PERAN PENGGANTI

PERAN PENGGANTI
Part 43


__ADS_3

Luna memandangi kepergian suaminya, namun tidak bertahan lama karena pria yang ada di hadapannya segera menyadarkan dirinya.


"Aku mendengar jika kalian akan berpisah," ujar Wilis.


Dahi luna mengerut, dari mana mantan kekasihnya ini tahu tentang itu, mengingat jika mereka baru satu kali bertemu.


"Kau tahu itu?" gumam Luna tertunduk, dengan tangan meremas tali tas jinjingnya.


"Dua bulan yang lalu aku tidak sengaja ketemu Mike, dan pada saat itu dengan tidak sengaja menceritakan masalah kalian," ungkap Wilis turut prihatin, walau tidak banyak yang ia tahu karena Mike hanya menceritakan garis besarnya saja.


Luna masih menunduk, hanya menjadi pendengar saja karena pada dasarnya ia bingung harus menjawab apa. Ada rasa kesalahan kepada Adiknya karena sempat membicarakan masalah mereka.


"Luna, apa kau mendengar?" sentuhan pada pundaknya membuat Luna mendongak.


"Iya, Wil aku dengar. Tidak penting untuk membicarakan hal pribadiku, aku hanya tak ingin mengingatnya saja. Kau sendirian?"


Wilis mengangguk sebagai jawabannya.


"Jadi bagaimana hubungan kalian?" sungguh pria ini ingin tahu karena hingga sekarang cintanya hanya untuk Luna, mantan kekasihnya.


"Seperti yang kau lihat," lirih Luna tak bisa menjelaskan banyak.


"Kau mencintainya?"


Seketika membuat Luna membeku atas pertanyaan yang dilayangkan Wilis.


"Apakah sedikitpun namaku tidak terselip di hatimu?"


"Wil,"


"Kau tahu Luna dua tahun lamanya aku hancur, hancur karena kau meninggalkanku tanpa sebab. Hancur ketika mengetahui kau menikah dengan orang lain. Bolehkan aku egois sedikit karena perasaan ini? Bisakah kita memulai kembali hubungan kita?" permintaan Wilis yang konyol membuat Luna kaget setengah mati karena semua itu tidak mungkin.


"Aku minta maaf, mungkin ini sudah takdir kita."


Wilis menggeleng bahwa tidak terima dengan anggapan Luna. Katakanlah ia menyangkal bahwa itu adalah takdir.


Wilis memegang ke-dua bahu Luna, menatap dengan sendu. "Aku mencintaimu Luna, bahkan sangat mencintaimu. Tidak ada orang lain dalam hati ini!" ungkap Wilis dengan mata memerah.


"Wil, jangan seperti ini."


"Kau adalah cinta pertama dan wanita pertama bagiku, tidak semudah itu Luna," lirih Wilis dengan tatapan redup.


Luna terenyuh, tentu saja ia percaya dengan ucapan Wilis. Kenangan di masa lalu bersama Wilis, terbayang kembali. Di mana mereka pada saat itu menjalin hubungan yang sangat baik. Wilis adalah pria yang hangat, baik dan sangat perhatian.

__ADS_1


"Aku tidak pantas untuk orang sebaik kau, carilah wanita di luaran yang lebih baik. Aku—"


Wilis menggenggam tangan Luna sembari menggeleng. "Hanya kau wanita itu, hanya Mezzaluna!"


Luna menatap Wilis dengan mata berkaca-kaca. Memundurkan tubuhnya hingga menyisakan jarak di antara mereka.


"Aku mohon berhenti berharap karena semuanya tidak akan berubah. Statusku adalah istri orang, aku sudah berkeluarga," pungkas Luna memohon.


"Aku tahu tapi kau tidak mencintai suamimu, benar bukan apa yang aku katakan?"


"Kau salah Wil. Aku, aku sudah jatuh cinta kepada suamiku! Aku mencintai dia melebihi cintaku dulu kepadamu!"


Deg!


Pernyataan Luna membuat nafas pria itu sesak sampai ke rongga dada. Sakit tentu saja merobek hatinya dengan perlahan.


Luna membuang muka, menghindari tatapan sendu Wilis. Air mata yang sejak tadi ia tahan tidak dapat terbendung lagi.


"Kau bohong!"


Luna menggeleng sebagai jawabannya.


"Katakan bahwa semuanya ini tidak benar? Kau hanya mencintaiku Luna, kau hanya mencintaiku! Dan begitu pula denganku!" lirih Wilis ikut meneteskan air mata. Sangat sakit mengetahui kenyataan bahwa orang yang sangat kita sayangi dan dicintai memilih mencintai orang lain.


"Dulu memang tidak, namun sekarang perasaan itu tumbuh begitu saja. Aku mencintai suamiku!"


Wilis memejamkan mata dengan tangan terkepal, menahan luka serta amarah. Marah karena keadaan yang tidak berpihak. Terluka karena seseorang yang sangat ia cintai milik orang lain.


Wilis kembali mendekap ke-dua bahu Luna, menatap dalam dengan mata memerah. "Sudah jangan menangis lagi." Wilis mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi halus itu. "Jika kau bahagia, aku turut bahagia. Kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku juga." Usai mengatakan itu dengan berat hari, Wilis berlalu pergi meninggalkan Luna yang masih mematung.


"Aku minta maaf, Will!" gumam Luna menatap kepergian Wilis.


Karena sudah sadar menghabiskan waktu cukup lama, Luna bergegas pergi untuk menemui suaminya. Sepanjang jalan Luna mengusap sisa-sisa air matanya, tidak ingin suaminya menanyakan hal itu.


"Nona," panggilan di depan sana membuat Luna mengangkat wajahnya.


"Justin!"


"Apa Nona sudah selesai?


Luna mengangguk


" Saya akan mengantar Nona pulang, mari ikut saya," ujar Justin.

__ADS_1


Dahi Luna mengerut karena sebelumnya ia pergi bersama Scoot, namun kenapa tiba-tiba Justin membawanya pulang.


"Scoot, mana?" karet penasaran Luna pun bertanya.


"Tuan, beberapa menit yang lalu sudah pulang karena ada yang harus dikerjakan mendadak, makanya saya di perintahkan untuk me jemput Nona."


Luna mengangguk paham, lalu melanjutkan langkahnya dengan tatapan sendu. Ada rasa kecewa karena sikap suaminya itu. Sementara Justin mengusap wajahnya karena semua itu adalah bohong. Scoot memutuskan pulang lebih cepat karena hatinya tidak kuat, alasan pekerjaan itu tidaklah benar.


Sepanjang jalan baik Luna maupun Justin hanya diam, hingga menciptakan suasana sunyi, hanya kedengaran deru mesin mobil.


Lima belas menit mereka tiba. Luna turun tanpa menyapa Justin, masuk ke rumah begitu saja dengan tatapan sendu.


"Nona," panggil Fanny.


"Kau sudah pulang Fan? Angel mana?"


"Angel sedang di Mansion utama Nona. Ini saya mau menyusul," ucap Fanny.


"Tuan, mana?"


"Kalau tidak salah di ruang kerja, Nona."


Luna mengangguk


Tujuan Luna adalah dapur, ingin membuat minuman untuk suaminya. Dengan senyuman manis, tangannya cekatan menyedihkan kopi ginseng.


Secangkir kopi ginseng dan beberapa potong cake berada di tangannya. Membawa ke ruang kerja suaminya.


Sementara di ruang kerja, Scoot menyadarkan kepalanya sembari mengusap dahinya. Bayangan tadi membuat dirinya sulit berkonsentrasi. Marah, kecewa, terluka tentu saja menyerang hatinya.


"Tuan," panggil Justin dengan tiba-tiba. Karena pintu terbuka lebar membuatnya masuk begitu saja, hingga lamunan Scoot buyar.


"Luna mana?"


"Mungkin di kamar Tuan," sahut Justin.


Hmm


Pria itu hanya berdehem, dengan tatapan ke langit-langit ruangan.


"Jika saya boleh tahu, kenapa Tuan membiarkan Nona dan mantan kekasihnya berbicara?" tanya Justin penuh hati-hati, takut Tuan-nya tersinggung.


Scoot beranjak dari tempat duduknya, membalikkan badan memandang lurus ke arah jendela terbentang lebar.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana? Jika aku mengatakan jangan! Apa kau tahu yang terjadi? Tentu saja tindakanku itu memperburuk hubungan kami. Asal kau tahu, suami mana yang rela melihat wanitanya sedang bersama pria yang tak lain adalah orang spesial di masa lalunya. Hatiku sakit, Justin! Ketika pria itu menyentuh wanitaku, ingin sekali pada saat itu juga ku patahkan tangannya!" seru Scoot dengan emosi yang meledak.


Deg!


__ADS_2