
Usai mengatakannya Luna minta maaf kepada ketua hakim dan pengacara, lalu mengendong Angel, membawanya keluar melewati keluarganya.
Hakim ketua meninggalkan ruang sidang. Sementara Scoot dan yang lainnya menyusul Luna dan Angel.
"Terima kasih Mom," ucap Angel sembari menciumi pipi Luna dengan hati senang.
"Angel, janji jangan tinggalkan Mom lagi ya? Semua ini demi Angel," Luna membalas mengecup bertubi wajah mengemaskan yang sangat ia rindukan beberapa bulan itu.
Scoot menghela nafas, jantungnya berdebar ketika mendengar alasan Luna memutuskan akan rujuk, alias tidak cerai. Itu semua demi putrinya Angel.
"Kau sudah tahu, apa alasan Luna mempertahankan rumah tangga kalian. Untuk itu ikuti apa kata hatimu, buktikan bahwa kau sudah mencintainya," ucap Mom Ara kepada putranya.
Scoot akhirnya bisa bernafas lega, ketakutan luar biasa yang ia hadapi tidak terjadi. Wanitanya memutuskan bahwa tidak ada perceraian diantara mereka.
"Lukas, Britney dan juga kau Mike, ayo beristirahat di Mansion. Kami ingin bicara, dan biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka." Mom Ara menawarkan besannya untuk berkunjung.
"Bagaimana Dad?" tanya Mom Britney kepada suaminya.
"Baiklah, kami juga rindu ingin mengobrol seperti biasanya. Urusan anak-anak telah usai, dan saatnya mereka memperbaiki kesalahan masing-masing," ujar Dad Lukas.
"Aku sependapat, Lukas! Malam ini kita rayakan dengan sedikit minuman." Perkataan Dad Ben membuat Mom Ara melotot karena wanita itu tidak membiarkan suaminya meneguk minuman mengandung alkohol. Walaupun itu hanya satu gelas.
"Plis sayang, hanya segelas saja, untuk merayakan anak-anak kita."
"Sungguh tak punya perasaan, bersenang-senang di atas penderitaan orang. Hubungan kami masih renggang Dad, namun untuk apa Dad merayakan segala?" ujar Scoot dengan ketus.
"Itu deritamu! Kau yang menanam kau pula yang memetik. Jadi petik lah apa yang kau tanam!" usai menyindir, Dad Ben membawa rombongan meninggalkan gedung pengadilan. Sementara Scoot memandangi kepergian mereka menghembuskan nafas kesal. Namun kekesalannya tak bertahan lama ketika pandangannya beralih kepada istri dan putri mereka.
Scoot berjalan mendekati, di mana dua wanitanya sedang bermanja-manja. Bahkan tidak menyadari kedatangan dirinya.
Hmm
Deheman itu membuat tawa ke-duanya memudar, lalu masing-masing menoleh ke belakang.
"Dad, Angel lapar." Lapor Angel sembari mengusap perutnya berkali-kali.
"Kau lapar sayang?" tanya Luna dengan rasa kasian, dan dibalas anggukan.
"Kau memang anak yang cerdas. Dad, perlu kasih hadiah mahal untukmu sayang." Batin Scoot karena ini adalah momen kebersamaan mereka untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan makan siang di restoran Uncle Sam," ujar pria tampan itu sembari melirik Luna, ia ingin tahu bagaimana reaksi wanitanya itu.
Luna diam, seperti memikirkan sesuatu. "Kalau begitu Angel ikut Dad ya? Mom akan pulang bersama Opa, Oma."
"Mereka sudah pulang sejak tadi. Ke Mansion utama, bahkan berencana malam ini mengadakan pesta kecil-kecilan dengan minuman," terangnya dengan nada ketus karena mengingat bagaimana semangatnya Dad Ben merencanakan pesta itu.
"Pesta? Pesta apa? Bahkan mereka tidak bisa mengkonsumsi minuman beralkohol!" teriak Luna karena emosinya naik ketika mendengar minuman yang dimaksudkan.
"Kau marah kepadaku?"
"Maksudnya?"
"Buktinya kau berteriak!"
Seketika Luna menelan ludah, sebenarnya ia tak sadar dengan nada bicaranya. Sementara Angel menjadi bingung, bergantian melirik ke-dua orang tuanya.
"Apa kau tahu, mereka berpesta? Pesta menyambut kegagalan perceraian kita!"
"A-apa?" seru Luna sontak kaget.
Hmm
"Dad, Mom, Angel jadi pusing. Kalian berdebat seperti teman Angel saja," cibir Angel sembari menepuk dahinya.
*
Scoot membawa Luna dan putrinya ke apartemen. Ia tidak ingin Luna menginjakkan kaki kembali di hunian yang telah menyakiti batin dan fisiknya. Scoot tidak ingin masa lalu menghantuinya, maka untuk sementara mereka akan tinggal di apartemen, menunggu pembangunan rumah mewah itu siap dihuni.
"Kenapa Dad, membawa Angel dan Mom ke sini? Ini apartemen siapa?" tanya Angel ketika mereka baru saja tiba.
"Ini apartemen pribadi Dad, kita tidak akan pernah kembali ke sana. Untuk sementara kita tinggal di sini, mungkin satu bulan ke depan kita akan segera pindah. Dad, sudah membelikan rumah baru, dan yang akan mendesainnya sendiri adalah Mom. Bukankah begitu sayang?" terangnya, dan bertanya kepada Luna.
"Dad, bertanya kepada Angel?"
"Kepada Mom," sahutnya dengan mengedipkan mata menggoda melirik Luna yang kebetulan menatapnya.
Hanya godaan kecil saja membuat jantung Luna berdetak lebih cepat dua kali lipat. Hingga dengan segera ia membuang muka.
Makan malam
__ADS_1
Lagi-lagi keluarga kecil ini makan malam bersama. Keluarga kecil yang seutuhnya, dan berharap ke depannya tetap seperti ini.
Luna mengambil makanan ke piring Angel, ia sengaja memasak kesukaan putrinya itu. Sementara suaminya diam, menunggu giliran Luna yang akan mengambil makanan untuknya. Tetapi wanita itu tak kunjung melakukan sesuai harapannya.
"Sayang, kau engan mengambil makanan untuk suamimu?"
Luna mendongak, melihat jika piring itu masih bersih, alias kosong. Lalu ia menarik nafas, ada perasaan kesal.
"Biasanya juga ambil sendiri," sindir Luna karena begitulah kenyataannya, kadang pria itu tak sudi memakan masakannya, walau sudah bersusah payah ia mengolahnya.
Senyuman bahagia sejak tadi, kini memudar. "Baiklah biar aku ambil sendiri, kau jangan marah ya?" nada dan kalimat yang keluar dari mulut pria itu hampir saja membuat sendok yang ada di tangannya jatuh. "Ada apa dengannya? Sungguh aku sulit membedakan siapa pria ini dulu dan sekarang. Apa dia salah minum obat?" Keluh Luna dalam hati.
Mereka makan dalam diam, sementara Angel sejak tadi fokus ke chanel televisi. Di mana itu adalah film kartun favoritnya. Ia tak peduli dengan perdebatan orang tuanya.
"Masakan kau selalu enak." Puji Scoot, setelah makanan itu lolos masuk.
"Baru menyadari?"
Sindiran itu mengepak di hatinya, benar saja selama ini ia tidak pernah memuji tentang masakan Luna. Namun asal Luna tahu bahwa ia sangat menyukai masakan Luna.
Luna tersenyum getir, melihat pria itu hanya diam, melanjutkan makanannya. Itu menandakan bahwa sindirannya itu menyinggung perasaan target.
Setelah menikmati makan malam, tidak lantas membuat mereka ke kamar. Di sini mereka kembali berdebat, memperdebatkan harus tidur satu kamar.
"Kenapa kalian mempermasalahkan kamar? Asal kalian tahu Angel sangat senang bisa tidur bersama Dad dan Mom. Jadi apa yang dipermasalahkan?" akhirnya anak sok dewasa itu membuat ke-duanya diam. Scoot merasa menang ketika putrinya membantu memuluskan rencananya, walau Angel sama sekali tidak tahu. Sementara Luna tidak setuju, dan lebih memilih akan tidur di luar.
"Kenapa pria ini sangat cerewet? Bahkan melebihi Angel? Ayolah sayang, kau harus tahu bahwa ini tak mungkin." Keluh Luna dengan lemas, ia tidak tahu dengan alasan apa lagi untuk memberitahukan Angel.
Dengan sabar Luna maupun Scoot menemani putri mereka menonton kartun favoritnya yang tak kunjung selesai di tayangkan.
Huamp!
Angel menguap berkali-kali, matanya pun mulai meredup. Keluar cairan di ujung matanya karena sudah mengantuk.
"Mom, Angel sudah mengantuk. Ayo kita tidur," lirih Angel dengan suara parau.
Mau tidak mau Angel menuruti, jujur saja matanya sendiri juga sudah berat. Mereka beranjak memasuki kamar, kamar yang begitu luas dan rapi. Anehnya tidak ada sofa ataupun kursi di dalam sana.
"Angel di tengah ya?"
__ADS_1
"No Mom." Angel menggelengkan kepala. "Kata Ibu guru, anak perempuan tidak boleh tidur di samping Daddy-nya. Jadi Mom saja yang ditengah, oke?" Angel langsung mengambil posisi di tepi sebelah kiri dan membaringkan tubuhnya, ia tak peduli lagi karena rasa kantuk menguasai dirinya.
"Hah!"