
Fanny baru saja keluar dari gedung sekolah, setelah mengantar Angel. Gerakannya terhenti ketika seseorang mencekal tangannya dengan tiba-tiba, hingga membuatnya sontak kaget.
"Kau!" Fanny menatap pria itu dengan mata tajam. "Lepas! Aku harus segera pulang." Fanny berusaha menghentakkan tangannya yang dicekal dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Ikut aku!" Pria itu tak kunjung melepaskan pergelangan tangan Fanny.
"Tidak bisa karena—"
Tanpa ingin mendengar ucapan Fanny, pria itu langsung membawanya ke dalam mobil. Hal itu membuat wanita yang memiliki mata indah itu menatap dengan kesal.
"Lepas Justin! Kau mau bawa aku ke mana?"
"Ke apartemen!"
Seketika mata Fanny membulat mendengar apa yang dikatakan pria yang telah menodai dirinya itu. Fanny ingin membuka pintu mobil, namun gerakannya itu menggantung karena dengan cepat Justin menguncinya.
"Cukup duduk dengan tenang." Justin menatap Fanny dengan tajam, hingga membuat wanita itu menurut.
Sepanjang jalan hanya ada keheningan, baik Fanny maupun Justin mengunci mulut masing-masing. Justin yang konsentrasi pada jalanan, sedangkan Fanny memandang ke luar jendela dengan pikiran kacau.
Butuh waktu dua puluh menit tempat yang mereka tuju, ternyata adalah sebuah danau.
"Kenapa kau membawaku ke sini? Kau sudah tahu apa statusku?" ucap Fanny dengan kesal.
"Kau tenang saja! Aku sudah minta izin kepada Tuan!" dengan santainya Justin berucap, hingga berhasil membuat mata Fanny membulat tak percaya.
"Maksud, maksudmu juga menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi?" dengan gugup Fanny bertanya. "Jawab aku!" bentaknya karena pria itu tak kunjung menjawab.
Justin membuka pintu mobil, tanpa ingin menjawab pertanyaan Fanny. Lalu membukakan pintu untuk Fanny, namun wanita itu enggan untuk beranjak, bahkan membuang muka ke arah lain. Hal itu membuat Justin meradang, dan terpaksa menarik pergelangan tangan Fanny.
"Tidak perlu kasar, aku bisa turun sendiri! Jadi pria lembut sedikit apa salahnya!" tanpa sadar Fanny berani mencemooh, bahkan mengerucutkan bibir. Seketika senyuman tersembunyi di bibir Justin.
"Jika saja kau itu menurutku, tidak mungkin aku berbuat sedikit kasar."
"Sedikit kasar? Apa kau tidak melihat bekas merah di pergelangan tanganku?" tidak mau kalah dan disalahkan Fanny protes, lalu berjalan mendekati bibir danau.
"Wanita memang sulit dimengerti!" gumam Justin sembari memandangi Fanny sedang berjalan.
Mendengar ucapan Justin membuat langkah Fanny terhenti, dan wanita itu menoleh dengan tatapan tidak suka. "Tergantung kesalahan dari pihak lawannya!" usai melemparkan sindiran halus itu, Fanny melanjutkan langkahnya ke bibir danau.
Justin menghela nafas kasar, sangat sulit ternyata menjinakkan seorang wanita. Selama ini ia tidak paham betul dengan urusan perasaan apa lagi cinta.
Fanny duduk di rerumputan, dengan pandangan jauh ke depan. Tidak memperdulikan sosok yang tengah berdiri di sampingnya.
"Air danau ini sangat tenang," ucap Justin dengan pandangan ke air danau.
"Andai saja aku bisa seperti mereka, mungkin rasa sakit dan kecewa tidak ada di kamus kehidupanku!" sindir Fanny sekali lagi hingga membuat pandangan Justin teralih kepada wanita tersebut. "Tenang, tidak peduli dengan alam lain di sekitarnya." Fanny kembali berucap.
Justin ikut duduk, hingga tidak ada jarak diantara mereka. Fanny yang fokus memandang ke depan merasa terusik karena gesekan di kulit masing-masing.
"Bisa menjauh sedikit?" lirih Fanny tanpa melirik lawan bicaranya.
Justin kembali menghela nafa, namun ia tidak mengindahkan ucapan Fanny.
"Aku ingin menjelaskan apa yang membuatmu salah paham. Aku sama sekali tidak ada hubungan dengan Naura." Justin menceritakan kesalahpahaman mereka, hingga membuat hubungan mereka renggang beberapa hari ini, dan ini saatnya Justin meluruskan kesalahpahaman tersebut hingga ia memberanikan diri berterus terang kepada Scoot.
__ADS_1
Fanny tersenyum getir. "Apa lagi yang mau dijelaskan karena semuanya sudah jelas. Mengingat masalah itu, sama juga menggali kekecewaan dan bahkan sakit hatiku. Tidak perlu Anda melakukan hal itu," lirih Fanny dengan mata berkaca-kaca, sekali kedipan saja air mata itu berhasil membasahi pipinya.
"Terserah kau mau dengar atau tidak, tapi aku tetap menjelaskannya!" Justin tidak ingin menjadi pria pengecut dan dinilai negatif.
"Apa kau tahu bagaimana perasaanku melihat itu semua? Ya, aku sadar siapa kau dan aku! Perbedaan kita memang berbanding jauh, aku hanya seorang pengasuh sedangkan kau adalah—"
"Stop Fanny!" potong Justin mengeraskan rahangnya sembari merengkuh ke-dua bahu Fanny hingga membuat mereka saling berhadapan. Fanny menunduk sembari menangis. "Dengar aku baik-baik! Aku dan Maura tidak punya hubungan apapun selain pekerjaan kantor. Apa yang kau lihat itu tidaklah seperti yang ada dalam pikiranmu!"
Fanny tersenyum getir, hal itu membuat Justin semakin mempererat meremas ke-dua bahu Fanny hingga wanita itu meringis menahan sakit.
"Pada saat itu Maura baru saja selesai menceritakan masalah pribadinya, ternyata selama ini dia menjalin hubungan dengan pria beristri. Kebusukan itu baru saja Maura ketahui, sementara hubungan mereka sudah berjalan selama dua tahun. Pada saat itu Maura sangat terluka." Justin mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi kenapa keadaan kalian seperti itu?"
Mendengar nada bicara Fanny meninggi membuat Justin tersenyum penuh arti.
"Itu semua rencana Maura untuk memanas-manasi mantan kekasihnya. Aku sebagai rekan kerjanya tidak bisa menolak, namun sayangnya wanitaku memergoki." Goda Justin masih dengan tersenyum, sementara Fanny memutar bola matanya karena kecewa. "Percayalah semua itu hanya sandiwara!"
"Apa, apa harus seperti itu? Wanita manapun tak akan terima! Tapi kau sangat menikmati peranmu itu!" usai mengatakan itu Fanny spontan beranjak, namun dengan segera tangannya ditarik kembali, hingga tubuhnya jatuh dalam pangkuan Justin. "Lepaskan aku!" bentaknya.
Ciuman di bibir membuatnya bungkam. Sementara Justin tidak melepaskan pagutan itu, ia sangat menikmati, walau tidak mendapat balasan.
"Percayalah aku hanya menikmati dengan mu," bisik Justin, ia terpaksa melepaskan ciuman itu karena tak kunjung dapat balasan.
Fanny berpikir, ia menunduk tanpa banyak bergerak karena posisinya dalam pangkuan Justin.
"Aku akan segera melamarmu. Bulan depan ke-dua orang tuaku akan datang untuk menemui ke-dua orang tuamu, meminta izin untuk meminang putri mereka."
"Hah....." Fanny terbelalak kaget dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut pria itu.
Seketika mata Fanny melotot menatap pria yang kini masih betah mengusap perutnya penuh damba. "Siapa bilang aku hamil?" teriak Fanny sembari menepis tangan itu dari area perutnya.
"Bisa saja kejadian tak disengaja itu tumbuh di rahimmu."
"Tidak, buktinya sekarang aku lagi dapat."
"Dapat, maksudnya dapat apa?"
"Palang merah."
"Palang merah?"
Fanny menarik nafas dengan mata terpejam. "Menstruasi!"
Cup
Usai membisikan kata tak biasa itu, Fanny mencium bibir Justin sekilas, lalu ia beranjak bangkit dan segera berlari. Wajahnya memerah dengan apa yang barusan saja ia lakukan.
Sementara Justin terkesima dengan keberanian wanita yang kepribadiannya tertutup itu. Mengusap bibir yang baru saja di curi oleh wanita itu, seketika senyuman mengembang sembari memandangi Fanny yang tengah berlari kecil.
Justin bangkit, lalu mengejar Fanny. Hanya dalam beberapa detik ia berhasil menangkap tubuh Fanny. "Kau sudah nakal sekarang!" Justin mendekap tubuh itu dari arah belakang.
"Aku sangat takut selama seminggu ini. Aku sangat takut kehilanganmu," lirih Fanny dengan mata berkaca-kaca.
"Aku minta maaf karena baru sekarang memperjelas masalah ini. Kau selalu menghindar, belum lagi pekerjaan di kantor menumpuk." Ya, Justin sebenarnya berusaha memberitahu Fanny, namun wanita itu selalu menghindar ketika ada kesempatan. "Aku bukan tipe pria kurang ajar, ya pada awalnya aku juga kurang ajar, namun aku bertanggungjawab dengan apa yang sudah aku perbuat."
__ADS_1
Fanny menganggukkan kepala. Kini ia bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan yang sangat menyakiti hatinya.
*
Kejadian yang tak terduga antara Justin dan Fanny
Tiga minggu yang lalu
Fanny, diperintahkan Scoot untuk mengantar berkas penting ke apartemen Justin di tengah malam. Kebetulan pada saat itu Justin tidak bisa keluar karena tiba-tiba sakit. Dengan terpaksa Scoot memerintah Fanny, sementara dia tidak mungkin meninggalkan istri dan buah hati mereka.
Dengan tulus Fanny mengiyakan, tanpa ada penolakan. Walau awalnya ia sedikit tudak percaya diri karena ditengah malam menemui seorang pria, apa lagi pria itu selalu membuat jantungnya berdegup kencang.
Ini bukan kali pertamanya Fanny menemui Justin, namun ini kali pertamanya di apartemen, selama ini ia selalu diperintahkan Scoot mengantar berkas ataupun dokumen ke kantor.
Hanya butuh waktu selang sepuluh menit, kendaraan roda empat tiba di basement apartemen mewah milik Justin.
Tidak ingin malam semakin larut, Fanny segera bergegas masuk ke apartemen menuju kamar milik Justin.
Tanpa menekan tombol akses masuk, Fanny masuk begitu saja setelah menekan sandi yang sudah diberitahukan Scoot kepadanya, mengingat Justin yang sedang sakit, kemungkinan sulit untuk bangun.
Fanny perlahan masuk dengan dada bergemuruh. Pandangannya terpencar, apartemen ini besar dan keadaan dalamnya begitu bersih dan rapi, sangat terlihat jika sang pemiliknya bersih.
"Tuan," panggil Fanny dengan formal karena tak kunjung mendapati sosok yang ingin ditemuinya untuk menyerahkan dokumen tersebut.
Tepat di depan pintu kamar, sekilas Fanny melihat bahwa Justin sedang berada di kamar karena pintu kamar sengaja dibuka sedikit.
"Masuk saja, kepalaku sangat sakit," ujar Justin dari dalam kamar.
Dengan perasaan gugup Fanny terpaksa masuk. Seketika matanya membola mendapsti tubuh Justin hanya terlilit handuk dengan posisi tengkurap di atas ranjang.
"Tuan, ini dokumen yang diperintahkan Tuan. Saya harus letakan dimana?"
"Maaf sudah menyibukkan mu. Mendekatlah!" pinta Justin yang tidak masuk akal bagi Fanny. Fanny menurut sembari menekan ludah karena ini kali pertamanya melihat pria bertelanjang dada.
Justin membalikan tubuhnya hingga membuat Fanny terbelalak dengan apa yang ada di hadapannya, dimana tontonan sempurna tersebut.
"Bisa kau membantu pijat sebentar saja kepalaku? Maaf jika permintaan ini cukup lancang, tapi aku benar-benar tidak kuat. Sudah minum obat, namun rasa pusing belum juga reda."
Fanny berpikir dengan apa yang ditawarkan Justin. Ada keraguan dalam dirinya, namun ada juga rasa tidak tega, apa lagi pria ini selalu membuatnya berhenti bernafas.
"Aku, aku tidak pintar memijat. Nanti bukannya sembuh, melainkan semakin sakit."
"Tidak masalah, mungkin saja jari-jemarimu Muzarab, hmm!"
Mau tidak mau Fanny akhirnya mengangguk. Dengan gugup ia beranjak naik ke atas kasur. Mulai melakukan seperti yang diminta Justin, dengan perasaan gugup ia melakukan pijatan itu. Sementara Justin memejamkan mata, menikmati pijatan itu.
"Siapa bilang kau tidak pintar memijat? Buktinya ini sangat nikmat. Sangat beruntung pria yang akan menjadi pendampingmu," ujar Justin.
Fanny tidak menyahut, berusaha menenangkan perasaan gugupnya. Saat itu wajahnya bersemu merah, untungnya Justin tidak menyadarinya.
Entah kenapa tiba-tiba pijatan itu dihentikan Fanny. Dengan tidak sadarnya ia menyelusuri rahang kokoh itu hingga berakhir di bibir.
"Apa yang kau lakukan?" karena tidak tahan Justin pun menarik tangan Fanny hingga membuatnya jatuh di atas tubuhnya.
Malam itu juga mereka tidak dapat menahan diri, dan terjadilah sesuatu yang tidak pernah di duga. Dalam proses suka sama suka, hingga berjalan dengan sempurna.
__ADS_1