PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 45


__ADS_3

"Aku mencintaimu Mezzaluna, sangat mencintaimu!"


Senyuman penuh tanya itu semakin membuat Scoot cemas.


"Aku juga mencintaimu!"


Deg!


"I love you Scoot Brylee."


"Apa?"


Luna mengangguk berulang-ulang dengan mata berkaca-kaca. Sementara Scoot masih tak percaya, pria itu malah menduga salah mendengar.


"Kok cuma diam saja?" Luna mulai ketus karena melihat reaksi Scoot biasa-biasa saja.


"Ya, ya sayang ulangi apa yang kau katakan."


Luna menghembuskan nafas kasar, jadi dari tadi ucapannya sama sekali tak berarti. Padahal untuk mengatakan kalimat tersebut tidaklah mudah. Jantungnya berdebar, darah berdesir dan seluruh tubuh pada gemetaran, namun itu tak berarti karena pria itu tak merespon.


"Jadi dari tadi aku bicara, kau tidak mendengarnya?"


"Dengar, namun aku tak percaya, mungkin aku salah dengar." Scoot mengakui kebimbangan itu.


Luna menggeser duduknya, hingga tidak ada jarak diantara mereka. Meraih tangan Scoot dan menggenggamnya.


"Kau tidak salah dengar," ucap Luna dengan lantang.


Seketika itu juga jantung pria itu berdetak lebih cepat dua kali lipat. Menatap Luna dengan penuh kebahagiaan serta keterkejutan luar biasa.


Scoot langsung mengecup berkali-kali punggung tangan Luna dengan mata berkaca-kaca. Lalu segera memeluknya dengan erat, seakan tidak ingin dilepaskan.


"Terima kasih sayang, terima kasih," bisiknya masih dengan jantung berdebar-debar.


Sementara Luna hanya bisa mengangguk, wanita itu terenyuh hingga membuatnya tidak mampu membendung air matanya, air mata penuh kebahagiaan.


Baik Scoot maupun Luna terharu, akhirnya mereka berhasil mempertahankan hubungan yang pernah berada di ambang perceraian. Scoot berhasil meluluhkan hati wanitanya, walau tidak mudah untuk ketahap akhir.

__ADS_1


Cukup lama mereka melepaskan beban, pelukan itupun terurai. Tangan Scoot terulur, menangkup wajah Luna. Menghapus jejak sisa air mata di pipi halus itu.


"Aku sangat bahagia sayang. Terima kasih telah membalas perasaanku," ucap Scoot dengan wajah berbinar-binar.


Luna hanya bisa tersenyum, dan membalas tatapan itu.


"Boleh aku menanyakan satu hal?" tanya Luna dengan tatapan serius. Pertanyaan yang satu ini sangat mengganjal di hatinya.


"Tanyakan saja," sahutnya membalas tatapan serius Luna.


"Bagaimana perasaanmu kepada mendiang istri pertamamu?"


Pertanyaan Luna membuat Scoot membeku untuk sesaat, namun hal itu tidak bertahan lama karena pria itu kembali menggenggam tangan Luna.


"Sayang, itu dulu. Namun sekarang cinta terbesarku adalah untuk Mezzaluna, wanita yang ada di hadapanku saat ini. Wanita yang super hebat," ujar Scoot dengan serius.


"Semudah itu untuk melupakan? Mengingat kau sangat mencintainya bahkan sangat kehilangan dirinya. Sungguh sulit dipercaya," lirih Luna memalingkan wajahnya.


"Sayang, tatap aku. Lihat apakah ada kebohongan di mataku? Dia adalah masa lalu, dan kau adalah masa saat ini dan terakhir. Memang sulit di percaya, namun kau adalah anita yang paling spesial, bahkan rasa cinta ini lebih besar dibandingkan sebelumnya. Percaya atau tidak percaya, namun ini adalah kenyataanya." Pungkas Scoot panjang lebar. Pria itu berusaha menyakinkan wanitanya, agar ke depannya tidak menimbulkan masalah dalam hubungan mereka.


Luna menurut, ia menatap mata tajam, namun mampu membuat siapapun terpana, termasuk dirinya sendiri. Mencari kebohongan di sana, namun ia tidak mendapatkan sesuatu yang dicarinya.


Kini Scoot yang menganggukkan kepala, tersenyum lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir yang selama ini dirindukan.


"Aku akan berjanji untuk membahagiakan kalian, tidak ada lagi air mata, kecuali air mata kebahagiaan." Scoot kembali mengecup bibir wanitanya, kecupan yang perlahan begitu lembut, namun sangat menuntut. Sebuah ciuman penuh gairah, saling membelit lidahh dan bertukar saliva. Untuk melepaskan dahaga selama berbulan-bulan. Suara nyaring di ambang pintu membuat ciuman itu terlepas. Andai saja suara itu tidak menganggu, mungkin ciuman itu berlanjut ke tahap yang lebih panas dan berakhir di ranjang.


"Dad, Mom." Panggil Angel dengan ekspresi terkejut karena mendapati ke-dua orang tuanya melakukan hal yang tak pernah dilihatnya selama ini.


Baik Scoot maupun Luna tersipu malu, menjadi salah tingkah dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Padahal ini bukanlah baru kali pertama bagi mereka, namun ini adalah hal yang berbeda dari sebelumnya.


"Seperti di televisi saja," ucap Angel.


"Maksudnya?" Scoot bertanya.


"Ya, Dad sama Mom berciuman, seperti yang pernah Angel lihat di tayangan televisi," sahutnya dengan kepolosan.


Baik Scoot maupun Luna saling menatap, mereka kaget karena kecolongan. Seharusnya anak seusia Angel tidak diperbolehkan menonton hal seperti itu.

__ADS_1


"Aku minta maaf karena tidak memperhatikan Angel," bisik Luna.


"Ini bukan kesalahanmu, mulai sekarang kita bersama-sama menerapkan peraturan dan perlu memperhatikannya ketika menonton. Aku akan memblok chanel-chanel yang tidak perlu."


"Mom, Angel sudah lapar," adu Angel sembari merengek, mengusap perutnya. Tadi ia menolak makan terlebih dahulu di tempat Oma dan Opa nya.


"Ya ampun, sudah jam berapa memangnya?" seketika Luna kaget karena lupa akan waktu.


"Pukul tujuh," ujar Scoot setelah melirik jam tangannya.


Puk!


Luna menepuk keningnya karena melupakan waktu, saking asiknya mengungkapkan perasaan, mereka sampai tidak ingat jam yang terus berputar.


"Bagaimana ini, Mom belum masak."


"Kita makan di luar sana, sebagai hari yang spesial. Apa kau setuju sayang?"


"Hore, Angel setuju-setuju saja. Kebetulan malam mingguan, sekalian ke taman bermain ya Dad?" bukan Luna yang menjawab, tapi Angel. Bahkan anak itu sangat girang.


"Baiklah, jika begitu Mom mandi dulu. Hmm, Angel sudah mandi?"


"Sudah Mom," sahutnya.


Scoot tersenyum penuh arti, sengaja mendekatkan wajahnya di telinga wanitanya. Kebetulan Angel sibuk dengan boneka kesayangannya.


"Sepertinya sangat menyenangkan, jika mandi sama-sama. Lagi tanggung, sayang!" bisiknya dengan nafas memburu.


Mata Luna membulat, menelan ludahnya. Wajah itu seketika merah padam.


"Aku belum siap, lagi pula putri kita sudah kelaparan, bisa-bisanya kau memikirkan itu!" cicit Luna dengan mengigit bibir bawahnya.


"Mom, katanya mau mandi, tapi masih di sini."


"Iya sayang, ayo kita ke kamar. Angel juga perlu ganti baju." Luna pun bergegas keluar sembari mengandeng tangan Angel, menyisakan Scoot yang masih duduk dengan wajah buram karena keinginannya tertunda, padahal gairahnya sudah di ujung tanduk.


Dengan wajah frustasi ia mengusap wajahnya, beranjak bangkit. Berjalan menuju kamar untuk bersiap-siap. Ia harus bersabar menunggu kepulangan mereka dari makan malam, tapi keinginan putri mereka membuatnya kesal karena mengundur waktu untuk mereka melewati malam penuh cinta.

__ADS_1


Scoot percaya bahwa pilihannya kali ini sudah benar. Wanitanya itu adalah orang yang spesial, ia saja yang bodoh tidak menyadarinya.


Sementara Luna juga sudah sangat yakin dengan keputusannya. Selama tiga bulan ia berpikir, mendapatkan sesuatu yang mampu untuk mencairkan hatinya. Cinta dan ketertarikan yang belum pernah ia rasakan, kini menduduki posisi teratas dalam hatinya, yaitu Scoot Brylee. Bisa mencintai pria itu adalah anugerah luar biasa.


__ADS_2