
Angel sangat polos, membuatnya tidak tahu atas perasaannya. Luna menyudahi, dan tidak lupa menciumi wajah cantik itu. Anak yang sudah ia rawat selama dua tahun lebih.
"Ayo, Mom," lirih Luna kepada Mommy-nya dan juga Mom Ara.
"Beri aku untuk berbicara empat mata!" suara bariton itu membuat langkah semua orang berhenti.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, atau apa semuanya belum jelas?" seru Luna tanpa membalikkan badan.
"Kau benar, maka dari itu aku ingin bicara kembali tetapi hanya kita berdua!" itu hanya sebuah alasan semata, karena pada dasarnya Scoot sudah paham.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, semuanya sudah jelas. Kau bukan orang bodoh tidak bisa mencerna setiap kalimat yang sudah dilontarkan. Ayo sayang, nanti kalian terlambat." Bukan Luna yang menjawab tetapi Mom Ara.
Luna menghela nafas, entah kenapa hatinya tergerak ingin memberi kesempatan untuk Scoot berbicara, sesuai yang diinginkannya. Bukankah hari ini perpisahan mereka?.
"Baiklah!" ucap Luna.
"Sayang," Mom Ara ingin protes, rasa kecewanya kepada putranya itu masih membekas di hati.
Luna tersenyum manis, hingga semuanya melanjutkan langkah masing-masing, menunggu di luar sana. Sementara Angel dibawa Laura ke kamarnya.
"Ikuti apa kata isi hati Kakak!" Mike memperingati dengan tegas.
Luna menghembuskan nafas dengan mulut kembung, lalu berbalik hingga kini posisi mereka saling berhadapan.
"Tanyakan dimana kurang jelasnya?" Luna langsung berbicara, tidak ingin membuang waktu cuma-cuma.
"Apa kau yakin? Yakin dengan keputusan ini?"
"Atas dasar apa Aku merasa tidak yakin?" sahut Luna sembari mengigit bibir bawahnya, menatap ke bawah. "Apa karena uang, harta? Aku terlahir dari keluarga yang bisa dikatakan miskin, jadi itu sudah terbiasa bagiku, kembali pada awal!"
Scoot mengusap rahangnya. Lalu kedua tangan kekar itu bertumpu pada ke-dua bahu Luna, mencengkram halus hingga membuat Luna sontak kaget.
"Lepas! Jangan sentuh Aku!" Luna berontak ingin dilepaskan, entah kenapa ia merasa jijik mendapat sentuhan, walau hanya sekedar tangan pria itu.
"Ada apa denganmu? Status kita masih suami-istri, lebih dari ini Aku masih berhak atas dirimu!" Scoot merasa aneh karena ini bukan kali pertama Luna menolak saat dirinya di sentuh.
Seketika membuat wajah Luna pucat pasi. Tubuhnya gemetaran atas ucapan Scoot. Rasa menyesal kini ia rasakan, menyesal karena memenuhi keinginan Scoot.
__ADS_1
Scoot menggertakkan gigi menyadari perubahan Luna. Dia tidak tahu kenapa Luna sama sekali engan disentuh, hanya sebatas ini saja.
"Aku tidak akan menceraikan mu!"
Deg!
Luna kaget, membuatnya mendongak, menatap Scoot dengan tajam. Ia kecewa dengan kalimat yang barusan dilontarkan.
"Kenapa? Apa kau belum puas? Aku sudah hancur, hancur sehancurnya! Penuh dengan dosa, membunuh anak tak berdosa! Kurang apa lagi? Apa aku tidak berhak mendapat kebahagiaan? Apa karena alasan Angel? Sekarang Angel bahkan sudah berpaling dariku, sekarang sudah ada orang yang tepat, bahkan sangat tepat. Semua yang ada pada Lucy, ada pada Laura. Sebaiknya kau segera menikahi Laura, dari pada mengundang fitnah, dan lebih tepatnya lagi menyempurnakan kebahagiaan Angel. Laura lebih pantas bersanding dengan keluarga Brylee, beda dengan statusku hanya berasal dari keluarga miskin. Tepatnya hanya sosok peran pengganti!" akhirnya air mata tidak dapat dibendung lagi. Luna terisak untuk pertama kalinya menangis di hadapan Scoot.
Scoot terdiam, hatinya terketuk mendengar tangisan, jeritan hati Luna pada kalimat pertama.
"Aku mohon lepaskan Aku." Luna mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon dengan berlinang air mata.
"Ini yang terbaik! Sampai kapanpun kau menutup mata dengan sosokku." Batin Luna.
"Satu lagi mulai sekarang jangan pernah memata-matai keluargaku. Jangan pernah ada seseorang yang kau utus diam-diam. Aku bukan bagian dari keluarga Brylee lagi. Beri kesempatan sekali saja untukku meraih kebahagiaan." Luna masih memohon, membiarkan air mata itu tetap mengalir.
Luna meluapkan isi hatinya, berkata sesuai dengan kata hatinya.
"Kau tidak perlu mengajariku! Tidak ada yang perlu ditakutkan."
Luna mendesis karena pria ini sangat egois, pada kenyataannya dia sering mengabaikan Angel. Ancaman Laura tempo hari masih terngiang-ngiang di benaknya.
"Masak di luar mentah di dalam!" usai melontarkan peribahasa sindiran itu Luna membalikkan badan, berlalu begitu saja. Semuanya sudah cukup, ada rasa sedikit lega setelah ia mengutarakan isi hatinya.
Dengan rahang mengeras ia melepas kepergiaan Luna. Memandangi tubuh Luna hingga menghilang di balik pilar-pilar yang menghubungkan ruang keluarga dengan ruang utama.
*
Di bandara
Dad Ben, Mom Ara melepas kepergian Luna dengan berat hati. Tetapi mereka tidak boleh egois, ini jalan terbaik untuk Luna. Dengan tidak langsung mereka juga terseret dalam kasus menghancurkan masa depan Luna.
"Sayang, jangan pernah lupakan Mom. Sekali lagi Mom minta maaf," lirih Mom Ara dengan air mata berlinang. Kata maaf tak lepas dari mulutnya.
Luna hanya bisa mengangguk, ikut menangis.
__ADS_1
"Jangan sungkan jika ada masalah. Sampai kapanpun kau dan keluargamu adalah bagian dari keluarga kami. Gelar Brylee tetap disematkan di namamu. Raihlah kebahagiaan mu dikemudian hari. Kau adalah tetap putri kami," pungkas Dad Ben dengan mata memerah, memeluk Luna untuk perpisahan mereka.
Sekali lagi membuat Luna menumpahkan air mata yang belum sempat mengering. Hatinya terenyuh, sangat beruntung mempunyai ke-dua mertua yang sangat baik, menerima keberadaannya.
Dengan langkah berat Luna meninggalkan ke-dua mertuanya. Melambaikan tangan untuk beberapa saat, sampai pandangan mereka putus.
Kini tangisan Mom Ara semakin tumpah, menaruh wajahnya di dada suaminya. Sangat berat hatinya melepaskan kepergian Luna.
Dengan sigap Dad Ben mengusap pundak yang gemetar itu. Apa yang dirasakan wanita yang sangat dicintainya, ia juga merasakan kehilangan Luna.
"Apa Dad, tidak bisa melakukan sesuatu?" lirihnya, sangat berharap suaminya adalah dewa, dapat melakukan sesuatu agar perpecahan ini dapat diperbaiki.
"Sayang, sudah cukup menantu kita menderita. Ini saatnya ia meraih kebahagiannya sendiri."
"Bohong, jika mereka tidak merasakan ketertarikan masing-masing!" cemooh nya.
*
Sebelum kejadian
Di kota X
Pasangan Lukas dan Britney merencanakan sesuatu. Mereka ingin mengunjungi putri mereka, kebetulan kesehatan Daddy Lukas sudah membaik.
Mereka sengaja tak beri kabar atas kunjungan itu. Mike putra bungsu mereka juga ingin ikut, kebetulan ada libur.
Sampai tiba di bandara pun mereka tidak mengabari, hingga mereka menaiki taksi untuk membawa ke Mansion. Katakanlah ini sebuah kejutan untuk Luna, Scoot dan juga Angel.
Tiba di Mansion, ternyata tak sengaja bertemu dengan ke-dua besan mereka. Dad Ben dan Mom Ara, baru saja keluar dari dalam mobil.
Tentu saja kunjungan mereka kejutan bagi ke-dua mertua putri mereka. Hingga mereka mengobrol sejenak di garasi mobil.
Mereka memutuskan langsung masuk, mengingat mereka kelelahan dalam perjalanan.
Senyuman kebahagiaan mengiringi setiap langkah masing-masing, berubah menjadi gelap. Di mana mereka tidak sengaja mendengar perseteruan antara Luna dengan Scoot.
Bahkan mereka mendengar dari awal hingga akhir, yang langsung menampar di hati keluarga Luna.
__ADS_1