
Scoot kembali lagi ke ruang kerjanya, tidak lupa mengunci pintu untuk sebuah keamanan, bisa saja wanita murahan itu menyusul dirinya.
Berselang 10 menit Justin tiba di Mansion, kebetulan apartemen pribadinya tidak jauh dari Mansion, demi suatu darurat seperti ini.
Klek!
Tanpa mengetuk pintu ruang kerja, Justin membuka pintu menggunakan kunci cadangan yang selalu ia pegang.
"Tuan, apa yang terjadi?" ya, Justin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena pada saat dihubungi Scoot tidak banyak mengatakan sesuatu, ditambah lagi pada saat itu ia sudah terbawa mimpi.
"Bawa aku ke tempat Luna! Aku tidak tahan lagi!" Scoot meracau tidak jelas dengan tubuh gemetaran.
"Sepertinya tidak beres," gumam Justin, lalu diam-diam menghubungi seseorang.
"Bawa aku sekarang juga! Aku ingin bertemu dengan Luna, hanya istriku yang dapat— arghh," teriaknya sembari memegang kepala yang sangat pusing, dengan mengigit bibir bawahnya.
"Bagaimana saya membawa Tuan, sedangkan kita tidak tahu di mana keberadaan Nyonya," ujar Justin dengan panik, melihat sang CEO menahan kesakitan.
"Istriku ada di kota X, bawa aku sekarang juga!"
Seketika Justin tersentak kaget karena ternyata Scoot mengetahui keberadaan Luna. Tetapi untuk menanyakan hal itu bukan saatnya, yang lebih diselesaikan adalah mengatasi pengaruh obat itu.
"Tuan, kita butuh waktu dua jam untuk ke sana, tidak memungkinkan dengan kondisi Tuan seperti ini." Tanpa menghiraukan keinginan sang CEO, Justin memapah tubuh Scoot, membawanya keluar menuju kamar.
Tiba di kamar, ia segera masuk ke kamar mandi. Menyalahkan air dingin, memaksakan Scoot untuk masuk ke dalam bathup dengan susah payah karena pria itu menolak.
"Sialan, kenapa kau memandikan aku dengan air es seperti ini? Aku ingin bertemu Luna," teriaknya dengan meronta-ronta.
"Maafkan saya Tuan, hanya ini yang bisa saya lakukan. Sebentar lagi dokter Chris akan tiba."
Scoot sangat tersiksa, tidak tahan dengan gejolak yang menggebu-gebu, bahkan khayalan sedang bersama Luna memenuhi otaknya.
"Kenapa dokter Chris sangat lama," sungut Justin dengan perasaan panik.
Klek!
"Apa yang terjadi?" tiba-tiba pintu kamar mandi di buka.
"Kau sangat lama. Tangani Tuan," omel Justin. Chris adalah teman baiknya, makanya berani mengumpat.
Sementara Laura keluar dari kamar Angel dengan murka, ia mengumpat karena rencana untuk menjebak Scoot gagal. Laura tak pernah menyangka jika pria itu mampu bertahan dan menolak mentah-mentah dirinya.
"Kau boleh menolak ku sekarang, tetapi kartu mu ada di genggaman ku!" ujar Laura dengan senyuman licik sembari memandangi smartphone di tangannya, lalu menghubungi seseorang.
__ADS_1
Laura segera meninggalkan Mansion, untuk saat ini ia harus menghindari Scoot dan menyusun rencana ke depannya.
Butuh untuk waktu lama bagi Scoot tenang. Dokter Chris berhasil mengatasi efek obat tersebut, walaupun membiarkan Scoot kesakitan.
"Siapa yang menjebak Tuan?" tanya dokter Chris setelah Scoot terlelap.
"Aku juga tidak tahu karena belum sempat menanyakan hal itu," jawab Justin.
"Berani sekali orang tersebut!"
"Atau jangan-jangan Nona Laura," tebak Justin langsung mengarah kepada Laura.
Dokter Chris mengusap dagunya, berpikir siapa wanita yang disebutkan oleh sahabatnya itu. "Laura, siapa dia?"
"Kembaran mendiang Nyonya Lucy!"
"Aku baru tahu jika Nyonya mendiang Lucy punya kembaran." Ya, dokter Chris baru tahu sekarang.
"Aku salut kepada Tuan!"
"Kau benar, bahwa dosis obat yang diberikan cukup besar tetapi Tuan mampu menolak," timpal dokter Chris sembari mengemasi peralatan medisnya. "Baiklah, aku pulang. Jangan lupa berikan obat untuk mengatasi efek samping obat tersebut."
"Terima kasih brother. Hati-hati!"
*
Keesokan harinya
Dengan sabar Justin menunggu sadarnya Scoot dari tidurnya, hingga menyerahkan pekerjaan kantor kepada sekretaris.
"Sssttt," Scoot mendesis, berusaha membukakan matanya, tubuhnya terasa kamu untuk digerakkan.
"Tuan," panggil Justin dengan lega.
"Aku di mana? Mana Luna?" racau Scoot belum sepenuhnya sadar.
Tentu saja pertanyaan itu membuat Justin mengerutkan dahi. Bukankah pria ini sedang bermimpi? Itulah yang ada dibenak Justin.
"Luna mana?"
"Tuan, tidak ada Nyonya di sini. Sebaiknya Tuan sarapan dulu dan minum obat," tutur Justin dengan sabar.
"Kau bohong, semalam aku tidur dengan istriku! Panggil dia sekarang juga!" titahnya sembari bangkit dari pembaringannya, duduk dengan tubuh bersandar pada tempat tidur.
__ADS_1
"Tidur bersama?" Justin bergumam, tiba-tiba bulu kuduknya merinding, mungkinkah arwah Lucy sedang berada dalam kamar ini. Begitulah pikiran konyol seorang Justin. "Mak-maksud Tuan istri Tuan siapa?" karena penasaran, Justin bertanya dengan gugup.
"Maksudmu siapa lagi? Di mana Luna!"
Akhirnya Justin bisa bernafas lega, sejak tadi jantungnya berdegup tak karuan. Ia memang pria gagah tapi jika menyangkut hal mitos yang berhubungan dunia gaib itulah kelemahan seorang Justin.
"Mungkin Tuan berhalusinasi, Nyonya tidak benar ada. Tuan, sebaiknya sarapan dulu." Justin berusaha membujuk, walaupun penuh kesabaran.
Scoot mengusap wajahnya, diam sesaat seperti memikirkan sesuatu. "Di mana wanita brengsek itu?"
"Siapa Tuan?"
"Laura, dia yang sengaja menjebak ku!"
Justin menghela nafas kasar, ternyata tebakannya tak meleset. Laura benar-benar wanita nekat, berani melakukan hal yang salah. Dia belum tahu saja sedang berhadapan dengan siapa.
"Serahkan kepada saya Tuan."
"Siapkan helikopter. Aku akan menemui Luna."
Justin segera menggeleng. "Untuk apa Tuan? Bukankah persidangan tinggal seminggu lagi?"
Seketika Scoot berpikir, apa yang dikatakan oleh asistennya itu ada benarnya tetapi rasa ingin bertemu sama Luna begitu besar.
"Aku hanya ingin melihatnya dari kejauhan," gumamnya dengan nada sendu hingga membuat Justin tersentak kaget tak percaya dengan nada yang dilontarkan.
"Untuk apa Tuan? Biarkan Nyonya menikmati atas keputusannya." Justin memberanikan diri menentang, ia ingin tahu sejauh mana perasaan sang CEO kepada Luna. Bukankah selama ini tidak ada cinta di antara mereka? Tapi kenapa sekarang pria itu merasakan sesuatu yang berbeda dengan kepergian Luna.
Scoot menatap Justin dengan tajam, apa yang dikatakan Justin memancing emosinya. "Kau berani mengatakan hal itu kepada ku? Apa kau sudah bosan bekerja dengan ku Justin?" aura yang sudah dapat dipastikan oleh Justin, kini hanya pasrah saja menerima makian kasar.
"Maafkan saja Tuan, saya terlalu bersemangat."
"Atas dasar apa kau merasa bersemangat? Bersemangat dalam hal apa? Apa kau bersemangat melihat diriku sekarang, dan menertawai ku?" beberapa pertanyaan dilayangkan Scoot dengan amarah memuncak.
Justin meneguk ludahnya, ia sebenarnya salah berkata. "Maaf Tuan!"
"Turuti perintah ku. Awasi Angel, dan beri pelajaran kepada Laura. Aku akan pergi selama beberapa hari." Ya, Scoot memutuskan akan menemui Luna secara diam-diam.
"Ada apa dengan pria ini? Apakah Tuan, sudah mencintai Nyonya? Kenapa baru sekarang Tuan? Kemana saja selama ini? Semoga saja tidak terlambat karena Nyonya wanita yang sempurna, siapapun lelaki akan menaruh hati, termasuk Tuan yang sulit ditaklukkan!" Justin berperang dalam hati.
"Apa yang kau sungut dalam hatimu? Kau mengutuk ku?" tuduhan itu membuat kesadaran Justin membuyar, lalu berusaha setenang mungkin.
"Tidak Tuhan, mana saya berani melakukan seperti yang dituduhkan Tuan," pungkasnya dengan was-was. "Apa sekarang Tuan mencintai Nyonya?"
__ADS_1