
Hotel
Gedung hotel tempat berlangsungnya pesta, kini para tamu undangan saling berdatangan memenuhi undangan.
Mom Ara tampil dengan anggun, berbalut gaun panjang. Walau sudah berkepala lima tapi paras cantiknya tidak banyak luntur. Begitu juga dengan Dad Ben, makin tua makin keren saja, itulah yang pantas disematkan kepada dirinya.
"Mom sangat cantik," kagum Mike ketika ia baru datang bersama ketiga saudara kembarnya.
Mike langsung merangkul wanita yang sudah melahirkannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Lepaskan wanita ku!" dengan wajah masam Dad Ben menepis rangkulan Mike kepada wanitanya.
"Sayang," lirih Mom Ara dengan kepala menggeleng. Suaminya ini tetap saja cemburu kepada putra-putra mereka.
"Sayang, hanya Dad yang bisa memeluk Mom. Mereka bukan anak kecil lagi," ujar Dad Ben sembari mengecup punggung tangan Mom Ara.
Ssst!
Desis jengah ke empat putra mereka. Tapi mereka beruntung memiliki orang tua yang harmonis, jauh dari isu miring.
"Sayang, malu ah," bisik Mom Ara.
"Buat apa malu, aku suamimu yang tampan ini," bisiknya sembari mengecup pipi kanan Mom Ara.
"Dad!" protes Mike.
"Hai Uncle Stev, Uncle Carlos, Uncle Joe!" sapa Angel baru saja bergabung karena sejak tadi ia bermain ke ruangan khusus anak-anak.
"Hai, Cantik!" balas mereka bertiga sembari bergantian mencium Angel.
"Uncle Mike tidak di sapa?" protes Mike dengan wajah cemberut.
Angel menarik nafas. "Bukankah tadi kita berangkat sama-sama Uncle? Jadi Uncle Mike tidak perlu Angel sapa," cicitnya dengan bibir mengerucut, hal itu mengemaskan bagi semuanya.
"Mana Scoot dan juga Luna? Mereka seperti orang lain saja," ucap Mom Ara seraya melirik jam tangannya.
"Mom tak tahu saja!" ujar Carlos, putra ke tiga mereka.
"Jadi kangen juga dengan Kakak ipar," tutur Steven seperti mengagumi sosok Luna.
"Kakak ipar semakin cantik," sahut Mike karena hanya melihat di ponsel Mom Ara.
"Stop! Luna sudah punya Scoot," protes Mom Ara karena ke empat putranya tertarik dengan sosok menantu mereka.
"Iya Mom, tapi Kakak tidak mencintai Kakak ipar. Jika belum cinta, ceraikan saja. Dan aku siap untuk menikahinya," ujar Joe serius.
"Sayang, tutup mulutmu karena itu tidak akan terjadi." Mom Ara memicingkan mata menatap Joe putra ke empatnya.
Huh!
__ADS_1
"Selamat malam Dad, Mom," sapa Luna tiba-tiba dari arah belakang hingga tidak disadari oleh keluarga besar Brylee.
Semua menoleh ke sumber suara, mendapati sosok Luna yang anggun serta menghipnotis ke empat putra Brylee, serta tamu undangan lainnya.
"Malam juga sayang, kamu sangat cantik." Puji Mom Ara sembari memeluk Luna, melepas kerinduan beberapa bulan ini mereka tidak bertemu.
"Selamat anniversary Mom," ucap Luna memberi ucapan selamat.
Usai memeluk mertua perempuannya Luna berganti memeluk mertua lelakinya. "Apa kabar Dad? Selamat atas ulang tahun pernikahan Dad dan Mom," ucap Luna.
"Kabar Dad baik, sayang. Terima kasih," balas Dad Ben. Itulah panggilan mereka kepada Luna. Mereka berdua benar-benar menyayangi sosok Luna.
"Hem hem!" dehem ke empat pria gagah nanti tampan itu hingga membuat Luna menoleh.
"Kakak ipar tidak menyapa?" ujar Mike mewakili saudara kembarnya.
"Hai apa kabar kalian semua?" sapa Luna sembari tersenyum, hingga membuat ke empat pria itu klepek-klepek.
"Baik Kakak ipar," balas mereka serempak.
Luna mengangguk
"Kakak ipar semakin cantik," kagum Mike.
"Setuju!" sahut yang lainnya.
"Kalian bisa saja," ucap Luna tersipu malu. Rasa bangga itu seakan sirna ketika tiba-tiba mengingat Scoot, pria yang tak pernah memuji dirinya sedikitpun.
"Sayang, Scoot mana?" tanya Mom Ara, baru sadar jika Luna tidak bersama putra mereka.
Luna menghela nafas. "Bukannya Scoot sudah tiba Mom? Luna ke sini dengan supir, itu perintah Scoot sendiri," tutur Luna.
"Suami mu belum datang sayang."
Mendengar kalimat suami membuat dada Luna sesak karena tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
"Kedua orang tuamu tidak datang?" tanya Dad Ben.
"Maaf Dad, Mom. Kedua orang tua Luna tidak dapat hadir karena kebetulan Daddy kurang sehat. Keterangan dokter tidak boleh berpergian jauh untuk saat ini," terang Luna.
Ya, sebelumnya Luna mengabari kedua orang tuanya untuk hadir dalam undangan anniversary mertuanya seperti dua tahun belakangan ini.
"Tidak apa-apa sayang. Sesekali kunjungilah mereka," ucap Mom Ara.
Luna mengangguk dengan raut wajah sendu, tetapi ia tidak ingin memperlihatkan kesedihan pada dirinya hingga berusaha menyembunyikannya.
"Angel mana Mom?"
"Oh barusan saja tadi pergi ke ruang bermain sayang."
__ADS_1
Luna tersenyum kecil, senyuman menyimpan sesak, mengingat bagaimana perseteruan mereka tadi pagi.
*
10 menit kemudian
"Hmm maaf Dad, Mom." Tiba-tiba obrolan mereka terhenti mendengar sosok yang sejak tadi dibicarakan.
"Sayang, kenapa baru datang?"
"Terjebak macet Mom," terang Scoot.
"Kau tidak menyapa kami brother?" sindir Mike sejak tadi pandangannya tak lepas dari sosok Luna.
Scoot tidak menggubris. Tatapannya bergantian memandang ke empat saudara kembarnya tanpa sepatah kata. Dari kelima pria tampan itu hanya Scoot memiliki pribadi tertutup. Sangat berbeda dari Carlos, Steven, Joe, Mike. Mereka pria-pria bersifat hangat, banyak omong.
"Mom, Luna ingin ke toilet dulu," ucap Luna disela obrolannya dengan Mom Ara.
"Sayang, ke toilet kamar saja."
"Tidak Mom, lagian cukup jauh. Luna ke toilet terdekat saja."
Mom Ara mengangguk sembari melirik Scoot yang tidak menunjukan reaksi apapun.
"Butuh di temani Kak?" Mike menawarkan diri.
"Aku bisa menemani Kakak ipar," sambung Steven.
"Terima kasih. Aku bisa sendiri," ucap Luna dengan buru-buru berjalan meninggal situasi tidak nyaman itu baginya.
Tatapan tajam Scoot diarahkan kepada Joe dan juga Mike, hingga membuat keduanya saling mengedipkan mata karena sudah berhasil menggoda Scoot. Mereka hanya ingin membuktikan sejauh mana perasaan saudara kembarnya itu kepada Luna.
"Kalian salah, seharusnya yang menawarkan diri itu suaminya, bukan Adik ipar!" sindir Carlos sembari melirik Scoot dengan tatapan tidak suka karena sampai sekarang saudaranya itu belum bisa move on dengan almarhum Lucy.
"Kau benar brother," imbuh Joe.
"Kalian lihat sendiri jika suaminya hanya diam saja, seakan tidak melihat sosok wanitanya," sindir Mike.
"Percayalah, penyesalan akan terjadi di akhir!" sambung Steven.
Usai mencemooh seperti sindiran empat saudara itu melenggang pergi, menyusul kedua orang tua mereka. Pesta akan segera dimulai.
Carlos, Steven, Joe tinggal di luar negeri. Masing-masing bekerja di bidang yang mereka pilih. Sedangkan Mike masih satu negara hanya dia menetap di luar kota. Sangat jarang pulang ke Ibu kota.
Mendengar sindiran bertubi membuat Scoot terdiam, mencerna setiap kalimat yang dilontarkan oleh ke empat saudaranya.
Yang mengerakkan hatinya adalah perkataan terakhir Steven. Tanpa berpikir panjang lagi kedua kakinya tergerak, berjalan menuju toilet yang disambangi Luna. Wajah tampan tersebut membuat para tamu undangan kaum hawa histeris tak sengaja berpapasan. Tetapi tidak membuat seorang Scoot Brylee membalas perhatian mereka, bahkan ia memandang rendah.
__ADS_1