PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 31


__ADS_3

"Dirimu, hanya dirimu!" Scoot berbisik, tak kunjung melepaskan pelukan itu, bahkan tak sadar menaruh wajahnya di atas kepala Luna. Namun apa yang di ucapnya tak lantas membuat Luna terenyuh, malah wanita itu semakin murka.


Tok tok


Ketukan pintu membuat keduanya terdiam.


"Luna," panggil seorang pria.


"Lepas!" Luna berdecak sembari menginjak keras punggung kaki suaminya hingga pelukan itu terurai. Kesempatan itu Luna melarikan diri, menjauhi suaminya.


"Siapa pria itu?" tiba-tiba tatapan Scoot berubah tajam, mendengar suara seorang pria memanggil nama istrinya, entah kenapa darahnya mendidih.


Luna melenggang membuka pintu tanpa ingin menjawab pertanyaan tak penting itu. Hal itu membuat Scoot mengepalkan tangannya. Lalu menyusul Luna, dan benar saja di sana dua pria sebaya dengan dirinya jika ditafsirkan, memiliki wajah rupawan tampan.


"Selamat pagi Alex," sapa Luna dengan ramah.


"Pagi. Luna, ini Tuan Robert, pemilik perkebunan." Salah satu pria yang dikenali Luna memperkenalkan pemilik perkebunan.


Ya, beberapa hari yang lalu, luna melamar diri di bagian pabrik. Sedangkan ke-dua orang tuanya di lapangan. Sementara Mike menunggu panggilan, hingga ia menyempatkan diri untuk bekerja sebagai pemetik sembari menunggu panggilan.


"Selamat Tuan Robert, perkenalkan nama saya Luna." Luna memperkenalkan diri.


"Siapa kalian?" dengan gerakan cepat Scoot menarik tubuh Luna hingga jabatan tangan itu menggantung. Luna sontak kaget mendapat perlakuan tidak sopan suaminya.


Sementara wajah Scoot memerah, rahang kokoh itu mengeras. Ingin sekali ia mencongkel biji mata pria bernama Robert tersebut, sejak tadi tatapan kagum pria itu tak teralihkan pada Luna, dan Scoot menyadari hal itu.


"Apa-apaan sih!" kesal Luna berbisik, sungguh ia tak suka dengan sikap suaminya itu.


"Luna, dia siapa?" tanya Alex ingin tahu karena pria itu begitu posesif.


"Dia, dia—"


"Aku suaminya! Kalian siapa?"

__ADS_1


Luna menelan ludah, hanya bisa menunduk dengan menggerutu dalam hati.


"Suami?" gumam mereka sontak kaget karena tak menyangka bahwa wanita cantik itu sudah punya suami.


"Iya, dia memang suamiku tapi sebentar lagi akan menjadi mantan suami. Apa sebaiknya kita berangkat sekarang?"


Mendengar pernyataan Luna membuat Scoot mendadak lemah, tak bisa berkata-kata. Ingin sekali ia menyangkal bahwa apa yang dikatakan Luna itu salah tetapi ia tak ingin ke-dua pria itu menertawakan dirinya.


Scoot memandang mobil itu hingga menghilang dari pandangannya dengan tatapan kosong, ia tak bisa mencegah Luna. Sementara Luna memandang sekilas sosok itu dari jendela mobil dengan perasaan kacau. Ia berharap pulang dari pabrik pria itu sudah meninggalkan rumah.


Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi membuat Scoot, menyeret kakinya kembali masuk ke dalam, tanpa menutup pintu.


Suhu tubuhnya kembali naik, hingga membuatnya menggigil. Scoot kembali masuk ke kamar, menyelimuti seluruh tubuhnya karena sangat dingin.


*


Jam makan siang. Luna kembali ke rumah, karena jarak tempuh pabrik dengan tempat tinggal hanya menghabiskan waktu 10 menit berjalan kaki, membuat Luna tak kelelahan dan memilih pulang.


Di halaman rumah Luna mengerutkan dari karena pintu rumah mereka terbuka. Bukan takut kecurian tetapi bagaimanapun rumah harus tetap di tutup jika tak ada penghuninya.


Dengan langkah kesal Luna masuk. "Untuk sekedar menutup pintu saja kau engan, benar-benar pria tak perasaan!" omel Luna sembari menutup pintu. Wanita itu mengira Scoot telah pergi.


Langkahnya langsung menuju dapur, ingin memanas masakan tadi pagi. Sementara ke-dua orang tuanya dan juga Mike membawa bekal jadi mereka tidak pulang.


Luna makan dengan berjuta pikiran. Pikiran yang sangat menganggu, bahkan disaat bekerja ia tidak fokus. Untungnya saja karyawan yang lainnya tidak menyadarinya, dapat dimaklumi juga karena hari ini pertama ia masuk kerja.


"Semoga saja dia tidak akan muncul lagi. Aku sudah lelah, dan ingin mengubur dalam-dalam masa lalu itu." Luna berbicara kepada dirinya sendiri, sembari mengunyah.


Huk huk


Mata Luna membulat mendengar suara batuk dari sumber dalam kamarnya. Saat itu juga ia menghentikan kunyahan di mulutnya, rasa lapar tadi seakan hilang ketika mengetahui kenyataan bahwa pria itu masih berada di dalam rumah.


Dengan marah, Luna beranjak dari meja makan. Berjalan menuju kamar, membukakan pintu dengan tatapan kesal.

__ADS_1


Batuk itu tak berhenti juga, namun tak membuat Scoot keluar dari selimut tebal milik istrinya.


Luna mendekat, lalu menyibak selimut itu. Tangannya tak sengaja menyentuh dahi, seketika mata Luna kembali membulat. Suhu tubuh suaminya tinggi, sepertinya dia demam tinggi lagi.


"Badanmu sangat panas," lirih Luna hingga membuat Scoot membuka mata, senyuman terukir kecil dari bibirnya melihat sosok wanita yang sejak tadi diharapkan kedatangannya.


"Dingin, ini sangat dingin." Scoot bergumam dengan bibir pucat dan bergetar.


"Kau datang dengan siapa? Sekitar satu jam ada puskesmas di kecamatan. Kau harus segera mendapatkan penanganan, sementara persediaan obat tidak ada," ucap Luna dengan raut wajah panik. "Kau demam tinggi," imbuhnya tanpa sadar mengusap dahi serta wajah tampan itu.


Scoot memejamkan mata merasakan kelembutan usapan di sekitar wajahnya. Mengabaikan pertanyaan Luna, anggap saja saat ini ia terkena pengaruh hipnotis.


Karena sadar dengan gerakan cepat, Luna menarik tangannya hingga wajahnya merona merah, namun ia menyembunyikan rasa keterkejutan itu.


"Tidak perlu, ini hanya demam biasa." Tolak Scoot dengan lemah, bagaimana tidak lemah ia bahkan tidak sarapan pagi hingga jam makan siang.


"Demam biasa kau bilang? Apa kau tahu aku sangat khawatir dengan suhu panas mu itu? Sedangkan di sini tidak ada obat. Jika kau mati sia-sia, bagaimana dengan Angel?" cecar Luna menggebu-gebu tanpa sadar dengan mata berkaca-kaca.


Deg!


Sontak saja Scoot kaget, tertegun dengan apa yang dikatakan Luna. Bahkan jantungnya terasa berhenti berdetak saking kagetnya.


"Kau mengkhawatirkan diriku?" senyuman kebahagiaan terlihat jelas di raut wajah itu.


Luna menelan ludah, menyadari atas ucapan yang ia lontarkan. Hingga membuatnya membungkam mulutnya sendiri, lalu membuang muka.


"Maksudku Angel." Luna bernafas sesak, tiba-tiba saluran pernapasannya tersumbat.


"Terima kasih." Scoot malah mengucapkan rasa terima kasih. Ia tak menyangka bahwa Luna masih peduli, dengan masalah yang tengah menimpa hubungan mereka, hingga di bawa di pengadilan


Luna diam dengan kepala menunduk, tidak sanggup bila saling membalas tatapan. Walau mereka adalah pasangan suami-istri, namun hubungan mereka tidaklah baik-baik saja.


Dulu hanya bicara seperlunya saja, bahkan di saat suaminya tertidur, di situlah kesempatan untuk Luna mencuri pandang kepada suaminya dengan seksama.

__ADS_1


__ADS_2