
Angel yang ditanya diam saja. Lalu melirik kepada Luna, seperti ingin meminta pendapat. Rasa rasa bersalah begitu besar dalam dirinya.
"Mom, Angel minta maaf sebelumnya karena telah menuduh Mom yang tidak-tidak." Lirih Angel dengan raut wajah bersalah.
Scoot yang penasaran mengerutkan dahinya karena kalimat yang dilayangkan, menuduh dalam hal apa? Itulah yang ada dipikirannya.
"Aunty Laura, mengatakan Mommy meninggal karena di bunuh oleh Mom Luna." Akui Angel.
"Apa?" seru Scoot sontak kaget, namun tidak bagi Luna karena sejak awal ia sudah tahu hingga hubungan mereka renggang.
"Iya Dad, itulah yang dikatakan Aunty Laura. Mom Luna sengaja membunuh Mommy karena ingin menguasai harta Dad," ucap Angel kembali.
*
Pada saat malam itu, Angel pergi ke kamar Laura. Kebetulan Laura pulang setelah sekian minggu tak menampakkan diri. Kebetulan pintu kamar tak dikunci membuatnya masuk nyelonong seperti biasanya.
Angel mendapati kamar kosong, namun pintu akses menuju balkon terbuka, itu tandanya Laura sedang berada di sana. Tanpa ingin memanggil, Angel pun berjalan menuju balkon. Tepat di ambang pintu ia mendengar bahwa Laura berbicara melalui sambungan telepon.
Laura membahas pembicaraan itu, bahwa ia membohongi Angel dan hanya memfitnah saja.
Angel pun kaget setengah mati, ia berusaha tetap tenang dan membungkam mulutnya. Tidak ingin Laura menyadari kedatangannya, Angel melangkah hati-hati ke arah pintu kamar. Ia pun kembali ke kamarnya, bahkan ketakutan menyelimuti hatinya. Angel menangis di dalam kamar, ia sengaja mengunci pintu kamar. Ingin pergi ke kamar pelayan, tidak mungkin karena ruangan pelayan terpisah, sementara pada saat itu Fanny sedang cuti dan Daddy-nya lembur di kantor.
Pada saat sidang, Angel mendapat informasi dari Fanny. Berkat bantuan Fanny, ia bisa berasa di kantor pengadilan, dan berhasil menggagalkan perceraian itu.
Rahang kokoh itu mengeras, matanya menatap tajam ke bawah. Ia tak menyangka wanita licik itu memfitnah wanitanya. Pantas saja Luna bersikeras ingin berpisah.
"Sayang, sebaiknya Angel berangkat, nanti terlambat loh. Sepertinya Aunty Fan sudah menunggu di luar," kata Luna sembari melirik jam tangannya.
Angel mengangguk, meraih tas sekolahnya. Luna mengantar Angel, tepat di depan pintu apartemen Fanny sudah menunggu.
Usai melepaskan kepergian putrinya, Luna kembali masuk dan tak lupa menutup pintu. Sementara Scoot masih duduk dengan melamun.
Luna pun terpaksa kembali duduk, bagaimanapun ia menghargai kepala keluarga. "Kau kapan berangkat?" tanyanya sembari melipat koran yang sudah dibaca oleh suaminya, meletakan di bawah meja sofa.
"Kau tahu itu? Kenapa kau tidak memberitahukan ku?"
Luna tersenyum kecil menanggapi pertanyaan itu. Jika ia mengatakan apa yang terjadi, apa pria itu memberi kesempatan untuk ia berbicara? Sepertinya mustahil.
"Apakah hubungan kita sebaik itu? Apa ada kesempatan untukku berbicara? Tidak bukan? Kita hanya orang asing, diluar kewajiban!" sindir Luna dan sangat mengena di hati Scoot.
__ADS_1
"Dia memang wanita licik!"
"Benarkah?" Luna terkekeh dengan ekspresi mengejek. "Bukankah kalian itu cocok? Bahkan hubungan kalian begitu dalam." Sambungnya dan beranjak pergi meninggalkan suaminya yang masih tercengang.
Luna masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas, pagi ini ia harus ke Mansion utama untuk bertemu dengan orang tuanya.
"Kau mau ke mana?" tanya Scoot melihat Luna memakaikan sepatunya.
"Bukan urusanmu!" ucapnya dengan ketus, entah kenapa hatinya sakit ketika mengingat hubungan Scoot bersama Laura.
"Kau istriku, tentu saja aku harus tau ke manapun kau melangkahkan kaki."
"Kapan kau peduli? Bukankah dulu kau tak pernah peduli, bahkan hanya seujung kuku saja? Benarkan begitu?" cecar Luna dengan nafas memburu.
Scoot menghela nafas, berusaha menahan emosinya. Ia tidak boleh terpancing emosi, ia harus dapat mengendalikan kemarahan Luna.
"Maaf, aku terbawa perasaan. Hmm kau mau ke mana? Biar aku antar sekalian," tanya Scoot dengan nada lembut.
Luna tertegun, tiba-tiba hatinya melunak hanya dengan nada lembut itu.
"Aku hanya ingin ke Mansion utama, ingin bertemu dengan orang tuaku dan juga mertuaku. Apa kau lupa jika semalam mereka sedang mengkonsumsi minuman beralkohol? Aku takut terjadi sesuatu pada mereka," ucap Luna panjang lebar.
"Baiklah, kita akan ke sana sama-sama."
Luna mengangguk pasrah karena bagaimanapun ia menolak, namun pria ini pasti memaksa. Dari pada membuang waktu untuk berdebat, ia mengalah saja.
Drrtt!
Getaran smartphone di atas meja sofa membuat suasana jadi hening, ke-duanya mengalihkan perhatian di benda pipih tersebut.
"Baiklah!" ujar Scoot setelah menerima kabar dari sambungan telepon dengan raut wajah berubah, hal itu membuat Luna menyipitkan mata. Sepertinya akan ada kabar tak baik.
"Ada apa?" Luna bertanya dengan tidak sabar.
"Kita segera ke rumah sakit. Apa yang kita takutkan telah terjadi. Dad, Mom dan juga Mike di rawat."
Hah, Luna menghembuskan nafasnya. Ini benar-benar lelucon.
Tidak ingin penasaran dengan keadaan di sana, mereka segera memutuskan untuk berangkat saat itu juga dengan pikiran kesal.
__ADS_1
Hanya berselang 10 menit mereka tiba juga di gedung rumah sakit. Langsung menuju ruang rawat, kebetulan menggunakan satu ruangan, yaitu khusus untuk keluarga.
Dengan ekspresi dingin Scoot membuktikan pintu, dan diikuti oleh Luna di belakangnya. Kedatangan mereka membuat perhatian orang-orang beralih.
"Bagaimana pestanya? Apakah lancar?" sindir Scoot dengan ke-dua tangan memeluk dadanya.
"Dad, Mom dan juga kau Mike. Apa yang kalian lakukan?" keluh Luna dengan lembut kepada ke empat orang tersebut, yang terbaring lemah.
"Maafkan kami sayang," lirih Mom Britney.
Keadaan menjadi hening. Luna maupun Scoot tidak tahu harus berbicara apa lagi, sementara pasien mengeluh kepala masing-masing masih terasa berat.
"Kalian sangat lucu!" Luna tiba-tiba terkekeh, hal itu menjadi pusat perhatian. "Tapi buat Luna pusing!" ucapnya dengan ekspresi marah.
"Maaf Kak!"
"Dan kau Mike! Bukankah Kakak menyuruhmu untuk memantau? Namun nyatanya kau juga ikut-ikutan." Ucap Luna dengan marah. Bagaimana tidak marah, semua orang tuanya memiliki riwayat penyakit masing-masing.
Mike menelan ludah, dengan memalingkan muka karena tatapan dari sang Kakak membuatnya ciut.
"Sayang, tenanglah. Dari pada kau marah-marah di sini, bagaimana jika ikut aku saja ke kantor?" Scoot membujuk Luna, bahkan menawarkan sesuatu yang tak pernah terbesit oleh Luna.
Mendengar adaptasi obrolan Luna dan Scoot membuat mereka saling memandang, memiliki pikiran sama yaitu apakah hubungan mereka sudah membaik? Mengingat Scoot berbicara dengan lembut, selayaknya sepasang suami-istri pada umumnya.
Luna tak merespon perkataan suaminya, wanita itu seperti banyak beban pikiran, hingga membuatnya mudah marah. Sepertinya tensi darahnya naik dua kali lipat.
"Sayang, ikutlah dengan suamimu, kami tidak apa-apa. Siang juga sudah diperbolehkan pulang," ucap Mom Ara, dan di setujui oleh yang lainnya.
Luna menarik nafas kasar. "Apa keutungan aku ke kantor? Seperti tidak ada pekerjaan saja!" respon Luna dengan cuek.
"Sayang, biar suamimu lebih semangat. Ada sosok wanita cantik yang menemaninya bekerja." Goda Scoot tanpa merasa canggung dihadapan orang tua dan mertuanya.
Senyuman mengembang di bibir para orang tua, kecuali Luna maupun Mike yang menunjukkan tanpa ekspresi.
"Sayang, Mom sangat senang melihat hubungan kalian ada kemajuan," ucap Mom Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Luna, melakukan hanya demi Angel! Tidak ada yang lain!" usai melontarkan kalimat peringatan itu, Luna pun berjalan menuju pintu. Ia keluar dengan pikiran kacau.
Tepat di Koridor rumah sakit, langkahnya terhenti di saat Scoot menarik tangannya. Dan ke-duanya saling menatap dalam diam.
__ADS_1
Scoot sontak kaget mendapati jejak air mata di pelupuk mata wanitanya. Hatinya teriris hanya melihat hal itu, bukankah ia sudah berjanji tidak akan membuat wanitanya menangis lagi, namun diganti dengan kebahagiaan.