
Hari ini adalah persidangan pertama. Luna maupun Scoot tidak ikut hadir dalam persidangan, yang hanya diwakilkan oleh pengacara masing-masing. Hasil sidang pertama tidak membuahkan hasil, sidang dinyatakan
Usai sidang pertama Scoot, mengundang pengacara Luna di sebuah cafe, dengan tujuan ingin mengetahui keberadaan Luna selama ini.
"Selamat siang Tuan," sapa Agung, pengacara Luna.
"Hmm,"
Agung duduk tepat berhadapan dengan Scoot, suami kliennya.
"Di mana selama ini Luna beserta keluarganya tinggal?" Scoot langsung bertanya pada tujuan utamanya.
"Maaf Tuan, untuk itu saya tidak bisa jawab. Sekali lagi saya minta maaf."
"Anda, sadar sedang berhadapan dengan siapa?"
Agung menunduk, tentu saja ia tahu siapa sosok pria yang sedang berhadapan dengannya pada saat ini.
"Tapi Tuan,"
"Ikuti rencana ku! Oke, aku tidak akan menemuinya tapi gerakan hatinya agar ikut serta dalam sidang terakhir!" ujar Scoot, seperti menyusun rencana agar ia dapat bertemu kembali dengan Luna. Ada satu hal yang ingin dia sampaikan.
Agung berpikir sejenak, dan pada akhirnya hanya dapat mengiyakan saja. Bagaimanapun ia tidak dapat melawan Scoot.
Scoot tersenyum puas, sekarang ia merasa lega. Tapi tetap saja mengganjal dalam hatinya, ketika mengetahui tempat keberadaan Luna beserta keluarganya. Lebih memilih meninggalkan fasilitas lengkap dan memilih tinggal di tempat yang tidak layak.
*
Tok tok
"Masuk."
"Tuan.Nona Laura, memaksa ingin menemui Tuan," ucap Justin, ya yang mengetuk pintu adalah Justin.
Scoot meletakan pulpen di atas meja, mendengar Laura yang ingin menemuinya, membuat dahinya mengerut.
"Ada keperluan apa dia ingin menemui ku? Sampai-sampai nekat ke kantor, apa ada sesuatu yang terjadi kepada Angel?"
"Saya tidak tahu Tuan, Nona Laura sedang menunggu di depan ruangan."
"Suruh dia masuk," titahnya karena ingin tahu alasan yang membuat wanita itu ingin menemui dirinya.
Justin mengangguk dan segera keluar, mempersilakan Laura masuk.
Dalam sekian menit, Laura masuk dengan elegan. Tersenyum ketika mendapati Scoot yang sedang duduk di sofa, seakan sedang menunggu kedatangannya.
__ADS_1
"Maaf, jika kedatangan ku menganggu," ucap Laura sebagai basa basi saja.
Scoot menyimpan smartphone yang tadi ia mainkan, lalu berdehem tanpa ingin menatap lawan bicaranya. Entah kenapa kehadiran Laura sama sekali tak membuat hatinya menginginkannya, padahal wajah dan semua yang ada pada diri Laura seperti yang ada pada mendiang istrinya.
"Kenapa akhir-akhir ini tidak pulang ke Mansion? Setahu ku tidak ada pekerjaan di luar kota. Kasian Angel selalu menanyakan keberadaan mu." Laura mulai membuka obrolan, menjadikan Angel tameng untuk alasan ia mendatangi Scoot hingga berani ke kantor.
Ya, setelah kepergian Luna dari Mansion, Scoot tidak pernah pulang ke Mansion. Ia lebih memilih tinggal sendiri di apartemen pribadinya, bahkan sedikit mengabaikan Angel.
"Aku sibuk," hanya kalimat singkat itulah yang keluar dari mulut pria tampan itu. Entah kenapa hatinya, lagi-lagi malas untuk membahas soal tidak penting itu.
"Apa karena mantan istrimu Luna?"
"Dia masih istri sah ku!" Scoot berucap dengan penuh penegasan.
Laura mengeram dalam hati, sungguh marah ketika mantan suami mendiang Kakaknya masih menganggap Luna adalah istrinya, padahal status mereka dalam proses perceraian.
Laura beringsut, mendekati scoot. "Kau sangat mencintai Kaka ku Lucy, dan lihat aku tidak ada bedanya dengan Lucy,' ucap Laura sembari meraba dada kokoh dan kekar itu.
Scoot, memejamkan mata merasakan rabaan lembut itu, bagaimanapun wajah Laura mengingatkan dirinya tentang Lucy.
" Aku ada di sini, siap menggantikan posisi Kak Lucy."
Dalam sekilas bayangan wajah cantik Luna terlintas begitu saja, hingga membuat Scoot menepis kasar tangan Laura yang tadi meraba-raba dadanya.
"Apa yang kau lakukan?" sentaknya dengan kasar.
"Aku akan menemui Angel, sebaiknya kau segera tinggalkan ruangan ini. Aku banyak pekerjaan!" dengan tidak langsung, lagi-lagi pria tampan itu mengusirnya.
"Baiklah. Kami akan menunggu kedatangan mu, sekalian makan malam bersama," ucap Laura, berusaha bersabar agar emosinya tidak meluap.
"Hmm,"
Laura, dengan langkah terpaksa keluar dari ruangan itu. Sebelumnya ia sangat berharap dapat berbicara banyak dengan Scoot, tapi nyatanya pria itu seperti engan untuk sekedar berbincang-bincang dengannya.
Scoot, mengusap wajahnya. Kehadiran Laura tadi membuat pikirannya semakin ke arah Luna. Ia tidak terima ketika Laura melontarkan kalimat mantan istri.
"Ada apa dengan ku?" gumam Scoot frustasi sembari memijit keningnya.
Menjelang malam
Seperti janjinya malam ini, Scoot ke Mansion untuk menemui putrinya dan sekaligus makan malam bersama.
Scoot memasuki Mansion dengan tatapan dingin, ke Mansion membuat ingatannya kepada Luna semakin tak terkendali. Kedatangannya di sambut oleh para pelayan karena Tuan mereka sudah cukup lama tak menginjakkan kaki di Mansion miliknya sendiri.
"Mana Angel?" tanya Scoot kepada Fanny.
__ADS_1
"Ada di ruang keluarga Tuan, sedang menunggu Tuan." Fanny menjawab sembari mengambil jas yang disampirkan Scoot di lengannya.
Tiba di ruang keluarga
"Dad," seru Angel dengan girang, hingga membuatnya beranjak dan berlari kecil. Dengan sigap Scoot mengangkat Angel, dan membawa ke dalam gendongnya. "Angel, sangat merindukan Dad. Kenapa Dad, jarang sekali pulang?" pertanyaan bertubi di lontarkan Angel.
"Dad, sangat sibuk sayang," sahut Scoot, berharap putri kecilnya itu mengerti.
"Dad, cari uang?" tanya Angel dengan polosnya.
"Pintar sekali!" Scoot mendaratkan kecupan di dahi Angel dengan kasih sayang. Hatinya sedikit hangat, ketika sedang bersama putrinya.
"Sebaiknya kita makan malam dulu, keburu nanti dingin. Untuk kangen-kangenan nanti saja lanjutkan," tiba-tiba Laura mencela, membuat Ayah dan anak itu melepaskan kerinduan masing-masing.
Angel, mengandeng tangan sang Daddy ke ruang makan. Dengan senang Scoot menuruti. Bahkan wajah yang semula dingin, kini tampak sedikit menghangat.
"Kau mau makan apa?" tanya Laura, sok perhatian penuh.
"Aku bisa sendiri, tidak perlu repot-repot," jawab Scoot dengan tatapan dingin.
Laura, melengos kesal hingga membuat decitan kursi berbunyi.
"Ada apa Mommy?" tanya Angel begitu polis.
"Maaf sayang, Mommy tidak sengaja. Hmm Angel, mau makan pakai apa?"
"Itu, itu!" tunjuk Angel ke beberapa hidangan di atas meja makan.
Dengan telaten Laura menaruhkan makanan yang diinginkan Angel ke dalam piringnya. "Makanlah sampai kenyang, sekarang sudah ada Daddy," ucapnya sembari mengecup sayang kepala Angel.
Scoot, tidak sengaja menangkap apa yang dilakukan Laura kepada putrinya yang tak lain adalah keponakan Laura.
"Semenjak kau tidak pulang, Angel sedikit cuek dengan pola makannya." Adu Laura sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Benarkah sayang?" Scoot sedikit khawatir atas aduan itu karena ia tidak ingin kesehatan Angel terganggu.
Angel, menjadi bimbang harus menjawab apa.
"Katanya karena merindukan Daddy-nya. Benarkah begitu sayang?" tanya Laura sembari mengedipkan mata ke arah Angel.
"Iya Dad, makanya jangan pergi lama-lama," ucapnya dengan manja. "Pokoknya malam ini Dad, harus tidur dengan Angel. Angel, masih rindu."
Scoot, menghentikan suapan makanan ke mulutnya ketika mendengar permintaan Angel.
"Plis Dad, kali ini saja," mohon Angel, bahkan dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Baiklah sayang, sekarang habiskan dulu makanan mu." Karena tak tega akhirnya Scoot memenuhi permintaan Angel.
"Yes, kali ini adalah kesempatan untuk ku melakukan sesuatu. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga ini!" Laura membatin dengan bibir tertarik sedikit.