PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 27


__ADS_3

Scoot masuk ke kamar mandi tanpa merespon pertanyaan yang Justin layangkan. Jujur saja ia bingung akan menjawab apa, sementara ia sendiri tidak paham dengan perasaannya kepada Luna. Selama kepergian Luna dari Mansion, pria itu merasa kehilangan sesuatu.


Justin terdiam sejenak, dengan pandangan ke pintu kamar mandi. Ia hanya bisa menghela nafas kasar karena tidak mendapat jawaban yang sudah beberapa hari ini menjadi pertanyaan di hatinya.


Klek!


"Apa aku mengaji mu untuk berdiam diri di situ?" Justin menelan ludah, tidak menyangka pria itu memergoki dirinya yang masih berdiri mematung.


"Maaf Tuan. Saya akan urus semuanya, hmm apa saya harus ikut juga?"


"Tidak, kau akan menghandle semua pekerjaan!"


Brak!


Dentuman keras daun pintu membuat Justin mengusap dadanya, tentu saja ia kaget karena suara itu cukup memekakkan telinga, untungnya pintu itu terbuat dari bahan berkualitas, andaikan saja terbuat dari triplek, mungkin sudah hancur tak berbentuk.


"Sedikit lembut apa salahnya sih?" Justin menggerutu dalam hati dan segera berjalan menuju pintu kamar, tidak ingin berlama-lama dengan pria kasar itu.


Sekian menit Scoot keluar dari kamar mandi. Mengedarkan pandangannya sejenak, ia berpikir Justin masih betah berdiam di kamar.


Dengan gerakan cepat ia mengenakan pakaiannya, berkaca sekilas memperhatikan penampilannya yang sempat kacau tadi malam.


"Tunggu aku!" gumamnya entah itu ditunjukan untuk siapa. Senyuman penuh makna terukir di bibir sensual itu.


Tepat di ruang utama Scoot bertemu dengan Fanny yang kebetulan baru pulang mengantar Angel ke sekolah.

__ADS_1


"Apakah Angel sekolah?"


"Iya, Tuan." Fanny menjawab sembari menunduk.


"Jemput dia, dan untuk satu minggu ke depan biarkan dia tinggal di Mansion utama. Sebelum aku pulang dari keluar kota jangan kembali."


"Baik Tuan."


Scoot melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam mobil menuju Mansion utama, kediaman orang tuanya. Kebetulan helikopter milik keluarga ditempatkan di sana.


Hanya memakan waktu 15 menit, kendaraan roda empat hitam biru Rolls-Royce Boat Tail adalah koleksi kelima dari seorang Scoot Brylee. Tiba di Mansion utama, langsung menuju landasan helikopter yang berada dirooftop, tanpa ingin bertemu dengan ke-dua orang tuanya karena menurutnya tidak ada waktu.


Untuk ke sana membutuhkan waktu dua jam. Sepanjang penerbangan pria itu tak berhenti mengoceh karena waktu dua jam sungguh sangat lama.


Tiba di kota X, Scoot memutuskan akan beristirahat di hotel. Menunggu jadwal kapal penyeberangan. Walaupun tidak sabar Tapi ia tidak bisa bertindak karena kesulitan akses jalan.


*


Usai makan malam keluarga Lukas berkumpul di ruang utama yang sempit.


"Sayang, bagaimana sidang perceraian kalian?"


Luna yang ditanyakan oleh Mom Britney, hanya bisa menunduk. Ia mendapat kabar dari pengacara bahwa sidang pertama gagal dengan suatu alasan yang tak jelas.


"Mom tidak menyangka jika berakhir seperti ini, selama ini Mom menikmati hingga bahagia di atas penderitaan mu. Mom, minta maaf sayang, walau kata maaf ini sudah terlambat." Wanita paruh baya yang memiliki lesung pipi itu meneteskan air mata sembari memegang dadanya yang terasa sangat sesak.

__ADS_1


"Dad, sudah gagal menjadi kepala keluarga hingga menyampingkan urusan pribadi mu sayang. Dad, benar-benar pria bodoh yang tidak bisa menjaga anak gadisnya. Dad, minta maaf, walaupun tidak ada manfaatnya lagi karena semuanya sudah terjadi."


Luna menggelengkan kepala dengan tatapan sendu, kalimat sesal yang di lontarkan oleh ke-dua orang tuanya sangat menyesakan dada hingga menusuk sampai ke relung hati.


"Mom, tidak ada yang perlu disalahkan, bahkan disesali. Ini bukan salah Mom, atau yang lainnya. Ini murni kesalahan yang diciptakan Luna, ini takdir untuk Luna Mom, Dad, Mike!" akhirnya Luna meledak-ledak setelah terdiam cukup lama.


"Seandainya Kakak beritahu sejak awal apa yang sesungguhnya terjadi, maka semuanya tak seperti ini Kak. Bukankah dari awal kita hidup penuh kebahagiaan? Walaupun hidup penuh kekurangan tapi— Arghh sudahlah tak ada gunanya lagi!" Mike pun jadi terbawa perasaan, perasaan marah karena menghadapi kenyataan apa yang terjadi kepada Luna, Kakak satu-satunya. Sejak kejadian waktu itu Mike hanya bisa memendam kemarahan dalam hati dan baru meluapkan isi hatinya.


"Luna minta maaf. Maaf sudah menciptakan kekacauan. Maaf sudah merubah sesuatu yang manis menjadi pahit. Ini sudah takdir Luna, jadi tolong jangan salahkan diri sendiri. Luna minta tolong jangan bahas soal ini lagi, itu adalah masa lalu yang ingin Luna kubur dalam-dalam, walau tak semudah itu, tapi apapun rintangannya Luna akan berusaha." Usai mengatakan itu Luna beranjak, lalu menghentikan langkahnya. "Luna cari angin segar dulu, jadi biarkan pintu tak di kunci. Dad, Mom sebaiknya istirahat, bukankah seharian ini sangat melelahkan? Dan kau Mike, tetap belajar." Luna kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu.


Tepat di halaman bangunan tua itu, Luna duduk di sebuah kursi udang yang terdapat di halaman rumah dengan pencahayaan lampu tidak terlalu terang. Angin malam menerpa seluruh tubuhnya tapi tak membuat wanita cantik itu beranjak.


Seketika tangisan yang sejak tadi ditahan kini pecah seketika. Luna meluapkan emosi, kesal, sedih dan masih banyak lagi yang bersarang dalam hatinya.


"Seharusnya aku tak pernah dilahirkan di dunia ini! Jika hanya membuat orang yang sangat aku sayangi terluka. Kesedihan bahkan tangisan mereka begitu menyakitkan. Apakah aku berhak menyalahkan takdir? Tolong, jawab pertanyaan ku ini!" Luna menangis histeris, menatap ke atas langit yang di penuhi bintang, menunggu jawaban yang mustahil dijawab. Luna menyalahkan takdir hidupnya yang tak beruntung seperti impian masa, kecilnya dulu.


Luna tersenyum miris, mengusap air mata yang tak hentinya mengalir. Ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi untuk masa lalunya, tapi tak semudah itu. Luna hanyalah manusia biasa, tentu saja lemah dalam setiap masalahnya, sama seperti wanita-wanita di luar sana.


Setiap Luna ingin mengubur masa lalu, spontan saja wajah cantik dan mengemaskan Angel menari-nari dalam kenangannya. Lebih sialnya lagi, wajah dingin tampan pria itu membuat ketenangannya terganggu, bahkan setiap saat menutup mata wajah tampan itu menjadi bunga tidurnya.


Luna menjadi frustasi sendiri karena mulut dan hatinya tak sejalan, memiliki tujuan masing-masing. Semakin ingin melupakan, semakin dalam untuk mengingat.


Luna beranjak dari kursi usang itu. Kembali menadah kepalanya ke atas, dengan tatapan tanpa tujuan. "Apa aku tidak berhak bahagia? Walau hanya sedetik saja?"


"Setiap orang berhak bahagia, termasuk kau!"

__ADS_1


Deg!


__ADS_2