PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 46


__ADS_3

Kini sebuah cafe yang menjadi pilihan mereka, dengan jarak beberapa meter saja dari taman bermain. Scoot sudah berusaha membujuk putrinya agar kapan-kapan ke sana, namun bukan Angel namanya jika melunak begitu saja.


Usai menikmati makan malam, mereka segera menuju taman. Di sana cukup padat karena kebetulan malam minggu.


"Angel, hanya satu jam ya?" Scoot memperingati.


"Satu jam? No Dad, tiga jam."


"Tolong kerja samanya sayang," ujarnya.


"Maksud Dad, apa? Sudah ah Angel mau naik itu. Ayo Mom," ucapnya sembari menarik tangan Luna.


"Dad, hari ini sangat lelah jadi perlu istirahat cepat."


Angel langsung terdiam, menatap Daddy-nya. "Baiklah Dad, Angel akan bermain selama satu jam."


"Yes!"


Dari jarak beberapa mereka menunggu Angel, dengan duduk saling berdampingan. Malam ini adalah malam yang spesial bagi mereka karena hubungan mereka dilandasi cinta.


Sejak tadi tangan Luna berasa dalam genggaman pria tampan itu, sesekali mengecupnya, membuat yang empunya tersipu malu.


"Apa kau bahagia?"


Luna menganggukkan kepala, disertai senyuman manis.


"Bagaimana weekend mendatang kita ke luar negeri, anggap saja honeymoon."


"Bukankah kita berencana untuk mengunjungi Dad dan Mom?" tanya Luna karena pria itu sendiri yang merencanakan.


"Bagaimana kita tunda saja dulu? Sepulang dari honeymoon, baru kita mengunjungi?" usulnya dengan hati-hati, khawatir wanitanya menjadi marah.


"Aku mengikut saja, mana yang baiknya," ucap Luna sembari membawa genggaman tangan itu ke wajahnya.


Satu jam berlalu, dan mereka memutuskan untuk pulang. Mau tidak mau Angel menurut karena tidak tega melihat Daddy-nya kelelahan.


Tepat pukul 10 malam mereka tiba di rumah. Langkah Luna terhenti tepat di depan pintu kamar Angel, sementara Angel sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang, malam ini kita tidur bersama. Mulai malam ini jangan tidur di kamar putri kita, aku tunggu!" ujar Scoot dengan memainkan mata. Hal itu membuat Luna tersipu malu.


"Iya, tapi aku menemani Angel hingga terlelap," katanya malu-malu.


Tiga puluh menit kemudian, Angel sudah terlelap. Luna pun beranjak keluar dengan baju sudah di ganti.


Langkahnya perlahan terhenti, tepat di kamar yang sebenarnya menjadi milik mereka. Jantungnya berdebar-debar saat ini, membayangkan apa yang akan terjadi.

__ADS_1


"Ya ampun kenapa aku takut sekali?" gumamnya sembari meremas jari-jemarinya.


Klek!


Pintu tiba-tiba terbuka semakin membuat Luna gugup, sementara pria itu menatap kaget karena tidak menyangka wanitanya sedang berdiri di luar pintu kamar.


"Sayang, kenapa tidak masuk? Aku berniat ingin menyusul mu, tidak tahunya istriku di sini."


Luna menelan ludah karena mendapati suaminya tanpa mengenakan baju. Kegelisahannya semakin memuncak.


"Angel, baru saja tidur," lirihnya tanpa berani menatap prianya.


Tanpa berpikir banyak, Scoot spontan menggendong Luna ala bridal, masuk ke dalam kamar, itu membuat Luna membulatkan mata.


Luna sontak kaget dengan apa yang dilakukan suaminya. Perlakuan manis yang selama ini belum ia dapatkan dari pria ini, namun malam ini apa yang menjadi impiannya terwujud.


Scoot mendudukkan wanitanya di atas meja rias, menata wajah Luna tanpa jarak. Mulai mencumbu bibir yang selalu membuatnya candu tertahan. Ciuman mereka semakin menuntut, semakin dalam hingga gairah dari masing-masing memuncak. Malam ini mereka kembali merasakan kenikmatan, kenikmatan dengan rasa penuh cinta.


"Aku mencintaimu sayang." Kecupan mendarat di kening Luna, sementara Luna sudah terkapar dengan sekujur tubuh penuh tanda sisa bukti percintaan mereka.


*


Satu bulan kemudian


Siang ini seperti hari biasanya, Luna masih setia mengantar makan siang untuk suami tercinta. Mereka setiap siang akan makan bersama di kantor. Dengan senang Luna memasak makanan kedukaan suaminya.


"Luna, tunggu!" panggilnya hingga membuat Luna membalikkan badan, menoleh ke belakang.


"Laura," gumam Luna ketika mengetahui siapa sosok yang memanggil namanya.


Laura berjalan dengan elegan mendekati Luna.


"Apa kabar? Hmm, sepertinya kau sangat bahagia," sindir Laura dengan tatapan sinis.


"Seperti yang kau lihat." Luna menyahut seperti keadaannya memang baik-baik saja.


"Ada yang ingin aku tunjukkan kepada kau, tapi tidak di sini."


"Aku tidak bisa karena suamiku akan menunggu, beberapa menit lagi jam istirahat kantor," ucap Luna sama sekali tidak tertarik dengan ajakan Laura.


Laura menatap sinis karena mengetahui hubungan diantara Scoot dan Luna membaik. Tapi bukan Laura namanya jika tidak bisa memaksa kehendaknya.


"Kau akan menyesal menolak ajakan ku karena ini menyangkut suamimu!" pancing Laura yang berhasil membuat Luna memikirkan sesuatu. "Bagaimana?"


Luna pun mengangguk karena penasaran, dan dia juga ingin berbicara dengan Laura, tentang masalah kepanjangan Laura. Ini kesempatan baginya karena selama ini Laura menghilang tanpa jejak, dan tiba-tiba muncul untuk mengajak dirinya.

__ADS_1


"Kita bicara di cafe depan," ucapnya sembari menunjuk sebuah cafe yang berada di sisi depan kantor.


Luna mengangguk, mengikuti Laura dari belakang masih dengan memegang rantang makanan yang terbungkus paper bag.


Tiba di cafe mereka menempati meja solo karena tidak ingin para karyawan kantor melihat mereka di sana. Kebetulan istirahat kantor tiba, kemungkinan karyawan makan siang di sana.


Ini keinginan Luna karena para karyawan pastinya mengenal dirinya.


"Langsung ke intinya saja karena aku tidak banyak waktu," ucap Luna tanpa ingin membuang waktu.


"Kau benar-benar tak sabaran, santai dong!"


"Suamiku pasti menunggu, dan aku tidak mau hal itu terjadi."


Laura menghela nafas dengan tatapan sinis. Wanita itu mengeluarkan smartphone dari dalam tas, lalu mengerikan sesuatu di layar benda pipih itu.


"Lihat ini, semoga kau senang." Laura memberikan benda pipih itu dengan senyuman menyeringai. Luna yang tidak paham menyambutnya, lalu dalam sekejap matanya melotot melihat apa yang terdapat dalam tayangan berdurasi tiga menit itu.


Hatinya sakit, hampir saja jantungnya meledak pada saat itu juga. Namun ia harus tenang tanpa beban, ia tidak ingin Laura melihatnya hancur.


Luna terkekeh-kekeh sembari memberikan kembali benda pipih itu, seusai diam-diam mengirim video yang sepertinya sudah di edit ke ponsel miliknya, tanpa menimbulkan sedikitpun guratan sedih di wajahnya.


"Kau tidak marah?" tanya Laura dengan konyol karena Luna sepertinya tak memperdulikan isi video tersebut.


Luna menggeleng


"Buat apa aku marah? Itu hanya masa lalu suamiku," sahut Luna dengan santai, bahkan disertai tawa kecil.


"Dasar wanita aneh!" bukan Luna yang marah melainkan Laura sendiri.


"Asal kau tahu, jika pelayanan mu kacau. Sepertinya suamiku kurang kurang merespon," sindir Luna karena kegiatan dalam video itu berbanding terbalik ketika suaminya itu berhubungan badan dengan dirinya.


Seketika Laura menelan ludah, spontan memalingkan wajah terkejutnya agar lawan bicaranya tak mencurigai raut wajahnya.


"Dia pria perkasa, aku sangat puas. Bahkan kami berulang-ulang melakukannya, bukan aku yang memulai, namun suamimu sendiri yang meminta. Hmm, siapa sih yang bakal menolak?" Laura semakin memanas-manasi hingga tangan Luna terkepal menahan amarahnya.


"Kau benar, bahkan aku tak bisa berkutik di bawah naungannya," sambung Luna mengikuti alur.


Laura tersenyum sembari menyesap minumannya.


"Baiklah, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku sudahi karena suamiku pasti khawatir," ucap Luna dengan menekankan sebutan suami.


Laura mengangguk dengan penuh kemenangan, namun tidak lama senyuman itu berubah sinis karena apa yang ia sangka tak sesuai harapannya. Luna sama sekali tidak mempermasalahkan video tersebut.


Luna beranjak, sebelum melangkah ia menatap Laura dengan bibir melengkung. "Jangan berusaha menghancurkan rumah tangga orang lain, ingat kau juga wanita. Kemungkinan akan melahirkan keturunan, takutnya karena berpihak kepada orang yang serakah." Luna pun melenggang pergi dengan wajah penuh kemenangan. "Masih banyak pria lajang di luaran sana!" melihat kembalinya Luna membuat Laura mendongak, rupanya paper bag kelupaan hingga membuatnya balik.

__ADS_1


Laura mengeram murka memandangi punggung Luna yang mulai menghilang. Umpatan demi umpatan menyemprot mulutnya hingga menjadi perhatian beberapa pelayan yang diam-diam memperhatikan Laura.


__ADS_2