Chen hanya bisa terdiam dan membeku, jangankan menciptakan ledakan malah jarum dan energinya lenyap begitu saja.
"Aku tidak bisa mengambil risiko." Gumam Chen.
__ADS_1
Chen melirik Ling Shi yang masih diam dan menatap lurus kedepan; "Kita kembali saja, nanti kita cari solusi lain." Ucapnya.
"Baiklah Gege." Balas Ling Shi mengangguk.
Tapi tepat ketika mereka hendak berbalik formasi kubus-kubus itu seperti memecah dan membentuk celah, setelahnya energi yang sangat besar menerpa tubuh mereka.
Bahkan kali ini Ling Shi sedikit terkejut dan mundur selangkah.
"Masuklah." Terdengar suara pelan dari dalam.
Mereka saling lirik sebentar lalu tanpa ragu berjalan masuk ke dalam.
Setelah mereka masuk, formasi kubus itu kembali menutup diri.
Ilustrasi formasi Kub**us**.
Mereka berjalan dan berhenti tepat di depan sosok wanita tua yang duduk lemah di sebuah batu.
Sosoknya yang tua dengan rambut yang sudah memutih tak menghilangkan aura kecantikannya.
"Salam Senior, mohon maaf jika kehadiran kami menganggu kenyamanan Senior" Ucap Chen pelan dan sopan.
Wanita tua itu mengangguk pelan dan terseyum kecil.
"Anak yang sopan." Ucapnya.
"Apa hubunganmu dengan suamiku Nak?" Tanya wanita itu pelan.
"Maafkan Aku Senior, tapi aku bingung siapa Suami yang Senior maksud? Chen bertanya balik.
"Limba, apa kau mengenalnya?" Tanya wanita tua itu.
Chen sedikit terkejut, Gurunya tidak pernah menceritakan apapun jika sudah memiliki Istri.
Chen lekas bersujud tiga kali lalu berlutut.
"Aku adalah Murid Guru Limba, mohon maafkan kelancanganku ini" Ucap Chen.
Wanita itu sedikit tersenyum dan memandang Chen dengan lembut.
"Tak salah Dia menjadikanmu murid, tapi melihat aura energinya ada di dalam tubuhmu bisa kutebak saat ini Suamiku sudah tiada." Ucapnya pelan.
"Berdirilah Nak." Ucapnya lagi.
Chen lekas berdiri, lalu sedikit menjura.
Wanita itu memandang ke arah langit-langit Goa, sedikit kesedihan terpancar dari raut wajahnya yang Tua.
"Suamiku selama ini selalu merawatku yang sudah sangat lemah ini, karena aku terluka setelah perang besar antara Ras Manusia dan Ras Hewan."
"Aku seorang manusia dulunya adalah musuhnya, tapi entah bagaimana perasaan Benci itu malah berubah jadi Cinta."
"Hingga akhirnya perang itu berakhir karena banyak kematian di masing-masing pihak, lalu aku yang terluka saat perang akhir tak sadarkan diri dan entah bagaimana caranya dia membawaku hingga aku tiba disini."
"Limba dengan telaten merawatku, walaupun aku ini sudah sangat lemah dan menua tapi Dia tak pernah sekalipun meninggalkanku."
__ADS_1
"Hingga beberapa Tahun Silam, tiba-tiba kami merasakan pancaran energi yang sangat besar berada di area Hutan Kematian. Limba segera pamit dan berpesan jika dirinya tak kembali maka jangan menunggunya lagi dan dirinya meminta maaf jika tak lagi bisa merawatku."
"Terakhir kali aku melihatnya, dan setelah itu Dia tak pernah kembali. Beruntung aku mengolah Teknik Tubuh Khusus, jadi aku bisa bertahan walaupun mungkin tak lama lagi aku juga akan menyusul dirinya." Cerita Wanita Tua itu.
Chen yang mendengar kisah Istri dari Gurunya sedikit merasa bersalah dan sedih.
"Guru belum mati ketika selesai bertarung dengan orang kuat itu, tapi meninggal setelah memberikan seluruh kekuatan dan hartanya padaku. Maafkan aku, andai bukan karena diriku mungkin Guru masih hidup saat ini." Ucap Chen sambil bersujud minta maaf.
"Bangunlah" Ucap Wanita tua itu pelan.
Chen tidak berani berdiri hanya membangunkan tubuh dan menekuk lututnya.
"Aku tidak berani." Ucap Chen.
"Ceritakan, biar aku yang menilai." Balas wanita itu pelan dan ramah.
Chen lalu menjelaskan semua yang Ia alami tanpa ada yang di tutupi dan tentang tugas yang Ia emban dari Gurunya.
Setelah Chen selesai bercerita, wanita itu mengangguk lalu tersenyum kecil.
"Ini semua sudah di atur olehnya, ini bukan keinginanmu malahan dia memberikanmu beban berat yang harus kau pikul. Maafkanlah suamiku." Ucap Wanita Tua itu.
"Namaku Xue Chu Luan. Panggil saja aku Ibu Guru, siapa namamu Nak?" Tanya Xue Chu Luan lembut.
Chen sedikit terkejut, tapi dengan cepat bersujud tiga kali lalu kembali ke posisi semula.
"Namaku Nan Chen, Ibu Guru." Jawab Chen.
Chu Luan mengangguk lalu memandang ke arah Ling Shi.
"Dari Ras Hewan namun bersama manusia, kau mengingatkanku dengannya.. Siapa namamu Nak?" Tanya Chu Luan dan tersenyum lembut.
Ling Shi memandang Chu Luan datar lalu mengangguk.
"Aku calon istri Chen Gege, Mo Ling Shi." Jawabnya singkat.
Chu Luan tersenyum kecil lalu melihat ke Chen.
Chen hanya bisa tersenyum kecut lalu buru-buru mengkonfirmasi.
"Maafkan Dia Ibu Guru, dia memang memiliki karakter yang dingin bahkan terhadap Kakeknya sendiri jarang tersenyum, masalah Calon Suami mungkin masih sangat jauh." Ucap Chen.
Chen melihat ke arah Ling Shi.
"Beri Hormat pada Ibu Guru dan tersenyumlah sedikit." Pinta Chen.
Ling Shi tanpa menjawab langsung bersujud tiga kali lalu berlutut dan tersenyum kecil ke arah Chu Luan, sesaat setelahnya wajahnya kembali datar tanpa ekspresi.
Chu Luan mulai memahami karakter Ling Shi yang sangat kaku dan datar, tapi justru hal ini membuatnya tersenyum.
"Umurku mungkin tak lama lagi." Ucap Chu Luan pelan.
"Aku memiliki Sebuah Teknik khusus yang bernama Teknik Tubuh Yin mungkin ini akan cocok untuk Shi'er. Selain memperkuat Tubuh, bahkan penggunanya akan memiliki hawa dingin yang kuat dan membuat pemiliknya semakin terlihat cantik."
"Kubus yang menutupi lorong kecil itu bernama Formasi Kubus Ilahi. Hanya Aku dan Ayahku yang tau Formasi Kubus Ilahi ini, entah bagaimana nasib Ayahku sekarang. Yang jelas jangan harap ada yang bisa menembus dan menghancurkan formasi ini."
"Dulu aku bisa terluka karena demi melindungi banyak orang, itu kesalahan terbesarku. Formasi Kubus Ilahi ini akan ku turunkan padamu Nak." Ucap Chu Luan.
__ADS_1