
Pukul lima sore kepulangan Luna dari rumah sakit. Pulang membawa kabar bahagia, tentu saja kenangan yang indah. Dengan bahagia ke-dua mertuanya mengantarkan Luna, sementara suaminya beralasan sedang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
Sedih, kecewa tentu saja melanda diri Luna, namun di depan ke-dua mertuanya ia engan menunjukan kesedihan dan kata tanya tersebut.
"Sayang, Mom sama Dad pulang dulu. Jika ada sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi kami. Ingat jaga kesehatan, terutama calon cucu kami. Sekali lagi jangan banyak berpikir, besok Mom akan ke sini lagi," ucap Mom Ara sembari mengelus rambut Luna.
Luna mengangguk. "Hati-hati Mom, Dad."
Luna memandangi punggung mertuanya sampai menghilang karena pintu kamar ditutup oleh Mom Ara.
Luna beranjak dari tempat tidur, masuk ke dalam kamar mandi. Malam ini ia tidak dapat menyiapkan makan malam, hingga pelayan yang baru saja di mutasi dari Mansion utama. Itu semua sudah keputusan dari mertuanya hingga ia menurut saja.
Sementara Angel maupun Fanny belum pulang dari tempat kursus piano. Bahkan Angel belum tahu kabar gembira itu, dan Luna berencana memberi kejutan.
Dalam perjalanan menuju Mansion utama, baik Dad Ben maupun Mom Ara banyak diam. Pikiran mereka kembali kepada Scoot.
"Sayang, ada apa dengan putra kita?" akhirnya wanita yang bersandar pada dadanya itu mengeluh.
Dad Ben, mengecup pucuk kepala istrinya. "Anak itu sulit di tebak sayang, seharusnya dia tidak mengabaikan menantu kita dengan sebuah alasan apapun. Kasian menantu kita, dia berusaha menyembunyikan raut kesedihan di depan kita," ujarnya seakan bisa membaca raut kesedihan di wajah Luna.
"Apa kita ke kantor saja? Lihatlah jam segini dia belum juga pulang. Mom, tak habis pikir apa yang ada di otaknya!" cemooh Mom Ara dengan murka. "Mom, khawatir dengan kesehatan Luna, kandungannya lemah dan masih berusia empat minggu, itu sangat rentan jika dia banyak pikiran, bahkan sampai stres. Bisa saja dia stres jika sikap putra kita seperti itu." Keluh kesah wanita itu membuat pria di sampingnya khawatir karena kondisi kesehatan istrinya tidaklah stabil.
Dengan penuh cinta. Dad Ben, mendekap istrinya dan membisikkan sesuatu agar emosi wanitanya tak meledak. "Besok saja sayang, biarkan dulu dia berpikir karena kita belum tahu apa alasannya. Dad, yakin ada sesuatu yang mengganjal hatinya hingga sikapnya seperti itu."
Wanitanya hanya bisa menghela nafas panjang, dan kenangan masa silam mengingatkan di mana momen yang spesial ketika mereka mengetahui kabar kehamilannya. Suaminya itu sangat bahagia melebihi dirinya, apa lagi ketika mengetahui calon buah cinta mereka kembar lima. Semasa kehamilan hingga lahiran, prianya itu siap siaga 24 jam.
Tiba-tiba senyuman merekah di bibirnya, ketika mengenang masa lalu mereka yang sangat berharga. Hal itu membuat prianya mengerutkan dahi karena pada sebelumnya wanitanya itu tampak kesal dan cemberut, namun kini berubah menjadi mengemaskan.
"Sayang, apakah ada yang lucu?"
Wanitanya menggeleng. "Mom, mengenang masa lalu kita, di mana kita menerima kabar bahagia atas kehamilan Mom. Dad, bahkan berjingkrak kegirangan," ucapnya dengan terkekeh karena momen itu sangat lucu dan tak terlupakan.
"Mom, masih mengingatnya?"
__ADS_1
"Tentu saja karena itu adalah momen yang sangat penting dan berharga dalam hidup Mom."
Mereka pun kembali berpelukan, menumpahkan rasa bahagia, hari maupun sedih menjadi satu.
*
Makan malam hanya ada Luna dan juga putri mereka Angel.
"Mom, kenapa makanan Mom di aduk-aduk saja? Apa Mom sakit?" tanya Angel seperti orang yang sudah dewasa.
Ya, Luna sejak tadi hanya memasukan beberapa suapan saja di mulutnya, ia lebih banyak diam dan melamun.
"Mom, sehat sayang, hanya saja Mom masih kenyang." Luna beralasan agar Angel tidak bertanya kembali.
"Sudah pukul tujuh kau belum juga pulang. Sebenarnya apa salahku? Apa kau tidak menginginkan kehamilan ku ini?" keluh Luna dalam hati dengan tatapan selalu ke lorong ruangan.
"Oh gitu, Angel kira Mom sakit. Angel tidak mau Mom sakit," celoteh Angel sembari memasukan suapannya dengan mulut terbuka lebar. Itu membuat Luna gemas dan hatinya kembali menghangat.
"Habiskan makanan Angel, ada kejutan untuk Angel," ucap Luna tersenyum sembari meletakan sendok di piring yang masih tersisa makanan. Selera makannya jadi terganggu, mungkin pengaruh dari kehamilannya. Untuk menggantikan asupan makanan, ia akan minum susu dan vitamin terbaik dari resep dokter.
"Ada deh, putri Mom yang cantik ini pasti senang. Ayo cepat habiskan makanan Angel."
Tanpa banyak tanya lagi Angel makan dengan gerakan cepat karena keingintahuan tentang kejutan itu sangat besar. Sementara Luna yang melihat reaksi Angel tersenyum dengan menggelengkan kepala.
"Semoga kau bahagia mendengar kabar bahagia ini sayang, tidak seperti Dad kalian." Luna kembali membatin.
Beberapa menit kemudian mereka meninggalkan ruang makan. Tujuan mereka adalah kamar Angel karena sudah rutinitas malam harus mengantar putrinya dan bercerita sedikit.
Luna membawa Angel duduk di tempat tidur. Mengusap wajah halus Angel dengan rasa sayang.
"Sayang, Mom mau tanya sama Angel." Angel mengangguk. "Apa Angel suka Adik bayi?"
Sesaat Angel berpikir. "Adik bayi kayak boneka Angel?" tanyanya sembari menunjuk salah satu boneka yang ada anak bayinya yang bisa mengeluarkan suara tangisan dan tertawa.
__ADS_1
Luna mengangguk.
"Angel, sangat suka Mom. Pasti lucu bisa menangis dan tertawa, kayak di kartun yang Angel sering tonton," ucap Angel dengan polos.
Luna meraih salah satu tangan Angel, lalu meletakkannya di atas perutnya. "Sayang, di dalam perut Mom ada Adik bayi, tapi masih kecil," ucap Luna dengan lembut.
"Apa? Di dalam perut Mom ada Adik bayi? Hore, Angel punya Adik benaran." Tanpa disangka respon Angel membuat Luna tak mampu menahan rasa haru, hingga matanya berkaca-kaca, sekali kedipan saja bulir bening itu membasahi pipinya.
"Angel, senang?" ucap Luna dengan terisak di tahan.
Angel mengangguk sembari menghapus air mata yang mengalir semakin deras. "Kenapa Mom menangis? Apa Angel, ada buat salah?"
"Tidak sayang, Mom lagi senang makanya air mata Mom keluar."
Luna lega karena putri mereka menerima kehadiran calon Adiknya.
"Adik bayi, apa kau dengar Kakak? Cepat keluar ya? Biar kita bermain." Angel berbicara, seolah janin itu dapat mendengar perkataannya. Angel mengusap hingga mencium perut yang masih rata itu.
"Iya, Kakak." Luna menjawab sembari mengusap pucuk kepala Angel.
Cukup puas berinteraksi dengan calon Adiknya. Angel pun merasa kantuk, dan disaat itu juga Luna keluar dari kamar putrinya. Luna pun bergegas ke kamar mereka.
Hatinya kembali sesak dan kecewa, ternyata suaminya bekum juga pulang. Air matanya kembali menetes, entah kenapa ia tidak bisa menahan perasaannya, bukan karena pengaruh kehamilannya mungkin.
Usai membasuh wajahnya dan menggantikan baju. Luna pun memutuskan untuk segera tidur. Matanya berat, mungkin pengaruh obat dari dokter. Dalam sekejap wanita itu telah terlelap. Melupakan sejenak kejadian hari ini, karena hari esok entah apa lagi yang terjadi.
Pukul sepuluh Scoot masuk ke dalam kamar, setelah yakin istrinya sudah tertidur. Sebenarnya ia sudah pulang pukul delapan lewat, ketika Luna berada di kamar Angel. Bahkan tidak sengaja ia mengintip interaksi antara Luna dan Angel, ketika Angel mengetahui tentang kehamilan Luna.
Di balik pintu pria itu terenyuh, bahkan air mata keluar begitu saja dari pelupuk matanya. kepolosan kata-kata Angel pada janin yang baru tumbuh itu membuat jantungnya berdebar. Betapa besar ke-dua wanitanya itu menunggu kehadiran buah cinta mereka.
Scoot berjalan mendekati ranjang, duduk di tepi ranjang. Mengulurkan tangan, membelai lembut wajah wanitanya. Ia kecup kening itu begitu lama.
"Apa kau marah sayang? Aku minta maaf atas sikapku!" gumamnya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar, tangannya menyentuh perut Luna. "Apakah Dad, harus bahagia? Jika pada akhirnya kehilangan salah satu dari kalian?"