
Sepanjang jalan Luna melamun, hatinya panas mendapat kenyataan mengenai hubungan suaminya dengan Laura sampai sejauh itu. Sangat bohong jika hatinya terima, sejak tadi ia berusaha menenangkan perasaannya agar wanita licik itu tidak berhasil menertawakan dirinya.
Tanpa sadar air mata itu keluar, membasahi ke dua belah pipi halusnya. Bayangan menjijikkan dalam video itu membuatnya tidak konsentrasi saat menyeberangi jalan.
Tin tin!
Bunyi klakson berulang-ulang kali, dan tubuh Luna terdorong ke tepi jalan tepat berada di atas tubuh seorang pria asing.
"Awww," Luna meringis karena siku bagian kanan mengenai trotoar jalan.
"Nona, tidak apa-apa?" tanya pria yang menolong Luna hingga membuat Luna sadar bahwa ia berada di tubuh seorang pria, dengan kesakitan ia berusaha bangkit.
"Terima kasih," ucap Luna sembari merapikan penampilannya. "Mana paper bag ku?" Luna mencari-cari, seketika matanya terbelalak kaget mendapati rantang serta isiannya tercecer di tengah jalan.
"Siku Nona terluka, apa sebaiknya bawa ke klinik terdekat?"
Luna menggeleng karena ini hanya luka biasa.
"Sekali lagi terima kasih ya? Kalau begitu aku permisi," ucap Luna dengan wajah pucat karena cukup syok dengan kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Ini semua gara-gara Laura, hingga membuatnya tidak konsentrasi.
Luna menyeberangi jalan kembali, dengan langkah gontai karena salah satu kakinya keseleo ringan.
"Nona," panggil pria itu beberapa kali, namun karena kepadatan kendaraan berlalu lalang membuat suaranya kalah dibandingkan deru mobil bermacam kendaraan.
Luna memilih masuk melalui pintu pintas karena tidak ingin menjadi pusat perhatian para karyawan. Luna langsung menuju lift khusus.
Di dalam lift Luna mengatur nafasnya yang masih menderu. Jantungnya pun ikut berdegup. "Bagaimana ini, makanan sudah hancur. Apa yang harus aku katakan? Sementara aku tidak ingin memberi tahu kecelakaan ringan ini," gumam Luna karena ia tidak ingin suaminya khawatir.
Ting!
Pintu lift terbuka, dengan upaya Luna berjalan seperti biasanya karena tidak ingin suaminya dadar akan perubahannya.
Klek!
Tanpa mengetuk pintu Luna membuka pintu begitu saja karena permintaan suaminya sendiri.
"Sayang, kok tumben telat?" tanya Scoot sembari menghampiri istrinya, lalu memeluknya dan mendaratkan kecupan di bibirnya. Ya, beginilah kelakuan mereka, walau bertemu dalam hitungan jam saja, namun pria tampan ini sangat romantis, hingga membuat Luna klepek-klepek.
__ADS_1
"Maaf sayang, ada sedikit kendala. Hmm, biasa macet," ucap Luna berusaha menyembunyikan apa yang sesungguhnya terjadi.
"Kita langsung makan atau melakukan kegiatan lain?" godanya dengan mengedipkan mata, membuat Luna tersipu malu karena dapat mencerna kalimat itu.
"Sayang, sudah deh. Tadi malam saja sudah tiga ronde, aku capek tahu." Keluh Luna dengan wajah merah padam.
"Malam ya jatah malam, sementara jatah siang belum." Godanya kembali karena menggoda wanitanya menjadi pekerjaan yang menyenangkan bagi Scoot Brylee.
"Aduh, sakit sayang." Scoot meminta ampun ketika tangan istrinya masih bertengger di perutnya dengan menarik kecil kulit itu hingga menciptakan sedikit sakit dan geli.
"Makanya jangan messum!"
"Messum pada istri sendiri apa salahnya!"
Seketika saat itu juga Luna melepaskan cubitan di perut suaminya, lalu wanita itu menunduk dengan raut wajah sendu. Tentu saja Scoot kaget karena melihat ada perubahan pada diri istrinya.
"Sayang, ada apa?" Scoot bertanya sembari mengusap wajah Luna. "Siku mu berdarah?" sontak saja pria itu kaget. "Apa yang terjadi?" ia kembali memeriksa seluruh tubuh Luna dengan kepanikan.
Luna tak menjawab karena tidak tahu harus menjawab apa, apakah ia harus menceritakan kabar terkini? mengenai hubungan gelap prianya?.
"Sayang, kenapa diam?" tanpa menunggu lama, ia mengambil kotak obat lalu mengoleskan obat luka hingga menciptakan rasa perih pada luka tersebut.
Luna menarik nafas, lalu mendongak hingga tatapan mata mereka bertemu. "Ini sama sekali tidak sakit, namun berbeda dengan hatiku! Walau tak berdarah, namun rasa sakit itu sampai ke ulu hati."
Pernyataan Luna membuat dahi Scoot mengerut karena setahunya tidak membuat salah sedikitpun akhir-akhir ini, namun tiba-tiba wanitanya meluapkan kata sindiran amat pedas.
Scoot menangkup wajah Luna ketika pada saat Luna memalingkan wajahnya. "Sayang, apa maksudmu? Katakan apa kesalahan ku?" ucapnya dengan lembut.
"Banyak, bahkan aku tidak bisa mengungkapkannya. Lebih baik kau lihat sendiri." Luna pun meraih tas nya, mengeluarkan smartphone dan melemparkannya kepada suaminya dengan kekesalan.
Luna pun menggeser duduknya, menyisakan jarak diantara mereka. Scoot pastinya bingung, namun ia lebih penasaran dengan apa yang ada dalam benda pipih milik Luna.
Sesaat pria itu memejamkan mata, sebenarnya lucu. Namun ketika melihat ekspresi wajah istrinya yang engan berpaling membuatnya mengurungkan tawanya.
"Apakah itu membuatmu mengingat kisah panas kalian? Ternyata hubungan kalian begitu dalam," lirihnya sembari terisak dalam diam, masih memalingkan muka ke arah lain.
Dada Scoot sesak mendapati wanitanya kembali mengeluarkan air mata, bukankah ia sudah berjanji tidak akan membuat air mata itu jatuh kembali. Buktinya hari ini wanitanya menangis.
__ADS_1
Scoot menggeser, lalu mendekap Luna, membawanya ke dalam pelukannya. "Sayang, dengar dulu penjelasan ku." Scoot berusaha menenangkan Luna.
"Penjelasan apa lagi? Kalian sungguh menjijikkan, tidak tahu tempat!" ucap Luna dengan sinis.
Scoot menggeleng, bahkan tidak sadar tertawa. Hal itu berhasil membuat Luna mendongak, hingga tatapan mereka kembali beradu. Tatapan Luna yang tajam, namun dibalas senyuman oleh prianya.
"Benar kan kau sangat senang?" Luna salah mengartikan ekspresi suaminya.
"Dengar baik-baik sayang, aku tersenyum bahkan tertawa karena sangat senang kau merasa cemburu. Apa kau tahu makna dari kalimat cemburu? Itu artinya kau sangat mencintaiku." Scoot mengecup ke-dua mata Luna, menghapus air mata itu yang membuat dadanya sesak.
"Istri mana yang tidak cemburu?" adu nya menyatakan apa yang ia rasakan.
Scoot memangut bibir itu, hingga ia merasa puas. Luna hanya pasrah karena jujur saja tidak bisa menolak.
Scoot pun menceritakan kronologi yang sebenarnya tanpa ada yang terlewati. Jujur Luna pada awalnya bimbang atau ragu, namun melihat tidak ada kebohongan membuatnya sangat percaya.
"Jika kau masih ragu, tanyakan saja kepada Justin karena dia yang mengurus semuanya," ujarnya mengakhiri ceritanya.
"Aku percaya, maaf karena sudah menuduh," lirihnya dengan perasaan lega.
Scoot mengangguk.
"Boleh dilanjutkan? Lagi nanggung!"
"Sayang, kau tidak melihat aku terluka?" Luna mencibir dan beralasan tentang luka kecil itu.
"Ceritakan apa yang terjadi? Apa ini ada kaitannya dengan Laura?" seketika Scoot berkata tegas karena wanita licik itu hampir saja membuat hubungan mereka kembali buruk.
Luna pun menceritakannya, masalah kecelakaan itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Laura.
"Sayang, jika sesuatu terjadi kepada mu! Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku, terutama kau!" ujarnya dengan dada bergemuruh, seusai mendengarkan cerita Luna yang hampir musibah menimpanya.
Luna terenyuh, hingga membuatnya memeluk prianya, menyembunyikan wajahnya di dada kejar itu.
"Lain kali biar aku saja yang pulang, kau tetap berada di rumah. Aku tidak ingin sesuatu terjadi kepadamu, hari ini kau bersyukur selamat, namun hari-hari berikutnya—"
Cup
__ADS_1
Hisapan di bibirnya membuat Scoot tidak bisa melanjutkan ucapannya yang dinominasikan dengan ceramah.