PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 15


__ADS_3

Tanpa menyadari Scoot yang sedang memperhatikan interaksi dirinya dengan Angel yang sedang tidur, Luna mencurahkan kasih sayangnya.


Luna tak henti-hentinya menaruh hidungnya di dahi Angel, mengecup dengan dalam.


Tidak ingin tidur Angel terusik, ia memutuskan ingin ke kamar mandi. Rasa kantuk mulai mempengaruhi kesadarannya, tidak ingin tertidur sampai besok pagi Luna membasuh wajahnya. Sangat terlihat dengan jelas matanya sembab akibat semalaman menangis.


Usai membasuh wajahnya, Luna kembali keluar. Kebetulan tenggorokannya kering, hingga membuatnya terpaksa melangkah mendekati sofa karena air mineral diletakkan di sana.


Langkah Luna terhenti ketika mendapati sosok Scoot tidur meringkuk di atas sofa tanpa menggenakan selimut. Entah alasan apa yang menggerakan hati Luna untuk berjalan ke arah lemari. Membuka lemari, mengeluarkan satu buah selimut tebal.


"Apa gunanya ada kasur di sini? Lebih memilih sofa," Luna bersungut-sungut. Ya, kamar rawat pribadi itu memang sangat luas, bahkan tersedia kasur beserta lemari. Pantri juga terdapat dalam kamar rawat itu.


Sebelum menyelimuti Scoot, Luna menatap lekat-lekat pria yang berstatus suaminya itu. Selama menikah, dirinya hanya berani menatap intens Scoot ketika ia sedang tidur. Tidak dipungkiri jika hatinya mengatakan bahwa pria ini sangatlah tampan, tapi sayangnya mereka menikah tanpa didasari cinta.


Masalah ranjang Scoot berhasil membawa dirinya melayang-layang, selayaknya pasangan suami istri yang didasari cinta. Tak dipungkiri bahwa Scoot menyentuhnya begitu lembut, tetapi tak dipungkiri lagi hatinya kecewa ketika pria itu ingin mencapai puncak.


Luna menggeleng. Tidak ingin terjebak, tiba-tiba ingatannya pada kejadian beberapa hari yang lalu, dimana Scoot melakukan kekerasan dalam pergulatan mereka, membuat rasa trauma mendalam untuk Luna.


Seketika rasa marah, benci kini campur aduk, menguasai dirinya. Karena rasa kemanusiaan ia terpaksa menyelimuti Scoot.


Usai itu ia bergegas ke brankar Angel. Memilih menjaga Angel dengan duduk di kursi.


"Sudah pukul empat," gumam Luna, setelah melirik jam di pergelangan tangannya, disertai mulutnya menguap, menandakan ia sangat kantuk.


Untuk mengusir rasa kantuk, Luna mengeluarkan smartphone dalam tas. Membuka galeri foto maupun video yang pastinya tersimpan banyak momen dirinya dengan Angel.


Luna tersenyum sendu melihat dimana video Angel sedang menyanyikan happy birthday ketika dirinya berulang tahun tiga bulan yang lalu.


"Kau sangat lucu dan menggemaskan sayang, bagaimana bisa Mom kehilangan dirimu," keluh Luna dalam hati dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Sementara di sofa, Scoot membuka kedua matanya. Memandangi sebuah selimut yang menutup seluruh tubuhnya sampai leher.


Bergerak perlahan, ingin melihat apa yang dilakukan Luna di brankar putrinya. Di sana ia memandangi sosok itu sedang duduk di sebuah kursi dengan kepala kadang jatuh pada sandaran kursi, dapat dipastikan Luna sedang menahan kantuk.


Saat ini menunjukan pukul setengah enam pagi.


Lama memandang, spontan saja Scoot merubah posisi tidurnya. Menyadari Luna tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju pantri.


Ya, Luna ingin memasak bubur dan memotong buah-buahan buat Angel. Dengan telaten Luna menyelesaikan sarapan pagi untuk putrinya.


Sayup-sayup terdengar seorang masuk kedalam kamar, hingga membuat Luna segera keluar dari pantri. Ia tahu jika yang datang adalah suster.


"Pagi Nyonya, maaf kedatangan saya menganggu," sapa sang suster.


Luna mengangguk. "Sus, sarapan untuk Angel sudah saya persiapkan. Oya jangan katakan bahwa itu masakan saya," ucap Luna memberitahukan.


Tidak ingin Angel terbangun dan melihat dirinya, Luna segera meraih tas dan berjalan ke arah pintu. Sebelum menutup pintu, pandangannya sekilas ke sofa, dimana saat itu Scoot telah terbangun dari tidurnya. Seketika pandangan mereka bertemu. Luna membulatkan mata karena ia merasa tertangkap basah.


Luna menelan ludahnya, lalu segera bergegas menutup pintu kamar, berlari kecil menuju lift khusus dengan jantung berdegup kencang.


Luna salah jika menganggap Scoot baru saja bangun, padahal selama itu Scoot terjaga hingga pagi menjelang, dan mengetahui apa yang ia lakukan.


Scoot tak tinggal diam, ia segera beranjak. Tanpa sepatah katapun yang ditinggalkannya kepada sang suster yang sedang memeriksa Angel.


Luna segera masuk kedalam lift, tangannya terulur ingin memencet tombol tetapi kedatangan Scoot yang tiba-tiba, menepis tangannya hingga membuat matanya membulat kembali.


Luna mundur sampai punggungnya menyentuh dinding, terdiam tanpa ingin berbicara sepatah kata.


"Bukankah Angel tidak ingin kau menjaganya? Kenapa berani sekali ma—"

__ADS_1


"Aku hanya mengintip dari ambang pintu, apa itupun tidak boleh?" potong Luna dengan raut wajah sinis.


Scoot mengepalkan tangan, apa yang dikatakan Luna itu adalah bohong. Bahkan ia tahu bahwa Luna semalaman menjaga putrinya.


"Angel, tidak membutuhkan di—"


"Ya, aku tahu karena sekarang Mommy barunya sudah kembali. Aku mungkin tidak dibutuhkan lagi!" lagi-lagi Luna memotong ucapan Scoot. "Tunggu apa lagi, untuk mengakhiri semuanya!" sambungnya dengan tegas, bahkan senyuman tipis tercetak di bibirnya. Tapi jangan salah, karena senyuman itu adalah kebalikan dari hati dan perasaannya.


Spontan saja membuat Scoot mencengkram erat pergelangan tangan Luna. Entah kenapa dadanya berdenyut ketika Luna melontarkan kalimat yang terakhir.


"Lepas!" Luna meronta untuk dilepaskan. Entah kenapa lift tersebut begitu lambat sekali. "Sakit," lirih Luna dengan nada kesakitan hingga dengan spontan Scoot melepaskan cengkraman itu.


Ting!


Pintu lift akhirnya terbuka. Luna melangkah panjang dengan buru-buru, ingin menghindari Scoot. Tetapi hatinya merasakan kejanggalan karena Scoot meninggalkan Angel yang sendirian hingga membuatnya membalikan badan.


"Siapa yang menjaga Angel? Apa kau tidak bisa sekalipun meluangkan waktu? Putrimu sedang terbaring lemah tetapi—"


"Aku tidak perlu diingatkan! Dan butuh ceramah darimu!"


Luna geram, ada rasa menyesal karena sudah mengingatkan pria itu, seharusnya ia tidak membuang waktu cuma-cuma jika mendapat jawaban diluar dugaan. Luna kembali melanjutkan langkah dengan tatapan sinis. Berusaha bersikap tenang karena saat ini keadaan mereka sedang di rumah sakit, yang pastinya banyak orang disekitar. Bagaimanapun Luna menjaga kehormatan keluarga Brylee yang sudah disematkan dalam namanya.


Tiba di basement Luna langsung masuk kedalam mobil, yang didalamnya sudah menunggu supir pribadi. Sementara Scoot naik kedalam mobilnya dengan penampilan kacau.


Sepanjang jalan Luna hanya terdiam, memandang ke luar jendela. Rasa kesal, jengkel dan kecewa masih saja menguasai dirinya.


Andai saja hal tidak terjadi dalam hubungannya dengan Angel, mungkin saja saat ini ia yang menyuapi, menghibur dan melakukan hal lain untuk Angel.


Luna semakin merasa bersalah, merasa sudah gagal menjadi Ibu sambung yang baik untuk Angel. Karena tidak bisa mengimbangi emosinya, hingga berakibat fatal. Dimana hubungannya dengan Angel renggang.

__ADS_1


__ADS_2