
Melihat keberanian Luna amarah yang sejak tadi menguasai dirinya membuat Scoot mencengkram kedua bahu Luna hingga menciptakan kesakitan disisi masing-masing.
"Apa kau tahu bagaimana Angel menangis mencari kau!" bentak Scoot tanpa melepaskan cengkraman kasar tersebut. Luna melebarkan mata mendengar nama Angel apa lagi suaminya itu mengatakan bahwa putri mereka menangis mencari dirinya. Tetapi sesaat Luna tidak akan lengah lagi, ia sudah berjanji akan merubah sikapnya yang sejak dulu begitu lembek hingga pada akhirnya selalu menerima hinaan.
Bayangan Luna dan lelaki yang sengaja di foto anak buahnya membuat Scoot semkin murka.
Dengan sekuat tenaga Luna mendorong dada kekar itu hingga membuat cengkraman di kedua bahunya terlepas karena kebetulan Scoot mengurangi cengkraman tadi.
"Aku tidak peduli!" dengan berat hati Luna melontarkan kalimat itu, kalimat yang tak pernah terbenam dalam isi kepalanya.
"Kau!"
"Aku sadar dengan posisiku di rumah ini, di kantor dan di manapun itu! Diriku hanya sebagai peran pengganti yang kebetulan mirip dengan almarhum istrimu! Angel bukanlah putriku tapi putrimu dengan wanita yang sampai sekarang belum bisa kamu move on! Aku tidak peduli lagi dengan Angel!" Luna meluapkan seluruh isi hatinya yang pastinya karena sudah diliputi amarah luar biasa, hingga tidak sadar dengan yang tak perlu dilontarkan.
"Dad, Mom."
Hiks....
Deg!
Seruan Angel di balik pintu kamar sembari menangis membuat pertengkaran antara mereka berhenti.
"Sayang," lirih Luna dengan mata membulat tak percaya bahwa ternyata Angel memergoki pertengkaran mereka. Entah sejak kapan anak kecil itu mendengar pertengkaran mereka. "Sayang, Mom." Luna berjalan dengan kedua kaki gontai bermaksud mendekati Angel.
Angel menggeleng ketakutan, memundurkan tubuhnya semakin memepet daun pintu.
"Mom tidak sayang dan peduli pada Angel lagi," lirih Angel disertai tangisan dan gelengan kepala.
Luna maupun Scoot membeku melihat berapa sedihnya putri mereka berbicara sebagai seperti itu.
Luna menggeleng sebagai jawaban dari tuduhan itu. "Tidak sayang, Angel hanya salah dengar, Mom sangat menya—"
"Mom bohong!" usai berteriak dengan lontarkan kalimat itu Angel berlari pergi.
"Angel sayang," panggil Luna ingin mengejar Angel yang pastinya pergi ke kamarnya tetapi langkah Luna terhenti ketika lengannya dicekal dari arah belakang.
"Kau puas sekarang? Berhasil membuat putriku menangis?" cemooh Scoot menyalahkan sepenuhnya pertengkaran itu kepada Luna.
__ADS_1
Luna bungkam, jika menyangkut Angel dunianya seakan tak berwarna. Keberanian yang pada awalnya berkobar kini seperti sang pengecut.
Mengingat tangisan Angel tadi membuat Luna terenyuh, belum lagi ucapan yang keluar dari anak kecil itu. Itu membuat hatinya pilu.
Scoot semakin murka melihat jaket yang ada di tubuh Luna hingga membuatnya membuka paksa jaket tersebut dan melemparkannya ke lantai, tidak habis itu ia menginjak-injak jaket tersebut dengan sorot mata memerah.
Luna tersentak kaget dengan apa yang dilakukan Scoot. "Apa yang kau lakukan?" dengan spontan Luna meraih jaket yang saat ini diinjak-injak.
Scoot berdecih melihat betapa inginnya Luna menyelamatkan jaket tersebut. Lalu ia mendekap kedua pundak Luna, membawanya masuk kedalam kamar mandi. Menyirami seluruh tubuh Luna dengan air shower, memberi sabun disepanjang tubuh polos itu.
"Aku tidak ingin ada jejak orang lain di tubuhmu!" kata pedas dan tuduhan itu membuat Luna meradang.
"Lepaskan!?" Luna meronta ingin dilepaskan tetapi sayangnya tenaga Scoot lebih kuat dibandingkan dengan dirinya.
Scoot menyeret Luna karena Luna menolak.
Akh!
Luna menjerit kesakitan karena tubuhnya dilempar ke atas ranjang dengan kasar. Tanpa peduli dengan jeritan Luna, Scoot melakukan tubuh Luna dengan kasar. Bahkan sangat menyakitkan bagi Luna.
Malam ini mereka melakukan hubungan intim yang tak biasa. Scoot menorehkan luka mendalam, hingga membuat Luna trauma.
"Aku benci, sangat membencimu!" batin Luna sembari mengusap air matanya. Sementara Scoot langsung terlelap tanpa peduli dengan apa yang dirasakan Luna atas perlakuan kasarnya itu.
*
Pagi hari menunjukan pukul tujuh. Luna mengerjapkan mata, membukanya perlahan. Ia menoleh ke samping melihat jam yang sengaja diletakan di atas nakas. "Aku kesiangan," lirih nya sembari memijit ujung keningnya.
Di liriknya ke samping kiri, mendapati Scoot masih terlelap dengan sangat nyenyak seperti tidak ada beban.
Melihat sosok itu membuat darah Luna mendesir marah, tiba-tiba niat buruk menguasai pikirannya. Tidak ingin terjebak dengan pikiran jahat Luna segera beranjak dari tempat tidur.
Akh!
Desis nya merasakan intinya sedikit perih, bukti kekasaran Scoot padanya tadi malam. Mengingat hal itu membuat Luna menatap sendu sebuah foto besar yang tergantung indah di dinding kamar mereka. Itu adalah foto istri pertama suaminya. Dari itu sudah dapat disimpulkan jika pria itu masih belum bisa move on.
Tiba di kamar mandi Luna merendam sejenak tubuhnya dengan air hangat dan ditambahi aromaterapi, agar otot-otot tubuhnya yang terasa pegal sedikit terobati.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit waktu buat Luna berendam hingga membuatnya teringat kepada Angel. Spontan saja Luna bangkit dan mengakhiri ritual mandinya.
Di meja makan
Angel hanya menatap dengan raut wajah sedih sarapan yang tertata di atas meja. Sudah hampir dua puluh menit ia berdiam diri di sana tanpa ingin menyentuh menu sarapannya.
Sejak tadi Fanny membujuk dirinya untuk segera menghabiskan sarapannya tetapi Angel kekeh tak menggubris.
"Selamat pagi sayang," tiba-tiba lamunan Angel membuyar mendengar bahkan merasakan sentuhan halus di pucuk kepalanya.
Luna menelan ludah karena sapaan yang selalu ia lontarkan setiap paginya tak mendapat balasan. Luna duduk di samping Angel, menatap sarapan yang masih utuh dengan dada sesak. Ia tahu bahwa putrinya ini benar-benar marah atas kejadian tadi malam.
"Sayang, kok sarapannya tidak dimakan? ntar makanan dan minumannya nangis loh," ucap Luna seperti membujuk. Tapi kali ini bujukan nya tak mendapat respon sedikitpun. Angel bahkan membuang muka ke arah lain.
"Aunty Fan, antar Angel ke Mansion Oma," panggil Angel ketika tidak sengaja melihat sosok pengaruhnya yang kebetulan lewat.
"Sayang, bukankah siang nanti kita sama-sama ke Mansion," ucap Luna karena malam ini mertuanya mengadakan pesta, pesta Anniversary mereka. Sementara kedua mertuanya beberapa bulan ini berada di luar negeri dan baru kemarin tiba.
"Ayo Aunty," desak Angel setelah beranjak dari kursi makan, menghampiri Fanny.
"Nona sarapan dulu ya? habis itu baru Aunty antar," bujuk Fanny.
Angel menggeleng. "Angel akan sarapan di Mansion Oma saja. Ayo, Angel tidak nyaman berada di sini," celoteh Angel seperti orang dewasa saja. Kalimat yang baru kali ini menyesakan dada bagi Luna yang dapat mencerna ucapan anak itu. Itu adalah sebuah sindiran untuk dirinya.
Fanny menoleh ke arah Luna seperti meminta persetujuan terlebih dahulu. Fanny sedikit bingung karena mendapati perubahan interaksi Nyonya dan Nona nya sangat berbeda dari biasanya.
Luna mengangguk paksa karena tidak ingin Angel semakin kesal kepadanya, andai saja ia melarang Fanny untuk mengantarkannya.
"Sayang, nanti malam Mom menyusul. Fan bawa baju ganti, gaun yang kemarin kita pesan," ucap Luna.
"Tidak perlu Aunty, Angel tidak ingin memakai gaun itu. Bawa saja gaun pilihan Angel sendiri," cicit Angel tidak ingin memakaikan gaun yang sudah mereka pesan, bahkan gaun itu adalah couple.
Luna tertegun mendengar penolakan Angel hingga membuat kedua bola matanya berkaca-kaca. Luna melangkah, mendekati bidadari kecilnya yang mampu membuatnya betah dan bertahan selama dua tahun.
"Sayang Mom minta maaf. Mom sangat menya—"
"Angel benci Mom!"
__ADS_1
Deg!