PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 34


__ADS_3

Luna tersentak kaget, sementara Scoot tersenyum penuh kemenangan. Kepolosan dan kecerdasan Angel membawa keberuntungan baginya, hingga tak bersusah payah untuk mendekati Luna.


"Beri pengertian kepadanya?" bisik Luna dengan tatapan penuh harap.


"Pengertian apa lagi? Apa yang dikatakan Angel itu benar," sahut Scoot.


"Kalau begitu, kau tidur diluar saja," ucap Luna tanpa sadar dengan intonasi cukup keras sembari meletakkan sebuah guling sebagai pembatasan mereka.


"Mom, Dad, ada apa lagi sih? Angel, sudah ngantuk." Gerutu Angel masih dengan mata terpejam, hampir saja ia masuk ke alam mimpi tetapi perdebatan antara ke-dua orang tuanya tak kunjung usai membuatnya kembali terjaga.


Luna tidak tahu harus berbuat apa, mau tidak mau mengikuti keinginan Angel. Angel bahkan menyuruh dirinya segera berbaring.


"Selamat malam Mom, Dad," ucap Angel sembari memeluk Luna. Sementara Scoot masih duduk di tepi ranjang, memandangi dua wanita yang bermakna dalam hidupnya.


"Angel, Dad ingin bertanya. Bagaimana bisa kau datang ke kantor pengadilan? Siapa yang memberitahukan bahwa—"


"Dad, besok saja ya Angel ceritakan? Angel sudah mengantuk."


Hmm


Scoot hanya bisa mengangguk, tidak bisa memaksakan. Begitu juga dengan Luna, ia juga penasaran, kenapa Angel tiba-tiba berubah. Dan satu lagi di mana Laura? Bukankah Angel begitu dekat dengan wanita itu? Itulah pertanyaan besar di benak Luna.


Jantung Luna berdebar, ketika goncangan akibat seseorang membaringkan tubuhnya di sebelahnya. Dengan jantung berdegup kencang ia memejamkan mata sembari membelai rambut Angel dengan posisi miring ke arah Angel.


"Kau sudah tidur?" tanya pria itu dengan pandangan ke atas langit-langit kamar dengan ke-dua tangan bertumpu pada kepalanya.


"Kau bicara dengan siapa?" tanya Luna dengan ketus. Ia baru tahu ternyata pria ini sangat banyak omong, sangat beda ketika dua tahun yang lalu.


Scoot melirik sekilas ke samping dengan senyuman kecil, pertanyaan Luna membuatnya geli.


"Tentu saja dengan istriku, tidak mungkin dengan cicak." Scoot terkekeh dengan geli, baginya pertanyaan Luna itu lucu.


Luna mengerucut bibirnya sembari mengatur detak jantungnya yang tak kunjung usai. Entah kenapa kali ini ia merasakan debaran luar biasa, bukankah selama ini mereka setiap malam tidur bersama.

__ADS_1


"Terima kasih ya? Atas semuanya."


"Aku mengambil keputusan ini demi Angel, hanya demi dia!"


Scoot tersenyum kecut, apa yang didengarnya ini adalah kebenarannya. Luna mengambil keputusan itu karena putrinya, bukan karena dirinya. Pria itu memiringkan tubuhnya menghadap ke Luna, hanya bisa memandangi punggung itu.


"Aku tidak akan melewati kesempatan kali ini, akan aku buktikan. Luna aku mencintaimu, entah sejak kapan perasaan ini tumbuh? Hanya melihatmu saja aku sudah bahagia." Scoot membatin.


"Sayang, apa badanmu tidak kram terlalu lama dengan posisi seperti itu? Santai saja, aku tidak akan macam-macam, namun hanya satu macam saja hehe!" goda Scoot, membawa guling itu ke dalam dekapannya.


Luna memutar bola matanya berkali-kali, apa yang dikatakan pria itu benar, bahwa punggungnya mulai kram. Ingin mengubah posisi baringnya, namun pria itu ada di samping kanannya.


"Kenapa kau jadi banyak omong seperti ini? Apa kau salah minum obat?" ucapnya dengan ketus. Bagaimana bisa memejamkan mata jika suaminya itu selalu berbicara.


"Entahlah! Aku saja yang begitu bodoh melewati waktu yang seharusnya, dan kali ini aku tidak akan melewatinya lagi." Scoot memejamkan mata, ingatan dulu terbayang-bayang dalam benaknya.


Luna tak menjawab lagi, wanita itu berusaha memejamkan matanya, berharap secepatnya menyusul Angel ke alam mimpi.


"Oya, apa kau tidak ingin tahu apa yang dilakukan oleh Opa dan Oma, Angel? Aku sedikit penasaran, apakah mereka benar-benar melakukan itu?" Scoot baru saja ingat kepada orang tua dan mertuanya tentang rencana konyol para paruh baya tersebut.


"Kau benar, aku harus menghubungi Mike," ucap Luna sembari menggapai ponsel yang ia letakan di atas nakas samping Angel.


Luna menghubungi Mike berkali-kali, namun tak kunjung di jawab. "Kenapa Mike tidak mengangkatnya?" keluh Luna.


Scoot ikut duduk dengan posisi seperti Luna, bahkan mereka duduk tanpa ada batasan. Entah itu di alam sadar atau tidak, tapi Luna tak mempermasalahkan itu karena ia sibuk berkali-kali menghubungi sang Adik.


"Coba aku hubungi Paman Daud," ujar Scoot mulai menghubungi kepala pelayan. Panggilannya langsung direspon. Scoot berbicara menanyakan di mana orang tuanya, dan keberadaan Mike.


Tiba-tiba Mike menghubungi Luna dengan panggilan videocall, dengan gerakan cepat Luna menjawabnya.


["Ternyata minuman seperti ini enak juga ya?"] ucap dua wanita yang sangat mereka kenal.


["Kalian baru tahu? Ayo kita berpesta malam ini."] Sahut dua pria yang berada di sampingnya sembari meneguk minuman masing-masing dengan raut wajah berbinar-binar.

__ADS_1


[''Sayang,harus ada batasannya. Putri kita akan arah besar".]


["Tenang saja, mereka tidak akan tahu."]


["Dad, Mom!"] teriak Luna.


"Sayang, turunkan suaramu! Nanti Angel bangun, suaramu itu seperti orang melepaskan keperawanannya saja."


"A-apa? Dengan kondisi denting seperti ini, bisa-bisanya kau—" Luna tak melanjutkan ucapannya, wanita itu sangat marah sekarang.


"Aku yakin para orang tua itu berakhir di rumah sakit."


Ucapan Scoot membuat Luna semakin tidak tenang, wanita itu bernafas dengan gemuruh. Ingin sekali menghentikan ke empat orang itu yang sedang asik meneguk minuman mengandung alkohol.


"Lakukan sesuatu!" ucap Luna tanpa sadar meraih lengan suaminya dan menggoncang dengan kasar. "Mike, buang semua minuman itu. Kenapa kau diam saja? Sungguh tak berguna!" cicit Luna dengan emosi meluap-luap.


Tanpa ingin bicara, Mike langsung memutuskan sambungan telepon. Tentu saja membuat Luna kesal sembari menatap ponselnya dengan raut wajah imut menurut pria yang saat ini mendekapnya.


"Sungguh perbuatan konyol," ucap Luna dengan bibir tertawa kecil, tertawa karena kesal.


"Sayang, tenanglah. Mike dapat menangani. Sebaiknya kau tidur sekarang, apa ingin aku urut terlebih dahulu?"


Mata Luna membulat mendengar tawaran konyol itu. Tentu saja tidak konyol jika hubungan mereka layaknya sepasang suami-istri yang harmonis, kegiatan seperti itu sudah biasa, namun hubungan mereka tidaklah dikatakan baik.


Seketika Luna baru sadar dengan posisi mereka, bahkan ingin berteriak keras ketika menyadari tubuhnya berada di dekapan suaminya. Luna pun memberontak kasar, hingga ia berhasil menjauh.


"Jangan macam-macam!" peringatan itu membuat dahi suaminya mengerut. Bukankah wanitanya sendiri yang menguasai keadaan, jika ada kesempatan, kenapa harus di sia-siakan.


"Sudah, sudah. Aku hanya bercanda, tidurlah. Aku tidak akan menganggu lagi." Usai mengatakan itu, Scoot beranjak dari tempat tidur. Berjalan menuju pintu sembari membawa bantal. Ya, untuk saat ini dia memang banyak mengalah, tidak ingin keadaan semakin memburuk. Ini hanya awalan jadi ia harus banyak bersabar, dan pelan-pelan mengambil hati wanitanya.


Luna terperangah melihat Scoot keluar sembari membawa bantal. Itu artinya pria itu tidur di luar, ada rasa kehilangan yang tak jelas dalam hatinya.


"Selamat malam sayang." Ucapnya sembari menutup pintu.

__ADS_1


Sangat manis bukan apa yang dilakukan pria itu? Pria yang selama ini dingin kepadanya kini berubah menjadi manis seperti itu. Berhasil membuat jantungnya berdebar tak karuan, wajahnya merona merah.


__ADS_2