PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 10


__ADS_3

Di luar toilet Scoot berdiri seperti sedang menunggui seseorang sembari menyibukkan dirinya dengan smartphone.


Sementara di dalam toilet, Luna baru saja keluar. Di depan wastafel dengan kaca membentang lebar, Luna memperhatikan sekali lagi penampilannya. Wajahnya hanya di rias secara natural. Cantik itulah yang disematkan kepada dirinya, bahkan ke empat Adik tirinya berhasil terpikat oleh kecantikan dan kepribadian Luna.


Luna menarik nafas kasar, ia mengingat tadi bertatap muka dengan Scoot tanpa sepatah katapun. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin bertemu Scoot, mengingat kejadian waktu itu.


Tidak ingin membuang waktu cuma-cuma, Luna segera keluar. Tepat di ambang bertuliskan toilet betapa kagetnya Luna ketika mendapati sosok tinggi tegap itu sedang berdiri menatap kepadanya.


"Begitu istimewa kah di dalam sana?" suara bariton kurang menyenangkan itu dilontarkan oleh Scoot secara gamblang.


Luna mengepalkan salah satu tangannya. Ingin sekali ia membalas ucapan itu tetapi situasinya tidak mungkin untuk mereka berdebat di sini. Bisa-bisa media mengeluarkan asumsi akun gosip bila hal itu terjadi.


"Jangan percaya diri. Aku berada di sini karena tidak ingin para awak media mencurigai kita," sambung Scoot dengan suara amat kecil, bisa dikatakan seperti bisikan.


Luna tersenyum kecut, ingin sekali ia tertawa lepas karena menerima kepalsuan dari hubungan mereka.


Tanpa ingin mendengar ocehan suaminya kembali, Luna berjalan lebih duluan. Entah kenapa malam ini sosok dingin itu banyak berbicara.


Scoot mengepalkan tangan. Rahang kokoh itu mengeras, menandakan kemarahannya memuncak. Dengan langkah panjang ia mengejar Luna.


Akh!


Luna tersentak kaget ketika dengan tiba-tiba tangannya ditarik paksa dari arah belakang. "Kau memang keras kepala!" cemooh Scoot dengan tatapan tajam.


"Tidak perlu melakukan cara seperti ini. Dad, Mom juga sudah tahu bagaimana hubungan konyol kita ini," sentak Luna dengan mencebikkan bibir sembari memberontak agar genggaman itu segera dilepaskan.


Scoot meneguk ludahnya dengan kalimat yang dilontarkan Luna. "Apa kau tidak mengundang Dad dan Mom?" tanya Scoot, sadar jika kedua mertuanya tidak terlihat di sana.


"Siapa yang kamu maksud?" bukannya menjawab, Luna malah memberi pertanyaan.


Scoot mendesis geram karena Luna pura-pura tidak tahu siapa yang ia maksudkan. "Orang tuamu!" mungkin karena sudah kesal Scoot sedikit meninggikan nada suaranya, bahkan engan untuk menyebutkan mertuanya.

__ADS_1


Luna tersenyum sinis atas pertanyaan itu. Bukankah suaminya itu tidak peduli dengan keluarganya? Dia hanya peduli dengan uang, karena menurutnya kebahagiaan itu dapat diperjualbelikan dengan uang.


"Kau juga pasti sudah tahu apa yang menyebabkan mereka tidak bisa datang! Tidak perlu aku jawab lagi, bukankah seorang Scoot Brylee dapat melakukan apapun?" sindir Luna tanpa merasa takut. Kesabaran selama dua tahun ini sudah cukup baginya untuk diam, dan sekarang ia tidak ingin di injak-injak lagi.


"Kau!"


Scoot mencengkram begitu kuat pergelangan tangan Luna, hingga menciptakan Luna meringis kesakitan, hingga kedua matanya berkaca-kaca.


"Sakit," lirih Luna sembari menghentakkan tangannya tapi sayangnya tak berhasil lepas. "Sakit," lirihnya kembali dengan mata berkaca-kaca.


Melihat Luna meringis kesakitan, Scoot segera melepaskan cengkraman tersebut.


"Tuan, Nyonya. Nyonya besar memanggil Anda," ucap kepala pelayan kedua orang tua mereka hingga perdebatan itu terhenti.


Tanpa memperdulikan Luna, Scoot merengkuh pinggang itu, membawanya kembali dimana pesta sedang berlangsung. Dengan aura marah Luna terpaksa bersikap manis, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Luna hanya memikirkan kehormatan keluarga besar Brylee, jadi demi kehormatan itu ia rela melakukan adegan sandiwara ini. Dalam hati ia mengutuk Scoot begitu besar, ia tidak ingin disentuh setelah kejadian amat menyakitkan itu. Dimana pria yang saat ini merengkuh pinggangnya, telah melakukan perlakuan kasar di atas ranjangg.


Kata sambutan, peniupan lilin serta pemotongan kue berjalan dengan lancar. Luna sangat bahagia melihat kedua mertuanya begitu mesra, mesra tidak dibuat-buat seperti mereka saat ini, dimana Scoot begitu mengenggam tangannya, menunjukkan kepada rekan bisnisnya bahwa rumah tangga mereka adem ayem.


"Suatu saat nanti aku akan mencontohkan Dad dan Mom," pungkas Mike sembari tersenyum lepas memperhatikan kedua orang tua mereka.


"Tidak mudah sampai ke tahap itu!" sela Joe.


"Mudah saja jika kita menikah dengan orang yang benar-benar kita cintai!" timpal Carlos.


"Good! Jika didasari cinta sama cinta, tanpa ada modus lain!" sambung Steven.


"Ingat brother, masa lalu Dad dan Mom tidak mulus. Tapi cinta datang tanpa kita sadari hmm!" sindir Mike. Diam-diam melirik Scoot sekilas.


Mendengar komentar demi komentar dari saudara kembarnya membuat Scoot mengeratkan genggaman tangannya pada Luna hingga membuat Luna menjerit.


"Cukup brother! Sepertinya ada yang tersungging, em maksudnya tersinggung!" ujar Joe sembari mengedipkan mata kepada ke tiga saudara kembarnya.

__ADS_1


Tanpa ingin tahu apa respon Kakak tertua mereka. Ke empatnya beranjak menjauh. Bergabung dengan kedua orang tua mereka.


Luna menarik nafas kasar karena apa yang di lontarkan ke empat Adik iparnya sangat mengenakan di hatinya.


"Aku, ingin bertemu Angel," ucap Luna agar genggaman palsu itu dilepaskan.


Tanpa melepaskan genggaman itu, Scoot membawa Luna untuk menemui Angel yang sedang asik menyambut tamu bersama Opa dan Oma-nya.


"Sayang," panggil Luna yang ditujukan kepada Angel. Angel diam saja, tanpa berniat menyapa kedua orang tuanya.


Melihat reaksi Angel, membuat Dad Ben dan Mom Ara saling memandang.


"Oma, Angel ke sana dulu," cicit Angel.


Luna yang di cuekin merasa hatinya begitu sedih. Sosok Angel yang sangat ia sayangi kini menjaga jarak dengannya, akibat kesalahan sendiri karena tidak bisa menahan emosi.


"Apa ada yang terjadi? Kenapa sikap Angel seperti itu? Usai pesta ini, Mom ingin bicara dengan kalian!" ucap Mom Ara karena hatinya mengganjal setelah melihat sikap Angel yang tak biasa.


Scoot maupun Luna, hanya bisa terdiam.


"Dad, juga ingin berbicara!" timpal Dad Ben sembari mengusap dagunya. Selama ini mereka sudah sabar dengan apapun yang dilakukan Scoot. Sebagai orang tua mereka berhak ikut campur, jika ada kejanggalan dalam bahtera rumah tangga putra atau menantunya.


"Iya, Dad, Mom." Sahut Luna.


*


Sekitar pukul 10 malam pesta telah berakhir. Para tamu undangan mulai berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing.


Kini keluarga besar Brylee masih berbincang-bincang. Kecuali Scoot, hanya menjawab seadanya saja. Sedangkan saudara kembar lainnya sangat asik, bahkan nyambung dengan Luna. Sesekali mereka menggoda Luna, hingga membuat Luna tersipu malu.


"Selamat malam!" tiba-tiba sapaan tersebut membuat obrolan mereka terhenti. Semua menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


Deg!


__ADS_2