
Hari ini adalah jadwal persalinan Luna, melalui operasi cesar. Dengan sigap dan mental yang kuat Scoot menemani istri tercinta.
"Oh my God!" seorang Scoot tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, dimana dokter memberi obat bius atau anetesi epidural agar area perut yang akan disayat menjadi mati rasa.
Scoot memang kali ini pertama melihat proses melahirkan. Ketika Lucy melahirkan Angel beberapa tahun silam, ia sedang keluar kota. Bahkan disaat Lucy menghembuskan nafas terakhirnya ia tidak berada di sampingnya.
Scoot tak henti-hentinya berdoa sembari mengecup kening Luna dengan perasaan takut luar biasa. Ini adalah ketakutan ke-dua ketika Luna dulu tidak ingin memberi kesempatan ke-dua untuk dirinya.
Dengan wajah pucat pasi ia berbisik kepada istrinya. "Sayang, aku sangat mencintaimu! Jangan pernah untuk berpikir meninggalkanku. Kau adalah hidup dan mati ku."
Luna yang mendengar itu hatinya terenyuh, hingga air mata mengalir dari sudut matanya. Sekarang ia tahu betapa besarnya cinta pria itu kepada dirinya, dan sangat takut kehilangannya.
Luna hanya bisa mengangguk haru, tidak bisa berkata-kata. Ikut memanjatkan doa, mengenggam erat tangan suaminya.
Sementara di luar ruangan operasi. Keluarga besar menunggu dengan jantung berdebar, semuanya bungkam dalam hati memanjatkan doa untuk kelancaran dan keselamatan Ibu dan anak.
Tangisan bayi pertama membuat ke-dua pasangan itu tersenyum menjadi tangisan bahagia. Bayi pertama laki-laki, dan tidak lama tangisan bayi perempuan.
Scoot menciumi ke-dua buah hatinya yang masih berlumuran darah. Untuk menggendong ia belum berani karena belum di bedong. "Selamat datang ke dunia son, girls!"
Sekali lagi ia berterima kasih kepada sang Pencipta, dan kepada Luna. Apa yang ia takuti selama sembilan bulan ini telah terjawab.
Dua bayi kembar itu sudah dibersihkan dan mereka diserahkan kepada ke-dua orang tuanya.
"Sayang, lihatlah mereka tampan dan cantik sekali."
"Iya sayang, mereka sangat lucu dan gemesin." Luna pun menciumi ke-dua buah hatinya. Tidak lama ia pun tertidur.
Luna beserta ke-dua buah hatinya dipindahkan ke kamar khusus keluarga. Seluruh keluarga besar mereka sangat bahagia menyambut ke-dua malaikat mungil tersebut, terlebih lagi Angel.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama?" tanya Mom Ara setelah menidurkan kembali cucu perempuan mereka ke box bayi.
"Alexei Brylee yang kelak menjadi pembela dan penolong bagi semua orang. Anya Brylee adalah perempuan anggun." Ya, nama itu memang sudah mereka persiapkan.
__ADS_1
"Nama dan makna luar biasa." Seru semuanya dengan senyuman.
*
Kehadiran Alexei maupun Anya menjadikan rumah terasa ramai. Tangisan silih berganti dari mereka berdua membuat kegaduhan antara ke-dua orang tuanya.
Luna di bantu dua orang pengasuh karena ini semua permintaan suaminya yang tidak ingin Luna lelah, apa lagi masih dalam proses pemulihan.
Seperti malam ini. Setelah Alexei maupun Anya menyusui, mereka terlelap. Sementara Luna masih terjaga karena belum merasa ngantuk.
"Sayang, kau belum tidur?"
"Belum ngantuk, ini baru saja usai minum obat. Hmm, apa pekerjaanmu sudah beres?"
"Sudah sayang." Ya, setelah kelahiran ke-dua buah hatinya Scoot tidak pernah ke kantor. Semua pekerjaan kantor di serahkan kepada Justin. "Sayang, kemarilah!" Scoot mengulurkan ke-dua tangannya ke depan Luna. Dengan senang hati Luna menyambutnya, hingga duduk di pangkuan prianya.
"Ada apa?" tanya Luna seraya mengusap rahang kokoh yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
Scoot memejamkan mata sejenak, merasakan kelembutan jari-jemari wanitanya. "Sayang, jangan siksa suamimu ini! Hmm, apa sudah aman? Aku benar-benar tersiksa!"
"Ya, ampun! Jika seperti ini lebih baik kita ikut program keluarga berencana sayang. Aku yang tersiksa!" Prianya itu cemberut dan apes dengan keadaan sekarang.
"Sayang, pliss deh tidak boleh mengatakan itu. Anak adalah anugerah dan rezeki, banyak anak banyak rezeki. Malah aku ingin memiliki anak lima, mau menyamakan Mom."
"No sayang, ini tidak akan ku biarkan! Apa kau tahu bagaimana perasaanku ketika melihat proses lahiran tiga minggu yang lalu? Nafasku seakan berhenti bernafas, sebelum putra-putri kita lahir dan kau dinyatakan baik-baik saja." Scoot mengungkapkan perasaan atau ketakutannya waktu itu.
Luna menghela nafas, lalu mendaratkan sebuah ciuman manis sekilas di bibir prianya. "Sayang, serahkan semuanya kepada Tuhan, tidak perlu merasa takut."
Scoot mengangguk.
*
Keesokan harinya
__ADS_1
Justin dengan buru-buru berjalan ke ruang kerja Scoot, sepertinya ada yang tidak beres. Namun langkah panjangnya terhenti ketika tidka sengaja bertemu dengan Fanny.
"Fanny," panggilnya, sementara Fanny langsung membalikkan badan, terlihat sekali wanita itu menghindari dirinya.
"Aku banyak pekerjaan," sahut Fanny masih membelakangi Justin.
"Beri aku waktu untuk menjelaskannya. Tapi sekarang waktuku sangat padat, kau pun tahu sendiri!"
"Apa yang mau dijelaskan Tuan? Saya sadar siapa saya dan siapa Tuan! Permisi." Fanny pun melanjutkan langkahnya, tanpa ingin mendengarkan kembali perkataan Justin.
"Fanny!" panggilnya kembali hingga membuat Scoot yang tiba-tiba keluar dari ruangan kerjanya mengerutkan dahi.
"Ada apa kau memanggil Fanny sebegitu kerasnya?"
Seketika Fanny menelan ludah, menjadi kikuk sendiri. Ia berusaha menenangkan dirinya agar Tuannya tidak curiga.
"Tidak Tuan, tadi saya hanya ingin bertanya di mana keberadaan Tuan, namun karena Fanny menggenakan earphone jadi tidak merespon pertanyaan saya." Justin berusaha bohong karena belum saatnya orang mengetahui hubungan antara ia dan Fanny.
Karena tidak menaruh curiga Scoot hanya manggut-manggut saja, lalu kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya dan di ikuti oleh justin.
"Sepertinya ada hal yang penting, hingga kau datang langsung?"
"Benar sekali Tuan. Nona Laura berulah kembali." Justin mengabarkan berita yang membuat rahang kokoh itu mengeras.
Brak!
"Lancang sekali! Benar-benar wanita keras kepala! Lihat saja nanti, kau akan menyesal seumur hidup jika berani kembali mengusik kebahagiaan keluarga kami." Karena murka pria itu mendobrak meja kerjanya sampai menimbulkan bunyi dentuman keras.
Justin tidak heran karena sudah tahu bagaimana pria itu jika sudah murka. Dia tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya, apa lagi hal itu menyangkut keluarganya.
"Bereskan kekacauan! Biar aku sendiri yang akan menyelesaikan wanita licik itu! Mereka ingin bermain-main dengan seorang Scoot Brylee."
"Baik Tuan. Jika begitu saya permisi kembali ke kantor."
__ADS_1
Scoot mengangguk, masih dengan raut wajah murka. Ia tidak habis pikir, jika Clara adalah wanita nekat, hingga merendahkan dirinya sendiri untuk menghancurkan rumah tangga mereka.
Tidak ingin semakin murka, ia pun memutuskan ke kamar untuk menyuapkan Luna makan siang. Ya, itu kegiatan rutin yang ia lakukan. Pagi, siang dan malam dengan sabar ia menyuapi Luna. Bukan Luna yang meminta, namun ini semua kemauannya sendiri. Itulah bukti betapa cinta dan pedulinya seorang Scoot Brylee kepada Mezzaluna.