PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 12


__ADS_3

Sementara di hotel


Laura terus saja menangis sejak kepergian mereka Luna. Wanita itu hanya bisa menunduk.


"Ikut aku!" ujar Scoot tanpa disaring terlebih dahulu. Hal itu membuat kedua orang tuanya tersentak kaget.


Laura mendongak, tepat pada Scoot yang kebetulan duduk berhadapan dengan dirinya.


"Maksud mu?" bukan Laura yang bertanya tetapi Mom Ara dengan tatapan tak percaya.


"Ke Mansion!"


"Menantu ku sedang berada di Mansion utama. Bukankah tidak baik bagi seorang wanita bertamu ketika seorang istri tidak berada di rumah?" sindir Mom Ara tidak main-main.


Mendengar sindiran itu membuat Laura langsung merubah raut wajah yang awalnya sumringah, kini menjadi kecut. Lalu ia kembali menunduk.


"Terima kasih Tuan Scoot, atas tawaran Anda. Apa yang dikatakan Tante, ada benarnya. Saya saat ini tinggal di kediaman peninggalan orang tua kami," ucap Laura sembari tersenyum. Senyuman Laura membuat Scoot tertegun, senyuman itu sama persis dengan Lucy.


"Ayo sayang, Mom lelah sekali," ajak Mom Ara kepada suaminya. "Scoot, susul kami segera!" imbuhnya dengan tegas.


"Aku akan pulang ke Mansion Mom, besok aku akan menjemput Angel dan Luna," ujar Scoot menolak.


Mom Ara tersenyum sinis karena jawaban dari putra sulungnya itu. Kini ia semakin yakin bahwa hubungan rumah tangga putra dan menantunya itu mendapat masalah besar.


"Laura, Tante permisi pulang duluan," ucap Mom Ara kepada Laura yang sejak adi hanya menjadi pendengar saja.


Mom Ara menatap Scoot. "Dasar keras kepala!"


Tidak ingin istri yang sangat dicintainya semakin kesal, Dad Ben segera merangkul pinggang itu, melangkah meninggalkan ruangan yang menjadi tempat perbincangan keluarga besar Brylee.


Kini tinggal lah Scoot dan Laura, memandang kepergian dua paruh baya tersebut dalam diam.


Scoot mengusap wajahnya. Pikirannya menjadi campur aduk, sangat sulit memahami keadaan atau kondisi saat ini. Di satu sisi ia memikirkan Luna, dan di lain sisi pikirannya kepada Laura, wanita kembaran mendiang istri pertamanya.


"Tuan, saya langsung pulang saja," tiba-tiba suara lembut dihadapannya membuat lamunan Scoot membuyar.


Scoot menatap Laura sejenak, tatapan penuh arti. "Panggil nama saja," tuturnya karena sejak tadi Laura memanggilnya begitu formal. Hal ini baginya tidak nyaman, bagaimanapun Laura adalah Adik iparnya, Aunty dari putrinya Angel.


"Apakah kau membawa mobil atau diantar supir?" tanya Scoot.

__ADS_1


Laura menggeleng. "Tadi diantar asisten, tetapi langsung pulang," ucapnya. "Aku akan pulang dengan taksi."


"Taksi tidak akan lewat dikawasan ini bila malam begini. Sekalian biar aku mengantar."


"Aku tidak ingin merepotkan."


"Kebetulan satu arah ke Mansion."


Laura mengangguk, rasa senang tidak dapat ia bendung. Pria yang banyak diperbincangkan itu memiliki pribadi yang tertutup, di dominan dingin serta arogan.


"Baiklah," sahut Laura disertai senyuman kecil.


Didalam mobil hanya ada keheningan. Scoot maupun Laura menjadi canggung.


"Angel, sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat menyayangi dia. Terima kasih telah menjaga keponakanku selama ini, maaf jika aku begitu lancang." Laura pada akhirnya tidak tahan diam-diaman seperti itu.


"Angel, adalah putriku! Tentu saja kami sangat menyayangi dia," pungkas Scoot sembari melirik Laura sekilas, bertepatan dimana Laura juga meliriknya. Jadi terciptalah lirik-melirik diantara keduanya.


Seketika rasa canggung kembali menyelimuti diri masing-masing.


Drrrtt!


Smartphone milik Scoot yang diletakkan di dashboard mobil bergetar. Di sana tertera Mom Ara yang menghubungi.


Begitulah informasi di seberang sana. Tanpa ingin mendengar pertanyaan Scoot, maka sambungan tersebut terputus.


"Ada apa?" tanya Laura karena melihat raut wajah panik Scoot, dan dia juga mendengar sayup-sayup nama Angel di sebutkan.


"Angel, masuk rumah sakit. Katanya keracunan makanan. Kau mau ikut atau langsung pulang?"


"Apa? Keracunan makanan? Aku ikut," ucap Laura tersentak kaget, bahkan sangat kaget mendengar kabar tidak baik itu.


Scoot memutar arah menuju rumah sakit, dengan jarak tempuh selama 10 menit dari posisi mereka saat ini.


*


Di Mansion


Tiba di Mansion, Luna langsung bergegas ke kamar yang biasa ditempatkan oleh Angel. Itu adalah kamar miliknya jika sedang menginap di Mansion utama.

__ADS_1


Tepat di ambang pintu kamar, langkah Luna terhenti sejenak ketika mendengar sayup-sayup seperti orang sedang muntah. Dengan dada berdegup, ia masuk begitu saja dan mendapati Angel sedang terkapar dengan muntahannya.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu muntah?" ucap Luna dengan panik, mengangkat tubuh Angel dan mendudukkannya di sofa.


Angel kembali memuntahkan cairan berwarna kekuningan setelah semua makanan yang sudah dicerna. Tanpa peduli lagi dengan kedatangan Luna.


"Sayang, Angel sayang!" panggil Luna ketika tubuh Angel terkulai lemas dan tak sadarkan diri.


Mendengar teriakan Luna membuat Mike bergegas mendatangi kamar Angel, kebetulan ia melintas untuk mengambil barang di ruangan yang berada di sebelah kamar Angel.


Mike masuk dan berapa kaget melihat keadaan Angel. "Angel kenapa Kakak ipar?" tanya Mike sembari memeriksa keadaan Angel.


"Aku juga tidak tahu betul. Keadaan Angel sudah lemas seperti ini. Obati Angel, Mike!" pinta Luna dengan khawatir tingkat tinggi.


"Ini muntahan Angel?"


Luna mengangguk


"Sepertinya keracunan makanan. Lebih baik kita segera bawa ke rumah sakit karena aku tidak punya obat dan juga alat medis," tutur Mike dengan cepat ambil tindakan.


Luna mengangguk setuju. Mike mengendong Angel keluar, dan Luna mengikuti dari belakang dengan mata berkaca-kaca.


Tepat di ruang utama mereka bertemu dengan Carlos, Steven, dan Joe yang sibuk dengan Smartphone masing-masing. Mereka kaget melihat kedatangan Luna maupun Mike yang sedang keadaan mengendong Angel dengan tergesa-gesa.


"Kak Jo, segera siapkan mobil. Angel, mengalami keracunan makanan dan harus cepat ditangani!" titah Mike kepada Joe.


Mendengar keterangan Mike membuat ketiga orang itu beranjak dari tempat pembaringan.


"Apa? Keracunan? Kok bisa?" itulah pertanyaan dari ketiganya.


"Ayo cepat!" sentak Luna karena sangat khawatir.


Dengan sigap mereka membawa Angel ke rumah sakit, bahkan bersedia ikut semua. Mike mengirim pesan kepada kedua orang tuanya yang kemungkinan sedang dalam perjalanan pulang, agar segera menyusul ke rumah sakit.


Joe mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalanan mulai sepi, mengingat sekarang sudah dini hari. Dengan kecepatan tinggi, masih saja Luna berseru agar lebih cepat lagi.


"Sayang, bangunlah. Apa sih yang kamu makan?" lirih Luna dengan berlinang air mata sembari mengelus wajah Angel sepanjang jalan.


"Tenang Kak ipar, Angel baik-baik saja." Mike berusaha menenangkan Luna.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tenang? Lihat sampai sekarang Angel belum sadar," lirihnya.


Mike maupun Joe hanya bisa menghela nafas kasar. Mereka semakin mengagumi sosok seorang Luna. Angel bukanlah darah dagingnya, bahkan tidak memiliki ikatan darah sama sekali, tetapi kasih sayang itu begitu tulus yang dimiliki Luna kepada Angel. Sungguh sosok yang sempurna bagi siapapun yang melihat ketulusan itu.


__ADS_2