
"Sakit, sakit!" Luna merintih kesakitan tanpa menyapa rombongan yang tengah menonton pertunjukan mereka. Entah sejak kapan mereka berdiri dalam diam di balik tembok.
"Darah," teriak wanita paru baya ketika menyadari darah mengalir dari ************ Luna.
"Bawa ke rumah sakit," seru Mom Ara dengan raut wajah pucat pasi.
"Sakit, perut Lun sakit Mom," Luna menjerit kepada Mommy-nya.
"Sayang, bertahanlah. Mommy ada di sini," bisik wanita itu yang tak lain adalah orang tua Luna dengan air mata berlinang.
Luna dibopong, membawa ke mobil. Sementara Scoot masih berdiri ditempat, dia syok melihat kedatangan keluarga Luna yang tak lain adalah mertuanya, begitu juga ada ke-dua orang tuanya. Terlebih lagi Luna mengalami kesakitan, hingga mengeluarkan darah di area intimnya.
"Scoot!" suara bariton itu menyadarkan Scoot dari keterkejutannya. Itu adalah sumber suara dari Dad Ben.
Di rumah sakit
Luna langsung ditangani oleh dokter khusus. Semua masuk ke dalam kamar rawat, ingin tahu apa yang terjadi kepada Luna.
"Apa yang terjadi dok?" desak Mom Ara dengan jantung berdebar-debar. Sejak dalam perjalan menuju rumah sakit, hatinya tidak tenang. Beragam pikiran memenuhi isi kepalanya.
"Maaf Nyonya, Tuan sebaiknya biarkan kami menangani Nyonya," tutur dokter.
Mau tidak mau seluruh keluarga keluar, menunggu hasil pemeriksaan dokter. Dengan perasaan khawatir mereka hanya bisa berdoa dan mondar-mandir di depan pintu kamar.
Plak!
"Apa yang kau lakukan?" Mom Ara melayangkan tamparan di wajah Scoot. Kesabarannya telah hilang, tidak dapat menahan gejolak yang menggebu.
Dengan segera Dad Ben, menarik istrinya, memeluk agar tidak menambah suasana yang buruk. Ini bukan saatnya untuk berdebat, biarkan untu beberapa saat karena saat ini Luna sedang menjalani pemeriksaan sekaligus pengobatan.
Bukan hanya Mom Ara saja yang kecewa tetapi ke-dua orang tua Luna hanya bisa menunduk, saling menguatkan. Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada putri semata wayang mereka. Begitu juga dengan Mike, Adik bungsu Luna, sejak tadi lelaki yang masih menempuh pendidikan di bidang kedokteran itu mengepalkan tangan, ingin memberi pelajaran kepada Kakak iparnya tetapi ia urungkan karena mengingat sosok Scoot bukanlah kalangan biasa.
__ADS_1
"Mom, malu memiliki putra sepertimu!" umpat Mom Ara dalam pelukan suaminya tetapi masih didengar jelas oleh Scoot.
Satu jam kemudian
Pintu kamar rawat dibuka, semua beranjak dari tempat duduknya.
"Bagaimana menantu kami sus?" tanya Mom Ara mewakili.
"Silahkan masuk Nyonya, Tuan. Dokter akan menjelaskan," ucap suster dengan raut wajah tak biasa, ada guratan bersalah yang dipancarkan jika mereka sedikit teliti.
Satu-persatu mereka masuk, belum sampai langkah mendekati brankar, kedatangan mereka disambut oleh tangisan Luna, tangisan penuh makna.
Dengan tidak sabarnya Mom Ara dan juga Mommy Britney mendekati Luna.
"Ada apa sayang? Apa yang sakit?"
Luna tak menjawab, tangisannya semakin pecah. Luna menangis sembari memegang perutnya.
"Mari kita bicara, ada yang ingin kami sampaikan."
Mereka mengikuti perintah dokter, kecuali Mom Ara serta Mommy Britney masih memenangi Luna tanpa mendapat jawaban dari Luna apa yang membuatnya menangis.
"Kami minta maaf karena gagal. Nyonya, keguguran akibat pendarahan cukup besar, dengan usia kandungan tiga minggu."
Deg!
"Apa?" seru semuanya dengan mata membulat, sontak kaget mendengar kabar duka tersebut, dimana mereka sama sekali tidak mengetahui kehamilan Luna.
"Akibat benturan keras, stres cukup besar mempengaruhi terjadinya pendarahan hingga menyebabkan keguguran. Sangat rentan bagi usia kehamilan yang dialami Nyonya. Informasi yang kami dapatkan dari Nyonya, bahwa beliau sendiri tidak mengetahui kehamilannya. Fisik Nyonya kuat, hingga tidak ada yang mengkhawatirkan." Dokter menerangkan.
Usai menjelaskan apa yang dialami Luna sekaligus kesehatannya, dokter beserta para suster undur diri.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dokter, Mommy Britney memeluk putrinya yang masih menangis. Sementara Mom Ara sangat terpukul dengan apa yang dialami Luna. Keinginan yang sejak lama ditunggu-tunggu, seakan sirna.
Sementara Daddy Lukas menatap dengan nanar dua wanita yang sangat disayanginya sedang memberi kekuatan masing-masing. Marah, kecewa tentu saja meliputi hatinya dengan apa yang sebenarnya terjadi, yang dialami putri mereka selama ini.
"Aku minta maaf!"
Deg!
Semua sontak kaget mendengar permintaan maaf sosok yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja, terlebih lagi dengan Luna hingga pelukan antara dirinya dengan sang Mommy terurai. Menatap tak percaya dengan kata maaf yang barusan saja dilontarkan suaminya itu. Kata yang tidak pernah keluar dari mulut manis itu, tapi hari ini kata yang tak terduga tersebut berhasil membuat semuanya terdiam.
"Apa kata maaf akan mengembalikan semuanya?" seru Mom Ara dengan tatapan sinis, semakin kecewa kepada Scoot.
Dad Ben menghela nafas berat, kejadian ini mengingatkan dia dimasa lalu, dimana dulu istri tercintanya juga mengalami keguguran.
"Kami minta maaf, atas kejadian tak terduga ini," ujar Dad Ben kepada keluarga besannya.
Daddy Lukas menatap Scoot tak percaya dengan tatapan sendu.
"Selama ini kami menganggap hubungan rumah tangga kalian baik-baik saja, tapi hari ini kami mengetahui fakta yang sebenarnya. Marah, kecewa? Tentu saja setiap orang tua merasakan hal yang sama, itulah yang kami rasakan saat ini. Dimana kenyataan bahwa putri yang sangat kami sayangi ternyata—," dengan dada bergemuruh Daddy Lukas tidak mampu melanjutkan ucapan demi ucapan. Pria paru baya itu mengusap wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
Daddy Lukas duduk, meraih salah satu tangan Luna, mengusapnya dengan tatapan sendu. "Sayang, Daddy minta maaf baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini kami terlena dengan kemewahan yang diberikan, sehingga kami menganggap kau bahagia dengan pria yang menjadi pilihanmu," pungkasnya dengan dada sesak.
Ya, selama ini mereka tidak pernah menyangka jika rumah tangga Luna dengan Scoot ada masalah. Demi apapun mereka tidak pernah berpikir buruk tentang menantu mereka tersebut.
"Kenapa kau menyembunyikan semuanya sayang? Kenapa? Tanpa sadar kami bersenang-senang di atas penderitaan mu! Kau dinikahi hanya sebagai peran—," wanita paru baya itu tak mampu menyempurnakan ucapannya, dadanya sesak hingga sulit untuk meraup oksigen. Ibu mana yang tak sakit menerima kenyataan, apa yang dialami oleh anak-anaknya. Tangisan itu semakin menjadi, sangat terpukul atas kata-kata yang mereka dengar disaat Luna dengan Scoot bertengkar.
Luna terdiam, tanpa bisa berkata apa-apa. Tubuhnya tergoncang akibat tangisan tak kunjung reda, tangisan karena mendengar curahan hati ke-dua orang tuanya.
"Apa yang pernah dicurigai terbukti! Tetapi Dad maupun Mom sangat percaya." Usai melontarkan kalimat singkat itu Mike keluar dari kamar rawat. Hatinya hancur mendapati kenyataan bahwa Kakaknya tidak bahagia. Apa yang pernah ia takuti terjadi juga.
Daddy Lukas maupun Mommy Britney mengenang dimana putra bungsu mereka pernah mencurigai pernikahan Luna yang tiba-tiba padahal waktu itu Luna sebentar lagi akan bertunangan. Terlebih lagi menikah dengan orang tak biasa. Karena mulut manis Scoot maupun perlakuannya yang baik membuat mereka termakan, dengan tidak sadar masuk dalam jebakan.
__ADS_1