PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 11


__ADS_3

"Sepertinya pesta telah usai," ucap wanita itu berjalan dengan elegan.


"Lucy!" gumam semua yang ada di sana, kecuali Luna.


"Mommy!" kini giliran Angel yang bergumam, hingga membuatnya berlari kecil, lalu memeluk sosok yang kini tengah berdiri sembari membawa buket bunga.


Semuanya membeku. Satu patah katapun tak keluar dari mulut masing-masing.


"Siapa dia?" Luna bertanya, walau dalam hatinya sudah memastikan karena wajah itu sangat mirip dengan istri pertama suaminya.


"Mommy," seru Angel kembali dengan polosnya memeluk kedua kaki wanita itu.


"Kamu siapa?" akhirnya Mom Ara tersadar dari keterkejutannya.


Wanita itu berjongkok, menyetarakan tubuhnya dengan Angel. Mengusap kepala Angel dengan raut wajah sedih. Wanita itu membawa Angel ke dalam gendongannya.


"Bolehkah aku duduk?" tanya wanita itu dengan nada yang lembut.


"Silahkan!" Luna yang menjawab, sementara yang lainnya masih bingung. "Angel sayang, sini bersama Mom!" Luna berjalan, mendekati wanita itu dengan tangan terulur, bermaksud mengambil Angel.


Angel menolak dengan kepala menggeleng. Seketika dada Luna seperti di hantam sesuatu hingga membuatnya sulit untuk bernafas. Terpaksa membuatnya kembali duduk, di tempat asalnya dengan raut wajah sedih.


"Kau tumbuh dengan sehat, sangat cantik!" ucap wanita itu kepada Angel sembari mengelus surai indah rambut Angel.


"Siapa kau?" Mike melayangkan pertanyaan.


Wanita itu mendongak, menatap silih berganti beberapa orang, dan tepat terakhir kepada pria paling tampan, yaitu Scoot.


Wanita itu menarik nafas dalam-dalam, sebelum mengungkapkan siapa identitas dirinya.


"Fan, bawa Angel pulang lebih dahulu. Bawa saja ke mansion utama!" perintah Mom Ara kepada pengasuh Angel.


Fanny mengikuti apa yang diperintahkan. Di ambilnya Angel dari dekapan wanita itu. "Angel tidak mau, Angel ingin bersama Mommy!" rengek Angel, menolak dan menepis tangan pengasuhnya.


"Angel!" bariton tegas itu membuat penolakan Angel terhenti.


"Sayang, ikuti apa yang dikatakan Oma. Setelah ini Mom, akan menyusul," ucap Luna dengan lembut.

__ADS_1


Angel melirik Luna sesaat, tidak lama kembali menatap wanita yang sedang memangku dirinya.


"Sayang, ikuti apa yang dikatakan Oma dan Dad, ya?" ucap wanita itu tak kalah lembutnya dari Luna.


"Iya Mom," sahut Angel langsung menurut begitu saja, bahkan ia mengabaikan apa yang dikatakan Luna. Luna menatap dengan pilu, anak kecil yang berhasil membuatnya bertahan selama ini telah menjaga jarak dengan dirinya, hanya sebuah kesalahan atas emosi yang tak bisa terkontrol.


Mom Ara dan Dad Ben saling memandang ke arah Luna, dimana saat itu Luna hanya menunduk dengan perasaan sedih. Mereka dapat menyimpulkan bahwa menantu mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Dad Ben menegakkan tubuhnya sembari melipatkan kedua telapak tangannya.


"Harap semua tenang!" Dad Ben mulai membuka suara. "Maaf sebelumnya jika kami semua di sini mengira Anda adalah Lucky. Lucy, adalah menantu kami yang telah meninggal dunia 6 tahun silam," pungkas Dad Ben langsung bicara ke inti penasaran mereka. "Sebenarnya Anda siapa?" imbuhnya.


Wanita yang ditanyain segera menegakkan tubuhnya.


"Maafkan saya karena kedatangan saya tanpa diundang. Saya adalah kembaran Lucy, kami dipisahkan sejak bayi karena ada suatu kesalahan dari pihak rumah sakit," terang wanita itu tanpa ada perasaan gugup sama sekali.


"Tidak masuk akal!" sela Mike karena menurutnya sangat janggal, kenapa wanita itu baru datang sekarang.


"Mike, beri waktu untuk dia menjelaskan!" ujar Dad Ben.


Wanita itu tersenyum kecil, perasaannya menjadi kurang baik setelah mendengar pendapat sapaan dari salah satu keluarga Brylee.


"Lalu untuk apa Anda datang ke keluarga kami?" sekali lagi Mike mencela, sangat terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai kembaran mantan Kakak iparnya tersebut.


"Jangan katakan, Anda ingin merusak rumah tangga orang!" timpal Joe dengan tatapan tidak suka.


"Kami akan mencari informasi yang akurat, untuk memastikan!" sambung Carlos. Carlos adalah satu-satunya yang mengabdi negara.


"Hmm, sebaiknya kita pulang. Dad, Mom, Kak ipar, kami pulang lebih awal," ujar Steven.


Dad Ben, Mom Ara, dan juga Luna hanya bisa mengangguk. Sementara Scoot maupun Laura terdiam karena nama mereka tidak disebutkan.


"Tunggu!" langkah ke empat pria tampan itupun terhenti ketika mendengar seruan Luna. "Boleh aku ikut? Aku akan menginap di Mansion utama," ucap Luna sembari bangkit dari tempat duduknya.


Scoot menatap Luna tetapi sepatah katapun engan keluar dari mulutnya.


"Tentu saja Kakak ipar," sahut Mike mewakili saudaranya, dan mendapat anggukan dari mereka.

__ADS_1


"Dad, Mom, Luna pulang duluan," ucap Luna kepada kedua mertuanya.


"Iya sayang, Mom dan Dad mungkin beberapa menit lagi juga menyusul kalian," sahut Mom Ara dengan senyuman penuh sayang. "Jaga Kakak ipar kalian," pungkasnya kepada ke empat putranya.


Luna melangkah tanpa berpamitan dengan Scoot, bahkan hanya sekedar melirik saja ia engan lakukan itu. Ketika bergabung dengan ke empat Adik iparnya Luna tersenyum kecut karena ternyata pria yang adalah status suaminya itu, sama sekali tidak mencegah dirinya untuk pulang lebih dulu. Luna menarik nafas, sekarang ia sadar jika sosoknya sama sekali tak berarti. Bisa saja sekarang Scoot berpindah ke lain hati, hanya melihat wanita itu sangat mirip, bahkan tidak bisa dibedakan dengan mantan istrinya.


Di dalam mobil


Luna menaiki kendaraan roda empat bersama Carlos dan Mike, sedangkan Steven dan Joe mengikuti dari belakang.


Sepanjang jalan menuju Mansion utama kedua mertuanya hanya terdiam, dengan pandangan ke luar jendela.


"Kak ipar ada apa? Sepertinya hubungan kalian ada masalah?" akhirnya Mike tidak bisa mendiamkan Luna.


"Cerita lah kepada kami," sambung Carlos.


"Dari awal hubungan kami memang tidaklah baik," lirih Luna, berbicara yang sebenarnya.


"Ada apa dengan Angel? Sepanjang pesta anak itu menjaga jarak dengan Kakak ipar. Sebagaimana yang kami ketahui bahwa Angel sangat dekat, bahkan begitu lengket dengan Kakak ipar," tutur Mike.


Luna menarik nafas, memutuskan pandangannya ke luar jendela. Memandang lurus ke depan dengan raut wajah sendu.


Luna pun menceritakan kronologi kenapa Angel berubah sikap kepadanya. Luna mati-matian menahan air mata agar tidak keluar. Ia tidak ingin orang-orang menganggapnya cengeng dan lemah.


"Kakak memang brengsek!" umpat Mike kepada Scoot.


"Apa Kak ipar mencintai Kak Scoot?" pertanyaan Carlos membuat Luna membeku, baru kali ini ia mendapat pertanyaan tentang perasaannya setelah dua tahun mengarungi rumah tangga dengan Scoot.


"Jawab Kak ipar!" desak Mike ingin tahu perasaan Luna yang sebenarnya.


Luna menggeleng, sebagai jawabannya.


"Bagaimana bisa kalian menjalani kehidupan tanpa cinta? Sungguh masalah yang tidak mudah. Kakak ipar cantik, baik dan pokoknya perfect tetapi sangat disayangkan mendapati seorang suami seperti dia! Buat apa dipertahankan? Kak ipar berhak bahagia, atas pilihan Kakak sendiri." Mike sungguh terbawa emosi.


Luna hanya bisa menunduk, apa yang dikatakan Mike sangatlah masuk akal. Tetapi untuk mengakhiri semuanya butuh proses yang tidak mudah. Mengingat rasa sayangnya kepada Angel yang ia sudah anggap anak sendiri.


"Sebenarnya kalian saja yang belum menyadarinya!" tutur Carlos sembari konsentrasi menyetir.

__ADS_1


Kalimat yang dilontarkan Carlos membuat Luna mendongak, melirik sekilas ke bagian kemudi. Ia belum dapat mencerna apa yang dikatakan Carlos.


__ADS_2